
"Nggak tahu, Ma. Tapi perutku sakit banget kayak diremes-remes," jawab Fira pelan seraya menyentuh perutnya.
"Mau Mama antar periksa? Ayok ke Dokter," ajak Nurul.
"Tapi hari ini 'kan kita mau pergi ke Dukun, Ma. Dan kata Mama ... lebih enak pagi, supaya nggak terlalu ngantre."
"Iya, sih. Tapi kalau kamunya sakit ... bisa siang atau sore saja."
"Ah nggak deh." Fira menggeleng cepat. "Aku mau sekarang saja ke sana." Menurut Fira, lebih cepat dia datang ke sana tentu akan jauh lebih baik. Sebab itu berarti Steven bisa secepatnya dia taklukan.
"Kamunya kuat nggak?" Nurul menatap wajah Fira dari cermin wastafel. Wajah anaknya itu tampak pucat.
"Kuat. Ini mungkin masuk angin saja."
"Ya sudah, ayok sarapan dulu. Habis ini berangkat."
"Iya, tapi aku mandi dulu sebentar, Ma."
"Oke." Nurul mengangguk. Kemudian, dia pun keluar dari kamar mandi dan meninggalkan Fira.
*
*
*
Seusai mandi dan sarapan, keduanya pun berangkat dengan menaiki mobil taksi online yang Nurul pesan.
"Fir, kamu bawa semua perlengkapan yang Mama bilang, kan?" tanya Nurul yang kini duduk disebelah Fira pada kursi belakang.
"Hanya foto Pak Steven, kan, Ma. Kalau itu aku bawa." Fira menepuk tas jinjingnya yang berada di atas paha.
"Uangnya juga, ada nggak kamu? Cash, ya, Fir."
"Memang berapa?"
"Kata teman Mama sih yang pernah ke sana ... sekali datang kita ngasih 10 juta."
Mata Fira seketika melolot, bibirnya juga menganga. Dia betul-betul terkejut dengan nominal yang Nurut sebutkan. "10 juta? Mahal banget. Mana ada aku uang segitu, Ma? Mama kok nggak bilang padaku dari awal?"
"Ini Mama punya duit 3 juta dari orang yang bayar sewa kontrakan. Jadi sisanya kamu yang nambahin."
"Tapi di rekeningku hanya ada 5 juta, Ma. Bagaimana dong?"
"Jual saja gelangmu." Nurul menyentuh pergelangan tangan Fira yang ada gelang berlian melingkar di sana.
"Dih, ini 'kan gelang baru dan Mas Tian. Dan ini gelang yang aku idam-idamkan dari dulu baru kesampaian sekarang, Ma."
__ADS_1
Tidak! Rasanya Fira tak rela menjual gelang itu. Harganya cukup fantastis dan dia juga mengenakan gelang tersebut demi bisa pamer pada teman-temannya.
Sebab, saat dia menggunakannya, teman-temannya merasa iri. Dan itu malah membuat Fira senang. Dengan begitu dia bisa membuktikan kalau dirinya jauh lebih beruntung di banding yang lain.
"Ya sudah, cincin saja kalau begitu." Nurul menatap jemari anaknya. Tetapi tak ada cincin disana. "Eh, di mana cincinmu?"
"Cincinnya sudah aku jual kemarin."
"Buat apa? Kok dijual?"
"Buat beli baju. Awalnya 'kan aku mikir akan pakai cincin dari Tante Sindi, Ma. Jadi cincin itu aku jual."
Nurul membuang napasnya dengan berat. "Nggak ada pilihan lain, gelang saja berarti. Nanti kamu bisa minta lagi sama Tian."
"Ini saja aku pas minta susah, kalau minta lagi bakal lamalah, Ma. Atau malah nggak dikasih. Mas Tian 'kan kere."
Nurul berdecak kesal. "Ya kalau nggak dikasih ya sudah sih. Lagian nih, ya, kalau gelang ini dijual dan duitnya dipakai untuk pergi ke dukun ... nanti juga bisa kembali."
"Bisa kembali bagaimana?" Fira menatap bingung pada sang Mama, keningnya mengerenyit. "Dukun itu bisa mengembalikan gelangku yang habis dijual gitu?"
"Bukan, Fir." Nurul menggeleng. "Maksud Mama, kalau gelang ini dijual dan duitnya untuk pergi ke dukun buat melet Steven ... kamu bisa mendapatkan lebih dari gelang. Bisa mobil atau rumah jika Steven sudah tergila-gila padamu," jelas Nurul.
