Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
144. Aku nggak sakit!


__ADS_3

"Astaghfirullah! Steven!" seru Angga yang baru saja masuk bersama Jarwo.


Entah siapa yang salah disini, tetapi dia juga sama terkejutnya dengan Steven dan Citra. Cepat-cepat dia pun keluar lagi dengan Jarwo lalu menutup pintu.


"Maafkan Papa kalau menganggu kalian, tapi Papa lupa mengetuk pintu, Stev!" teriak Angga seraya mengetuk pintu. Walau bagaimanapun dia merasa kalau dirinya yang tidak sopan lantaran masuk ke dalam tanpa izin.


Sebenarnya, itu bukanlah hal yang disengaja. Angga melakukannya karena memang benar-benar lupa. Kedatangannya bersama Jarwo adalah ingin membantu Steven dan Citra untuk melepaskan borgol. Dia diberitahu oleh Bejo. Dan saat baru datang ke kantor, dia bertemu dengan Sofyan.


Pria itu meminta Angga supaya cepat menemui Steven, sebab dia ingin membelikan bubur untuk keduanya.


"Masuk, Pa!" sahut Steven setengah berteriak.


Ceklek~


Pintu itu dibuka kembali oleh Jarwo. Dilihat dua insan itu tengah duduk di sofa. Wajah keduanya terlihat merah padam, apa lagi Citra. Kedua kali perbuatan mesum itu dilihat oleh Angga. Rasanya Citra tak berani menatap wajah pria itu karena sangking malunya.


"Tadi Papa nggak lihat apa-apa, kan?" tanya Steven khawatir. Yang dia takutnya Angga melihat agar-agar istrinya, nanti bisa-bisa dia kepengen.


"Nggak kok, Papa nggak lihat apa-apa," jawab Angga jujur. Yang dia lihat hanya Steven sedang menindih Citra, hanya itu saja.


"Bagus deh, lupakan saja. Lain kali ketuk pintu seperti biasanya. Kan Papa tahu itu nggak sopan namanya." Steven membuang napasnya dengan kasar. Sebetulnya dia kesal karena diganggu, tetapi dia juga merasa malu.


"Iya, maafkan Papa." Angga duduk di sofa single.


"Terus Papa ke sini mau apa?"


"Papa mau membantumu melepaskan borgol, Stev." Angga menoleh ke arah Jarwo. Pria berbadan besar itu langsung memperlihatkan sebuah tang besar di tangannya.


"Kok Papa tahu aku dan Citra diborgol?" tanya Steven. Pergelangan tangannya terulur, begitu pun dengan Citra. Jarwo mendekat dan langsung mencapit rantai borgol itu dengan gigi tang sekuat tenaga. Tanpa menunggu waktu yang lama rantai itu terlepas. Sekarang giliran gelang borgolnya.


"Bejo yang beritahu. Papa bukannya sudah memperingatkanmu supaya jangan aneh-aneh, ya? Kok kamu nggak dengar ucapan Papa, sih?" Angga mengomeli Steven sambil melotot. Dia terlihat marah, apalagi ditambah melihat pergelangan tangan Citra yang bengkak. Tak tega rasanya jika gadis itu tersakiti. "Lihat tangan Dedek Gemes, Stev! Sampai biru begini! Jahat sekali kau jadi suaminya!" geramnya emosi.


Angga menyentuh tangan Citra, gadis itu langsung meringis kesakitan. Namun, tangan Angga segera ditepis oleh Steven.


"Iya, aku mengaku aku salah. Aku khilaf, Pa. Itu semua karena aku trauma. Aku takut Citra pergi dariku." Steven memeluk tubuh Citra lalu mengecup tangannya. "Tolong cari OB, Pak," pintanya pada Jarwo. "Suruh bawakan es batu ke dalam baskom dan handuk kecil. Untuk kompres tangan Citra."


"Iya, Pak." Jarwo mengangguk cepat. Dia pun lantas keluar dari ruangan Steven.

__ADS_1


"Tapi kalau kamu terus begini yang ada Dedek Gemes akan meninggalkanmu lagi, Stev!" tukas Angga marah. "Dia itu sedang hamil, malah dibuat tertekan. Dasar gila!"


Emosi benar-benar sudah berada dipuncak rambut. Ingin rasanya dia menampar pipi Steven.


Namun, Angga tak berani karena di depan Citra. Nanti yang ada dia akan berpikir kalau Angga pria yang kasar.


Jalan terbaik, Angga pergi dari sana. Keluar dari ruangan Steven tanpa mengatakan hal sepatah kata pun.


"Maafkan aku, ya, Cit," ucap Steven dengan penuh penyesalan. Dia menangkup kedua pipi gadis itu dengan wajah bersalah dan bola mata yang berkaca-kaca. "Percayalah, apa yang aku lakukan hanya karena trauma. Hanya itu saja. Bukan maksud ingin membuatmu tertekan apalagi menyakitimu,"


"Aku mengerti, Om." Citra tersenyum tipis. "Tapi ... boleh nggak, kejadian seperti ini jangan sampai terulang lagi?" pintanya. "Bukan hanya aku saja yang terlihat tersiksa gara-gara borgol. Tapi Om juga. Iya, kan?"


