
"Alhamdulillah. Mungkin ini yang dinamakan mukjizat dari Allah, Nona," ujar Dokter itu dengan senyuman yang terukir. Tampak ikut senang. "Pak Steven hidup kembali."
"Alhamdulillah, ya, Allah." Citra langsung berjongkok lalu bersujud syukur. Dan disusul oleh Juna, Angga, Sofyan serta Rizky. "Ya Allah terima kasih. Terima kasih telah memberikan Aa kesempatan untuk hidup bersamaku lagi," gumamnya sambil menangis. Tapi kali ini, tangisannya bukan tangis kesedihan. Melainkan terharu bahagia.
Para lelaki itu mengusap wajahnya, ikut bersyukur juga tentunya.
"Tapi, Dok, kenapa Steven kejang-kejang? Ada apa dengan tubuhnya?" tanya Angga.
"Karena tubuh dan seluruh urat-uratnya tadinya sudah tidak berfungsi, Pak. Dan saat semuanya kembali berfungsi ... jadi kaget dan itulah sebabnya Pak Steven mengalami kejang-kejang," jelas Dokter itu.
"Oh syukurlah ...." Angga mengusap dada sambil menghela napasnya dengan lega.
"Demi memulihkan seluruh organ ditubuh Pak Steven ... beliau dianjurkan untuk dirawat untuk sementara waktu. Saya juga harus mengecek bagian kepalanya, Pak."
"Baik, Dok." Angga mengangguk. "Nggak masalah kalau Steven musti dirawat. Yang terpenting dia sekarang sudah kembali."
"Kalau begitu saya permisi masuk lagi ya, Pak." Dokter itu tersenyum dan membungkukkan badannya, kemudian melangkah masuk lagi ke dalam ruangan tersebut.
Drrttt ... Ddrrttt ... Ddrrttt.
Tiba-tiba, ponsel Sofyan bergetar dari dalam kantong celana. Pria itu pun langsung merogohnya ke dalam dan ternyata ada sebuah panggilan masuk tertera pada layar. Maya, istrinya.
Gegas, Sofyan pun mengangkat panggilan itu, "Halo, May?"
"Halo. Apa Ayank lagi sama Papa?" tanya Maya. Suaranya terdengar lirih sekali dan lemah.
__ADS_1
"Iya. Kenapa memangnya? Dan kamu kenapa, May?" tanya Sofyan penasaran.
"Tolong berikan hapenya ke Papa, Yank. Biar aku sampaikan sesuatu padanya," pinta Maya.
"Oke. Sebentar ...." Sofyan menarik ponselnya yang menempel pada telinga kanan. Lantas menepuk pundak Angga dan memberikan benda tersebut ke tangan. "Ini Maya, mau ngomong sama Papa katanya."
Angga mengambil benda pipih itu, lalu menempelkannya ke telinga kanan seraya berkata, "Iya, May, ini Papa."
"Pa, aku mau ngasih tau kalau Mama keguguran. Papa cepat ke sini setelah almarhum Steven dimakamkan, ya?" pinta Maya dengan suara pelan.
"Apa?? Keguguran?!" Angga menyeru dengan lantang karena sangking kagetnya. Matanya melebar sempurna.
"Keguguran? Siapa yang keguguran, Pa?" tanya Citra. Dia dan yang lain sama kagetnya saat mendengar apa yang Angga katakan.
"Iya, Pa. Papa cepat ke sini, ya, aku kasihan sama Mama ... sejak tadi nangis terus. Assalamualaikum." Maya langsung memutuskan panggilan, padahal Angga masih ingin bertanya.
"Papa mau ke mana memangnya? Dan siapa yang keguguran?" tanya Sofyan.
"Mama keguguran. Papa harus cepat ke kamar rawatnya."
"Aku ikut, Pa!" Citra meraih tangan Angga ketika pria itu baru saja melangkah.
"Ayok." Angga mengangguk, kemudian mengajak Citra berjalan cepat menuju kamar di mana Sindi dirawat.
*
__ADS_1
Tak menunggu waktu yang lama, mereka pun telah sampai. Maya yang tengah duduk bersama Jordan pun langsung berdiri, kemudian Angga dan Citra yang menggendong Varo langsung melangkah mendekat.
"Bagaimana bisa Mama keguguran, May? Gimana ceritanya?" tanya Angga dengan penuh kecemasan. Matanya menelisik dari kaca pintu kamar di depan. Sindi terlihat menangis tersedu-sedu bersama seorang dokter wanita yang sedang memeriksa keadaannya.
"Biar Dokter yang menjelaskannya, Pa, setelah selesai memeriksa kondisi Mama," jawab Maya lalu mencium punggung tangan Angga. Kemudian merangkul bahu Citra dan mengusapnya dengan lembut. "Kamu yang sabar, ya, Cit. Mbak harap kamu bisa tegar."
"Alhamdulillah, Aa Steven nggak jadi meninggal, Mbak. Dia hidup lagi," sahut Citra sambil tersenyum dan menyeka air mata dipipi.
"Seriusan?" Maya tampak tak percaya. Matanya melebar sempurna.
"Iya." Citra mengangguk. Dan segera, Maya pun memeluk dirinya.
"Masya Allah, alhamdulillah. Tapi sayangnya adik kita yang masih dalam kandungan nggak bisa selamat, Cit. Mbak sedih sekali."
"Iya, Mbak. Aku juga ikut sedih, dan kasihan ...." Ucapan Citra seketika menggantung kala terdengar suara pintu yang dibuka.
Keluarlah seorang dokter berjalan putih berambut pendek dari sana. Dia seorang wanita.
"Aku suaminya, Dok." Angga menepuk dada. Dia langsung mengenalkan diri tanpa ditanya terlebih dahulu. "Kenapa istriku bisa keguguran? Apa ada yang bermasalah dengan kesehatannya?"
"Benar, Pak." Dokter itu mengangguk cepat. "Kandungan Bu Sindi sebenarnya sudah lemah sejak dini, ditambah faktor usia dari Bu Sindi juga. Dan sejak kemarin ... Bu Sindi terus mengalami guncangan pada mentalnya, akibat meninggalnya anak pengais bungsunya itu. Jadi berpengaruh pada kandungan dan membuat faktor utama dari keguguran," tambah Dokter menjelaskan.
"Innalilahi ...." Bola mata Angga tampak berkaca-kaca. Baru tadi, dia merasakan kebahagiaan lantaran Steven berhasil hidup kembali. Tapi sekarang, hatinya kembali hancur mendengar anak bungsu yang masih dalam kandungan itu meninggal dunia. "Kasihan sekali anakku, Dok. Dia masih sangat kecil, bahkan aku belum tau jenis kelaminnya."
"Saya turut berdukacita, ya, Pak," ucap Dokter itu sambil tersenyum mengiba. "Atas meninggalnya kedua anak Bapak. Meskipun yang keguguran baru beberapa Minggu ... tapi Bapak harus tetap memberikan dia nama dan menentukan jenis kelaminnya, karena itu belum terdeteksi. Dia juga sudah siap dikuburkan ... tinggal Bapak bawa saja," lanjutnya kemudian.
__ADS_1
...Tolong jangan ada yang nabung bab, ya, please 🥲🙏...
...Usahakan dapat notif langsung baca🙏...