Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
379. Amnesia


__ADS_3

"Iya, Dok, terima kasih," jawab Angga. "Di mana aku bisa membawa anakku yang akan segera dimakam, kan?"


"Mari ikut saya, Pak." Seorang perawat pria tiba-tiba saja datang dan berucap. Kemudian menunjuk ke arah depan.


"Papa mau memakamkan adik kalian dulu, ya, kalian tolong jaga Mama dulu sebentar." Angga berbicara dengan Citra dan Maya. Kedua perempuan itu langsung mengangguk.


"Tapi Papa jangan memakamkan si adik sendirian, kasihan ... ajak Ayank Sofyan saja," usul Maya.


"Iya. Nanti Papa ajak Ayankmu." Angga mengangguk.


"Tapi beri nama dulu, siapa kira-kira, Pa, biar kita bisa mengingatnya?" tanya Citra. Meskipun belum berbentuk wujud manusia, tapi tetap saja itu penting.


"Noura, Noura Prasetyo," jawab Angga. Namanya asal ketemu di otaknya saja.


"Nama yang bagus, Pa." Citra dan Maya berucap secara bersamaan. "Semoga, dia jadi menghuni surga," tambah Citra.


"Amin," sahut Angga. "Ya sudah ... Papa jalan sekarang, assalamualaikum," ucapnya seraya melangkah bersama perawat pria.


"Walaikum salam." Seusai menjawab salam, keduanya langsung masuk ke dalam kamar perawatan Sindi. Dilihat wanita tua itu masih menangis sambil berbaring.


"Mama ...," panggil Citra. Dia berlari dan langsung memeluk Sindi. Varo dia letakkan di samping tubuh wanita itu.


"Citra ... Mama sudah kehilangan dua anak Mama sekaligus, Mama merasa gagal menjadi seorang ibu. Kenapa harus mereka yang lebih dulu pergi ... harusnya Mama ... hiks!" Sindi terisak dalam tangisnya.


Maya yang melihat pun langsung menyeka air mata dipipi sang mertua.


"Mama nggak boleh ngomong kayak gitu, nggak baik," tegur Maya dengan lembut.


"Adikku memang sudah tiada. Tapi suamiku belum, Ma," ujar Citra.


"Kamu harus ikhlas, Cit, nggak boleh kayak gitu," ucap Sindi. Dia tentu belum tahu, makanya berpikir jika Citra belum bisa menerima kenyataan.


"Tapi apa yang aku katakan benar, Ma. Aa Steven memang belum meninggal. Dia hidup lagi atas mukjizat dari Allah."

__ADS_1


Tangis Sindi seketika terhenti, dia juga melepaskan pelukan dan menarik tubuh Citra supaya bisa saling menatap. "Benarkah? Kamu nggak lagi bohongin Mama demi menghibur semua duka ini, kan, Cit?"


Citra mengangguk sambil mengulas senyum. "Nggak, Ma. Kapan sih, aku berbohong sama Mama. Itu nggak pernah."


Melihat bola mata Citra, Sindi pun merasa yakin—jika tak ada satupun kebohongan. Citra juga memang selama ini tak pernah membohonginya. "Ya Allah, terima kasih. Terima kasih telah mengembalikan Steven anakku." Dia kembali memeluk Citra, juga mengeluarkan air matanya. Tapi tangisan ini bukanlah kesedihan, melainkan rasa bahagia.


Setidaknya, Steven masih berada disisinya, meskipun adiknya sudah tak bisa tertolong.


"Citra, kamu nggak akan jadi janda. Kamu akan terus menjadi menantu Mama," tambah Sindi, kemudian mencium rambut menantunya.


"Tentu saja, Ma." Citra mengulum senyum.


***


Keesokan harinya.


Steven sudah dipindahkan ke kamar rawat VIP nomor 151. Seluruh anggota keluarganya sudah duduk menunggu diluar. Bahkan Sindi yang berada dikursi roda pun ikut menunggu.


Sebenarnya kondisinya masih lemah, bahkan dia juga masih memakai jarum infus pada punggung tangan.


Ceklek~


Pintu kamar inap itu pun dibuka, keluarlah dokter pria dan semua orang di sana langsung mendekat.


"Bagaimana keadaan Steven, Dok? Apa dia sudah sadar dan boleh dijenguk?" tanya Angga yang tengah memegang kursi roda dengan Sindi di atasnya.


