Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
268. Kan nggak ada airnya (Visual Tian+Nissa)


__ADS_3

...(Tian Siregar)...




...(Nissa Arianna Prasetyo)...




...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Lumaatan bibir yang Tian lakukan langsung mendapatkan balasan oleh Nissa. Ternyata, bukan cuma Tian yang pandai berciuman, wanita itu juga sama.


"Pintar juga kamu, Yang." Tian melepaskan ciumannya sebentar, lalu tersenyum dengan wajah merona dan dipenuhi kabut gairah. "Bibirmu manis, mengalahkan madu." Kembali, Tian meraup bibir istrinya.


Kedua tangannya perlahan meraba dada. Terasa lembut dan begitu kenyal. Tian juga baru tahu jika dada Nissa cukup besar.


Ya meskipun tak sebesar punya Fira, tapi pas dalam genggaman dan tentunya lebih berkualitas menurutnya.


Ciuman itu mulai terasa panas, hingga kini bibir Tian yang basah turun ke leher. Lidahnya menari-nari disana. Memberikan sensasi geli-geli enak dan membuat mata Nissa merem melek.


Awalnya hanya Tian yang bernafsu, tetapi sekarang tubuhnya juga ikut merespon. Apalagi Nissa hampir dua tahun tidak disentuh oleh laki-laki.


"Aahh!" Satu dessahan itu langsung lolos dibibir Nissa, disaat Tian mengigit kecil kulit lehernya. Memberikan jejak kepemilikan berwarna merah keunguan.


Mendengar dessahan seksi Nissa, seketika membuat milik Tian mengeras. Terasa sesak di dalam celana. Mungkin kalau dia bisa bicara, pasti dia akan berteriak. Meminta Tian untuk membuka celana.


Pria itu menghirup dalam-dalam aroma tubuh Nissa. Wangi dan begitu memabukkan. Rasanya, Tian makin tergila-gila saja. Makin mabuk kepayang.


"Aku buka boleh nggak?" tanya Tian sembari menatap wajah Nissa yang tampak merah. Kedua tangannya menyentuh baju tidur. Ingin segera dilepas tetapi ada baiknya izin dulu.


"Boleh, Yang," jawab Nissa pelan dengan anggukan kecil.

__ADS_1


Satu persatu kancing baju itu Tian lepaskan, dan kini terlihat ada tanktop pendek. Kalau tidur Nissa memang tidak pernah memakai bra, dan sebagai gantinya dengan tanktop.


Perlahan kain itu Tian tarik ke atas, hingga dua gunung kembar menyembul dengan sempurna. Putih, tampak bulat dan sangat indah. Hingga membuat Tian susah payah menelan ludah. Tak sabar sekali dia ingin cicipi. Pastinya begitu nikmat—pikirnya.


"Boleh aku mencobanya, Yang?" tanya Tian sembari menyentuh keduanya, dan memilin puncaknya.


"Boleh. Kita 'kan sudah menikah. Aku milikmu seutuhnya, Yang," jawab Nissa.


Tian mengulum senyum, kedua bola matanya tampak berkaca-kaca. Merasa terharu mendengar apa yang Nissa ucapkan. "Dulu kamu menyusui Juna berapa tahun, Yang?"


"Dua tahun. Kenapa memangnya? Dadaku jelek, ya? Pasti lebih bagus mantan-mantan istrimu?"


Tian menggeleng cepat. "Nggak. Justru milikmu yang paling indah. Kamu pintar merawatnya. Kamu wanita sempurna dan aku yang paling beruntung bisa mendapatkanmu, Sayang." Dia lantas membungkuk, lalu melahap salah pucuk dada itu dengan lahap. Dada yang satunya Tian pilin dengan lembut.


"Aahh!" desah Nissa.


Sesapan yang suaminya lakukan membuat desiran darahnya mengalir lebih cepat. Tubuhnya meremang dan di bawah sana terasa basah. Refleks kedua tangannya itu meremmas lembut rambut kepala Tian. Dan pria itu makin rakus bermain di sana.


'Ini sangat mengasikkan. Nissa ... kamu milikku,' batin Tian.


'Kenapa rasanya sangat enak? Apa mungkin karena sudah lama?' batin Nissa. Dia sampai sudah lupa dengan sentuhan mantan suaminya dulu. Tetapi menurutnya, kalau masalah ranjang Tian tak perlu diragukan lagi.


Tidak ada panggilan mau pun ketukan, tetapi tiba-tiba saja pintu kamar itu dibuka oleh seseorang.


Dua orang dewasa yang tengah pemanasan di atas kasur itu sontak terkejut, kala melihat Juna berdiri di ambang pintu sambil mengucek salah satu matanya.


Nissa langsung mendorong tubuh Tian yang berada di atasnya, sampai mulutnya terlepas dari pucuk dada dan pria itu langsung terjungkal dari kasur.


