
"Mbak nggak tau." Nissa merelai pelukan, kemudian kembali mengusap air mata Citra. "Mungkin mantan pacarnya Steven dulu, atau temannya. Mbak sendiri nggak terlalu mengingat siapa-siapa teman dan mantan pacar Steven, Cit."
"Tapi kenapa Aa masih mengingatnya, Mbak? Apa mungkin dia masih mencintainya?"
Nissa menangkup kedua pipi Citra, saat air mata itu kembali mengalir membasahi pipi. "Nggak, Cit. Steven nggak mungkin mengingatnya. Itu hanya kebetulan saja."
'Kebetulan? Masa sih?' batin Citra dengan hati yang terenyuh. 'Apa jangan-jangan dari dulu ... Aa Ganteng memang masih mencintainya, hanya saja dia nggak jujur padaku?'
Kembali lagi ke kamar inap Steven.
"Imel? Imel siapa, Stev?" tanya Angga bingung. "Kapan kamu dan Papa mau melamar perempuan bernama Imel? Perasaan nggak pernah deh," tambahnya dengan yakin.
"Imel pacarku, Pa. Masa Papa lupa, sih? Bukannya aku juga sering membawa dia ke rumah, ya? Untuk bertemu Papa dan Mama."
"Mungkin Imel mantan pacar Steven, Pa." Sindi menyahut. Berbeda dengan Angga yang tampak tak ingat, tapi dia justru mengingatnya.
Imel memang mantan pacar Steven, atau lebih tepatnya mantan tunangan. Mungkin sebagian dari kalian melupakannya, padahal dia adalah perempuan dimasa lalu Steven.
Bisa dibilang, dia mantan terakhir Steven. Sebab setelah itu dia lama menjomblo sampai akhirnya dijodohkan oleh almarhum Danu.
"Memangnya ada, mantan pacar Steven yang bernama Imel, Ma?" tanya Angga seraya menoleh ke belakang, menatap Sindi.
Mantan pacar Steven bukan satu atau dua orang, ditambah Angga juga orangnya kadang suka pikun. Jadi wajar dia lupa.
"Yang dulu selingkuh itu, lho, Pa. Steven 'kan pernah cerita. Udah gitu, dia 'kan cuma mau numpang hidup doang. Semuanya Steven yang biayai, tapi dia malah berkhianat. Kan kurang ajar itu perempuan!" Awalnya Sindi hanya ingin menjelaskan supaya sang suami mengingat, tapi justru dia tersulut emosi jika mengingat akan hal itu.
Tentu sebagai seorang ibu, dia ikut merasakan sakit hati yang dialami Steven waktu itu. Sampai-sampai pria itu lama menjomblo.
"Oh, iya, iya, Papa ingat!" Angga mengangguk cepat. "Tapi bukannya waktu itu Steven dan dia sudah tunangan, ya? Kan Papa dan Steven yang ke rumah orang tuanya."
"Iya, memang sudah tunangan," sahut Sindi. "Dan orang tuanya juga 'kan minta mahar rumah sama mobil, kata Papa."
"Aku dan Imel belum bertunangan, Pa, Ma, baru rencana." Steven tiba-tiba menyahut. "Aku bahkan baru memesan cincin tunangan kemarin dan lusa kata Papa kita mau ke rumahnya."
__ADS_1
"Ih kamu ngaco, Stev," ujar Angga. Kembali dia menatap anaknya dengan tatapan aneh. "Kamu dan Imel itu sudah putus, sudah lama. Bahkan kamu mengusirnya dari apartemen."
"Kemudian setelah putus ... kamu lama menjomblo sampai akhirnya menikah dengan Citra." Sindi ikut menambahkan.
"Papa sama Mama ngomong apa, sih? Masa aku sama Imel putus? Dan kapan juga dia selingkuh? Dia perempuan yang setia, Ma, Pa," ucap Steven yang masih berbicara pelan. Dia juga terlihat sangat yakin dengan apa yang dia katakan jika itu sebuah kebenaran.
"Kamu sepertinya—" Ucapan Angga langsung terhenti saat sang dokter menyelanya.
"Pembahasan ini sudah cukup dulu, Pak, Bu," tegur Dokter. Dia merasa khawatir dengan kondisi Steven kalau terus ditekan. "Bapak dan Ibu bisa keluar dulu sebentar? Tapi yang lain masih boleh ada di sini."
