
"Kok bisa si Steven mencret? Habis makan apa dia?" tanya Angga dengan mata membulat lantaran kaget.
Dia pun segera mematikan rekaman video yang belum selesai itu, lantas berdiri dan melangkah cepat masuk ke dalam rumah. Sindi langsung mengejarnya.
"Kayaknya efek obat per*ngsang deh, dia juga muntah-muntah, Pa."
"Masa sih, Ma?"
Angga dan Sindi langsung masuk ke dalam kamar Steven, sebab pintunya terbuka lebar. Dilihat Citra berdiri di berada di depan pintu kamar mandi sambil mengigit kuku, wajahnya tampak cemas.
Tak lama kemudian terdengar suara Steven muntah-muntah di dalam sana. Segera Angga mengetuk pintu dan memutar handlenya.
"Stev! Kenapa kamu? Ayok cepat keluar!" teriak Angga.
"Papa perutku sakit, aku ... uuueeekk! Uuueekk!" jawab Steven sambil muntah-muntah.
Sejak tadi—pria itu belum keluar dari kamar mandi sebab tak henti-hentinya buang air dan muntah. Perutnya bergejolak dan sakit.
"Mama telepon Dokter coba," saran Angga menyenggol lengan Sindi.
"Langsung bawa ke rumah sakit saja, Pa. Biar diperiksa dan jelas," saran Sindi.
"Stev! Ayok keluar! Papa akan antar kamu ke Dokter!" pekik Angga sambil mengetuk pintunya kembali.
Tok ... Tok ... tok.
"Cit, bilang sama Bibi untuk buatkan Steven air jahe hangat," titah Sindi pada menantunya. Citra mengangguk patuh, kemudian melangkah pergi dari sana.
"Aku nggak bisa keluar, dari tadi mencret nggak berhenti-henti. Aku juga lemes, Pa," jawab Steven lirih.
*
*
Setelah minum air jahe dan minum obat diare, akhirnya Steven bisa dibawa ke rumah sakit terdekat bersama Angga dan Bejo. Ya, meskipun itu juga dijalan sambil berhenti-berhenti karena kepengen berak dan muntah.
"Kenapa dengan Steven, Dok?" tanya Angga pada Dokter yang selesai memeriksa Steven. Dia duduk di kursi, sedangkan anaknya itu tengah berbaring di atas ranjang dengan wajah pucat. Steven sejak tadi menyentuh perutnya yang terasa kosong. Seluruh tubuhnya juga lemas seperti tak bertenaga.
"Sepertinya Pak Steven habis makan atau minum sesuatu yang masih mentah, Pak. Juga ada kandungan zat semacam obat di dalamnya. Itu mengakibatkannya muntah dan diare," jelas Dokter itu. Bisa disimpulkan sakitnya Steven memang karena Angga.
"Oh begitu, selain itu apa ada penyakit lain?"
"Nggak ada. Hanya muntaber saja."
__ADS_1
"Perlu dirawat atau nggak?"
"Aku nggak mau dirawat ah, Pa, males. Nggak bisa bercinta aku nanti malam." Steven menyahut dengan suara lirih.
Angga berdecak sebal. "Orang lagi mencret masih mikirin bercinta. Aneh-aneh saja kamu, Stev."
"Biarin, itu penting. Citra 'kan hamil, nanti nggak lama lagi dia melahirkan dan aku nggak bisa bercinta. Puas-puasin sekarang lah, Pa."
Angga hanya geleng-geleng kepala, tak habis pikir saja. Juga tak ada urat malu dia mengatakan hal itu di depan Dokter. Ya, meski Dokter itu juga sama-sama pria sih.
"Pak Steven bisa pulang, Pak. Nggak perlu dirawat. Saya akan memberikan obat penghilang mual dan frekuensi BAB-nya. Tapi kalau dalam waktu satu atau dua hari nggak ada perubahan ... Pak Steven bawa ke sini lagi. Biar langsung dirawat," jelas Dokter itu.
Angga mengangguk lantas berdiri dari duduknya. Kakinya melangkah menghampiri Steven, lalu menarik lengannya bersama Bejo supaya dia duduk.
"Aku lemes jalannya, Pa." Steven enggan untuk turun dari tempat tidur itu.
"Kan ada kursi roda. Ayok naik." Angga menarik lengan Steven, lalu menaruhnya ke pundak kanan. Lengan satunya dipundak kiri Bejo. Saat datang di rumah sakit lalu menuju ruang pemeriksaan—pria itu memang naik kursi roda atas permintaan Angga. Dia merasa kasihan, pasti Steven lemas.