Bruk!!


"Aaaww!" ringis Tian seraya menyentuh bokong. Rasanya sakit, menghantam lantai.


Nissa buru-buru membereskan bajunya sambil duduk.


"Papi sama Mami kok malah pindah di sini? Kok Juna ditinggal sendirian? Jahat banget!" gerutu Juna marah. Bola matanya tampak berkaca-kaca.

__ADS_1


Nissa beranjak dari tempat tidur, lalu segera menghampiri anaknya dan perlahan dia gendong. "Maaf, Sayang. Bukan Mami dan Papi tinggalin kamu. Tapi tadi ...." Nissa menggantung ucapannya, sebab bingung memberikan alasan apa. Kalau jujur rasanya tak mungkin.


"Tadi Papi sakit kepala," jawab Tian cepat. Pelan-pelan dia menarik tubuhnya untuk berdiri dengan masih menyentuh bokong. "Papi nyuruh Mami untuk mijitin," tambahnya. Dilihat Juna masih cemberut, tatapan matanya begitu tajam ke arahnya.


"Mijitin kenapa musti pindah kamar? Kan di kamar tadi bisa," oceh Juna marah. "Dan lagian, tadi Juna lihat sendiri kok, Mami nggak mijitin Papi. Tapi Papi malah nyusu sama Mami. Kan nggak boleh, nyusu itu buat bayi, Pi!" Juna menunjuk ke arah luar pintu, seolah meminta Nissa untuk mengajaknya keluar. Sang Mami langsung melangkah, pergi dari kamar itu.


"Orang dewasa juga boleh nyusu, Jun." Tian berlari mengekori mereka menuju kamar utama, sampai ketiganya berbaring di atas kasur dengan posisi yang sama. Yakni Juna di tengah. Tetapi bedanya kini bocah itu berbaring membelakanginya, memeluk tubuh Nissa dengan erat.


"Kata siapa? Dulu Mami bilang Juna udah nggak boleh nyusu lagi, karena udah gede," jawab Juna kesal.


"Memang nggak boleh, kamu udah gede. Tapi orang gede itu masih boleh nyusu, asalkan jangan sama Ibunya." Tian mengelus lembut rambut kepala Juna dari belakang. Sejujurnya dia malu aktivitasnya tadi pergoki oleh Juna. Tetapi jika tidak dijelaskan, bocah itu pasti akan marah padanya. Tian tidak mau itu terjadi.


"Terus, misalkan Juna mau nyusu sama Tante Citra berarti boleh?"


Tian menggeleng cepat. "Nggak boleh. Bolehnya sama istri sendiri. Nanti kalau kamu sudah menikah."


"Tapi Juna belum mau menikah, Pi. Juna juga masih sekolah. Masih mau main kelereng, layangan, petak umpet dan lompat tali."


Tian terkekeh. "Iya, nikahnya nanti kalau umurmu sudah banyak. Sudah kerja dan membahagiakan Mami."


"Tapi besok-besok Juna nggak mau, ya, Papi sama Mami ninggalin Juna. Kan Papi sudah janji, mau tidur bareng-bareng. Masa baru sehari jadi Papi baru sudah melanggar." Bibir Juna mengerucut. Dia mengeratkan pelukannya kepada Nissa.


"Kan Papi sudah jelaskan tadi. Awalnya Papi minta dipijitin. Namanya orang dipijitin kadang 'kan sakit sampai teriak-teriak. Jadi Papi nggak mau, nanti tidur kamu keganggu gara-gara suara Papi, Jun," jelas Tian dengan lembut.


"Tadi 'kan Juna lihat Papi nyusu, bukan dipijitin. Kok Papi masih berbohong?"


"Itu sesudah dipijitin. Tanya saja sama Mami kalau nggak percaya. Iya, kan?" Tian menatap Nissa sambil mengelus pipinya.


"Iya. Papi bener, Jun. Masa Papi bohongi kamu," jawab Nissa. Mengiyakan apa yang Tian ucapkan.


"Terus, alasan Papi nyusu sama Mami apa?"


Wajah Nissa langsung merah, begitu pun dengan Tian. Sudah rencananya gagal, sekarang mereka harus dihadapi sebuah pertanyaan.


"Besok saja kita bahas lagi, sekarang kita tidur. Kan mau pesta di hotel, nanti kesiangan," jawab Nissa memberikan alasan.

__ADS_1


"Jawab dulu. Kalau nggak dijawab Juna nggak mau tidur." Juna menggeleng cepat. Lalu membalikkan tubuhnya untuk menatap Tian. Dilihat Papi barunya itu tengah menelan ludah sambil mengulas keringat di dahi. "Kenapa, Pi? Kan nggak ada airnya."


...Ayok, kenapa, Pi?🤪...


__ADS_2