"Iya." Angga dan Sindi menjawab secara bersamaan sambil menganggukkan kepala. Pria tua itu lantas meraih tubuh Vano yang berada di samping Steven, kemudian memberikannya kepada Sindi. Setelah itu, mereka pun lantas keluar dari sana dan menutup pintu.
"Kalau Bapak ini, apa Pak Steven mengenalnya?" tanya Dokter sambil menunjuk ke arah Tian. Dia kembali akan menanyakan orang-orang di sana, supaya semuanya tak penasaran Steven mengingatnya atau tidak.
"Nggak, Dok." Steven menggeleng.
"Ini Papi Tian, Om, Papinya Juna," ucap Juna.
"Papimu bukan dia deh perasaan." Steven menggeleng dan memerhatikan wajah Tian yang menurutnya asing.
"Suami baru? Kapan Mbak Nissa cerai sama suaminya?" Steven terlihat bingung.
Belum sempat Tian menjelaskan, tapi dokter itu kembali bertanya kepada Steven sambil menghampiri Nella.
"Kalau Nona, ini, apa Bapak mengenalnya?"
Steven memerhatikan wajah keponakannya sebentar, lalu berkata, "Kalau nggak salah sih dia Nella, anaknya Kak Sofyan. Iya, kan, Kak?" Steven langsung menatap ke arah Sofyan dan itu tandanya, dia mengenal Sofyan juga.
"Iya, Stev. Dia Nella keponakanmu." Sofyan mengangguk.
"Yang digendong Nella siapa, Kak?" tanya Steven.
"Namanya Jihan, Om, anakku." Nella yang menyahut.
__ADS_1
"Lho, kamu sudah punya anak? Tapi bukannya kamu masih kuliah, ya?" tanya Steven.
"Kalau pria ini, apa Bapak mengenalnya?" Dokter itu menunjuk ke arah Rizky. Dan Steven langsung menggelengkan kepalanya.
"Aku Rizky, Om, suaminya Nella," ucap Rizky.
"Suami?" Steven tampak bingung.
"Yang terakhir Nona ini, dan anak kecil yang lucu ini. Apa Bapak mengenalnya?" Dokter menunjuk ke arah Maya yang menggendong Jordan, di samping Sofyan.
"Kalau nggak salah kamu Maya, kan? Kamu juga salah satu temannya Nella dan Indah."
"Apa benar, Nona?" tanya Dokter itu kepada Maya dan wanita itu mengangguk cepat.
"Benar, Dok." Maya mengangguk. "Tapi aku sudah menjadi Mbak iparmu, Stev. Aku menikah dengan Kakakmu." Maya menatap ke arah Sofyan sebentar, lalu kembali menatap Steven.
"Ini juga keponakanmu, Stev," ucap Sofyan sambil mengelus puncak rambut Jordan. "Anak Kakak sama Maya, namanya Jordan."
Steven terlihat mengerutkan keningnya. Lagi-lagi, dia merasa bingung. Sebab seperti sudah melewatkan banyak hal. Tapi dia sendiri tak mengingat apa-apa.
"Kalian semua boleh keluar dari sini, ayok," ajak Dokter. Yang aeolah mengusir mereka semua.
Semuanya pun lantas melangkah dan menurut, ikut keluar saat dokter itu juga keluar mengiring mereka.
"Pak Angga dan Nona Citra bisa ikut ke ruangan saya?" tanya Dokter itu menatap Angga dan Citra yang terlihat masih menangis.
"Kenapa memangnya, Dok? Apa ada masalah dengan kondisi Aa?" tanya Citra seraya berdiri.
"Ada sesuatu hal yang ingin saya bicarakan. Tapi lebih bagusnya, kalian berdua ikut bersama saya ke ruangan."
"Kenapa hanya berdua, Dok?" tanya Sofyan yang terlihat penasaran. "Apa kami yang lain nggak boleh tau?"
"Nanti kalian bisa tau dari Pak Angga dan Nona Citra," jawab Dokter itu. "Mari, ikut saya," tambahnya kepada Angga dan Citra. Kemudian melangkah lebih dulu.
__ADS_1
"Ayok, Dek," ajak Angga yang langsung merangkul bahu Citra, lalu mengajaknya melangkah bersama mengikuti Dokter dari belakang.
...Vote dan hadiahnya jangan lupa kasih, ya, Guys, biar rajin update Authornya.......