
Seorang wanita yang baru saja turun dari mobilnya yang berhenti di depan panti asuhan itu sontak terperangah, kala mendengar suara isakan tangis bayi.
Wanita itu adalah Andin, seorang ibu dua anak sekaligus pemilik Panti Asuhan Cinta Kasih tersebut. Cepat-cepat dia pun berlari sambil memakai payung, menuju asal suara.
"Astaghfirullah, siapa yang buang bayi di sini?!" serunya beristighfar seraya berjongkok. Dia pun meraih tubuh bayi yang tersebut, lalu mengendongnya. "Bayinya cantik, tega sekali orang tuanya yang membuangnya di sini."
Andin melangkah menuju rumah panti itu, lalu memencet bel. Tak berselang lama pintunya dibuka oleh pengurus panti. Sepatu wanita berhijab.
"Eh, Bu Andin," ucap wanita tersebut. Dia bernama Wiwik. "Malam-malam kok ke sini dan bayi siapa itu? Apa cucu Ibu?" Menutup pintu, lalu melangkah menghampiri Andin yang tengah duduk di sofa sambil melepaskan selimut dan bedong bayi mungil itu. Tubuhnya terlihat mengigil kedinginan.
"Saya mau menginap malam ini di sini, Bu. Tolong ambilkan baju ganti untuk bayi ini, kasihan ... dia kedinginan," titahnya.
Wanita berhijab itu mengangguk, lalu menuju kamarnya. Tak berselang lama dia pun kembali dengan membawa peralatan bayi. Selimut, kain bedong, setelan baju dan popok. Tidak lupa dengan minyak angin dan bedak. Kemudian memberikan kepada Andin.
"Bayi siapa itu, Bu?" tanya Wiwik yang masih penasaran.
"Saya nggak tahu. Saya menemukan di depan gerbang tadi. Dia sepertinya dibuang oleh orang tuanya," jelas Andin seraya membaluri seluruh tubuh bayi itu dengan minyak angin. Dia melihat, ada tanda lahir berwarna hitam di perutnya. Ukurannya cukup besar.
"Ya ampun, kasihan sekali. Padahal bayinya cantik ya, Bu." Wiwik mengelus bayi mungil yang masih terisak tangis itu.
"Iya. Kok ada, ya, orang tua tega. Padahal, banyak diluar sana yang menginginkan keturunan."
"Iya. Ya sudah, sekarang dia tinggal di sini saja, Bu. Saya akan mengurusnya. Bayi 'kan cepet diadopsi orang tua baru."
"Iya, mulai sekarang namanya Silviana. Bisa dipanggil Silvi atau Ana," ucap Andin yang sudah memberikan nama. Setelah memakaikan pakaian pada bayi itu, dia pun mengendongnya, lalu mencium kening.
"Nama yang cantik, Bu."
***
Keesokan harinya di depan kantor pengadilan, Tian turun dari mobil barunya berwarna hitam bersama seorang pengacara yang bernama Brian.
Akhirnya, setelah kini dia bangkit dengan bekerja sebagai CEO selama 5 bulan lebih, dan memiliki peternakan lele yang sudah dua kali panen, Tian berhasil melunasi seluruh hutangnya. Termasuk pada hutangnya pada Tegar juga.
__ADS_1
Tidak sampai disitu, dia juga sudah mempunyai tabungan yang menurutnya cukup untuk bisa menikahi Nissa. Menyewa jasa pengacara dan membeli mobil yang lebih bagus dari sebelumnya.
Tian teringat ucapan Juna dulu, yang mengatakan mobilnya jelek. Jadi dia membeli mobil tersebut supaya nantinya Juna tidak lagi mengatakan mobil Tian jelek.
Apalagi kalau nanti dia berhasil menjadi Papi baru Juna. Tentunya, Tian juga harus mengimbangi Nissa yang sempurna. Meskipun wanita itu tidak pernah menuntut apa-apa darinya.
"Nyewa mobil kamu, Mas?" sindir Fira sinis.
Dia baru saja turun dari taksi lalu memperhatikan mobil Tian yang tampak mengkilap itu. Dia juga menatap pria yang sebentar lagi jadi mantan suaminya itu dari bawah sampai atas.
Tian memakai kemeja putih lengan pendek dan celana jeans berwarna hitam. Pakaiannya sederhana. Tetapi entah mengapa, Fira melihat aura ketampanan Tian makin bertambah. Selain itu, Tian juga tampak lebih berisi ketimbang dulu yang kurus saat masih menjadi suaminya.
'Apa hanya perasaanku saja, Mas Tian jauh lebih ganteng sekarang?' batin Fira.
