
"Tapi Kakek ini siapa? Kok kenal Om Steven?" tanya Atta yang kembali memperhatikan wajah Kakek Tua tersebut.
"Atta. Kamu bicara sama siapa?"
Seseorang tiba-tiba saja memanggil, dan membuat bocah itu menoleh ketika orang tersebut melangkah menghampirinya. Ternyata dia adalah Tian.
"Eh Papi Tian." Atta tersenyum. "Ini, Om ... kata Kakek ini, besok si kembar anaknya Om Steven suruh dibawa dan dipertemukan, sebelum Om Steven dikubur," jelasnya memberitahu.
"Kakek ini yang mana?" tanya Tian heran.
"Kakek ini." Atta menunjuk ke arah depan, juga dengan kepalanya. Namun, dia sendiri tak melihat ada siapa pun di sana. Lantas segera, Atta menoleh ke kanan dan kiri, mencari-cari keberadaan Kakek Tua itu. "Lho, ke mana Kakek Tua itu, Om? Tadi perasaan ada di sini?"
"Sejak tadi Om nggak lihat Kakek-kakek di sini, dan kamu juga ngomong sendiri."
"Dih masa, sih? Serem amat." Atta menatap Tian dengan wajah yang terlihat ketakutan. Bulu kuduknya pun tiba-tiba saja berdiri. Dia mengira, bahwa Kakek Tua itu jelmaan hantu atau setan. "Apa jangan-jangan hantu, ya, Om? Atau mungkin itu hantunya Om Steven?"
"Mana ada hantu." Tian menggelengkan kepalanya. "Om Steven juga nggak bakal jadi hantu, Ta."
"Tapi difilm ... orang mati itu terus nanti jadi hantu, Om. Atta pulang dulu deh kalau begitu." Atta cepat-cepat meraih tangan Tian, lalu mencium punggung tangannya. "Bilang sama Papanya Atta kalau Atta pulang duluan. Dan titipkan kata maaf Atta juga kepada Juna, Om, karena sudah salah bicara sehingga menyakitinya. Assalamualaikum."
"Iya, walaikum salam." Tian mengangguk. Dia pun menatap punggung Atta yang mulai menjauh sampai hilang dibalik gerbang. Namun mendadak, dia jadi terpikirkan dengan ucapan bocah itu tadi. Yang membawa-bawa si kembar. "Pertemukan si kembar dengan Steven besok, sebelum dimakamkan?" gumamnya.
*
*
Keesokan harinya.
Sekitar jam 6 pagi, Steven sudah dimandikan serta dibalut kain kafan. Sudah siap untuk dibawa ke tempat peristirahatannya yang terakhir.
Angga, Juna dan Sofyan juga ikut membantu proses itu, meskipun meskipun berkali-kali semua orang melihat ketiganya menangis tersedu-sedu.
Rasanya hampir tak ada yang tidak menangis, seluruh kerabat Steven semuanya menangis. Mengenang kepergian pria yang baru menginjak usia 36 tahun itu.
__ADS_1
"Oe! Oe! Oe!"
Dari arah gerbang, Tian menatap seorang wanita paruh baya tengah mengendong dua orang bayi yang menangis. Dan Wanita tersebut menggerakkan kepalanya, seolah meminta Tian untuk mendekat.
"Siapa dia?" Tian melangkah cepat mendekatinya, dan ternyata bayi yang berada dalam gendongan wanita itu adalah Vano dan Varo.
Keduanya terlihat sudah mandi dan begitu tampan, mengenakan baju jumpsuit berwana kuning dan merah.
"Lho, ini 'kan Vano dan Varo? Kok bisa sama Ibu? Dan Ibu siapa?" Tian langsung mengendong keduanya, lalu menimang-nimang supaya tangisnya mereda.
"Masa kamu lupa sama aku? Aku Gita, Mamanya Rizky," sahut wanita tersebut sambil mendengkus.
Tak lama, Guntur suaminya Gita turun dari mobil kemudian menghampiri.
"Oh iya, maaf, Bu ... aku lupa," jawab Tian sambil tersenyum dan membungkuk sedikit.
"Si kembar nangis terus, Ti, dari semalam. Kayaknya dia kangen sama Bunda dan Ayahnya," ucap Guntur sambil menatap sebuah keranda jenazah yang akan dimasukkan ke dalam mobil ambulans.
Tian menatap kedua bayi tampan di depannya, lalu menciumi keningnya secara bergantian. Manik matanya pun ikut berkaca-kaca, melihat bayi yang belum ada dosa itu seolah mengerti dengan situasi apa yang saat ini mereka hadapi.
Benar-benar tidak adil menurutnya. Citra sudah ditinggal oleh Ayahnya, diusia yang belum genap 20 tahun. Sekarang, si kembar justru ditinggal ayahnya diusia yang belum satu tahun.
Baru 4 bulan, baru belajar tengkurap.
