Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
108. Dasar ganjen!


__ADS_3

Padahal, langkahnya sedikit lagi sampai, tetapi Angga memilih untuk berlari dan langsung memeluk tubuh Citra.


"Kamu apa kabar, Sayang? Duh, Opa kangen banget sama kamu," ujar Angga dengan hati yang berbunga-bunga.


Apa yang Angga lakukan secara tiba-tiba itu sontak membuat mata Steven dan Sindi terbelalak.Cepat-cepat Steven melepaskan pelukan itu, lalu meraih pinggang agar bergeser untuk lebih dekat dengannya dan tentu menjauh dari Angga.


Dia juga merasakan kedua telurnya yang bergelantung di celana tiba-tiba terasa panas, menerima bergemuruh.


"Papa apaan sih? Tiba-tiba langsung meluk aja! Dasar ganjen!"berang Steven marah, dia meloloti Angga.


"Dih, kamu 'kan tahu kalau Papa itu kangen sama Dedek Gemes. Wajar dong kalau ...." Ucapan Angga menggantung kala pandangan dari pandangan kepada Sindi.Wanita tua itu tengah duduk di sofa panjang yang berada di samping sofa yang disajikan oleh Steven dan Citra.


Sebelumnya, dia tak sadar jika ada istrinya juga di sana.Dan kini, Angga susah payah menelan ludah sebab melihat mata Sindi begitu tajam, juga wajahnya yang amat masam.


"Papa, Stev. Papa khilaf," kata Angga sambil tersenyum dengan wajah takut mengungkapkan Sindi, cepat-cepat dia pun berjalan menuju istrinya.Duduk di sampingnya dan merangkul pinggangnya.


"Aku nggak suka, ya, Papa peluk-peluk Citra. Awas saja kalau Papa melakukannya tanpa seizin dariku!"ancam Steven tegas.


"Iya," jawab Angga sambil mengangguk, lalu mengungkapkan Citra sambil tersenyum manis.'Kok bisa ada Dedek Gemes di rumah?Kapan Steven menemukan?Duh ... kalau situasinya begini mah aku nggak bisa bertanya tentang dia memilih siapa dong.'


'Ayah?'Kening Citra mengerenyit saat mendengar kata panggilan yang dilakukan Steven.'Apa Opa Ganteng itu Papanya Om Ganteng?'batin Citra.


"Opa Ganteng apa kabar? Dan... apa Opa adalah Papanya Om Ganteng?"tanya Citra.


Mata Angga seketika terbelalak.Dia tampak kaget kala mendengar sebutan 'ganteng' yang ditunjukkan untuk Steven juga, dia tadi sempat melihat Citra melirikkan matanya ke arah Steven melihat saat menyebut panggilan itu.


"Jadi kamu juga memanggil Steven dengan panggilan Ganteng?"Bukannya menjawab pertanyaan Citra, Angga justru memberikan pertanyaan balik."Opa kira sebutan itu hanya untuk Opa saja," dengan mimik wajah sedih.


"Oh. Iya juga, ya, aku baru sadar. Tapi ...." Citra memperhatikan wajah Angga, lalu beralih ke Steven.Dia baru sadar kalau memang wajah mereka bukan sama-sama ganteng saja, tapi juga mirip."Tapi Opa Ganteng dan Om Ganteng memang sama-sama ganteng. Jadi panggilan itu sangat cocok."

__ADS_1


"Itu nggak cocok!"tegas Steven sambil gemetar.Dia terlihat tak menerima panggilan itu disamakan dengan Angga."Jelas aku lebih Ganteng dari Papa, Cit!"


"Enak saja kamu, Stev."Angga menimpali.Sama seperti Steven, dia juga tampak tak terima sebutan mereka sama."Jelas lebih ganteng Papa ke mana-mana dong!"


Steven menoleh kepada Angga, keduanya bertemu dan sama-sama hebatnya."Papa nggak ngaca memangnya? Papa itu sudah keriput, jelas lebih ganteng aku lah!"


"Enak saja kamu mengatai Papa keriput! Papa masih kencang, Stev!"bantah Angga sembari menyentuh kedua pipinya.


Steven berdecak, lalu menoleh ke arah Citra.Gadis itu tampak bingung dengan apa yang mereka perdebatkan."Jujur padaku, lebih tampanan aku dari Papa 'kan, Cit?"


"Sayang, kamu tidak perlu berbohong. Kamu harus jujur dan akui saja ... kalau Opa lebih ganteng dari Steven, kan?"tanya Angga penasaran.


