Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
213. Janet sakit


__ADS_3

Di dalam perjalanan, Nissa menoleh ke arah Juna yang masih terisak sambil memeluk kantong plastik. Tangan Nissa perlahan terulur mengusap kedua pipi yang terus dibanjiri air mata.


"Sudah, jangan menangis," kata Nissa lembut. "Bicara sama Mami, apa yang Om Tian lakukan padamu? Mami akan beri dia pelajaran, kalau perlu Mami aduin ke Opamu."


"Om Tian nggak ngapa-ngapain, Mi," jawabnya sambil sesenggukan.


"Nggak ngapa-ngapain kok kamu bisa nangis? Oh, apa dia ngomong sesuatu yang buat kamu sakit hati?"


"Juna hanya sedih, Mi." Juna mengusap seluruh air matanya, lalu membuka toples untuk mengambil satu kelereng besar dan langsung dia genggam.


"Sedihnya kenapa?" tanya Nissa. Pandangan matanya pun teralihkan pada plastik putih tebal yang Juna peluk sejak tadi. "Kamu dapat kelereng dari mana? Apa saja di dalam plastik yang kamu pegang?"


"Ini kelereng dari Om Tian, bagus, Mi." Juna membuka genggaman tangannya. Memperlihatkan kelereng berwarna hijau. Hijaunya terlihat berkelip.


"Kamu nangis gara-gara dikasih kelereng sama dia?"


"Iya, tapi Juna malah sedih karena inget sama Papi." Wajah Juna mengerut, buliran beningnya kembali mengalir. Dia pun menggeserkan tubuhnya untuk lebih dekat, lalu memeluk Nissa.


"Kenapa inget Papi? Kamu kangen sama dia?"


"Nggak sama sekali." Juna menggeleng cepat. "Juna cuma sedih karena tadi Om Tian mengingatkan, katanya main boleh, tapi jangan lupa makan dan belajar."


"Terus, masalahnya di mana?" Kening Nissa mengerenyit. Tak paham dengan maksud anaknya. Perkataan itu menurutnya lumrah. Bukan hanya dia saja yang sering mengatakan hal seperti itu kepada Juna, tetapi keluarganya juga.


"Nggak masalah, tapi apa yang Om Tian katakan malah mengingatkan Juna pada Papi. Papi jarang kasih mainan, dan sekalinya ngasih dia juga nggak pernah ngomong kayak gitu. Tapi kok ...." Juna mengantung ucapannya sebab mengusap air matanya. "Om Tian malah bilang kaya gitu? Om Tian 'kan baru kenal Juna, kok dia baik? Dia juga memberikan uang tadi untuk Juna, padahal katanya kantornya bangkrut. Pasti dia kere, Mi." Juna merogoh kantong plastik, lalu mengambil amplop dan menunjukkannya kepada Nissa.


"Dia nggak mau menerima uang itu?"


"Juna nggak ngerti, tapi dia bilang uang itu untuk Juna saja, untuk jajan."


"Kenapa kamu terima? Harusnya kamu tolak saja, itu uang gaji Om Tian, Jun, selama dia kerja."


"Juna tahu. Tapi Om Tiannya sendiri yang ngasih. Kan namanya rezeki nggak boleh ditolak kata Opa, Mi."


"Tapi siapa tahu saja dia butuh, Jun. Kamu tadi nanya nggak dia kerja dimana sekarang?"


Juna menggeleng. "Juna nggak tanya. Memang kenapa? Mami mau Om Tian kerja lagi di restoran?"


Nissa menggeleng. "Nggak."


"Terus kenapa tanya? Oh ya, tadi Om Tian juga cerita, katanya dia nggak punya orang tua. Kasihan ya, Mi, Om Tian yatim piatu. Udah gitu tinggal sendirian di rumah. Kalau misalkan dia sakit, nggak ada orang yang tahu dong."


"Di rumahnya 'kan pasti ada pembantu, nggak mungkin sendirian." Nissa mengusap rambut kepala Juna lalu mencium rambutnya. "Oh ya, hari ini pulang ke rumah, ya? Nggak usah menginap lagi."


"Nggak mau, Mi." Juna menggeleng. "Juna mau nginep di rumah Opa, Juna mau bales dendam sama Om Steven."


"Ngapain bales dendam? Memang Om Steven punya salah apa sama kamu?"

__ADS_1


"Om Steven jahat, Mi. Kemarin 'kan Juna sama Opa mau ikut pas dia beli kerak telor ... tapi dia nolak. Kan nyebelin." Juna bersedekap dengan bibir manyun.


"Mungkin lagi sibuk. Nggak usah bales dendam segala, lagian dosa. Nggak baik, nanti masuk neraka."


"Tapi Opa kok yang ngusulin. Berarti Opa juga masuk neraka dong."


"Memangnya balas dendamnya kayak gimana?" tanya Nissa penasaran.


"Katanya nanti Om Steven jangan diajak bicara, biar dia tahu rasa. Tapi Juna lupa ngasih tahu Tante Citra, Mami coba nanti telepon Tante. Biar dia ikutan."


"Oh, ya sudah, nanti Mami telepon dia." Nissa tersenyum menyetujui. Balas dendam seperti itu baginya tidak masalah.


***


Di kantor Thomi.


"Terima kasih, ya, Pak Steven, Pak Rizky," ucap Thomi sambil berjabat tangan dengan Steven dan Rizky bergantian. Mereka bertiga telah menyelesaikan meeting.


"Sama-sama," jawab Steven tersenyum. "Kalau begitu aku pamit pulang, Pak."


