Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
374. Pertemukan sebelum Steven dikubur


__ADS_3

"Papimu saja waktu itu sempat kena tusuk, kan? Tapi buktinya dia selamat. Masih hidup sampai sekarang." Atta menambahkan sambil melihat Tian yang baru saja keluar dari rumah, untuk menyambut para tamu yang baru saja turun dari mobil.


"Tapi Om Steven juga sempat kena tusuk, Ta, pas dia dibegal. Dan selamat juga waktu itu," sahut Juna seraya menyeka air matanya yang kembali mengalir.


"Begal itu apaan, Jun?"


"Kaya pencuri. Tapi itu dilakukan secara terang-terangan. Mobil, hape sama dompet Om Steven diambil semua. Terus habis itu Om Steven ditusuk."


"Oh. Modelnya kayak jambret kali, ya?


"Mungkin." Juna mengangguk lemah, lalu menatap bola matanya dengan manik mata yang terlihat berkaca-kaca. "Ta ... bantuin aku dong."


"Bantuin apa?"

__ADS_1


"Cari cara atau ide, supaya Om Steven nggak meninggal. Aku nggak rela kehilangannya, kasihan juga Tante Citra dan Dedek Kembar ... yang kehilangan sosok Papi di hidupnya. Cari Papi baru itu susah, apalagi yang baiknya kayak Papi Tian. Aku kasihan sama mereka, Ta." Wajah Juna mengerut, mengeluarkan air matanya. Dia menangis, membayangkan jika si Kembar akan mengalami nasib yang sama seperti dirinya dulu.


Mungkin, bedanya Steven pergi untuk selamanya dan tak akan bisa bertemu lagi. Tapi bukankah itu jauh lebih menyakitkan? Ditinggal oleh seseorang yang tidak akan bisa untuk kita jumpai lagi?


"Bagaimana, ya, Jun ... aku juga bingung." Atta menggaruk rambutnya yang tidak gatal itu. Kali ini, sepertinya dia tidak bisa memberikan ide. "Bukannya semua manusia kata Bu Gisel akan mati, ya? Kamu pernah dengar 'kan, pas ada yang tanya kayak gitu sama Bu Gisel?"


"Iya. Tapi masalahnya Om Steven masih muda, Ta. Tante Citranya juga kemudaan kalau jadi janda."


Bukannya memberikan solusi supaya Steven hidup kembali, Atta justru berniat menjodohkan Omnya dengan Citra.


"Ah kamu ini, Ta!" Juna tampak marah, tak suka dengan jawaban dari temannya. Dia pun menepis kasar lengan Atta, lalu berdiri dengan wajah merengut. "Aku 'kan minta solusi supaya Om Steven hidup lagi! Bukan mencarikan Tante Citra suami baru! Sampai kapan pun Tante Citra harus sama Om Steven! Titik!" teriaknya lantang dan terlihat emosi.


"Maafin aku, Jun, tapi aku ...." Atta belum selesai bicara, tapi Juna sudah berlari masuk meninggalnya. Dia pun hendak mengejar, tapi tiba-tiba saja tubuhnya menabrak seseorang yang keluar dari rumah Angga. "Maaf! Maaf!"

__ADS_1


"Tunggu dulu, Nak!" Orang tersebut langsung mencekal lengan kanan Atta, hingga membuat langkah bocah yang hendak masuk ke dalam rumah itu terhenti.


Atta langsung menengadah, menatap orang di depannya yang memakai jubah panjang berwarna putih. Dia seorang kakek-kakek, wajahnya begitu putih dan bercahaya, meskipun sudah banyak kerutan.


"Kenapa, Kek?" tanyanya. Sekarang pandangan Atta tertuju pada sepatu boot berwarna putih yang Kakek itu pakai. Selain itu, dia juga membawa karung putih berukuran sedang yang entah apa isinya.


"Kamu nggak perlu menyusul temanmu. Yang harus kamu lakukan adalah meminta kerabat dari Steven ... membawa anak-anaknya, saat beliau hendak dimakamkan."


"Membawa anak-anaknya? Maksudnya gimana, Kek?" tanya Atta yang tampak tak mengerti.


"Anak-anaknya si Steven. Si kembar. Bawa mereka dan pertemukan sebelum Steven dikubur," jelas Kakek Tua itu, lantas menyentuh puncak rambut Atta. "Kamu mengerti?"


...Yang baca novel Om Joe pasti nggak asing sama Kakek Tua ini 🤣...

__ADS_1


__ADS_2