Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
97. Aku akan membahagiakanmu


__ADS_3

"Beri aku kesempatan sekali lagi, kesempatan untuk bisa hidup bersama Citra, Ayah. Aku akan berusaha memperbaiki diri dan menjadi suami yang dia inginkan."


"Aku mohon ...." Steven merogoh saku dalam jasnya, lalu mengambil sebuah kertas yang terlipat dan amplop surat cerai.


Lantas, perlahan dia pun merobek keduanya. Kertas yang terlipat itu adalah sebuah kontrak pernikahan yang selama ini Citra cari. Belum sempat gadis itu melihatnya, tetapi kertas perjanjian itu sudah dirobek dan memang sudah tak berguna lagi menurut Steven.


Setelah menceritakan isi hatinya yang terdalam pada Danu, Steven merasakan ada setitik kelegaan di dalam hati. Memang, dia tak mendapatkan jawaban apa-apa. Tetapi, rasanya itu sudah cukup.


"Halo, Pak. Ada Pak Harun datang," ucap Ajis pada sambungan telepon yang baru saja diangkat oleh Steven.


"Mau apa? Kalau menanyakan surat perceraian bilang saja itu sudah dirobek dan aku nggak mau menemuinya!" tegas Steven lalu mematikan sambungan telepon.


***


Sore hari.


Sepulang kerja, Fira yang tengah berdiri disisi jalan raya tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh seseorang. Orang tersebut menunggangi sebuah mobil putih dan membuka pintu, lalu menarik Fira sampai tubuh gadis itu masuk ke dalam.


"Aaakhh!" pekik Fira.


Seketika mata Fira membulat, kala orang yang melakukan hal itu adalah mantan tunangannya yang tidak lain adalah Tian.

__ADS_1


"Mas, apa yang Mas lakukan? Aku kaget!" protes Fira marah. "Turunkan aku sekarang! Aku mau pulang!"


"Aku yang akan mengantarmu. Tapi sebelum itu kita harus bicara dulu," kata Tian. Dia masih mengemudi mobilnya yang melaju dengan kecepatan full.


"Bicara apa, sih? Kita itu sudah putus dan Mas jangan ganggu aku!" tekan Fira seraya menyentuh handle pintu mobil, dia ingin membukanya tetapi sepertinya terkunci. Cepat-cepat dia pun membuka tas jinjingnya, dia mengambil ponsel namun segera Tian merebutnya. "Apa sih yang Mas mau sebenarnya? Cepat berhenti!" geram Fira marah. Berusaha dia mengambil ponsel itu, sayangnya Tian langsung menaruhnya ke bawah bokong.


Mobil itu akhirnya berhenti disisi jalan raya yang lumayan sepi. Lantas, Tian pun mematikan mesin mobilnya dan melepaskan sabuk pengaman.


Dia pun menggeserkan tubuhnya supaya lebih enak menatap Fira. Perlahan, Tian membuang napasnya kasar seraya menyentuh punggung tangan Fira.


"Aku ingin kamu jujur padaku, Fir. Apa alasanmu meminta kita putus? Kita pacaran selama satu tahun dan itu bukan waktu sebentar."


"Kan aku sudah bilang kalau aku sudah bosan, kenapa Mas nggak ngerti juga?" Fira memalingkan wajahnya ke arah lain, tetapi Tian menggeserkan dagunya supaya gadis itu kembali menatapnya.


"Mas tukang bohong, aku nggak suka sama pria yang tukang bohong!" Fira menggeleng cepat.


"Tukang bohong apanya? Kapan aku pernah bohong padamu?"


"Kemarin pas aku berulang tahun ... aku 'kan sudah meminta Mas untuk belikan aku gelang berlian. Mas bilang iya, tapi nyatanya mana?" Fira menadahkan tangan kanannya ke arah Tian, wajahnya itu tampak begitu masam menatapnya. "Sampai sekarang bahkan Mas belum membelikannya!"


"Bukan aku nggak mau membelikannya, tapi uangku belum cukup, Fir."

__ADS_1


"Halah, alasan! Mas bilang Mas itu banyak uang. Katanya dulu juga dapat harta warisan, kan? Masa aku minta gelang berlian saja nggak bisa. Paling berapa sih harganya?" kata Fira dengan remeh. Sungguh, saat ini dia sangat malas sekali bicara dengan pria itu. Tetapi ingin pergi pun rasanya sulit.


Awalnya Tian juga yang begitu sombong mengatakan jika dirinya banyak uang, ditambah dengan ucapan kalau nanti akan dapat warisan setelah kakaknya tiada. Dan sekarang, saat semuanya belum berhasil dia dapatkan, gadis itu menagih apa yang pernah dia minta.


"Kalau aku belikan kamu gelang ... kita nggak akan putus, ya?" pinta Tian dengan wajah memohon.


"Asalkan sekarang belinya," tantang Fira.


"Kalau sekarang aku nggak bisa." Tian menggeleng. "Besok saja bagaimana? Nanti aku usahakan belikan gelang yang kamu inginkan, ya?"


"Kalau nggak bisa sekarang ya tandanya kita putus. Lagian aku juga sudah dijodohkan sama Mamaku kok." Meskipun kemarin Steven menolaknya mentah-mentah, nyatanya Fira masih berharap dan tak menyerah untuk bisa menikah dengannya.


Mata Tian seketika terbelalak, lantas dia pun menggeleng cepat. "Nggak boleh! Kamu nggak boleh menikah dengan orang lain! Kamu milikku!" Tian langsung menarik tubuh Fira, lalu membawanya ke dalam dekapan.


"Tapi akunya mau! Aku juga nggak mau menikah dengan Mas!" Fira melepas pelukan itu, lalu menepis tangan Tian yang masih menggenggam tangannya.


"Aku akan membahagiakanmu nanti, Fir. Kamu tenang saja. Nggak perlu khawatir," bujuk Tian seraya mengelus puncak rambut Fira, tetapi gadis itu menggeserkan kepalanya. Seolah tidak mau dengan hal apa pun yang pria itu lakukan.


Tian berdecak kesal, lama-lama sikap Fira yang menurutnya sok jual mahal itu membuatnya geram. Lantas dia pun segera melepaskan jasnya, dasi dan perlahan beberapa kancing kemeja.


"Apa yang mau Mas lakukan?" tanya Fira dengan wajah panik. Matanya membulat sempurna dan cepat-cepat dia pun mendorong-dorong pintu mobil. Masih berusaha untuk keluar dari sana.

__ADS_1


...Apa sebentar lagi akan ada yang diperkosa? 🙈...


...Nanti aku up lagi, ya. Tapi kayaknya nggak perlu ditungguin deh. Soalnya dari kemarin lolosnya lama banget. Bikin jengkel 😭...


__ADS_2