Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
223. Pria yang tidak sempurna


__ADS_3

Belum sempat Nissa menjawab, tiba-tiba Juna datang. Berlari menghampirinya.


"Mami! Om Tian sudah dipindahkan ke kamar rawat. Ayok ke sana, Mi! Juna mau lihat Om Tian." Juna langsung menarik-narik lengan Nissa, dia terlihat tak sabar.


"Oh ternyata ini yang namanya Juna?" tanya Mbah Yahya sambil mengulum senyum. Dia pun berjongkok lalu menatap Juna. Tangannya terangkat hendak mengusap rambut kepala. Tapi bocah laki-laki itu langsung berdiri di belakang Nissa. "Lho, kok kamu sembunyi? kenapa?"


"Mami, Kakek ini siapa?" Juna mendekap tubuh Nissa dari belakang.


"Namanya Kakek Yahya, ayok kenalan dulu. Dia temannya Opa." Nissa menarik tubuh Juna untuk berdiri di sampingnya lagi.


"Masa sih, dia temannya Opa? Kok jelek?" Juna menatap tak yakin dan beringsut mundur.


"Ssstt!" Nissa mendesis seraya menutup bibir Juna. "Kamu nggak boleh ngomong kayak gitu, Kakek Yahya nggak jelek, dia tampan sepertimu," tegur Nissa menatap Mbah Yahya dengan mimik wajah bersalah. Dia tak enak juga, takut dia marah.


Namun, Mbah Yahya justru terkekeh. Dia merasa lucu dengan tingkah dan ucapan Juna.


"Nggak masalah, Nis. Apa yang dikatakan Juna memang bener, kok, Om memang jelek." Mbah Yahya tersenyum lalu berdiri. "Kakek jelek karena sudah tua, sudah banyak keriput dan berjenggot. Tapi pas muda Kakek juga ganteng. Sama sepertimu."


"Pasti Kakek bohong. Opa saja sudah tua dia tetap ganteng, Om Steven juga."


"Om Steven belum tua, Jun," tegur Nissa.


Juna menggelengkan kepalanya saat Mbah Yahya mengusap rambutnya.


Pria tua itu pun menatap Nissa. "Eemm ... kalau kamu lagi sibuk, nggak masalah, Nis. Pergi saja, tapi nanti jengkuk anak Om, ya?"


"Iya, Om. Maaf, ya," sahut Nissa. "Memang, kamar anak Om di mana? Nanti aku sama Juna ke sana."


"Juna nggak mau, Mi!" tolak Juna cepat.


"VIP nomor 12. Kamar inap untuk dewasa."


"Oh, iya, nanti aku ke sana. Kalau begitu aku—"


"Ah, ini, ini buat kamu," sela Mbah Yahya cepat seraya memberikan kantong plastik putih yang berisi buah apel merah. Sejak tadi dia memang menentengnya.


"Nggak usah, Om, terima kasih." Nissa menolak dengan gerakan tangan, namun justru Juna lah yang mengambil kantong plastik itu.

__ADS_1


"Terima kasih Kakek," ujarnya yang tak tahu malu. Lalu menarik tangan Nissa begitu saja dan mengajaknya pergi meninggalkan Mbah Yahya. Pria tua itu langsung melambaikan tangan, meskipun Juna tak menanggapi.


'Ternyata Juna sangat lucu, cocok banget jadi anaknya Rama. Biar bisa menghiburnya,' batin Mbah Yahya dengan senyuman hangat, lalu melangkah menuju kamar inap sang anak.


"Kamu apaan sih, Jun, katanya tadi Kakek Yahya jelek? Kok mau nerima buah darinya?" omel Nissa.


Sebenarnya, alasan menolak tadi lantaran tak enak. Disamping itu juga Nissa yakin, jika buah yang Mbah Yahya bawa pasti untuk anaknya yang sakit.


"Kakek Yahya memang jelek, Mi, serem lagi. Tapi 'kan buahnya nggak jelek. Dan kata Opa ... rezeki nggak boleh ditolak. Ya Juna ambillah," jawab Juna dengan enteng.


Mereka pun melangkah masuk ke sebuah kamar inap VIP yang sudah ada Tian di sana tengah berbaring di atas ranjang. Namun, pria itu belum sadarkan diri. Matanya masih terpejam.


"Lho, kok Om Tian belum bangun? Kata Dokter operasinya sudah selesai," keluh Juna seraya mendekat ke arah ranjang, lalu mengelus punggung tangan Tian yang menempel jarum infusan. Wajah Juna tampak sendu, bola mata pun berkaca-kaca.


Dia seolah sedih melihat keadaan pria itu.


"Sebentar lagi juga bangun. Sini kamunya duduk dulu." Nissa menepuk sofa panjang yang baru saja dia duduki. "Kita sekalian tunggu Oma, Jun, katanya dia mau ke sini."