"Kalian—"


"Berhenti!"sergah sindi cepat.Pekikannya membuat Citra urung menjawab pertanyaan keduanya."Kalian ini apa-apaan sih? Debatin apa sebenarnya?!"berangnya marah.Sindi mengungkapkan Steven dan Angga secara bergantian dengan tajam menembak.Kedua pria itu langsung melipatgandakan masing-masing."Kalian berdua ganteng, nggak mungkin cantik. Dan lagian apa pentingnya semua itu?!"


Steven menyeka keringat yang baru saja mengalir di dahinya.Kemudian perlahan dia membuang napas."Begini, Ma, Pa. Sebelumnya aku ingin minta maaf kalau selama ini aku belum jujur. Tapi sepertinya sekarang waktu yang tepat," kata Steven sembari mengungkapkan kedua orang tuanya silih berganti.


"Jujur apa?"tanya Sindi.


"Sebenarnya aku dan Citra...." Steven menoleh ke arah Citra lalu tersenyum manis."Kita sudah menikah."


"Menikah?" Sindi dan Angga berucap secara bersamaan, tetapi keduanya tidak percaya. Bahkan Angga terlihat terkekeh. Dia yakin kalau Steven pasti sedang berhalusinasi, mengingat itu memang hampir gila.


"Kamu ngehalu lagi ya, Stev. Baru juga ketemu masa kamu bilang nikah sama Dedek?"


"Aku menikah dengan Citra sekitar tiga bulan lalu, Pa," kata Steven.


"Tapi baru kemarin kamu bilang Citra itu pacarmu, Stev. Kamu ini aneh sekali."Sindi menyahut.

__ADS_1


"Iya, aku saat itu berbohong dan itu kesalahanku. Tapi aku dan Citra memang menikah, Ma. Aku juga sangat mencintai Citra. Mama dan Papa harus percaya itu," ujar Steven.


"Mana buktinya?" tanya Angga.


"Cincin. Aku dan Citra memakai cincin kaw ...." Ucapan Steven mengantung kala membocorkan jari manisnya tak ada cincin, matanya seketika terbelalak. Entah kemana benda itu, dia juga baru sadar sekarang kalau tidak ada. Kening Steven seketika mengerenyit. "Cincinku ke mana? Jangan-jangan diambil pas aku dibegal ya?"


"Kamu nggak pernah pakai cincin perasaan deh, Stev," kata Angga.


"Pernah, Pa. Aku sering memakainya."Steven ingat dan begitu yakin, sebab dia memang belum pernah sekali-kali melepaskan benda itu. "Eemm... tapi aku ada bukti lain, aku punya buku nikah."


Ya, mungkin dengan adanya buku nikah, Angga dan Sindi bisa langsung percaya. Gegas, Steven pun mengambil ponselnya di dalam kantong celana untuk menghubungi Ajis.Dia ingat kalau buku nikah itu ada di apartemen.


"Halo, Jis. Tolong cari buku nikahku. Ada di lemari dan di dalam laci kecil berwarna putih," titah Steven saat sambungan telepon diangkat oleh seberang sana.


"Baik, Pak," jawab Ajis.


Satu jam setelah menelepon Ajis, mereka berempat menunggu kedatangannya.Dan tak lama bunyi bel berdenting lalu Bibi pembantu membukakannya.


Ajis berjalan menghampiri mereka berempat di ruang keluarga sambil membawa peta coklat di tangan.


"Selamat malam. Eh!" Mata Ajis seketika saat melihat ada Citra di sana. Agak kaget dan tampak heran. Tetapi dia langsung tersenyum manis kala Citra juga tersenyum Anda. "Nona Citra. Alhamdulillah Nona sudah kembali. Apa Nona baik-baik saja? Dan—”


"Mana!" seru Steven dengan salah satu tangan yang menadah ke arah Ajis. Dia terlihat tak sabar ingin pria itu cepat-cepat memberikan apa yang dia bawa.


"Ini Pak." Ajis pun segera memberikannya. Kemudian, Steven memberikan itu ke tangan Sindi.


"Mama dan Papa bisa melihatnya langsung," kata Steven.


Angga segera merebut amplop coklat di tangan Sindi, karena rasanya begitu penasaran benar atau tidaknya tentang apa yang Steven katakan. Tetapi jujur, jantungnya saat ini berdebar kencang dan ada rasa takut jika itu benar-benar terjadi.

__ADS_1


__ADS_2