Mata Fira seketika berbinar, dia pun langsung mengulum senyum. Ini baru rencana dan niat, tetapi dia sudah senang duluan.
"Iya juga, ya, kok aku nggak kepikiran."
"Kamu jangan bodoh mangkanya. Turuti saja kemauan Mama."
*
*
*
Setelah berhasil menjual gelang seharga 450 juta ke sebuah toko perhiasan, tak lama mobil yang mereka tunggani itu telah sampai di sebuah rumah.
Ukurannya cukup besar dan tertutup gerbang besi. Warnanya hijau daun. Hanya ada rumah itu di sana satu-satunya dan di sekilingnya ada pepohonan besar berjenis beringin.
Namun, banyak sekali mobil dan motor yang ada di parkiran. Selain Fira dan Mamanya, ada banyak yang datang untuk berkonsultasi.
Memang, dukun itu cukup terkenal dan sudah banyak beberapa orang yang tahu.
Keduanya pun langsung turun dari mobil. Kemudian, Fira menengadahkan kepalanya ke arah papan nama besar yang ada di depan gerbang. Bertuliskan~
...'Praktek Mbah Yahya'...
...'Mengatasi Semua Masalah Anda'...
__ADS_1
...Buka pada jam 07 pagi — 23 malam....
...Setiap hari buka, kecuali hari Sabtu....
"Ayok masuk, Fir. Kenapa bengong." Nurul menarik lengan anaknya, lalu membawanya sama-sama masuk ke dalam gerbang.
Ditempat yang sama, ada Ali dan Aldi di dalam mobil. Mobilnya berada tepat di belakang taksi online. Sejak awal Fira dan Nurul keluar rumah, mereka mengikutinya sampai sekarang. Dan tentunya tanpa sepengetahuan mereka.
"Kok si Fira sama Ibu-ibu itu malah masuk ke dalam sana? Memang ini tempat apa, ya, Al?" tanya Aldi pada Ali yang sibuk mengunyah kacang.
"Aku juga nggak tahu. Sebentar ... aku foto dulu." Ali mengambil ponselnya di dalam kantong celana, lalu memotret papan nama itu. Sudah ada beberapa foto yang berhasil dia jepret, dan sekarang tinggal melaporkannya ke Angga. Bos baru mereka.
Ting~
Ting~
Ting~
Ting~
Ting~
Banyak sekali bunyi notifikasi chat masuk di ponsel Angga, dia yang sibuk menyapa para tamu undangan itu lantas segera duduk di kursi, lalu membuka isi chat dan foto yang Ali kirimkan.
Foto itu mulai dari Fira yang keluar rumah, masuk ke dalam mobil, pergi ke toko perhiasan dan ke tempat praktek tersebut.
[Kami dari pagi sudah mengikuti Fira, Pak. Dari awal keluar rumah, pergi ke toko perhiasan sampai ke tempat ini. Tapi saya nggak tahu tempat apa.] Isi chat dari Ali.
Kening Angga mengerenyit menatap papan nama bertuliskan nama Mbah Yahya pada foto tersebut. Sebutan dari kata 'Mbah' terdengar begitu mistis menurutnya. Dan mendadak, perasaan Angga jadi tidak enak.
Lantas, dia pun membalas chat tersebut.
[Aku mau kalian masuk ke dalam sana dan cari tahu apa alasan Fira datang.]
Setelah itu, Angga menaruh ponselnya di dalam saku jas. Kemudian, tak lama Steven datang menghampirinya.
"Pa, Papa sibuk nggak?" tanya pria tersebut.
Angga mengangkat wajahnya lalu menatap Steven. "Kenapa memangnya?"
"Belikan aku rujak cingur."
"Dih, kenapa kamu nyuruh Papa?"
"Ya 'kan aku tanya Papa sibuk atau nggak tadi."
"Papa sibuk, banyak tamu." Angga segera berdiri lalu berjalan ke pintu masuk. Steven justru mengekorinya.
__ADS_1
"Pa, aku kepengen rujak cingur. Belikan dong, kan aku lagi jadi raja hari ini. Masa Papa nggak mau belikan?" pinta Steven. Nada suaranya terdengar seperti merengek.
...Raja apaan? Yang ada Om songgong nyuruh orang tua 🙈...