Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
245. Aku akan membuktikan


__ADS_3

Tian mengerjapkan matanya saat merasakan lengannya kesemutan sebab dipakai untuk penyangga kepala Juna. Bocah itu tertidur pulas dalam pelukannya.


Pelan-pelan Tian menarik lengannya, lalu memindahnya kepala Juna untuk berada di atas bantal.


"Kamu kenapa, Ti?" tanya Nissa yang baru saja keluar dari kamar mandi. Dia pun lantas melangkah menghampiri. "Tanganmu pasti sakit gara-gara Juna, ya?"


"Nggak sakit. Cuma kesemutan doang. Nggak apa-apa." Tian menggeleng lalu tersenyum. "Kamu mau ke mana?" Meraih tangan Nissa ketika wanita itu hendak pergi.


"Mau lanjut tidur." Nissa menatap ke arah kasur busa. Angga dan Sindi terlelap tidur di sana.


"Aku mau mengobrol sebentar denganmu, Nis. Kamu duduk dulu," pintanya.


Nissa menurut, dia pun duduk di kursi di samping Tian yang masih berbaring dengan Juna. Pria itu membalik tubuhnya untuk bisa menatap wajah Nissa.


"Ngobrol apa?"


Tian melirikkan matanya ke arah Angga sebentar. Memastikan pria itu sudah tertidur. "Aku bingung, Nis. Tadi pagi Papamu memintaku untuk menjauhimu dan Juna. Dia juga bilang kalau sudah memberikanmu calon bernama Rama. Tapi tadi sore, Papamu menyuruh satpam rumahnya untuk memintaku datang ke sini dan barusan Juna bilang kalau aku akan menikah denganmu."


"Apa yang telah terjadi adalah keinginan Juna, Ti. Kamu tahu, kan, aku pernah bilang kalau aku nggak mau menikah lagi."


"Jadi, kalau aku sudah resmi menjadi duda, kamu nggak mau menikah denganku?"


"Mau." Nissa mengangguk.


"Katanya tadi nggak mau menikah? Kok sekarang mau? Aku lagi mimpi nggak, sih?" Tian menampar pipinya sendiri dan cukup keras. Rasanya sakit. Berarti ini bukan mimpi.


Tak lama jantungnya pun berdebar kencang, wajahnya langsung merona.


"Aku nggak tega menolak permintaan Juna," kata Nissa. "Dia sangat ingin mendapatkan kasih sayang yang belum pernah dia dapatkan dari Papinya. Dan yang Juna inginkan hanya kamu." Nissa menatap lekat mata Tian sebentar, lalu beralih kepada Juna. "Aku hanya ingin melihat Juna bahagia, Ti. Hanya dia penyemangat hidupku selama ini." Bola mata Nissa berkaca-kaca.


Tian mengulurkan tangannya, lalu mengenggam tangan Nissa dengan lembut. Terasa hangat sekali sampai terasa ke jantung. "Aku nggak mau berjanji, karena aku takut mengingkarinya. Tapi aku akan membuktikan, kalau aku bisa membuatmu dan Juna bahagia. Semampu dan sebisaku, Nis," ujarnya dengan tulus.


"Iya." Nissa mengangguk.


"Tapi, Nis. Apa ini tandanya Papa dan seluruh keluargamu merestui? Bagaimana dengan Steven?"


"Kalau masalah itu aku sendiri nggak tahu." Nissa menggeleng samar. "Tapi sejujurnya aku ingin kamu mengobrol sama seluruh keluargaku kemudian bilang kalau kamu mau menikahiku, Ti. Restu orang tua memang nomor satu, tapi aku juga mau mendapatkan restu dari semuanya. Kalau memang kita berjodoh dan sampai menikah, aku mau pernikahan ini yang terakhir."


"Amin." Tian mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Duh, Nis. Kok aku meleleh, ya, dengernya." Wajah Tian makin merah saja. Hidungnya pun terlihat kembang kempis. "Setelah Juna sembuh, aku akan meminta restu pada semua keluargamu. Semoga saja semuanya sesuai harapan kita." Tangan Tian terangkat, lalu mengelus puncak rambut Nissa.

__ADS_1


"Amin." Nissa berdiri. "Ya sudah, kamu tidur lagi. Masih ada waktu, takutnya kurang tidur malah jadi sakit." Menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 3.


"Kamu perhatian banget, Nis. Terima kasih."


"Sama-sama."


Tian tersenyum lebar sembari menatap Nissa yang melangkah menuju kasur, kemudian berbaring di samping Sindi dan menarik selimut. 'Jadi nggak sabar aku, pengen cepet-cepet halalin Nissa. Pasti jos banget rasanya 'kan, ya?' Rasanya ingin loncat-loncat karena sangking senangnya. Tetapi sayang tak bisa. Tian pun menatap plafon, lalu perlahan memejamkan mata. 'Ya Allah, tolong percepat proses perceraianku. Tolong juga permudahkan jalanku supaya aku mendapatkan restu dari seluruh anggota keluarga Nissa, termasuk Steven,' batinnya penuh harap.


***


Keesokan harinya.


Angga mengajak ketemuan dengan Mbah Yahya di sebuah cafe. Dia ingin membahas masalah hubungan Rama dan Nissa.


Jujur, dia sejak semalam merasa pusing. Meminta pendapat pada Sindi pun wanita itu mengatakan terserah Nissa dan Juna saja, asalkan mereka bahagia. Tetapi Angga sendiri belum yakin, bahwa menikahkan Nissa dan Tian adalah pilihan yang tepat.


Mungkin ada baiknya dia berkompromi dengan Mbah Yahya, supaya saling memberikan jalan, enaknya bagaimana.


