
Di dalam kelas TK B, seluruh anak-anak itu sedang ditugaskan untuk menggambar bebas. Dan yang Juna lakukan adalah menggambar sebuah mobil.
"Mobil siapa yang kamu gambar, Jun? Om Steven?" tanya Baim yang duduk si sampingnya. Bocah itu menggambar sebuah kapal air.
"Mobil Om Tian. Dia punya mobil baru dan bagus," jawab Juna. Setelah menggambar dia pun mewarnainya dengan krayon.
"Om Tian itu siapa?" tanya Baim.
"Calon Papi baruku."
"Wah, kamu sudah punya calon Papi baru? Bagus itu, seperti apa orangnya, Jun?"
"Orangnya baik."
"Apa dia ganteng? Kaya?" tanya Baim penasaran.
"Iya." Juna mengangguk cepat. "Om Tian juga punya peternakan lele lho, Im. Lelenya banyak di kolam."
"Lele 'kan makan ee*k orang, Jun." Atta yang baru saja menghampiri mereka langsung menimpali. Tangannya memegang buku gambar, dia menggambar helikopter.
"Masa sih? Tapi lele Om Tian makannya pelet kaya ikan cupaang," jawab Juna.
"Aku mau main dong ke rumah Om Tian, Jun. Mau lihat kolam lelenya," pinta Baim.
"Aku diajak nggak?" tanya Atta.
"Nanti saja hari Minggu kalau mau. Tapi nanti aku izin dulu ke Om Tian, ya?" ucap Juna. Kedua temannya itu mengangguk cepat.
"Terus, kapan Mami dan Om Tian menikah, Jun?" tanya Baim.
"Nggak tahu. Nunggu restu dari Om Steven." Wajah Juna langsung cemberut. Sebab mengingat akan sebuah penolakan yang terlontar dari mulut Steven.
"Kok Om Steven? Kenapa nggak minta restu sama Opa dan Omamu saja?" tanya Atta.
"Nggak tahu. Itu Opa yang minta. Kalau Opa sama Oma sendiri sudah setuju," ucap Juna.
"Aku do'akan deh, biar Om Steven merestui. Biar kamu cepat punya Papi baru dan nggak sedih lagi," ucap Baim dengan tulus, seraya mengelus punggung Juna. Bocah laki-laki itu langsung meraup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Amin. Tapi nanti do'akan lagi pas kamu sholat. Kata Opaku ... do'a yang baik itu dilakukan sehabis sholat," tegur Juna.
"Iya. Nanti aku do'akan lagi." Baim mengangguk.
"Aku juga nanti bantu do'akan, Jun." Atta menimpali. "Kata Mamaku ... do'a anak soleh itu cepat terkabul. Dan kata Mama aku juga anak soleh."
__ADS_1
"Aku juga anak soleh." Baim dan Juna menyeru secara bersamaan. Saling ingin mengakui jika mereka adalah kedua anak soleh.
"Anak-anak, sudah belum menggambarnya?" tanya Gisel. Dia seorang guru muda berusia 23 tahun. Masih gadis, berambut pirang dan cantik. Tetapi mulutnya suka bergosip. "Ayok kumpulkan sekarang, ada rapat guru dan kalian bisa langsung pulang," tambahnya.
Ketiga bocah laki-laki itu mempercepat aktivitas mewarnainya, lalu saat sudah selesai mereka berlari mengumpulkan buku gambar di atas meja guru.
Barulah setelah itu mereka membereskan peralatan sekolah, memasukkan ke dalam tas lalu memakainya ke punggung.
"Juna!"
Langkah kaki ketiga bocah itu berhenti saat ada seorang pria yang memakai jas biru nevi berdiri di depan halaman sekolah. Pria itu tidak lain adalah Tian.
Juna yang melihatnya sontak berbinar, cepat-cepat dia berlari menghamburkan pelukan.
"Om Tian! Kok Om ada di sini?" Juna merelai pelukan, lalu mendongakkan wajahnya menatap aneh Tian. Sebab ini memang bukan jam pulang sekolah mau pun jam makan siang. Tidak biasanya pria itu datang ke sekolah.
"Om ada berita bagus untukmu. Ayok masuk ke dalam, sekalian kita temui Mami," ajak Tian.
Juna menoleh kepada kedua temannya yang sejak tadi diam memperhatikan Tian. "Om, kenalkan mereka teman Juna, namanya Baim dan Atta." Menunjuk ke arah Baim dan Atta. Dua bocah itu mengulurkan tangan.
"Oh. Halo, salam kenal. Nama Om Tian." Tian langsung membalas uluran tangan keduanya.
"Salam kenal juga Om Tian, aku Baim," ujar Baim sambil tersenyum.