"Iya." Tian mengangguk. Pandangan matanya pun terjatuh pada perut Fira dan sontak matanya membulat. "Kok perutmu kempes, Fir? Apa kamu sudah melahirkan?" tanya Tian yang memang tak tahu apa-apa.
Mungkin terakhir kali mereka bertemu pada saat Fira pergi dari rumah. Tetapi, Tian juga sering berkunjung ke rumah Nurul hanya sekedar menitipkan uang untuk Fira. Biaya untuk anaknya.
Namun, dia sendiri tidak pernah bertemu dengan Fira. Sebab ketika dia datang berkunjung, Nurul selalu mengatakan kalau Fira tidak ada di rumah.
"Aku keguguran," jawab Fira singkat lalu melangkah masuk.
"Keguguran? Kok bisa? Kapan?" Tian melangkah cepat menyusul Fira. Mereka masuk bersama ke kantor pengadilan itu.
"Saat usianya 7 bulan."
"7 bulan?" Kening Tian mengerenyit. "Tapi kemarin-kemarin saat aku ke rumah Mama Nurul ... dia bilang kandunganmu sehat. Dan 7 bulan itu sudah besar, Fir."
"Itu Mama bohong. Supaya Mas nggak kepikiran. Sudah sih, ngapain bahas anak? Nggak penting tahu nggak. Kita 'kan mau bercerai hari ini." Fira duduk di sebuah kursi yang berada tepat di depan hakim.
Sudah banyak beberapa orang yang hadir dan Fira juga membawa pengacara di sampingnya. Seorang wanita berambut pendek.
"Nggak penting katamu?" Sebelah alisnya terangkat. "Anak itu penting, Fir. Dia darah dagingku. Harusnya kamu bilang, kalau kamu keguguran." Kedua mata Tian berair, wajahnya pun tampak sendu.
__ADS_1
"Tadi 'kan aku sudah bilang," ketus Fira.
"Harusnya bilang pas hari di mana kamu keguguran, Fir."
"Ya udah sih, Mas. Ribet amat. Yang pentingkan aku sudah kasih tahu sekarang!" Fira menatap kesal pada Tian yang berdiri di depannya.
"Terus, kamu kubur di mana anak kita?"
"Aku nggak tahu." Fira menggeleng malas.
"Kok nggak tahu?"
"Yang mengurus bayiku seorang dukun, jadi aku serahkan pada dia dan aku nggak tahu apa-apa."
"Dukun apa? Kok ke dukun? Kenapa nggak ke rumah sakit?"
"Keadaannya darurat saat itu. Sudah sana duduk, Mas!" Fira mendorong tubuh Tian supaya menjauh. Dia juga menunjuk kursi kosong yang berada di samping pengacara Brian. Dia tampak jengkel pada Tian yang sejak tadi membahas masalah anak. Malu juga didengar orang-orang yang ada di sekitar.
"Tapi masa makam anak sendiri kamu nggak tahu. Kalau misalkan dukun itu langsung membuang tanpa dikubur bagaimana, Fir?" Sekujur tubuh Tian seketika tegang. Dia tidak bisa membayangkan betapa sakitnya hati ini jika anaknya itu dibuang entah kemana, lalu ada hewan buas yang memakannya.
"Biarkan saja kenapa, sih? Ribet amat!" sentak Fira marah.
"Ya Allah, Fir. Kamu benar-benar tega, ya? Walau bagaimanapun dia juga anakku. Kalau pun meninggal, harusnya kamu kasih tahu aku. Jahat kamu, Fir!" Air mata Tian meleleh membasahi pipi. Dia pun menyentuh dadanya yang sontak berdenyut nyeri.
Fira mencebik bibirnya, wajahnya berpaling ke arah lain. Sama sekali dia tak peduli dengan kesedihan Tian. Baginya, anak itu pembawa sial, sama seperti Tian.
Pengacara Brian pun mendekati Tian. Dia mengusap punggung pria itu lalu mengajaknya menuju kursi. "Yang sabar, ya, Pak."
'Malang sekali nasibmu, Nak. Ya Allah ampuni aku yang telah gagal menjadi seorang suami sekaligus Ayah,' batin Tian menangis.
"Apa semuanya sudah siap?" tanya seorang hakim yang sejak tadi duduk di depan mereka. Tian cepat-cepat menyeka air matanya, lalu duduk di sebelah pengacara. "Bisa kita mulai sidang perceraiannya sekarang?"
"Bisa, Pak." Yang menjawab pengacara Brian.
__ADS_1
...Mau lanjut lagi, gak? Vote dulu tapi 🤣 kalau ga ada yang vote sebab aja, ya ðŸ¤...