Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
250. Resmi menjadi duda


__ADS_3

Hakim pun langsung membacakan sidang terakhir keputusan yang merupakan sudah final itu. Lantas setelahnya dia berkata, "Dengan ini, saya putus ’kan bahwa saudara Tian Siregar telah menjatuhkan talak satu ke sodari Safira Ayunda. Maka dari itu, saya nyatakan bahwa pernikahan ini dinyatakan resmi bercerai!" serunya kemudian mengetuk palu.


Tok! Tok! Tok!


"Terima kasih, saya nyatakan sidang berakhir dan ditutup," tambahnya. Lantas kedua pengacara itu pun berdiri dan menuju meja Hakim untuk mengambil akta cerai. Punya Tian berwarna kuning sedangkan punya Fira berwarna merah.


*


*


"Fir! Fira!" teriak Tian seraya berlari mengejar Fira yang melangkah keluar dari kantor menuju sisi jalan raya. Dia pun segera mencekal pergelangan tangan wanita itu saat dilihat Fira melambaikan tangan pada taksi yang baru saja lewat.


"Apa lagi sih, Mas!" geram Fira seraya menghentakkan tangannya. Melepaskan tangan Tian.


"Di mana rumah dukun yang membantumu?" Tian masih penasaran. Kalaupun memang dia sama sekali tak bisa melihat wajah sang anak, melihat makamnya pun dia sudah sangat bersyukur.


"Mau apa?"


"Aku mau tanya padanya tentang anak kita."


"Sudah sih, Mas. Berhenti bahas anak anak lagi!" teriak Fira dengan emosi yang membara. Matanya melotot tajam. "Aku ingin bebas mulai sekarang. Berhenti menggangguku apa pun alasannya!" tegasnya lalu membuka pintu mobil saat taksi itu berhenti di depannya.


"Tapi aku ingin melihat anakku, Fir. Lewat makamnya saja nggak masalah, biarkan ...." Ucapan Tian berhenti saat tubuhnya didorong keras oleh Fira, sebab sempat menghalangi jalannya untuk masuk ke dalam mobil.


Bruk!


Bokong Tian terhentak ke aspal. Melihatnya sudah jatuh, mobil taksi itu pun langsung pergi menjauh dengan kecepatan full.


"Apa Bapak baik-baik saja?" tanya Pengacara Brian yang menghampiri. Kemudian membantu pria itu untuk berdiri.


"Aku nggak apa-apa."


"Bapak mau saya antar pulang atau bagaimana? Oh ya, ini akta cerai Bapak." Menyerah selembar akta berwarna kuning kepada Tian.


"Apa semuanya sudah beres sekarang, Pak? Apa aku nggak perlu ke pengadilan lagi?" tanya Tian.


"Sudah beres. Bapak sudah resmi menjadi duda."


"Alhamdulillah, kalau begitu Bapak bisa langsung pulang saja. Nggak perlu mengantarku."


"Baik kalau begitu." Pengacara Brian menyerahkan kunci mobil milik Tian. "Semoga hidup Bapak kedepannya jauh lebih baik dan Bapak bisa menemukan pendamping yang terbaik."


"Amin, terima kasih, Pak." Tian menyambut pelukan saat pria itu merentangkan tangannya.


"Sama-sama."


Setelah itu, Tian mengemudi seorang diri menuju rumah mertuanya. Mungkin hanya Nurul, yang dapat memberitahu di mana dukun itu berada.

__ADS_1


*


*


"Assalamualaikum, Ma," ucap Tian saat baru saja turun dari mobilnya, yang terparkir rapih di depan halaman rumah Nurul. Wanita yang tengah mengelap kaca itu langsung menoleh, bola matanya sontak terbuka lebar.


Dia tampak terkejut bukan lantaran Tian datang, melainkan karena mobil mewah pria itu.


Nurul mengangkat tangannya, ketika Tian hendak mencium punggung tangan. "Kamu ke sini sama Fira, Ti?" tanyanya sembari menatap mobil.


"Nggak aku sendiri, Ma."


"Tapi Fira belum pulang. Oh ya, bagaimana sidangnya? Udah beres?"


"Iya." Tian mengangguk, lalu duduk di kursi teras. "Oh ya, Mama tahu nggak di mana rumah dukun yang membantu Fira melahirkan? Kok Mama juga nggak memberitahuku kalau anakku sudah meninggal?!" tanya Tian sedih.


"Maaf, Ti. Fira yang melarang," jawab Nurul jujur. "Kamu cari rumah dukun beranak mau apa memangnya? Ada yang mau melahirkan?"


"Aku mau tahu makam anakku. Kata Fira, dia yang memakamkannya."


"Oh, kalau makam Tina Mama juga tahu, Ti."


"Tina?" Kening Tian mengerenyit. "Anakku dinamain Tina?"


"Iya. Itu Fira yang ngasih. Namanya mirip dengan namamu, ya?"


"Iya." Tian mengangguk cepat. "Mama bisa mengantarku ke makamnya, nggak? Aku mau melihatnya."