"Main boleh, tapi jangan sekarang, ya? Om ada urusan sama Juna. Kalian mau sekalian Om antar pulang nggak?" tawar Tian.
"Nggak usah, terima kasih, Om." Yang menjawab Baim. Dia menggeleng. "Kami dijemput. Om sama Juna duluan saja," tambahnya.
"Ya sudah. Jangan keluar gerbang sebelum yang menjemput kalian datang, ya?" tegur Tian seraya mengelus puncak rambut Atta dan Baim bergantian. "Rawan penculikan soalnya."
Kedua bocah itu mengangguk, lalu tersenyum sambil melambaikan tangan pada Juna yang baru saja masuk ke dalam mobil.
"Ada apa sebenarnya, Om? Juna penasaran," tanyanya seraya menoleh kepada Tian yang mengemudi.
"Om Steven sudah merestui, Jun. Om Tian akan menjadi Papi barumu," ujar Tian memberitahu.
Juna langsung mengulum senyum dengan wajah merona. "Seriusan? Om nggak bohong, kan?"
"Serius, masa bohong."
"Alhamdulillah ...." Juna langsung mendekat dan memeluk Tian. Mengendus aroma wangi di dadanya. Jantungnya berdebar kencang. Rasanya ingin menangis, sangking senangnya. "Juna seneng banget, akhirnya do'a Juna terkabul. Om jadi Papi Juna."
"Om juga seneng, Sayang." Mengecup puncak rambut Juna.
__ADS_1
"Berarti pas pulang Om sama Mami langsung ijab kabul?" tebaknya.
"Mau Om juga begitu. Tapi kita temui Mamimu dulu, abis itu Opa dan Omamu."
"Tapi Juna maunya Om dan Mami menikah sekarang, hari ini juga. Juna mau tidur bareng Om. Mandi bareng Om dan berak juga."
"Iya. Om juga mau. Kita ke restoran Mami dulu, ya?"
Juna mengangguk cepat lalu tersenyum. 'Terima kasih ya Allah, sudah kabulkan do'a Juna. Terima kasih juga buat Om Steven. Om Steven nggak jadi dipecat jadi Om Juna. Om Steven akan selalu jadi Om Juna selamanya,' batinnya dengan penuh kebahagiaan.
***
"Mami ...!" seru Juna saat turun dari mobil Tian. Dia langsung berlari menghampiri lalu memeluk Nissa yang tengah berdiri di depan pintu kaca restoran.
"Pulang sekolah salam dulu dong," tegur Nissa.
"Assalamualaikum," ucap Tian memberikan salam. Dia tersenyum dan langsung mengelus puncak rambut Nissa.
"Walaikum salam. Kamu nggak kerja, Ti?" tanya Nissa heran.
"Nggak, aku sudah minta izin sehari nggak masuk," jawab Tian. Tangannya terulur untuk meraih tangan Nissa, perlahan dia genggam. "Kita ke rumah orang tuamu, yuk, Nis. Izin nikah."
"Nikah?" Kening Nissa mengerenyit. "Memangnya, kamu sudah dapat restu dari Steven?"
"Iya." Tian mengangguk cepat. Wajahnya seketika merona. "Mangkanya ayok kita ke rumah orang tuamu. Aku udah nggak tahan pengen kita nikah, Nis," pintanya dengan sedikit tarikan tangan.
"Ayok cepat ke rumah Opa, Mi! Om Tian pasti sudah nggak sabar ingin kencingi Mami!" seru Juna. Nissa langsung membungkam bibir anaknya. Lalu melepaskan pelukan erat lingkaran lengan Juna.
"Sebentar, aku ambil tas dulu," kata Nissa tersenyum, lantas berlalu masuk ke dalam restoran.
Juna sudah melompat-lompat. Bocah itu sama halnya seperti Tian, merasa tak sabar.
***
Mobil mewah Tian terparkir rapih di depan rumah Angga. Kemudian Tian, Juna dan Nissa turun dari mobil, lalu menghampiri Angga yang tengah duduk santai di teras rumah.
Ada Bejo dan Dono juga. Bejo tengah memijat bahu Angga sedangkan Dono tengah memotong kuku tangan Angga.
"Assalamualaikum Opa Juna yang paling ganteng sedunia!" seru Juna sambil lompat-lompat di depan Angga.
"Walaikum salam," jawab Angga seraya menatap Juna yang girang sekali, lalu sorotan matanya beralih kepada Tian dan Nissa yang berdiri di belakang bocah itu. "Kenapa kamu, Jun? Kok lompat-lompat? Cacingan kamu?"
...Seneng dia Opa, ayok cepat tentukan tanggal. Atau langsung ijab kabul sekarang ðŸ¤...
__ADS_1