"Aku juga, Pak." Rizky ikut menjawab. Baru saja kakinya melangkah hendak pergi bersama Steven, namun Thomi segera memanggilnya.


"Tunggu sebentar Pak Rizky!"


Rizky menghentikan langkahnya, lalu berbalik.


"Aku ingin mengobrol sebentar dengan Bapak, boleh?" pinta Thomi. Pria itu pun mengangguk. Steven sudah berlalu pergi dari sana dan disusul oleh Dika.


"Itu, aku ingin bertanya, kata asistenku Bapak sedang mencari CEO. Benar atau nggak?" tanya Thomi.


Rizky mengangguk. "Benar. Kebetulan aku memang kewalahan sekali ngurus dua kantor, jadi mau cari CEO, biar ringan pekerjaanku."


"Aku punya teman, Pak. Dia dulunya CEO di kantornya sendiri, tapi sekarang dia lagi nganggur. Boleh nggak kalau dia saja yang jadi CEO?"


"Kenapa dia nganggur sekarang? Perusahaan bangkrut?" Rizky hanya menebak, tapi tepat sasaran sekali.


"Iya."


"Alasannya bangkrut kenapa? Kalau dia pegang perusahaanku, bisa bangkrut juga dong."


"Belum tentu, Pak." Thomi menggeleng cepat. Meskipun dia sendiri tidak yakin, namun tak mungkin juga dia menjelekkan Tian. Dia sendiri memang ingin membantu pria itu untuk mendapatkan pekerjaan. "Bapak coba tanya-tanya saja dulu, kalau cocok bisa dipikirkan. Selama ini yang aku lihat ... pekerjaannya bagus, cuma kemarin dia lagi kena musibah saja."


"Ya sudah, besok dia disuruh datang ke kantorku. Tapi kantor yang satunya ya, Pak. Nanti aku kirim alamatnya ke Bapak. Oh ya, dan satu lagi." Jari telunjuk Rizky terangkat. "Lamarannya jangan lupa, tapi kirim lewat email saja."


"Baik, terima kasih, Pak."


"Sama-sama." Rizky tersenyum, setelah itu dia melangkah pergi.

__ADS_1


***


Di rumah Angga.


Pria tua itu melangkah keluar rumah sembari membawa piring yang berisi potongan wortel, niatnya ingin memberikan makan untuk kedua burung Kakatuanya.


Namun, saat menuju pos satpam, di dalam sangkar burung itu tidak ada siapa-siapa. Baik Kevin atau pun Janet.


"Lho, di mana kedua burungku, Jo?" tanya Angga pada Bejo yang tengah berdiri di depan gerbang.


"Kevin dari pagi belum pulang, Pak. Katanya sih dia izin mau terbang. Kalau Janet sejak pagi ada di dalam glodok." Semenjak Angga memelihara burung, tugas Bejo jadi bertambah yakni mengawasinya.


"Oh." Angga membuka pintu sangkar, lalu meraih rumah bertelur itu untuk mengecek ada Janet atau tidak, sembari meletakkan potongan wortel pada tempat makan.


"Lho, Net. Kamu kenapa?" tanyanya seraya meraih burung betina itu.


Saat disentuh, Angga merasakan tubuh Janet panas. Burung betina itu juga tadi tengah menyandarkan kepalanya pada dinding kayu glodok. Terlihat lesu dan tidak bersemangat.


"Kamu sepertinya nggak enak badan, Net. Kayaknya musti Papa bawa ke dokter." Segera, Angga mengangkat Janet, lalu mengendongnya.


"Kepala saya sakit, Papa," ucap Janet lemah. "Perut saya juga mual."


"Papa mau ke mana?" tanya Citra yang baru saja turun dari mobil, pulang dari kampus. Dia melihat Angga yang hendak masuk ke dalam mobilnya sambil menggendong Janet.


"Papa mau ke dokter hewan, periksa Janet. Mau ikut kamu?" tawar Angga.


"Mau." Citra langsung berlari menuju mobil Angga, lalu masuk ke dalam sana bersama mertuanya dan duduk di kursi belakang.


Bejo yang melihatnya ikut masuk ke dalam mobil, lalu mengemudi.


"Memang Janet sakit apa, Pa? Kok mau dibawa ke dokter?" tanya Citra dengan tangan yang menjulur untuk mengelus jambul kuning Janet. Burung itu berbaring di pangkuan Angga.


"Kerasa nggak itu kamu, badannya Janet panas Dek? Kayaknya dia demam."


"Iya, kerasa. Sakit kayaknya dia."


"Iya, mangkanya Papa mau ajak dia ke dokter. Oh ya, kamu sudah makan dan izin belum sama suamimu yang tua itu? Nanti marah lagi pas tahu kamu ikut Papa."


"Aku sudah makan di kantin tadi, ini aku akan kirim chat sama Aa Ganteng." Citra membuka tas ranselnya, lalu mengambil ponsel di dalam sana.


"Kamu panggil Steven apa tadi? Aa?" Telinga Angga mendadak terasa gatal, kala Citra menyebut panggilan barunya itu.


"Iya. Aa Ganteng sendiri yang menginginkannya, Pa."


"Jangan mau harusnya."


"Kenapa?" Kening Citra mengerenyit.

__ADS_1


"Nggak cocok. Dia terlalu tua untukmu. Udah, panggil Om saja, atau kalau nggak, Abah. Abah Steven, itu sangat cocok."


...Nggak sekalian Aki, Pa? 🤣...


__ADS_2