Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
221. Antara hidup dan mati


__ADS_3

Sayangnya, saat sudah tiba pria berjaket jeans itu sudah berhasil memasukkan Juna ke dalam mobilnya.


"Buka! Buka pintunya!" teriak Tian sembari memukul kaca mobil. Namun mobil itu menancapkan gas dan melaju pergi.


Melihat itu, Tian langsung berlari menuju kantor, untuk mengejarnya dengan mobil. Sebelumnya dia sudah menghafal plat nomor mobil hitam itu.


Tian menyetir dengan penuh kecepatan, mengejar mobil hitam yang tak kalah kencang.


Mobilnya terus menyalip pada pengendara lain, dan tak berselang lama akhirnya Tian berhasil menyalip mobil di depan dan langsung mengeremnya secara tiba-tiba.


Ckiiitt....


Sedikit lagi mobil hitam itu hampir menabrak mobilnya, beruntungnya itu tidak terjadi lantaran bisa mengerem tepat waktu.


Tian turun dari mobil, lalu memukul bagasi depan mobil hitam itu.


"Kembalikan Juna!" teriak Tian. Bocah yang berada di dalam sana sudah diikat, tangan dan kakinya. Mulutnya pun dilakban. Tetapi dia dapat melihat kehadiran Tian.


'Itu Om Tian, kan? Apa Om Tian akan menyelamatkanku?' batin Juna dengan mata yang mengerjap-ngerjap.


Seorang pria turun dari pintu belakang, dia orang yang sama. Yang berhasil menarik Juna hingga masuk ke dalam mobil.


"Siapa kau? Ini bukan urusanmu! Minggir!" perintahnya sembari mendorong dada Tian. Pria itu pun beringsut mundur.


"Ini urusanku, Juna itu calon anakku!" teriak Tian. Dia pun lantas berlari menuju pintu belakang mobil yang tertutup. Tangannya yang hendak membuka itu langsung dicekal oleh pria berjaket dan segera mendapatkan bogem mentah di perut kirinya.


Bugh!


"Eeugh!" Tian melenguh, saat merasakan sakit. Namun, dia tak tinggal diam. Dia pun membalasnya, memberikan tonjokan ke wajah pria itu.


Bugh!


"Lepaskan Juna br*ngsek!" teriak Tian. Kedua kali dia menonjok wajah pria itu. Namun lagi-lagi pria itu membalasnya.


Bugh!


"Nggak usah ikut campur!" Dia menarik lengan Tian yang kembali mencoba membuka pintu mobil, lalu mendorongnya dengan kuat hingga jatuh terlentang di aspal.


Bruk!


Pria berjaket itu berlari masuk kembali ke dalam mobil, Tian yang melihatnya segera bangun.


Akan tetapi, langkah kaki Tian sontak terhenti lantaran tubuhnya ditahan oleh seorang pria yang baru saja keluar dari kursi kemudi. Dan secara tiba-tiba, dia pun menusukkan pisau ke perutnya.


Jleb!

__ADS_1


"Aaww!" teriak Tian dengan mata melotot. Sakit bercampur kaget itu dia rasakan. Perlahan tubuhnya oleng, lalu ambruk dengan posisi terlentang. Darah segar itu mengalir, membasahi kemeja dan jasnya.


Juna yang melihatnya pun ikut membelalakkan mata. Jantungnya langsung berdebar kencang. 'Om Tian ditusuk?"


"Ini hukuman karena kau sudah ikut campur!" berang pria itu marah.


"Ada apa ini?!" seru seorang polisi yang baru saja menghentikan motornya di dekat mobil Tian. Dia adalah polisi yang menjaga lalu lintas yang tak sengaja melihat kejadian itu.


Tak lama, tiga orang perwira polisi pun ikut menghentikan motornya juga di sana, lalu turun.


Pria yang menusuk Tian segera masuk ke dalam mobil, merasa panik sebab ada polisi. Sayangnya, mereka yang berencana untuk kabur itu gagal, karena ketiga polisi itu menghentikannya dan langsung meringkus keduanya. Memborgol tangannya dan memasukkan ke dalam mobil.


"Eh, ternyata ada anak kecil." Salah satu polisi itu baru sadar, jika ada Juna di dalam mobil saat dia memasukkan dua orang itu ke dalam sana. Wajah bocah itu terlihat berkeringat.


Segera, dia pun melepaskan ikatan dikaki dan tangan Juna, berikut dengan lakban di bibirnya.


"Kamu kok bisa ...." Ucapan polisi itu mengantung kala Juna tiba-tiba turun dari mobil. Dia hendak melihat keadaan Tian.


Pria itu sudah tak sadarkan diri, akibat sakit di perut hingga kepalanya pun ikut berkunang-kunang. Kini, Tian tengah dimasukkan ke dalam mobil ambulan yang baru saja datang. Dua polisi yang membantunya.


Melihat itu, Juna langsung ikut masuk dan duduk dibangku.


