
"Tapi kita dari semalam udah nginep di sini, Pa, rasanya Mama nggak betah. Mama juga kayaknya kepengen lihat Steven manjat pohon."
"Ngapain di Steven manjat pohon? Memangnya dia monyet?"
"Mama mau Steven manjat pohon mangga. Mama kayaknya pengen ngerujak bareng Nissa, tapi mangganya Steven yang petik." Sindi mengusap perutnya.
"Pengennya kapan?"
"Ya sekaranglah, masa tahun depan. Papa itu aneh, deh." Sindi mendengkus. "Lagian ... besok juga udah mulai puasa lho, Pa, jadi Mama nggak bisa ngerujak siang-siang."
"Ya tinggal ngerujak aja. Mama 'kan lagi hamil, jadi nggak apa-apa kalau nggak puasa."
"Selagi masih kuat mah ya tetap puasa dong, Pa," balas Sindi.
"Ya sudah, bentar Papa nyalakan hape dulu." Angga merogoh kantong celana kolornya. Setelah mengambil ponsel, dia langsung mengaktifkannya. Dan ternyata banyak sekali panggilan masuk dari Citra serta Steven. "Dari kemarin si Steven nomornya nggak aktif. Giliran sekarang dia meneleponku terus-terusan." Angga berdecih sebal, lantas melakukan panggilan. Tapi yang dia telepon adalah Citra, bukan Steven.
*
*
Sementara itu di dalam mobil, Citra, Juna dan Steven yang tengah tertidur pulas sontak terbangun dengan saling terkejut, akibat mendengar suara deringan ponsel milik Citra.
"Siapa sih yang telepon, Cit? Nganggu aja orang yang tidur nyenyak," keluh Steven seraya mengucek kedua matanya.
"Iya, nih, padahal Juna lagi mimpi jilat pipi Dedek Silvi," gumam Juna yang ikut mengucek kedua matanya.
"Nggak tau, A." Citra merogoh tas, lalu mengambil ponsel. Dan seketika dia pun terbelalak saat melihat panggilan masuk dari Angga. "Papa telepon, A!" serunya seraya menepuk pundak sang suami.
"Mana? Berikan padaku." Steven langsung mengambil benda pipih itu, kemudian mengangkat panggilan. "Papa dan Mama bawa si Kembar—"
"Assalamualaikum," sela Angga cepat. "Orang Islam wajib jawab salam dan ada baiknya kamu itu salam dulu sebelum bertanya," tegurnya kemudian. Suara Angga terdengar datar.
__ADS_1
Steven perlahan membuang napasnya dengan kasar. "Walaikum salam, Pa, jadi Papa dan Mama bawa si Kembar ke mana? Kok kalian tega, sih, sama aku dan Citra? Semalaman aku dan Citra keliling nyari si Kembar tau!" gerutunya kesal.
"Juna kok nggak dianggap? Kan Juna juga ikut, Om!" seru Juna yang tampak tak terima jika namanya tidak disebut.
"Iya, sama si Juna juga," tambah Steven.
"Kamu sedang kesal sekarang, Stev?" tanya Angga.
"Iyalah kesel. Untungnya aku sama Citra belum lapor ke polisi."
"Segitunya banget ya, kamu sama Papa dan Mama. Durhaka kamu, Stev!" omel Angga marah.
"Ya habis gimana? Papa dan Mama itu seperti mengerjaiku. Aku pusing tujuh keliling, Pa."
"Terus sekarang kamu kepengen kita berdamai nggak?"
"Damai gimana? Memangnya kita berantem?!" Steven mengerucutkan bibirnya.
"Kamu memangnya nggak merasa kita berantem? Oh, atau kamu udah nggak mau ketemu si Kembar lagi?!"
"Kamu dan Citra nggak perlu ambil si Kembar. Tapi Papa mau, kamu dan Citra pulang ke rumah. Kita tinggal lagi sama-sama."
"Aku nggak mau!" tegas Steven.
"Kenapa?"
"Ya nggak mau, aku sama Citra ingin hidup mandiri."
"Bohong, pasti itu karena kamu punya adik, kan?" tebak Angga.
"Ya itu Papa tau. Kenapa musti tanya?!" Steven memutar bola matanya dengan malas.
__ADS_1
"Stev sudahlah. Ngapain juga sih kamu permasalahan hal ini? Kamu punya adik juga bukan keinginan Papa dan Mama, jadi kamu nggak perlu marah sama kami, apalagi sama Mama yang sedang hamil muda. Kasihan dia, Stev," tegur Angga. Suaranya sekarang terdengar lembut. Itu dilakukannya demi meluluhkan hati Steven, meskipun sebenarnya dia juga ragu jika anaknya yang keras kepala itu bisa luluh.
"Aku marah hanya sama Papa, bukan sama Mama. Kan Papa biang keroknya!" omel Steven.
"Kok Papa yang jadi biang kerok?"
"Ya jelaslah biang kerok. Orang Papa kok yang sering ngajakin Mama bercinta, kan yang mesum disini Papa, bukan Mama," jelas Steven sambil mencebikkan bibirnya.
"Masya Allah, Stev ....." Napas Angga terdengar berhembus dengan berat. "Bercinta itu 'kan kebutuhan biologis. Selain itu kamu juga pasti tau karena itu enak."
"Tapi harusnya Mama itu diKB dong, atau Papa kek yang pakai k*ondom. Jadinya 'kan seperti ini, kalian punya anak yang tidak diharapkan," ucap Steven dengan jengkel.
"Astaghfirullah, Stev!" berang Angga yang mulai meninggikan nada suaranya, padahal sejak tadi dia berusaha sabar. Steven juga sudah sangat keterlaluan menurutnya, dengan bicara seperti itu. "Kamu istighfar! Nggak boleh kamu bilang kayak gitu, apalagi ke calon adikmu! Itu namanya perbuatan zalim!" tegurnya.
"Tapi memang benar 'kan apa yang aku katakan, Pa? Dia ada karena awalnya memang nggak diharapkan." Steven tersenyum miring.
"Kalau boleh jujur, kamu dan adikmu itu sebenarnya sama, Stev."
"Maksudnya?!" Kening Steven tampak mengernyit.
"Sama-sama nggak diharapkan awalnya."
Steven sontak terbelalak. "Kok bisa?! Bukannya kata Papa dan Mama aku anak bungsu, yang paling kalian sayangi, kan?"
"Itu benar. Tapi kamu bisa lahir ke dunia berawal dari k*ondom Papa yang bocor."
Degh!
Jantung Steven seketika berdenyut. Dan rasanya pun begitu sakit hingga menyesakkan dada.
"Papa pasti berbohong 'kan sama aku?" tanya Steven yang terlihat tak percaya, meskipun bola matanya sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
"Papa berani bersumpah, Stev," jawab Angga dengan sungguh-sungguh. "Jadi kamu nggak usah bilang seperti itu lagi kepada calon adikmu. Mulai sekarang ... belajarlah untuk menerimanya, karena kamu dan dia itu sama, sama-sama anak yang nggak diharapkan," tambah Angga dengan tegas. Dan ucapannya itu seketika membuat buliran bening disudut mata Steven mengalir membasahi pipi.
...Yah, jadi melow dah 🤣 nyesek ya, Om? 🤭...