"Nggak mau, aku mau digendong Papa saja." Steven menggelengkan kepalanya. Suaranya terdengar manja.
"Jangan ngaco deh. Mana kuat Papa gendong kamu, tulang Papa yang ada patah."
"Tapi Papa masih kuat gendong Mama. Tapi kok gendong aku nggak?"
Bejo pun mendorongnya dan mereka keluar sama-sama dari rumah sakit.
"Pa, aku haus." Menyentuh tenggorokan yang terasa kering kerontang. "Tapi kayaknya aku kepengen minum air kelapa muda. Tapi langsung metik dari pohonnya," pinta Steven sambil menoleh pada Angga yang berada di sampingnya. Mereka kini sudah menaiki mobil.
"Ribet amat. Kan beli langsung gampang, ngapain metik di pohon?"
"Orang kepengennya dari pohon gimana?"
"Yang orang jual juga metiknya dari pohon, Stev."
"Tapi itu sudah lama metiknya. Aku maunya baru, Pa."
Angga menghela napasnya dengan berat. "Kita cari pohon kepala, Jo," titah Angga. Malas berdebat, dituruti saja sepertinya tak masalah.
"Dih, kok kepala sih?" kata Steven.
"Maksudnya kelapa."
"Baik, Pak." Bejo mengangguk patuh.
__ADS_1
***
Sementara itu di depan rumah Angga, dua perempuan beda generasi itu berdiri di depan pos satpam. Mereka terlihat gelisah menunggu kabar dari Angga.
Ingin menyusul ke rumah sakit sebenarnya, tapi tidak diperbolehkan oleh pria tua itu. Dia meminta mereka tetap ada di rumah saja, dan meyakini dalam hati kalau Steven akan baik-baik saja.
"Kok Papa sama Om Ganteng lama ya, Ma," ucap Citra pada Sindi yang tengah merangkul pinggangnya.
"Iya, mungkin macet di jalan, Cit."
"Nona Cantik! Tolong bukakan pintu kandang dong!" seru Kevin yang berada di dalam sangkar.
Sejak tadi burung itu menahan birahinya yang menggebu lantaran ada Citra dan Sindi, dia merasa malu untuk beratraksi. Sedangkan Janet yang berada di sampingnya sejak tadi menyenggol-nyenggol tubuh Kevin, sesekali mengelus kepalanya ke arah dada. Genit sekali dia, benar-benar sudah kebelet kayaknya.
"Mau ke mana? Kata Papa kamu dan Janet harus kawin, Vin. Kawin itu enak, jangan ditolak," tegur Citra.
"Saya mau terbang sebentar Nona Cantik, cepat buka," pinta Kevin lembut.
"Oke deh. Cuma sebentar tapi, ya?" Tangan Citra terulur menuju pintu sangkar, lalu perlahan membukanya.
Kevin melirikan matanya ke arah Janet, lalu perlahan mengibaskan sayapnya.
"Ikut saya Janet!" pintanya, lalu terbang pergi.
Janet menurut, dia pun dengan cepat mengibaskan sayapnya lalu terbang menyusul Kevin.
Burung jantan itu terbang menuju halaman rumah Angga yang berada di belakang. Lalu mendarat di samping beberapa pot tanaman hias milik Sindi.
"Kita ngapain di sini Kevin?" tanya Janet yang baru saja mendarat, dia tampak kebingungan.
"Cepat duduk!" titah Kevin sembari menatap sekitar. Janet mengangguk, lalu duduk.
Melihat itu, tanpa banyak bicara Kevin langsung naik ke atas punggung Janet. Burung betina itu langsung berkicau ria. Dia paham apa yang hendak Kevin lakukan padanya.
"Diam! Jangan berisik!" tekan Kevin.
"Apa kita akan kawin?" tanya Janet.
"Ya!" jawab Kevin sembari menekan kepala Janet dengan paruhnya hingga paruh Janet menyentuh rumput.
Proses perkawinan itu pun dimulai, Kevin dengan agresifnya terus melakukan penyatuan.
"Kevin, enak!" seru Janet riang. Bokong betina itu ikut bergerak-gerak, mengikuti arah bokong Kevin.
__ADS_1
...Kevin, Janet, aku nggak lihat lho 🙈...