Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
102. Jelas dia Citra


__ADS_3

Brukk!!


Tubuh Steven langsung terhentak jatuh dan dahinya terpentok batu. Hentakkannya cukup keras sehingga membuatnya berdarah dan seketika jatuh pingsan.


Untungnya, jatuhnya Steven bukan karena tertabrak mobil. Melainkan karena Jarwo dengan sigap berlari dan menarik tubuhnya. Mungkin kalau kurang cepat sedikit Steven benar-benar akan tertabrak.


Melihat Steven jatuh pingsan dengan dahi yang berdarah, Jarwo pun susah payah mencoba mengangkat tubuh Steven. Dan untungnya ada dua orang satpam mall, jadi mereka bisa membantunya untuk memasukkan pria tampan itu ke dalam mobil.


Memang lukanya tidak terlalu parah, tetapi melihatnya pingsan justru itu hal yang membuat Jarwo cemas.


Mobil Jarwo langsung melaju dengan kecepatan full menuju rumah sakit, sembari menyetir dia juga menghubungi Angga.


***


(Flashback On)


Di Mall, sebelum Steven datang.


"Cit, kamu kenapa daritadi benerin rambut mulu? Nggak betah pakai wig?" tanya Sisil seraya menghampiri Citra yang tengah menatap cermin besar di depan. Mereka kini berada disalah satu toko baju.


Sebelumnya, mereka berdua pergi ke salon. Niat awalnya Citra mau creambath. Tetapi melihat di dalam salon itu ada wig baru dan modelnya sama persis dengan rambut Sisil, dia justru menginginkannya. Dan jadilah sekarang dia memakai wig itu.


"Bukan nggak betah, aku merasa nggak cocok aja." Citra mengerucutkan bibirnya.


Sisil berdiri di samping Citra sembari menatap wajah temannya itu dari pantulan kaca. Perlahan dia pun mengulas senyum.


"Cocok kok, kamu 'kan cantik. Eh, kok kita jadi kayak kembar, ya, Cit?" Sisil terkekeh kala melihat wajahnya dari cermin. Juga dengan apa yang ada di tubuh mereka sekarang.


Bukan hanya bentuk wajah dan rambut, tetapi jas merah maroon yang mereka kenakan juga dengan celana jeans panjang berwarna putih. Mungkin yang berbeda adalah tas rangsel saja. Jika Citra berwarna hitam, Sisil justru merah.


"Iya, iya. Wajahmu imut banget, Sil," puji Citra sambil tersenyum.


"Kamu juga manis." Sisil menyahut.


"Aku senang temenan sama kamu, Sil. Kamu orangnya baik."


"Kamu juga baik." Sisil perlahan memeluk Citra dari belakang.


"Eh, aku mau pipis dulu, ya? Kamu sudah selesai belum cari bajunya?"


"Belum." Sisil menggeleng.


"Aku tinggal pipis bentar, ya?"


"Bareng saja, entar dulu."


"Aku kebelet banget, takutnya pipis di celana." Citra menyentuh perut bagian bawah. Memang iya, dia begitu tak tahan rasanya ingin buang air kecil.

__ADS_1


"Ya sudah, nanti aku langsung menyusul pas sudah selesai."


"Oke." Citra mengangguk. Lantas dia pun berjalan keluar dari toko kemudian mencari-cari sebuah toilet. Kebetulan jaraknya tidak terlalu jauh dari sana.


Aldi dan Ali sempat kelihatan jejak Sisil, tetapi keduanya langsung tersenyum lebar kala melihat gadis yang dia cari masuk ke dalam toilet.


"Kita langsung bius dia saja, Al," ujar Aldi. Mereka kini berdiri di dekat pintu toilet pria dan wanita.


"Tapi ini Mall, rame juga." Ali melihat ke arah sekitar, banyak beberapa orang yang lewat. Rasanya dia ragu dan takut. "Kalau mereka curiga bagaimana?"


"Tenang saja, kita akting nanti. Sekarang ambil peralatannya."


Ali mengangguk, dia pun bergegas mengambil sapu tangan di dalam tas ransel, lalu menuangkan beberapa tetes obat bius ke atas sana.


Ceklek~


Pintu kamar toilet wanita itu tiba-tiba dibuka oleh seseorang, dan mereka berdua langsung mengangkat wajah ke arah sana.


"Om mau ngapain?" tanya gadis itu yang tampak panik saat Ali tengah mendekatinya, pria bertubuh besar itu melirikkan matanya ke kanan dan kiri.


"Sekarang Al!" tegas Aldi pelan tetapi penuh penekanan. Dia ikut mengawasi sekitar dan dirasa sekarang sudah cukup aman.


"Tolo ... eemmppp!!" Gadis itu hendak berteriak, tetapi urung terjadi sebab Ali sudah membungkam mulutnya dan tak lama dia pun jatuh pingsan.