"Maaf lama, Ga. Macet banget tadi," ujar Mbah Yahya yang baru saja datang. Menghampiri Angga yang sudah duduk sejak 20 menit yang lalu di sana.


"Nggak apa-apa. Ayok duduk."


Seperti biasa, mereka memesan kopi hitam dan luwak. Hanya saja bedanya ditambah dua potong sandwich. Sebab mereka belum sarapan dari rumah.


"Kamu ada masalah?" tanya Mbah Yahya sambil mengunyah sandwich di mulutnya.


"Iya. Ini tentang Nissa dan Rama, Ya."


"Ada apa? Kemarin Rama diminta oleh aku untuk melamar Nissa. Tapi katanya nggak jadi soalnya Juna sempat kejang-kejang sampai di bawa ke rumah sakit."


"Memang, kemarin Rama berniat mau melamar?"


"Iya. Aku sudah belikan cincin untuk Nissa. Eh, bukan beli sih. Ngambil di tokonya Rama. Tapi dia nggak tahu."


"Nyuri? Dih, masa mau ngasih cincin buat anakku hasil nyuri, Ya?"


"Yang ngasih 'kan Rama. Itu 'kan dari tokonya sendiri. Ya nggak nyuri lah, Ga. Jadi ada apa ini? Kenapa?" tanya Mbah Yahya penasaran.


"Ini ada hubungannya dengan Juna sakit, Ya." Angga perlahan membuang napasnya dengan berat. "Kan kemarin kamu tahu, kalau aku sudah meminta Tian untuk menjauhi Juna dan Nissa. Eh, pas aku pulang ke rumah ... Juna ngambek pengen ketemu sama Tian. Dia sampai masuk rumah sakit," jelas Angga sembari memijat dahinya yang mendadak terasa pening.

__ADS_1


"Memangnya, mereka berdua deket banget?"


"Iya." Angga mengangguk. "Udah kaya lem, nempel mulu pas ketemu. Awalnya si Juna nggak suka sama Tian, Ya. Tapi semuanya berubah pas si Tian nyelametin Juna saat dia diculik. Tian juga sempat ketusuk, terus kayaknya Juna merasa kasihan."


"Oh, jadi itu awal mereka deket?"


"Iya." Angga mengangguk lesu. "Terus kemarin, Juna malah merengek minta Tian dijadikan Papi barunya. Aku jadi bingung sekarang, Ya."


"Terus, Nissanya mau?"


"Iya." Angga mengangguk. Semalam, dia tak sengaja menguping pembicaraan Nissa dan Tian. Meskipun keduanya itu berbincang dengan pelan, tetapi telinganya cukup tajam hingga dapat mendengar semuanya.


"Terus nasib Rama bagaimana, Ga? Masa ditinggal nikah? Kasihan dia dong. Rama sama siapa nantinya?" tanya Mbah Yahya dengan sendu.


Kalau saja ilmunya bisa digunakan untuk Rama. Mbah Yahya tidak akan pusing dan sefrustasi ini. Jujur, dia sangat menginginkan anak laki-laki semata wayangnya itu menikah. Kasihan juga, selalu jadi bahan ghibah.


Memang, Rama sendiri seolah tutup kuping meskipun dia sendiri mendengarnya. Tetapi sebagai orang tua, tentu Mbah Yahya merasakan sakitnya.


Lengan Angga terulur, lalu mendarat ke bahu kiri Mbah Yahya. Perlahan dia pun mengelusnya.


"Kamu yang sabar, Ya. Dulu juga Steven kayak gitu, jauh sama jodoh. Aku dan Sindi ikut pusing nyari calon untuknya. Tapi pas sudah waktunya ... eh nggak tahu-tahu dia udah nikah. Mana muda banget lagi istrinya. Mungkin Rama juga akan seperti itu," ujar Angga dengan lembut. Mencoba menenangkan.


"Rama dan Steven itu berbeda, Ga," keluh Mbah Yahya sedih.


"Iya, mereka beda. Rama anakmu, Steven anakku. Tapi 'kan mereka sama-sama pria. Rama juga tampan, mapan dan baik. Aku yakin ... pasti banyak perempuan yang mau dengannya. Bahkan yang masih gadis pun pasti ada. Kamu jangan pesimis begitu, semua manusia pasti ada jodohnya."


Bukannya tenang mendengar nasehat Angga, Mbah Yahya justru makin terenyuh dan putus asa. Sejak kemarin-kemarin pria itu sudah mulai aktif berkonsultasi pada dokter baru hasil rekomendasinya. Tetapi saat setelah pulang berkonsultasi, wajah pria itu tampak muram.


Dia juga melihat, bahwa Rama sebetulnya sudah mulai lelah untuk pergi ke dokter. Hanya saja dia memaksakannya sebab Mbah Yahya dan sang istri terus memintanya.


'Kamu nggak tahu masalah Rama, Ga. Burungnya itu letoy. Dia kayak fariasi doang di dalam celana. Bisanya kencing doang, itu juga sambil dipegangin,' batinnya menangis dalam hati.


...Author mau nanya dong, wajib dijawab, Ya....


...Kalian mau baca kisahnya Om Rama nggak, Guys? Kalau mau, komen, ya....


...Tapi rencananya Author mau bikin novel buat dia sendiri. Bukan di cerita ini. Soalnya nanti takut acak-acakan, Author pusing....


...Belum ngurusin anaknya Kevin yang netes, Citra lahiran, terus Om Tian, Mbak Nissa, Juna sama Fira yang kena azab 🥲...

__ADS_1


...Kalau banyak yang mau, nanti Author bikinin cerita yang baru. Di Noveltoon juga tentunya. Kira-kira bulan depan lah, ya 🙃...


__ADS_2