Juna menarik kursi kecil yang berada di dekat ranjang, lalu dia memilih duduk di sana. "Juna duduk di sini saja, Mi, sampai tunggu Om Tian melek." Kantong plastik yang berisi 2 kilo buah apel itu dia taruh di atas pahanya. Lalu bocah itu menatap lekat wajah Tian.


*


*


Pintu kamar inap milik Rama baru saja dibuka oleh Mbah Yahya. Pria yang tengah duduk di sofa sambil bermain ponsel itu lantas menoleh.


"Lho, kamu kok udah ganti baju, Ram? Apa-apaan coba?" tanya Mbah Yahya yang tampak kesal. Sebab anaknya itu memakai kemeja biru dan celana jeans hitam. Tidak memakai seragam pasien.


"Tadi aku habis diperiksa sama Dokter, dan dia bilang aku sudah boleh pulang, Pa," jelas Rama.


"Panggil Daddy, kok Papa lagi, sih?" Mbah Yahya mendengkus kesal. Mendengar nama panggilan itu, segera dia pun duduk di samping sang anak.


"Iya, maksudku Daddy." Rama berdecak. "Daddy sama Papa sama saja, sih, artinya."


"Ya beda, lebih kerenan Daddy."


"Ah sok Inggris, padahal Daddy sendiri nggak bisa bahasa Inggris."

__ADS_1


"Nggak apa-apa, lebih keren. Tapi kamu jangan pulang dulu lah, Ram."


"Kenapa?" Kening Rama mengerenyit. "Orang dokternya sendiri bilang suruh pulang, ngapain aku masih di sini?"


"Semalam lagi saja, Ram. Soalnya nanti akan ada bidadari yang menjengkukmu. Kasihan dong bidadarinya nanti, masa pas jengkuk orangnya udah pulang."


"Bidadari siapa? Mana ada bidadari di dunia ini." Bibir Rama mengeriting. Menggeleng tak percaya.


"Ada, itu si Nissa."


"Nissa siapa?"


"Anaknya Om Angga. Kamu masih ingat nggak?"


"Kalau Om Angganya ingat, tapi sama Nissa nggak ingat." Rama menggeleng samar.


Mbah Yahya mengambil ponselnya di dalam kantong celana, lalu membuka isi chat dari Angga. Sebab Angga tadi sempat mengirimkan foto Nissa yang akan ditujukan kepada Rama.


"Ini, namanya Nissa." Ponsel itu dia berikan kepada sang anak, dan Rama langsung memperhatikannya. "Cantik 'kan dia, mirip ibunya banget. Tapi dia janda punya anak satu, nggak apa-apa 'kan kamu?"


"Maksudnya nggak apa-apa itu apa?" Rama memicingkan matanya, menatap curiga Mbah Yahya. "Apa Daddy ingin menjodohkan aku, ya?"


"Mana ada," elaknya dengan gelengan kepala. "Sekarang zaman sudah canggih. Daddy hanya mau kamu berkenalan sama Nissa, ya syukur-syukur berjodoh."


"Nissa pasti nggak mau sama aku lah, Dad." Rama menggeleng frustasi, lalu memberikan ponsel keluaran terbaru itu ke tangan Mbah Yahya.


"Lho, kenapa? Kamu 'kan ganteng, baik, banyak duit lagi. Papanya Nissa juga best friend sama Daddy. Pasti mau lah dia."


"Ah Daddy kaya nggak tahu aja masalahku." Rama mendengkus kesal. Tentang statusnya Nissa, itu sama sekali tak masalah menurutnya. Rama juga bukan tipe pria yang banyak memilih.


Akan tetapi, yang dia takutkan, Nissa bukan wanita yang mampu menerimanya apa adanya. Terlepas pada dirinya yang menganggap adalah pria yang tidak sempurna.


"Ganteng, baik, banyak duit, itu belum cukup, Dad. Buat apa punya semua itu kalau—“


"Ssssttt!" desis Mbah Yahya cepat. "Kamu jangan ngomong kayak gitu! Kamu itu sempurna! Percaya sama Daddy!" tegas Mbah Yahya meyakinkan. Dia juga ikut sedih sekali dengan keadaan Rama. Mbah Yahya adalah seorang dukun sakti dan hampir semua pasien yang berobat bisa sembuh hanya sekali semburan saja. Namun anehnya, seperti tidak berlaku kepada Rama. Pria itu sudah berkali-kali disembur, tapi penyakitnya tak kunjung sembuh. "Sebentar ... Daddy akan chat Angga dulu, minta foto bugilnya Nissa."


...Apa ada yang bisa nebak Om Rama sakit apa?🤔...

__ADS_1


__ADS_2