"Baru tadi Pak Steven siuman, Pak," jawab Dokter itu. "Tapi dari hasil ronsen kemarin ... Pak Steven ternyata mengalami kerusakan pada sistem limbiknya, yang berada di dalam otak."


"Maksudnya, gimana, ya, Dok?" Sofyan bertanya, dia tampak tak mengerti.


"Kemungkinan ... akan ada beberapa memori di otaknya yang dia tidak ingat. Atau bisa jadi, semuanya dia tidak ingat."


"Maksudnya amnesia?" tebak Tian. Ucapannya yang spontan itu seketika membuat semua orang terbelalak. Tampak semuanya kaget.

__ADS_1


"Ah nggak mungkin kali, Om, masa Om Steven amnesia?" Rizky membuka suara, dia tampak tak percaya. "Memangnya, ini di sinetron ikan terbang?"


"Tapi di dunia nyata juga ada, Mas, orang yang amnesia." Nella yang tengah menggendong Jihan ikut menyahut, apa yang dikatakan suaminya.


"Masa, sih?" Rizky menatap istrinya dengan heran. Selama dia hidup, tak ada orang disekelilingnya yang mengalami amnesia. Jadi wajar, kalau Rizky tidak percaya. "Oh ... apa mungkin itu gara-gara dia diberakin Kevin kali, ya, Nell?"


"Mana mungkin." Tian ikut menyahut. "Kotorannya si Kevin nggak mengandung zat berbahaya, Riz, paling zat bau doang."


"Tapi bisa saja zat baunya itu membuat fungsi otaknya nggak bekerja, Om."


"Tapi 'kan gara-gara beraknya si Kevin ... Steven bisa bangun," sahut Sofyan yang ikut-ikutan. "Kata kamu 'kan juga gitu, tadi, Riz."


"Ish! Kalian ini lagi bahas apa, sih?" Angga mengomel dengan mata yang melototi ketiga pria di depannya. "Si Steven yang amnesia, tapi kenapa pakai bawa-bawa kotorannya si Kevin? Nggak nyambung tau!"


"Ya 'kan bisa saja, Opa," sahut Rizky.


"Itu semua bukan karena kotoran si Kevin kok." Dokter membuka suara, dan akan menjawab semua pertanyaan mereka. "Kotoran manusia tidak mengandung zat yang membahayakan fungsi otak, Pak, dan zat di dalamnya—"


"Tapi Kevin yang kami maksud itu burung, Dok, bukan manusia," sela Tian cepat.


"Oh, burung." Dokter itu langsung menatap Tian. "Tapi sama saja, itu tidak ada hubungannya, Pak. Apa yang Pak Steven alami karena benturan jatuh dari pohon mangga. Itu baru benar."


"Terus bagaimana sekarang, Dok?" tanya Citra. Dia tentu ada di sana bersama si kembar yang berada di dalam keranjang bayi. "Kapan aku bisa menjenguk suamiku? Dan apakah dia juga nggak akan ingat sama aku dan kedua anaknya?" tambahnya dengan bola mata yang tampak berkaca-kaca.


"Kita coba dulu ya, Nona," sahut Dokter itu dengan anggukan kepala. Setelah melihat ke arahnya, dia juga melihat beberapa orang di samping kanan kiri Citra. "Anda dan semua yang di sini ... boleh masuk ke dalam. Tapi jangan ada yang berbicara tanpa seizin dari saya. Biarkan saya saja yang bertanya pada Pak Steven, karena takutnya kalau kalian yang berbicara ... nanti akan berisik dan itu bisa memperparah jaringan otaknya." Dokter tak mau mengambil resiko, jika keributan atau perdebatan seperti tadi terulang kembali. Sebab memang harusnya, seorang pasien minimal dijenguk oleh 2 sampai 3 orang saja. Apalagi pasien yang sempat mengalami gagar otak seperti Steven.


"Iya, Dok," jawab Citra dan yang lainnya. Juga dengan anggukan kepala.


Dokter itu pun dengan perlahan menurunkan handle pintu, lalu mendorongnya hingga pintu itu terbuka.


Dia pun lantas melangkah masuk lebih dulu, kemudian disusul oleh Citra dan yang lainnya. Mereka masuk dengan berbaris.


"Ayok! Kita ikut sekalian!" Kevin yang baru saja sampai dengan mengibaskan sayap, langsung ikut menyusul masuk ke dalam. Dia datang bersama Janet, Luna dan Luki.

__ADS_1


...Ngapain coba itu keluarga burung ikutan 🤧...


__ADS_2