Bruk!!


"Astaghfirullah, ada orang pingsan!" pekik Aldi seraya menutup mulut. Ucapannya sengaja agak keras sebab untuk mengalihkan pusat perhatian orang-orang sekitar.


Beberapa orang ada yang menoleh ke arah mereka, dan cepat-cepat Aldi mengangkat tubuh gadis itu.


"Ayok kita bawa dia ke rumah sakit, kasihan sekali!" pekiknya kemudian berlari. Ali pun segera berlari menyusul.


"Awas, minggir! Ada gadis yang pingsan dan mau kami bawa ke rumah sakit!" ujar Ali yang sejak tadi mengekori temannya. Dia melakukan hal yang sama seperti Aldi tadi, yakni berakting.


Hingga akhirnya mereka berhasil membawa gadis itu masuk ke dalam mobil tanpa dicurigai siapa pun.


Ali segera menarik gas mobilnya, lalu melaju dengan kecepatan full.


"Di mana alamat rumah kontrakannya, Di?" tanya Ali seraya menatap temannya dari kaca depan. Aldi berada di kursi belakang bersama gadis yang jatuh pingsan tadi.


Aldi segera mengambil ponselnya yang berada di kantong celana, lalu memencet tombol tengah pada layar. Berulang kali dipencet, tetapi benda pipih itu tak kunjung menyala.


"Hapeku mati, Al. Coba kamu telepon Pak Hersa, tanya lagi padanya." Aldi ingat, Hersa sudah memberikan alamat itu lewat pesan. Hanya saja dia lupa tempatnya.


Ali meraba kantong celana jensnya, dua kantong depan dia raba-raba tetapi tak dapat menemukan ponsel.


"Lho, Di. Hapeku nggak ada. Apa hilang, ya?"

__ADS_1


"Kok bisa hilang? Kamu lupa taruh apa gimana?"


"Aku ingat, aku membawanya kok. Tapi nggak ada." Ali kembali meraba-raba celananya, kini sampai kantong belakang.


"Kamu ada charger nggak? Aku pinjam saja. Mungkin hapeku lowbet."


"Aku nggak bawa charger." Ali menggeleng.


"Dih, terus gimana? Kita bawa Sisil ke mana ini?" tanya Aldi. Dia tampak kebingungan, sama halnya dengan Ali.


"Nggak tahu."


Aldi terdiam beberapa menit memikirkan sesuatu, sampai akhirnya ada sebuah ide di dalam otaknya. "Bawa ke rumah Pak Steven saja deh, Al."


"Kok dibawa ke rumah Pak Steven? Nanti dia marah bagaimana?"


"Ngapain marah. Malah lebih bagus dia bisa melihat langsung kalau kita sudah berhasil menculik Sisil, dengan begitu kita langsung dapat uang."


"Ah benar juga kamu, Di. Oke deh." Ali mengangguk semangat dengan mata berbinar. Kalau sudah membicarakan tentang uang, hatinya langsung berbunga-bunga.


*


*


Tibanya di rumah Steven, mereka bergegas turun dari mobil. Aldi mengangkat tubuh gadis itu lalu berjalan menuju pintu utama dan Ali memencet bel.


"Bapak bawa siapa itu?" tanya seorang satpam yang menghampiri mereka, dia adalah temannya Bejo.


Ali menoleh padanya dan sudah menganga ingin menjawab, tetapi tak jadi sebab mendengar pintu utama itu sudah dibuka.


Ceklek~


Yang membuka pintu itu adalah Sindi. Dan sontak—kedua matanya terbelalak. Dia merasa terkejut melihat seorang gadis yang berada dalam gendongan Aldi.


"Astaghfirullah apa yang kalian lakukan? Kenapa Citra jadi pingsan begini?" tanyanya setengah berteriak. Dia menangkup kedua pipi gadis itu.


"Citra?" ucap Ali dan Aldi secara bersamaan, kening keduanya terlihat mengerenyit. "Citra siapa, Bu?"


"Ya ini Citra. Kalian buta?" sentaknya marah sambil menunjuk wajah gadis itu. "Bawa cepat masuk ke dalam!" titah Sindi seraya melebarkan pintu. Tetapi kedua pria itu justru membeku di tempat.


"Tapi dia adalah Sisil, Bu. Adiknya Gugun."


"Sisil siapa sih? Jelas dia Citra! Dia pacarnya Steven!" teriak Sindi dengan yakin.


...Jadi dia Citra atau Sisil? 🤔...


...Niatnya mau up banyak hari ini 😁 tapi kayaknya nggak jadi deh 😑, soalnya banyak yang protes 🤭. Padahal udah dibilangin nikmati alurnya 🤣 nggak seru ah, disenggol sama konflik kalian pada nyerah 🥲...

__ADS_1


__ADS_2