Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
38. Aku akan membunuhmu


__ADS_3

"Pergi kamu dari sini!" Steven mengibaskan tangannya ke arah laki-laki itu, memintanya untuk pergi dan tidak menghalangi pintu.


"Kalau nggak diizinkan ngajak jalan, aku mau main saja ke apartemen ya, Om."


"Pergi!" teriak Steven kencang dengan penuh amarah. Ingin rasanya dia mendorong tubuh Udin yang menghalangi pintu, tetapi dia merasa jijik untuk menyentuh apa pun yang ada pada diri laki-laki itu.


"Om jangan galak-galak dong. Aku 'kan sebentar lagi akan jadi menantu Om."


Mata Steven sontak terbelalak, dia pun langsung berdiri dan tiba-tiba mencengkram leher laki-laki itu sembari memberikan dorongan sehingga Udin menjauh dari mobilnya.


Udin terbelalak, dia merasa terkejut melihat apa yang dilakukan pria itu.


"Apa yang kau bilang barusan?!" tanya Steven dengan nada tinggi, matanya menyorot tajam pada Udin yang sudah terlihat ketakutan dan tertekan akibat remmasan pada lehernya.


"Aku ... aku cinta sama Citra, Om. Aku mau dia jadi pacar—aaakkhhh!" Udin tak sempat melanjutkan ucapannya lantaran lehernya sudah didorong kuat oleh Steven hingga membuat tubuhnya tersungkur ke tanah.


Bruk!


"Jangan berani-berani bilang mencintai Citra di depanku ...." Steven mengertakkan giginya, wajahnya tampak emosi dan begitu garang. "Sekali lagi aku mendengar atau melihatmu menggoda Citra ... aku akan membunuhmu saat itu juga!" teriak Steven yang mana membuat tubuh Udin bergetar. Jantungnya langsung berdebar sangat kencang.


Steven meraih botol air mineral di dalam mobil, lalu membuka dan langsung mencuci tangannya.


"Pergi dari sini! Jauhi Citra! Aku benci padamu!" Steven membanting botol kosong sambil melototi Udin. Dan setelah itu, lantas dia pun berlalu pergi kembali ke apartemen.


Udin meraba lehernya yang terasa sakit, lantas dia pun menelan ludahnya dengan kasar. Ada rasa bingung di dalam hati, mengapa Steven terlihat begitu tak suka padanya. Bahkan saat pertama kali bertemu.

__ADS_1


"Seram dan galak banget Omnya Citra, kalau begini mah aku susah dong mendapatkan Citra." Pelan-pelan Udin bangun hingga berdiri, lalu menepuk-nepuk kedua bokong dan tangannya. Membersihkan pasir yang menempel. "Padahal lumayan kalau pacaran sama Citra."


*


*


Ceklek~


Citra membuka pintu kamar Steven, pria tampan yang kini tengah duduk di sofa itu lantas membelalakkan matanya melihat Citra hanya memakai lilitan handuk, dia hanya tersenyum lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya sendiri.


Selang beberapa menit Citra keluar dan duduk di samping Steven, dia mengenakan baju tidur labasan selutut lengan pendek bergambar beruang.


"Om bawa apa itu? Gede banget." Citra menunjuk paper bag besar di atas meja.


"Tanya apa?"


"Kenapa kamu beritahu alamat apartemenku sama si Bau itu?" tanya Steven dengan kesal. Wajahnya tampak merah.


"Si Bau siapa, Om?"


"Temanmu yang bau itu, siapa namanya?"


"Temanku nggak ada yang bau."


"Yang bergigi tonggos dan kuning, dekil sekaligus berdaki!" Ternyata Steven memperhatikan Udin dengan seksama.

__ADS_1


"Oh si Udin. Aku nggak ngasih alamat apartemen padanya."


"Bohong."


"Sumpah."


"Terus kenapa tadi anaknya ada di parkiran? Mana bau ketek lagi."


"Oh, memangnya si Udin ke sini, Om? Terus mana dia orangnya? Kok Om nggak kasih tahu aku?"


"Jadi bener kamu yang ngasih tahu dia alamat apartemen?" Steven memicingkan matanya, menatap Citra dengan penuh kecurigaan.


"Sumpah demi Allah nggak. Ya dia memang tadi siang saat di kampus bilang mau mengajakku jalan-jalan, tapi aku bilang nggak tahu karena belum izin sama Om."


"Terus dia bisa tahu dari mana? Memang kamu pikir si Bau itu dukun?"


"Mungkin tahu dari Lusi dan Rosa. Kan mereka tahu apartemen Om."


"Ambilkan dulu aku air dingin, Cit." Steven menyentuh lehernya yang terasa haus, tenggorokannya terasa kering sebab sejak tadi terus mengeluarkan suara tinggi dan emosi. Masih banyak hal yang perlu dipertanyakan, tetapi sebelum itu Steven butuh cairan.


"Iya, sebentar." Citra mengangguk seraya berdiri, kemudian melangkah menuju dapur. selang beberapa detik saja dia pun kembali. Tetapi anehnya dia malah membawa baskom kecil pada kedua tangannya.


"Dih, kamu ambil air dingin taruh di baskom? Gila aja kamu."


...Nggak jelas emang si Citra, Om 🙈...

__ADS_1


__ADS_2