"Kalian pasti ikut merasakan, Om tau itu, Sayang," lirih Tian dengan sedih, air matanya tak kuasa untuk tidak mengalir.
"Meskipun Ayah kalian sudah nggak ada. Tapi ada Om di sini, atau Opa ...." Tian menepuk dadanya, seolah-olah kedua bayi itu mengerti dengan semua ucapannya. “Apa pun itu terserah kalian mau memanggil dengan sebutan apa. Yang jelas ... Om akan berusaha membahagiakan kalian. Karena kalian dan Bunda kalian ... harus bahagia."
"Yang sabar, ya, Ti. Ini sudah takdir." Guntur merangkul bahu Tian, lalu mengelusnya secara perlahan.
"Itu si Steven mau dimakamkan sekarang, Ti?" tanya Gita.
"Iya. Tapi disholatin dulu, Bu, ke masjid terdekat sini," jawab Tian pelan dengan masih menggerakkan tangan, menimang-nimang. "Ini si kembar sudah minum susu, kan? Kok nangisnya nggak berhenti-henti, Bu?" Tian mendadak khawatir, sebab tangis bayi itu sejak tadi tak kunjung reda.
__ADS_1
Mobil ambulan dan beberapa mobil lainnya yang ikut mengantar keluar dari gerbang.
Tian sendiri memang tidak ikut ke pemakaman, sebab diminta Angga untuk ke rumah sakit. Mengecek kondisi Sindi dan Citra yang hanya ditemani oleh Maya dan Jordan.
"Udah kok, si kembar sudah makan," jawab Guntur. Dia juga ikut serta mengasuh si kembar. Bahkan dia dan Gita sengaja datang karena ingin mengantar si Kembar, barangkali tangis mereka mereda ketika datang ke rumah Angga. "Perut mah mereka kenyang, Ti. Tapi kalau habis disusuin nangis lagi. Malah semalaman mereka nggak tidur karena terus menangis," tambah Guntur.
"Si Citra ke mana? Masih ada ASI nggak dia? Coba susuin sebentar," saran Gita kemudian menatap sekitar, mencari-cari keberadaan Citra.
"Citra masih di rumah sakit, Bu, dia ...." Ucapan Tian seketika terhenti saat tiba-tiba saja melihat Citra masuk dari arah gerbang, dia berlari sambil menangis dan berteriak memanggil suaminya.
"Aa!!"
Dia pulang ke rumah seorang diri, kabur dari rumah sakit dan langsung menaiki mobil taksi. Hatinya terasa sangat hancur ketika terbangun dan mengingat suaminya yang telah tiada.
Sungguh dunianya benar-benar sangat runtuh.
Citra berlari masuk ke dalam rumah dengan langkah sempoyongan. Pakaiannya terlihat begitu lusuh dengan rambut panjangnya yang berantakan. Bahkan ada beberapa tetes darah segar yang keluar dari punggung tangan kirinya, mengalir saat dia melangkahkan kaki.
Darah itu karena jarum infus yang dia cabut secara paksa. Jadi darahnya tidak berhenti untuk terus keluar. Namun, sepertinya Citra sudah tak memikirkan dengan kondisinya.
"Citra!" Tian langsung berlari menyusul. Merasa khawatir dengan keadaannya.
Dan benar saja, gadis itu tengah bersimpuh sambil menangis tersedu-sedu di lantai, kala melihat rumah itu sudah kosong tak ada orang. Tapi ada sebuah foto Steven pada bingkai besar yang tergelatak di atas tikar, juga ada beberapa mawar putih yang menghiasi sudut ruangan rumah itu.
"Aa Ganteng! Jangan tinggalkan aku, A!" jerit Citra kencang.
"Cit ...." Tian perlahan berjongkok, lalu mendekat ke arah Citra dan mencium puncak rambutnya. Ingin rasanya dia peluk gadis itu, tapi tangan Tian yang tengah menggendong si Kembar menjadikannya tidak bisa melakukan. "Kamu harus ikhlas. Ini sudah takdir, Sayang."
"Nggak! Ini salah, Om! Om Ganteng nggak akan bisa meninggalkanku!" tegas Citra sambil menoleh. Wajahnya begitu merah dan terpenuhi air mata. Entah sudah berapa banyak air mata yang dia tumpahkan, sehingga membuat matanya terlihat begitu sembab. "Sekarang di mana Aa Gantengku? Aku harus bertemu dengannya sambil membawa si kembar!" Cepat-cepat Citra meraih kedua anaknya di tangan Tian, lalu menciumi kening keduanya. Bayi kembar itu masih saja menangis, meskipun sudah berada dalam gendongan Citra.
"Dia sedang disholatkan di masjid sebelah. Ayok, Om antar kalian untuk bertemu dengannya," ajak Tian yang langsung menarik tubuh Citra untuk berdiri. Sepertinya memang, ibu dan anak itu harus melihat Steven di saat-saat terakhirnya.
...Siapkan tissue untuk bab selanjutnya 🤧...
__ADS_1