
"Boleh. Wah ... ternyata kamu sudah cinta sama Janet, ya?" goda Angga sambil menunjuk-nunjuk wajah Kevin.
"Tidak." Kevin menggeleng cepat.
"Alah jangan bohong. Pasti kamu kawin sama Janet juga nggak hanya sekali. Dasar burung mesum!" Angga bergelak tawa, lalu menoel-nole pipi Kevin. Burung itu diam saja, dan terlihat dia seperti malu.
"Papa, Mama mau ikut Steven sama Citra, ya?" ucap Sindi yang baru saja melangkah menghampiri. Di sampingnya ada Citra dan Steven.
"Mau ke mana?" tanya Angga seraya menoleh.
"Si Citra mau priksa kandungan. Mama mau lihat cucu kita, Pa."
"Kalau begitu Papa juga ikut."
"Papa jangan ikut, sempit," tolak Steven cepat. Tidak suka sekali dia kalau pergi dengan Citra tapi Angga ingin ikut.
"Lha, berempat muat, Stev, mobilmu 'kan luas."
"Iya, tapi aku nggak mau ngajak Papa."
"Nggak apa-apa, A, Papa diajak saja," ucap Citra yang merasa kasihan. "Papa juga pasti mau lihat cucunya," tambahnya sambil mengusap perut.
"Iya, Stev, istrimu benar. Ayok kita sama-sama pergi. Biar lihat perkembangan bayimu." Sindi mengusap bahu kiri Steven, lalu mengajak Citra masuk ke dalam mobil setelah pintunya digeserkan oleh Jarwo.
"Lho, kenapa Mama duduk sama Citra? Aku mau duduk sama dia, Ma," protes Steven.
"Udah nggak usah ribet deh, Stev, kamu dibelakang saja sama Papa." Sindi tak menghiraukan ucapan Steven meskipun pria itu ngambek. Dia tetap duduk di samping menantunya
Terpaksa, Steven masuk dan duduk di dalam mobil itu bersama Angga. Kemudian, mobil itu melaju pergi dengan kecepatan sedang.
"Bagaimana semalam, Stev? Sudah dicoba kamu?" tanya Angga pelan. Mencari topik pembicaraan supaya Steven tak cemberut terus.
"Dicoba apa?" Steven menoleh dengan kening yang mengerenyit.
"Ngemut. Masa lupa? Kan Papa ngasih usul semalam."
"Belum, semalam malah aku nggak bercinta."
"Lho kenapa?" tanya Angga, namun wajahnya itu tampak senang.
"Citra bilang ngantuk, mungkin lusa aku coba."
"Jangan lusa, nanti malam saja."
"Nanti malam giliran aku bercinta, Pa."
"Kok gitu?"
"Ya iya, kemarin malam 'kan enggak. Jadi malam ini dong aku dapat jatah."
"Kamu harus bisa nahan-nahan, lho, mulai sekarang. Apalagi nanti pas Citra udah melahirkan. Puasa kamu Stev." Angga terkekeh.
__ADS_1
Sudah tak sabar sekali rasanya, menunggu Citra melahirkan dan tentunya nanti dia akan menyaksikan Steven kesetanan karena tak bisa bercinta.
Pastinya, Angga akan menjadi salah satu orang yang tertawa jahat.
"Puasa nggak bisa bercinta maksudnya?"
"Iyalah."
"Kan aku mau pakai cara alternatif dari Papa, tetep bisa sambil nyusu."
"Kalian ini dari kemarin bahas itu mulu, sih?!" Sindi yang berada di depan itu menggerutu. Sejak tadi dia diam saja, namun lama-lama telinganya terasa panas mendengar mereka mengoceh. Meskipun suara mereka pelan, namun mampu dia dan Citra dengar. "Otaknya nggak jauh-jauh sama sela**ngkangan. Nggak Bapak, nggak anak, sama saja. Mesum!"
"Papa duluan yang bahas," tuduh Steven menatap sengit Angga. "Aku nggak mesum, Papa yang mesum."
"Enak saja, kamu yang mesum!" Angga menimpali.
"Lha, tadi 'kan Papa yang duluan bahas. Berarti otak Papa yang mesum dong?"
"Ya kamu kalau nggak mau jawab ya nggak usah jawab, ribet amat!" ketus Angga marah.
"Astaghfirullah, Steven, Papa!" geram Sindi berteriak. "Kalian itu sudah tua, kenapa malah ribut? Kayak anak kecil tahu, nggak? Nggak kasihan apa ada ibu hamil di sini?" Sindi mengelus perut Citra. Gadis itu sejak tadi diam saja. Namun percayalah, telinganya sama panasnya seperti Sindi.
