Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
212. Sarungku melorot


__ADS_3

"Aku maafin, Om. Tapi, apa ini berarti Om sama Mami nggak temenan lagi?" tanya Juna penasaran.


"Kayaknya sih." Tian mengangguk.


"Memangnya, apa sih yang buat Mami marah sama Om? Sampai pecat Om segala?"


"Itu masalah orang dewasa, Jun, kayaknya kamu nggak musti tahu." Terlalu rumit sepertinya untuk Tian menjelaskan. Juna juga terlalu kecil, dan tidak boleh ikut pusing tentang permasalahan Maminya.


"Ah Om sama Mami sama saja. Selalu bilang masalah orang dewasa. Kenapa sih, aku nggak boleh tahu? Aku udah dewasa kok," celoteh Juna. Wajahnya tampak bete. Bibirnya mengerucut dan kedua tangannya terlipat di atas dada.


"Ya begitulah namanya bocil, Jun. Om saat seusiamu saja nggak pernh dikasih tahu kalau Om tanya sama Kakak Om. Dia selalu bilang, itu masalah orang dewasa."


"Om punya Kakak? Punya berapa?"


"Punya dua, tapi yang satu sudah meninggal."


"Oh. Terus kalau orang tua Om tinggal di mana? Kenapa nggak di sini saja biar rame?"


"Orang tua Om sudah meninggal."


"Inalillahi. Dua-duanya, Om?"


Tian mengangguk.


"Pas kapan meninggalnya? Baru?"


"Dari Om masih bayi. Om hanya lihat mereka difoto."


"Aku mau lihat fotonya, boleh nggak?"


"Boleh. Sebentar ... Om ambil dulu, ya?" Tian berdiri, lalu melangkah menuju lantai atas untuk mengambil sebuah foto di kamarnya. Tak berselang lama, dia kembali dengan membawa bingkai foto dan ditunjukkan oleh Juna. "Itu orang tua Om."

__ADS_1


"Lho, masih muda ternyata. Masih lebih tua Opa." Juna menatap pria dan wanita di dalam foto itu, fotonya masih terlihat jernih meskipun sudah puluhan tahun. Prianya memakai stelan jas berwarna biru, sedangkan istrinya memakai dress polkadot hitam putih.


"Ya itu 'kan saat mereka masih hidup, Jun. Mungkin sekitar 37 tahun yang lalu."


"Oh pantes. Ya sudah Om, kalau begitu aku permisi mau pulang." Juna meraih gelas susu untuk dia habiskan, lalu berdiri sambil memegang amplop. "Terima kasih untuk uangnya, nanti mau aku pakai buat beli ikan cuupang." Juna meraih tangan Tian, lalu mencium punggung tangannya.


"Eh tunggu sebentar." Ucapan Tian menghentikan langkah kaki Juna, pria tersebut segera menarik laci di bawah meja, lalu memberikan sebuah plastik putih kepadanya.


"Itu apa, Om?" tanya Juna. Dia melihat isi di dalam plastik itu yang ternyata toples dengan gambar kartun. Namun tak tahu apa isi di dalamnya.


"Itu kelereng. Kata Kevin kamu suka main kelereng. Kemarin ... Om sempat lihat itu di mall dan banyak yang beli, jadi Om teringat padamu. Lalu Om beli."


Sisa uang dari menjual cincin dan membayar hutang 10 juta, Tian belikan kelereng. Dan masih ada lagi sisanya, lumayan untuk pegangan.


"Wow! Bagus-bagus kelerengnya. Aku suka, Om." Mata Juna langsung berbinar kala melihat kelereng yang warna warni itu. Bentuknya juga ada yang paling besar, sedang sampai yang paling kecil.


"Alhamdulillah kalau kamu suka." Tian mengulum senyum dengan dada yang terasa hangat. "Main boleh, tapi jangan sampai lupa makan dan belajar ya, Jun. Biar kamu pinter dan jadi orang sukses seperti anggota keluargamu."


Nissa yang melihatnya dari kejauhan itu sontak membulatkan matanya dengan lebar. Tian kini tengah berjongkok sambil mengusap air mata di pipinya. Gegas, dia pun turun dari mobil, lalu berlari masuk menghampiri mereka.


"Jun, kenapa kamu nangis?" tanya Nissa. Dia langsung menggendong tubuh Juna dan bocah itu segera menangkup dengan masih terisak tangis. "Apa yang kamu lakukan, Ti? Kenapa membuat Juna menangis?" Nissa menatap tajam Tian, suaranya terdengar agak tinggi.