"Adek nggak usah ikut, Bapak mau bawa Bapak ini ke rumah sakit," ujar polisi yang baru saja masuk lalu duduk. Dia juga kaget melihat Juna yang tiba-tiba sudah duduk di sana.


"Aku mau ikut, Om Polisi. Ayok bawa Om Tian ke rumah sakit, cepat, Om!" seru Juna dengan wajah cemas. Tangan kecilnya itu perlahan meraba dahi Tian yang berkeringat, jantungnya makin berdebar kencang.


"Baik, Pak." Sang sopir mengangguk, dan mobil itu pun langsung melaju dengan kecepatan penuh.


"Adek kenal sama Bapak ini?" tanya polisi sambil menekan perut Tian dengan kain. Pisau itu sudah dicabut dan dia menekan perut supaya darahnya tak terus mengalir banyak.


"Kenal Om, Om Tian ini mantan teman Mamiku."


"Memangnya teman ada mantannya?"


"Ada." Juna mengangguk cepat. "Om Polisi, apa Om Tian akan meninggal seperti ikan cupaangku?" tanya Juna takut, tangannya mendadak bergetar.


"Kita berdoa saja, semoga dia baik-baik saja, Dek."


*


*


Sampainya di rumah sakit, pria itu langsung dibawa ke UGD lalu tak lama kemudian dipindahkan ke ruang operasi.


"Maaf, pihak keluarganya siapa?" tanya seorang suster yang baru saja keluar dari pintu ruang operasi. Dia berbicara pada Juna dan polisi yang berdiri di depan.

__ADS_1


"Om Tian hidup sebatang kara, Sus." Yang menjawab Juna. "Tapi dia masih punya Om dan keponakannya. Keponakannya adalah Tantenku, Tante Citra."


"Adek ini siapanya? Apa boleh cepat hubungi keluarganya? Kami perlu tanda tangan dari pihak keluarga untuk melakukan operasi." Suster itu menunjukkan selembar kertas dan pulpen yang sejak tadi dia pegang.


"Biar saya yang tanda tangan dulu, saya yang bertanggung jawab." Polisi itu mengajukan diri. Segera dia pun mengambil kertas dan pulpen di tangan suster, lalu menandatanganinya.


"Biaya operasinya tolong segera diurus ya, Pak. Hubungi pihak keluarganya juga, secepatnya."


"Baik, Sus." Polisi itu mengangguk, berikut dengan Juna. Dan sang suster langsung masuk lagi ke dalam sana.


"Adek mau pulang nggak? Bapak antar pulang, ya?" tawar Polisi seraya mengetik-ngetik ponsel Tian. Mencari nomor yang hendak dia hubungi.


"Nggak mau, Om." Juna menggeleng lalu duduk dikursi panjang. "Aku mau tunggu di sini, kasihan Om Tiannya."


"Ya sudah, nanti Bapak akan hubungi orang tua Adek."


***


Di restoran, Nissa yang tengah menatap ponselnya itu tiba-tiba mendapatkan sebuah panggilan masuk dari sopir pribadinya.


"Hallo, Bu. Dek Juna nggak ada di sekolah."


"Nggak ada di sekolah?" Kening Nissa mengerenyit. Dia sempat menugaskan sopirnya untuk menjemput Juna pulang. "Kok bisa? Apa kata satpamnya?"


"Beliau nggak bilang apa-apa, hanya bilang kalau semua murid TK sudah pulang, Bu."


'Apa Juna dijemput Papa, ya?' Nissa membatin. Dia pun segera mematikan sambungan telepon. Baru saja dia hendak menghubungi Angga, namun urung terjadi lantaran ada sebuah panggilan masuk dari Tian.


Nissa segera mematikannya. Pria itu memang kerap kali menghubungi. Entah menelepon atau mengirim pesan, namun Nissa sama sekali tak menanggapi.


Tak lama, ada sebuah panggilan masuk lagi. Kali ini dari nomor baru. Segera Nissa mengangkatnya dan menempelkan benda pipih itu ke telinga kanan.


"Halo."


"Halo, Mi, ini Juna."


"Jun, kamu ada di mana? Dan pakai hape siapa?"


"Pakai hape Om Polisi. Mami tolong ke rumah sakit bersama Tante Citra, ya, soalnya Kakaknya Om Tian nggak bisa dihubungi, Mi."


"Rumah sakit?" Nissa tampak bingung dengan ucapan anaknya. Apalagi dengan membawa-bawa Tian. "Maksudnya bagaimana?"


"Mami cepat saja datang. Ini genting, Mi, antara hidup dan mati. Rumah Sakit Harapan, ya!"


Nissa hendak menjawabnya lagi, namun tak jadi lantaran panggilan itu sudah diputuskan dari seberang sana. Segera dia pun berdiri dari kursi putarnya, lalu meraih tas dan melangkah keluar dari ruangannya.

__ADS_1


'Hidup dan mati? Hidup siapa yang Juna maksud?' Nissa bertanya-tanya dengan ucapan anaknya itu. Namun entah mengapa, jantungnya tiba-tiba saja berdebar kencang.


...Hidup Om Tian, Mbak 🤧...


__ADS_2