Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
163. Bukan anak kita


__ADS_3

Steven tak peduli tentang namanya yang dicoret di KK. Sebab dia sendiri sudah menikah dan sedang membuat KK untuk keluarga kecilnya.


Namun, alasannya protes yakni lantaran tak mau penjara. Bukan takut tinggal di sana, yang dia takutkan adalah jauh dari Citra.


"Bukan Papa yang berlebihan, tapi kamu yang berlebihan, Stev!" tukas Angga. Dadanya terlihat naik turun, mengatur emosinya.


"Kok jadi aku?" Steven menunjuk wajahnya sendiri. Terheran-heran.


"Kamu terlalu berlebihan membenci Kevin. Padahal dia hanya seekor burung, Stev!"


"Sudah tahu dia burung, tapi kenapa Papa menganggapnya anak? Aku nggak sudi punya adik angkat seekor burung!" tegas Steven marah.


"Oke, Papa nggak akan menganggapnya anak." Angga mengalah, lagian dia juga awalnya hanya iseng-iseng saja mengatakan Kevin ingin diangkat menjadi anak.


Kalau tentang Kevin memanggilnya dengan sebutan Papa, itu bukan Angga yang ajarkan. Kevin sendirilah yang memanggil sebutan seperti itu sejak awal tinggal di rumahnya . Mungkin ikut-ikutan dengan yang lain, entah Sindi, Steven atau Citra.


Yang Angga ajarkan hanya merubah panggilan untuk Steven, sebab tampaknya pria itu paling sensi jika dipanggil dengan sebutan 'Om' apalagi ada kata 'Tuanya'


"Tapi kamu sekarang harus tanggung jawab, tanggung jawab atas perbuatanmu!" tambah Angga.


"Apa yang harus aku pertanggungjawabkan?" tantang Steven.


"Kamu harus menggantikan posisi Bejo."


"Maksudnya Papa mau aku jadi satpam di rumah?"


"Bukan, tapi selama Bejo masih di rumah sakit ... kamu menafkahi kedua istri dan empat anaknya. Pokoknya apa pun yang berhubungan dengan Bejo ... kamu yang nanggung."


"Dua istri? Empat anak?" Kening Steven mengerenyit. Bingung dengan apa yang Angga katakan. "Memangnya Bejo punya dua istri?"


"Ya."


"Bapak jangan asal bicara!" seru seorang wanita yang tampak tak terima. Dia adalah istri tua Bejo. Namanya Susi. Segera dia pun berdiri lalu mengusap kasar pipinya yang basah karena air mata. "Sejak kapan Mas Bejo punya dua istri? Hanya saya istri satu-satunya, dan kami hanya punya tiga anak!" ungkapnya seraya menepuk dada.


Angga menatap heran wanita berumur 40 tahun itu. Rasanya aneh, apa yang dia katakan? Apa Bejo tak jujur kalau dia punya istri dua? Itu lah yang terlintas dalam benak Angga.

__ADS_1


"Maaf, mungkin suamiku yang salah bicara," ucap Sindi. Dia merasa tak enak.


Tak lama, datang seorang wanita cantik yang berjalan tergesa-gesa sambil mendorong troli bayi. Dilihat dari usia, tampaknya dia berumur 25 tahun. Dia menatap Angga dan menurutnya, Angga adalah bosnya Bejo.


"Apa Bapak Bosnya Ayank Bejo? Bagaimana keadaan dia, Pak? Apa dia baik-baik saja?" tanyanya dengan deru napas yang tersenggal-senggal. Capek rasanya, dia berjalan tapi seperti lari akibat cemas ingin melihat kondisi suaminya.


"Siapa kau?" seru Susi. Matanya agak melolot kepada wanita yang baru datang itu. "Berani sekali kau memanggil suamiku dengan sebutan Ayank! Gatal sekali!" pekiknya marah.


"Mbak yang siapa? Ayank Bejo itu suamiku, Mbak."


"Apa kau bilang?" Dada Susi seketika bergemuruh. Emosinya memuncak ke ubun-ubun. Tangan kanannya sudah melayang ke udara, hendak menampar pipi wanita itu. Akan tetapi, dengan cepat Sindi menahannya.


"Tunggu dulu, sepertinya ini ada kesalahpahaman," ucap Sindi. Dia menengahi. "Kamu mungkin salah orang." Sindi berkata pada wanita berusia 25 tahun itu, namanya Yuna.


"Salah paham bagaimana, Bu? Aku datang karena ingin bertemu Ayank Bejo, suamiku. Saat tadi aku meneleponnya ... bosnya yang angkat. Lalu dia mengatakan kalau Ayank Bejo masuk rumah sakit," jelas Yuna.


Sindi menarik lengan Yuna, mengajaknya ke arah jendela. Bertanya sekali lagi dan memastikan. Benar atau tidaknya Bejo suaminya itu orang yang sama dengan suami Susi. Sebab dia sendiri tak percaya jika Bejo punya dua istri.


"Iya, dia suamiku, Bu," ucap Yuna.


"Bejo memang beristri dua, Ma. Papa nggak salah ngomong kok tadi." Angga membuka suara. Susi langsung mengepalkan kedua tangannya. Segera dia pun menjambak rambut Yuna.


"Ini hukuman untukmu karena gatal dan merebut suamiku!" teriak Susi murka. Aksi kekerasan itu tak berlangsung lama sebab Jarwo dan Dono turun tangan. Memisahkan mereka dan memberi jarak.