"Enak saja aku tua. Papa noh yang tua." Steven kembali menimpali.
"Kamu juga sudah tua, Stev. Bentar lagi jadi Bapak-bapak." Angga menyahut.
"Lha, aku masih mending baru jadi Bapak. Daripada Papa udah jadi Kakek buyut. Lebih tua nggak tuh?"
"Apa urusannya dengan ... eeemmpptt!" Bibir Steven langsung dibungkam oleh lakban hitam yang baru saja Sindi tempelkan. Entah dapat dari mana, namun yang jelas—setelah Steven, mulut Angga juga dilakban.
"Jangan dilepas sebelum sampai rumah sakit!" ancam Sindi sambil menunjuk keduanya. Tangan Angga dan Steven yang sama-sama menyentuh pipi itu segera mereka turunkan. "Kalau dilepas, kalian malam ini tidur diluar!" tekannya. Sontak—dua pria berbeda generasi itu terbelalak, dan langsung menelan ludahnya dengan kasar.
'Kapan sih, Steven sama Papa akur. Kerjaannya berantem mulu kalau deket,' batin Sindi seraya menghela napasnya dengan berat.
*
*
Setelah melihat Angga dan yang lain pergi, Kevin pun masuk ke dalam glodok. Dilihat Janet tengah duduk di atas sarang burung. Ia diam saja hanya menatap Kevin.
"Kamu kenapa?" tanya Kevin, ia mendekat lalu mengelus kepala ke dada Janet.
"Saya lapar."
"Belum makan? Itu ada pisang di sana." Kevin menunjuk ke arah luar dengan kepalanya.
"Bawakan ke sini. Saya mau makan di sini, tapi tidak mau dengan pisang."
"Maunya apa?"
"Kuaci."
__ADS_1
"Sebentar ....." Kevin keluar dari sana lalu menatap ke arah Bejo yang masih berdiri di depan gerbang. "Om Bejo!" panggilnya.
Bejo yang mendengarnya langsung berlari menghampiri. "Ada apa?"
"Janet mau makan kuaci."
"Memang kenapa dengan pisangnya?" Bejo menatap ke arah tempat makan yang berisi potongan buah pisang. Dia lah yang menaruh barusan, sebelum Angga datang.
Tempat makan dan tempat minum untuk kedua burung itu tidak diperbolehkan kosong oleh Angga. Sebab dia tak mau jika Janet dan Kevin kelaparan. Makanannya pun hampir setiap hari ganti-ganti. Biar tidak bosan.
"Tidak kenapa-kenapa. Itu Janet yang minta."
"Oh. Ya sudah, sebentar .... aku—"
"Kevin!" seru Janet di dalam sana. Ucapan Bejo mengantung begitu saja. Kevin lantas melangkah masuk kembali ke dalam glodok, menemui sang betina.
"Apa?"
"Saya minta kamu yang bawakan kuaci, bukan Om Bejo."
"Tapi saya tidak tahu di mana kuacinya, Net."
"Ya cari, sana terbang. Memang kamu tidak bisa terbang?" ketusnya.
"Tapi tempatnya saya tidak tahu." Kevin menggeleng.
"Kan saya bilang cari, Vin." Janet melengos, namun wajahnya tampak seperti kesal.
Kevin langsung keluar lagi dari sana, lalu menatap kepada Bejo yang masih berdiri di depan sangkar.
"Om, cari kuaci di mana?" tanya Kevin bingung.
"Di warung juga ada."
"Warung itu apa?"
"Orang yang jual makanan minuman. Yang ada di kemasan. Tapi tempatnya kecil," jelas Bejo memberitahu. "Bukan supermarket lho, ya."
"Bukakan pintu sangkarnya Om. Saya ingin keluar."
"Keluar mau apa? Jangan kelayaban, nanti diomelin Pak Angga," tegurnya.
"Saya ingin ke warung."
"Mau apa?"
"Mau ngambil kuaci, kan saya bilang Janet mau makan kuaci."
"Di warung mana boleh minta. Harus beli." Bejo merogoh kantong belakang celananya untuk mengambil dompet, setelah dibuka, dia pun memberikan uang 5 ribuan kepada Kevin. "Ini, kamu bawa uang ke warung. Nanti bilang beli kuaci 5 ribu sambil kasih uangnya."
...Jangan dianggap serius ya, Guys, ini kan cuma halu 🤣 kalau ga suka ya ga usah baca. Ga perlu dihujat....
__ADS_1