
"Kalau si Kevin ke mana?!" teriak Steven. Selain Ajis, burung itu juga wajib disalahkan. Sebab Steven sendiri sudah memberikannya amanah.
"Saya nggak tau, Pak." Ajis menggeleng dan berucap jujur. "Sejak Pak Angga dan Bu Sindi datang ... baik Kevin, Janet atau kedua anaknya, mereka nggak terlihat dimana-mana."
"CK!" Steven berdecih kesal "Kamu nggak becus banget kerja, bulan ini kamu nggak aku gaji!" tegasnya marah.
Ajis sontak membulatkan matanya. Terkejut dengan apa yang Steven ucapkan. "Dih, Pak! Jangan dong, masa saya nggak digaji? Anak dan istri saya makan apa nanti?"
"Batu!" berang Steven seraya berlari menuju parkiran dengan menarik tangan Citra.
Ajis pun langsung berlari mengejar majikannya yang sudah masuk ke dalam mobil. Dia mengetuk-ngetuk pintu kacanya, tapi pria berlesung pipi itu sama sekali tak memberikan tanggapan.
Tak lama kemudian, mobil putih milik Steven melaju pergi dari apartemen. Meninggalkan Ajis yang tampak bersedih dengan nasibnya yang tidak bisa memberikan uang nafkah.
"Aa, Om Ajis nggak salah, nggak perlu menyalahkannya," tegur Citra yang duduk di samping Steven. Dilihat pria itu sekarang tengah mengemudikan mobilnya dengan penuh kecepatan, tapi wajahnya tampak masam.
"Jelas dia salah. Aku 'kan sudah memintanya untuk melarang Papa dan Mama masuk. Tapi dia melanggar!" tegas Steven yang kekeh.
Dia merasa semua itu terjadi karena kelalaiannya Ajis, Suster Dira dan juga Kevin. Apa pun alasan mereka, baginya tetap salah.
Citra menghela napasnya, jika sedang emosi begini Steven memang paling susah dibujuk. "Ya sudah, lagian si Kembar juga nggak bakal kenapa-kenapa kok, A, kan yang bawa Papa sama Mama," ujar Citra menenangkan. Dia pun mengusap bahu kanan sang suami.
"Aku mengerti soal itu. Tapi aku nggak suka dengan cara Papa yang pakai bawa kabur si Kembar segala, apa coba maunya."
__ADS_1
"Mungkin mereka membawa si Kembar karena kangen, A. Kan Aa memang awalnya juga nggak mengizinkan supaya mereka ketemu."
"Ah nggak mungkin, mereka 'kan sudah punya anak lagi. Pasti si kembar sudah dilupain," gerutu Steven.
"Nggak mungkin lah, A. Mereka pasti tetap sayang. Kan si kembar cucu mereka," ucap Citra dengan yakin.
Steven hanya menghela napasnya dengan berat, lalu memijat dahinya. Terasa pening sekali. 'Kalau begini 'kan mau nggak mau aku harus ke rumah Papa. Ketemu dengannya dan Mama. Padahal ... aku males banget,' batin Steven kesal.
*
*
30 menit kemudian, mereka pun sampai di rumah mewah Angga.
Tepat di depan gerbang besi, Steven mengklakson mobilnya. Sebab memang sejak tadi tak ada yang membukakan. Bahkan Bejo dan Dono saja tidak terlihat berdiri di sana atau di pos satpam.
Dia lantas turun dari mobil, kemudian menegang pagar besi rumah itu seraya menggoyangkannya. Mau langsung membukanya pun tidak bisa, sebab ada gembok besar yang mengait pada slot gerbang itu.
"Pak Dono! Pak Bejo! Buka gerbangnya!" pekik Steven dengan lantang. "Papa! Mama!" tambahnya berteriak.
"Coba telepon Mama sama Papa, A," saran Citra yang baru saja turun dari mobil lalu menghampiri Steven.
Pria itu mengangguk, kemudian merogoh kantong celananya untuk mengambil ponsel. Sebelum menelepon, dia membuka blokiran Angga terlebih dahulu. Sebab baik Angga atau Sindi, keduanya memang Steven blokir nomornya.
__ADS_1
"Nomor yang ada tuju sedang tidak aktif, mohon ...." Terdengar suara operator, yang mengatakan jika nomor itu tidak aktif.
Sekarang, Steven beralih untuk menelepon Sindi. Namun sayang, nomor itu sama seperti Angga. Yakni tidak aktif.
Tak ingin menyerah, Steven pun sekarang menelepon Dono. Dan sekali memanggil langsung diangkat.
"Pak Dono, tolong bukakan gerbang. Aku sama Citra ada diluar," titah Steven seraya mengelus keringat di dahinya. Beberapa menit berdiri di sana membuatnya kepanasan.
"Maaf Pak Steven, tapi saya lagi pulang kampung. Nggak ada di rumah Pak Angga," jawab Dono dari seberang sana.
"Oh." Steven langsung mematikan panggilan, kemudian beralih menelepon Bejo.
Namun lagi-lagi, semuanya seperti sedang menguji emosi Steven yang sudah mulai mendidih. Nomor Bejo memang aktif, tapi sayangnya sudah hampir 6 kali ditelepon tetap tidak diangkat.
"Br*ngsek!" teriak Steven murka. "Kenapa semuanya susah dihubungi?!" tambahnya mengomel di depan ponsel.
"Papa sama Mama mungkin ada di rumah Om Tian, A," tebak Citra. Menurutnya, daripada marah-marah, mending pergi mencari ke tempat lain.
Steven pun membuang napasnya dengan kasar, lalu memeluk tubuh Citra dan menciumi rambutnya sebentar.
Baginya itu sedikit membuat emosinya mereda. Setelah itu barulah dia dan Citra masuk ke dalam mobil. Kemudian menuju rumah Tian.
"Kamu telepon Om Tian, tanya mereka ada di mana," titah Steven yang sudah mengemudi, lalu menoleh sebentar ke arah Citra yang duduk di sampingnya. "Takutnya kita sudah ke sana justru mereka ada di rumah Mbak Nissa."
__ADS_1
"Iya, A." Citra mengangguk. Kemudian merogoh tas jinjing yang sejak tadi dia bawa, setelah itu mulai melakukan panggilan.
^^^Bersambung.....^^^