"Kasar sekali, Mbak! Aku akan laporkan Mbak ke Ayank Bejo!" teriak Yuna tak terima. Dia menatap nanar telapak tangannya, ada beberapa rambut panjangnya yang rontok. Padahal rambutnya itu baru kemarin dirawat salon.


"Laporkan saja sana! Bangunkan dia yang sedang koma!" cetus Susi jengkel. "Kamu benar-benar wanita murahan, ya! memang nggak ada gitu pria jomblo yang mau sama kamu? Sampai kamu mau jadi istri kedua?"


"Jangan asal, ya, kalau bicara!" berang Yuna tak terima. "Aku menikah dengan Ayank Bejo karena dia bilang statusnya duda! Bukan beristri."


"Halah! Nggak udah bohong kamu, dasar kamunya saja yang gatal dan ingin merebut suami orang," celetuk Susi.


"Kalian jangan berantem!" tekan Angga seraya menatap keduanya. Kupingnya terasa panas mendengar mereka mengoceh, memperebutkan Bejo. Dilihat mereka kini saling melayangkan pandangan dengan sorotan tajam. Ada api yang berkobar di bola mata masing-masing. "Aku nggak tahu kalau Bejo nggak jujur tentang dirinya yang poligami. Tapi untuk sekarang, berantem nggak akan menyelesaikan masalah."


"Tapi aku butuh uang, Pak. Aku ingin membeli skincare dan popok. Harusnya Ayank Bejo mengirimkanku uang hari ini," ucap Yuna.

__ADS_1


"Enak saja kau!" protes Susi sengit. "Aku juga butuh uang darinya. Aku ingin belanja bulanan dan anakku belum bayar SPP!" Susi mengusap rambut kepala anaknya. Bocah laki-laki berumur 9 tahun itu sejak tadi diam saja setelah berhenti menangis.


Angga membuang napasnya kasar. Kepalanya terasa sakit. Bejo yang keracunan dan Steven lah pelakunya, tetapi dia ikut merasakan pusingnya.


"Kalau kalian butuh sesuatu, mintalah sama dia." Angga menoleh ke arah Steven, pria tampan itu langsung terbelalak. "Dia yang bertanggung jawab atas semuanya."


"Kirimkan uang padaku sekarang, Pak! Aku butuh lima juta," ucap Susi.


"Aku juga mau lima juta," ujar Yuna.


"Masa aku, sih, yang ngasih mereka uang. Tekor dong, Pa!" protes Steven. Rasanya tak ikhlas memberikan uang itu kepada mereka. Dia tak mau.


"Kan Papa sudah memintamu untuk tanggung jawab. Sudah cepat kirim. Sepuluh juta nggak akan membuatmu miskin, Stev." Angga memutar bola matanya dengan malas. Kemudian duduk di kursi panjang di samping Sindi dan Citra.


Steven berdecak kesal. Dengan berat hati dia pun mengirimkan uang yang mereka inginkan.


'Sial banget aku. Duit 10 juta melayang. Padahal lumayan buat aku pensiun nanti,' batin Steven.


Setelah mengirimkan uang, tak lama ada sebuah chat masuk dari Dika. Dia mengatakan kalau sekertaris barunya sudah datang dan menunggu Steven.


"Ya sudah, aku mau ke kantor dulu. Ayok, Cit. Aku akan mengantarmu ke kampus." Steven menarik lengan Citra, namun gadis itu menggelengkan kepala dan menahan bokongnya di kursi.


"Aku nggak mau diantar Om."


"Kenapa?"


"Om harus berubah supaya jangan jahat lagi. Jangan mencoba membunuh Kevin. Dia lucu, Om. Aku sayang padanya." Tangan Citra yang mengelus jambul Kevin segera Steven tepis. Geram sekali rasanya. Kalau tidak ada orang, mungkin leher burung itu sudah dia cekik sampai membuatnya mati.


"Kalau kamu bilang sayang padanya, justru aku makin ingin membunuhnya, Cit!" tegas Steven marah. Dia menggenggam erat pergelangan tangan Citra. "Cukup aku saja yang kamu sayang dan berhenti mengelus burung itu! Aku juga punya burung tapi nggak pernah kamu elus!" geramnya sambil melototi Kevin.


Dia pun menarik kuat lengan Citra hingga akhirnya gadis itu berdiri, setelahnya dia pun merangkul bahu dan membawanya pergi dari sana. Terlihat agak memaksa.


Angga dan Sindi hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Steven, apalagi dengan apa yang dia katakan tadi.


"Steven benar-benar sudah berubah ya, Pa. Kok posesif banget dia, mesum lagi," ucap Sindi tak menyangka.

__ADS_1


"Iya, Papa juga nggak nyangka dia berubah. Perasaan Papa nggak mesum deh, tapi kok anak laki-laki Papa mesum semua, ya?" Kening Angga mengerenyit. "Steven juga ... mirip siapa dia? Atau jangan-jangan Steven tertukar saat Mama melahirkan di rumah sakit? Apa mungkin dia bukan anak kita, Ma?"


...Masa sih, Opa? 😳 Bukannya wajah Om Steven mirip Opa? Kelakuannya juga 😆 Sok suci banget, sih, bilang nggak mesum. Orang Opa suhunya kok 🤣...


__ADS_2