"Aku nggak melakukan apa-apa, Nis. Aku juga nggak tahu kenapa Juna tiba-tiba menangis." Wajah Tian tampak kebingungan.


"Jangan bohong kamu, Ti! Kamu pikir Juna cengeng?" cecar Nissa. Dia tentu mengenal anaknya, bocah itu akan menangis kalau memang begitu sedih dan sakit hati. Kalau sekedar kesal atau marah karena diejek, dia selalu melawan. Tidak sampai seperti itu. "Ah menyesal sekali aku menyuruh Juna menemuimu, kalau kamu sendiri membuatnya menangis!" gerutu Nissa. Dia pun melengos dan menghentakkan high heelsnya berlalu pergi dari sana.


"Aku bersumpah, Nis, aku nggak apa-apakan Juna." Tian langsung berlari mengejar, Kevin juga melakukan hal yang sama.


Nissa menghentikan gerakan tubuhnya, saat dia memasukkan Juna ke dalam mobil lantaran Tian mencekal pergelangan tangannya.


"Aku nggak apa-apa 'kan Juna, Nis, tolong percaya sama aku," pintanya memohon.

__ADS_1


Nissa menoleh, tetapi sontak matanya melotot lantaran melihat Tian hanya memakai cellana dalam di tubuh bagian bawahnya. Rupanya, saat berlari tadi sarungnya tak terasa melorot hingga jatuh.


Tian sendiri tak sadar akan hal itu. Dan sekarang, benda keramatnya tampak begitu menonjol pada sempaak berwarna putih yang cukup ketat itu.


"Astaghfirullah, Tian! Apa kamu nggak malu?!" teriak Nissa. Cepat-cepat dia pun menepis tangan Tian, lalu berlari memutar menuju kursi kemudi dan masuk ke dalam.


"Malu kenapa? Kamu jangan pergi, Nis. Nis! Nissa!" pekik Tian. Dia lantas menepuk-nepuk pintu mobil wanita itu sambil berlari, namun mobil Nissa langsung melaju pergi, meninggalkannya.


Pria itu membeku dalam diam, bertanya-tanya sendiri dan bingung setelah apa yang sudah terjadi. 'Perasaan aku nggak ngapa-ngapain, kok Juna nangis? Kenapa dengannya?'


"Om Tian! Ayok masuk dan pakai lagi sarungnya! Nanti saya patuk baru tahu rasa!" tegur Kevin.


Ucapannya itu langsung membuat lamunan Tian buyar seketika. Gegas Tian berlari masuk ke dalam rumah, merasa malu pada dirinya sendiri.


"Bisa-bisanya sarungku melorot, Vin, kok kamu nggak kasih tahu aku?" Tian memakai kembali sarungnya yang tergelatak di lantai depan pintu. Kemudian melangkahkan kakinya menuju ruang tamu.


"Saya juga baru tahu."


"Nissa lihat nggak tadi? Ah ini memalukan sekali." Menghempaskan bokongnya di sofa, lalu menyandarkan punggung sembari memijit dahi. "Udah kere, nggak berguna, terus nggak ada harga diri. Ya ampun, Vin, gini banget ya, aku hidup," keluh Tian sedih.


"Sabar, Om. Mangkanya saya bilang apa, dari dulu tinggalkan saja si Fira. Dia 'kan wanita pembawa sial," tegur Kevin. Perlahan dia pun mengibaskan sayapnya, lalu terbang menuju dapur, hendak membuatkan Tian kopi.


Ketika stres lantaran pekerjaan, Tian sering memintanya untuk membuatkan kopi. Mungkin sekarang, meminum kopi akan membuat Tian jauh lebih baik menurut Kevin.


"Apa hubungannya dengan Fira?" tanya Tian setelah beberapa saat, melihat Kevin kembali dengan membawa segelas kopi di kakinya. Gagang gelas itu ada dua dan Kevin mencengkeramnya lalu meletakkan di atas meja dengan hati-hati.


"Kan Fira cewek matre, dia suka minta uang. Jadinya Om bangkrut. Kalau Om tidak bangkrut, Om tidak akan hidup susah."


"Iya, ya. Harusnya sejak dulu aku dengar perkataanmu, Vin, sekarang nasi sudah menjadi bubur," sesal Tian seraya mengelus jambul Kevin ketika burung itu baru saja duduk di dekatnya.


...Like, komen, vote sama hadiahnya jangan lupa dikasih ya, Guys, biar semangat 🥲...

__ADS_1


__ADS_2