Sekarang, mereka berada di dalam mobil. Tian mengemudikan mobilnya menuju tempat pemakaman umum yang Nurul sebutkan. Ternyata, tempat pemakaman itu juga sama dengan tempat di mana makam Danu berada.


"Ini mobil kamu, Ti? Bagus banget," puji Nurul seraya menatap sekeliling ruang mobil itu. Juga menghirup aroma segar.


"Iya, Ma." Tian mengangguk. Dia serius mengemudi.


"Kamu udah kaya lagi?"


"Nggak, biasa saja."


"Kerja apa sekarang?"


"Kerja sama orang, di kantornya."


"Jadi apa?"


"CEO."


Mata Nurul sontak terbelalak, namun ada binar-binar yang terpancar di sana. "Kalau sudah jadi CEO mah berarti kaya dong, Ti. Banyak uang."

__ADS_1


"CEO juga kerja sama orang, Ma. Bukan di kantorku sendiri."


"Oh. Ya bisa saja nanti jadi kantormu. Kamu jadi kaya lagi."


Tian hanya tersenyum, tidak menjawab lagi ucapan Nurul sampai akhirnya mobil hitamnya tiba di tempat yang dituju.


Setelah mematikan mesin mobil dan melepaskan sabuk pengaman, dia pun turun dari mobil bersama dengan Nurul.


Namun, tiba-tiba kakinya berhenti saat dia hendak masuk ke dalam pagar besi. lantaran mendengar suara teriakan seorang bocah laki-laki yang baru saja turun dari mobil lalu berlari menghampirinya.


"Om Tian!" Bocah itu tidak lain adalah Juna. Tian pun langsung berbalik badan seraya membungkuk, dengan kedua tangan yang dia rentangkan. Menyambut pelukan hangat dari bocah yang memakai seragam sekolah itu.


"Juna, kok kamu ada di sini?" tanya Tian heran. Lalu menatap seorang pria yang melangkah menghampiri. Wajahnya Tian kenal, sebab pria tersebut adalah sopirnya Nissa.


"Juna pulang sekolah tadi ke rumah Om. Tapi kata orang yang ada di rumah Om, Om belum pulang," jawab Juna seraya meregangkan pelukan.


"Kok ke rumah Om? Mau apa? Ini 'kan bukan hari Sabtu atau Minggu."


Biasanya, kalau libur sekolah dia memang diantar sopirnya untuk main ke rumah Tian. Atau kalau tidak, Tian yang mengajaknya pergi jalan-jalan berdua.


"Juna lagi kangen saja. Sekalian Juna mau tanya, kapan Om resmi jadi dudanya? Mami udah nggak sabar pengen dinikahi." Bohong, aslinya dia lah yang sudah tidak sabar ingin tidur bersama Tian.


Nurul yang mendengar itu sontak terkejut. Lantas menatap Tian tak percaya. "Kamu sudah ada calon, Ti?


"Iya, Ma." Tian mengangguk.


"Tapi kenapa cepat sekali? Katanya kamu mencintai Fira?"


"Sudah nggak."


"Oma ini siapa memangnya?" Juna memperhatikan wajah Nurul yang tampak asing dalam penglihatannya. "Om Tian sangat mencintai Mami Juna."


"Oma ini Mamanya mantan istri Om." Yang menjawab Tian. Sebab dilihat Nurul tengah bersedekap sembari mencebik bibirnya.


"Oh." Juna mengangguk-ngangguk, lalu matanya menelisik masuk ke celah pagar besi itu. Dia juga baru sadar jika sekarang berada di tempat pemakaman umum. "Tapi kok Om pergi ke makam? Siapa yang meninggal? Apa mantan istri, Om?" tebaknya.


"Bukan." Tian menggeleng. "Anak Om yang meninggal. Ini Om sama Oma Nurul mau melihat makamnya."


Juna seketika terbelalak kala mendengar kata 'anak' selama ini dia baru tahu. "Om sudah punya anak? Sejak kapan?"


"Sebelum Om cerai sama mantan istri. Dia sedang hamil. Tapi pas di dalam kandungan keguguran, Jun."


"Keguguran itu apa?" Kening Juna mengerenyit.


"Keluar belum waktunya. Saat usia 7 bulan, bayinya keluar sampai akhirnya meninggal dunia," jelas Tian.


"Oh begitu." Juna manggut-manggut. Entah dia paham atau tidak, tetapi kini tangannya meraih tangan Tian seraya menggenggamnya. Dia menatap kesedihan yang terpancar jelas diwajah Tian. "Innalilahi, Om yang sabar, ya? Tapi Om jangan sedih. Nanti Om 'kan bisa kencingin Mami setelah menikah."

__ADS_1


"Kok dikencingin? Apa hubungannya, Jun?" Padahal awalnya Tian merasa terharu mendengar kata bela sungkawa dari Juna. Tetapi ucapannya yang terakhir itu mengundang tanda tanya.


...Ayok yang belum vote, ditunggu sampai jam 10 malem, ya 🀣 kalau ga nambah" jadi besok aja aku up laginya πŸ™ˆ...


__ADS_2