Steven mengangguk cepat. "Iya, aku nggak akan melakukan hal ini lagi. Tapi kamu jangan pernah pergi lagi dariku, ya? Apa lagi mencari penggantiku. Aku nggak mau itu terjadi, Cit." Steven langsung memeluk erat tubuh Citra, lalu menciumi rambutnya. Jantungnya terasa berdebar dan tubuhnya mendadak terguncang.


Padahal saat ini gadis itu berada di sampingnya, bahkan tengah dia peluk. Namun, tetap saja ada rasa takut dan kecemasan yang menyelimuti diri Steven. Dia takut, benar-benar takut kehilangannya.


"Aku nggak akan pergi dari Om. Om tenang saja." Citra mengelus punggung Steven. Mencoba menenangkan. Sejujurnya Citra bingung dengan sikap Steven yang rasanya aneh. Bahkan saat dimana pertama kali dia melihat Steven menangis dan meminta maaf.


Namun, Citra masih mencoba menganggap sikap Steven itu semata-mata karena cinta. Ya walaupun dia sendiri merasa itu sangat berlebihan.


"Selama Om membuatku bahagia, tidak menyakitiku dan menerimaku apa adanya ... aku akan selalu di samping Om," tambah Citra kemudian.


"Aku mencintaimu, Cit."


"Aku juga, Om."


...****************...


Sore hari.


Sepulang kerja, Steven langsung diajak pergi oleh Angga, Bejo dan Jarwo menaiki sebuah mobil.


Namun, Steven sendiri tak diberikan alasan yang jelas mengapa sang papa mengajaknya pergi. Padahal, Steven sudah berencana untuk mandi bareng dengan Citra. Juga ingin mengajaknya kembali tinggal di apartemen.


Sayangnya, kedua orang tua Steven menolak. Mereka menginginkan dia dan Citra tinggal bersama.


"Pa, kita mau ke mana sih sebenarnya?" tanya Steven penasaran. Pertanyaan itu mungkin sudah terlontar lima kali, namun belum ada respon.

__ADS_1


Dia pun menoleh ke arah Angga yang berada di kursi di sampingnya. Sedang duduk dan sibuk bermain ponsel.


"Nanti kamu juga tahu, Stev," jawab Angga.


Setelah menempuh waktu setengah jam perjalanan, akhirnya mobil Jarwo terparkir disebuah rumah sakit besar yang berada di Jakarta Selatan.


Steven mengerutkan keningnya. Bingung mengapa Angga membawanya ke rumah sakit dan rumah sakit itu juga terlihat asing. Mungkin ini adalah untuk pertama kalinya dia menginjakkan kakinya di sana.


"Kita mau ngapain ke rumah sakit, Pa? Dan kenapa harus ke Jakarta Selatan? Jauh amat?" tanya Steven seraya turun dari mobil. Kepalanya menengadah, menatap bangunan tinggi itu.


"Namanya rumah sakit ya tempat berobat, kamu nggak perlu banyak bertanya deh. Kita sudah ditungguin sama dokternya," jawab Angga. Dia langsung menarik lengan Steven, membawanya masuk ke dalam sana. Jarwo dan Bejo juga ikut menyusulnya ke belakang.


"Oh, Papa mau berobat encok Papa, ya?" tebak Steven.


"Iya," jawab Angga.


Mereka berempat pun langsung menghentikan langkahnya di depan resepsionis. Seorang perempuan berambut pendek yang tengah berdiri langsung menyapa mereka.


"Selamat sore, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan senyum ramah.


"Saya ingin bertemu Dokter Ikbal, Mbak. Saya juga sudah membuat janji dengannya," jawab Angga. Dia pun segera mengambil dompetnya, lalu memberikan KTP.


"Sebentar, ya, Pak." Perempuan itu mengambil KTP Angga seraya menatap layar komputernya, mengecek data. Kemudian setelah itu menatap ke arah Angga lagi. "Pendaftaran Bapak untuk Bapak Steven Prasetyo, apa benar?" tanyanya yang mana membuat Steven menoleh ke arah Angga.


"Kok aku? Katanya—"


"Iya, benar, Mbak," sela Angga dengan anggukan kepala.


"Mari saya antar ke ruangan Dokter Ikbal, Pak," kata perempuan itu. Kemudian melangkah lebih dulu di depan mereka.


"Pa, kita mau ngapain? Aku nggak sakit!" Steven mendadak terlihat panik. Wajar juga, pasalnya kedua lengannya itu tiba-tiba digandeng oleh Jarwo dan Bejo. Langkah kakinya seperti terseret-seret, mengikuti secara paksa ke mana Angga dan perempuan itu pergi.


...Waduh ... Om Ganteng mau dibawa ke mana itu, Opa? 🤔...


...Komen sama likenya mana nih, Guys 🥲 kok tambah sepi aja makin hari 🤧...


...Apalagi vote sama hadiahnya. Ya ampun 😫...

__ADS_1


__ADS_2