Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
346. Lebih cepat Sayang!


__ADS_3

"A, udahan dulu si kembar bangun!" tegur Citra yang langsung menahan bokong Steven, demi menghentikan goyangannya.


"Tapi, Cit, ini lagi enak." Wajah Steven tampak meringis sedih. Tak rela rasanya menghentikan aktivitas itu. Sudah hampir sebulan lebih dia merindukannya.


"Nanti lanjut lagi. Aa memangnya nggak kasihan, ya, lihat si kembar nangis begitu?" Citra paham akan apa yang dirasakan suaminya. Tapi mau bagaimana? Resiko punya anak kecil apalagi masih bayi.


Steven pun menghela napasnya dengan gusar. Mau tidak mau akhirnya dia menarik tubuhnya dan melepaskan penyatuan. Setelah itu dia melangkah menghampiri ranjang bayi, dan meraih tubuh Vano sebab dia lah yang menangis paling kencang.


"Duh ... kenapa sih, Sayang? Kok bangun? Ayah 'kan baru enak-enak sama Bunda. Tega ya, kalian ini sama Ayah." Steven berbicara dengan lembut. Kemudian menimang-nimang sambil mengecup kening.


Citra meraih tubuh Varo, kemudian membawanya ke kamar mandi. Dia ingin membasuh kedua puncak dadanya sebelum mulai menyusui, sebab tadi ada bekas Steven.


"Aa pakai baju sama celana dulu. Terus bangunin Suster Dira dan minta buatkan susu formula untuk Vano. Takutnya lama kalau nungguin Varo selesai nyusu." Citra sudah duduk selonjoran sembari menyusui Varo. Bayi mungil itu menghisapnya dengan rakus, sepertinya dia benar-benar haus.


"Iya." Steven dengan nurutnya langsung memakai kembali pakaiannya, kemudian berjalan keluar kamar.


Tok! Tok! Tok!


"Suster! Bangun! Ini Vano buatkan susu!" pekik Steven seraya mengetuk-ngetuk pintu.


Tak lama kemudian pintu itu dibuka, Suster Dira terlihat tengah mengucek kedua matanya sebab terasa buram baru bangun tidur.


"Ini, Sus, sekalian bawa Vano ke dalam terus kasih susu. Kalau sudah tidur biarkan tidur sama Suster dulu." Steven menyerahkan Vano kepada Suster Dira. Dia tak mau ambil resiko, jika percintaannya yang akan dilanjut nanti kembali terhambat akibat bayi mungil itu menangis.


Jika Vano sudah aman, jadi tinggal mengurus Varo.


"Iya, Pak." Suster Dira mengangguk. Setelah mengendong Vano dia membawanya masuk ke dalam kamarnya.


"Maaf ya, Nak, kamu tidur sama Suster dulu. Ayah belum selesai kencing. Ayah juga sama hausnya kayak kamu, pengen nyusu," gumam Steven. Kemudian melangkah masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu.


"Lho, di mana Vano, A?" tanya Citra dengan kening yang mengernyit menatap suaminya masuk kamar tanpa Vano.


"Sama Suster. Biar kalau sudah kenyang sekalian tidur di sana. Takutnya nanti kebangun gara-gara kita berisik, Cit." Steven melepaskan kembali pakaiannya, kemudian naik ke atas kasur dan duduk selonjoran di samping Citra. Si Elang masih tegak berdiri dan pelindungnya pun masih terbungkus rapih.


"Berarti nanti Varo juga dipindahin? kalau selesai nyusu?" tanya Citra seraya menepuk-nepuk pelan perut Varo. Supaya membuatnya cepat tidur kembali.


"Iya." Steven perlahan meremmas salah satu dada yang terlihat menganggur itu, lalu mendekatkan bibirnya untuk meraup bibir sang istri.

__ADS_1


"Ya berarti tunggu dia tidur dulu dong, A. Jangan mulai dulu." Citra langsung menutup bibir Steven yang sudah monyong.


"Pemanasan nggak apa-apa kali, sambil ciuman, Cit," pinta Steven seraya menarik tangan Citra. Kemudian membungkukkan badannya dan melahap salah satu dada yang menganggur.


"Ih, Aa mah!" Citra terkejut dibarengi desahaan pelan. Sekarang dia bukan hanya menyusui anaknya, tapi bapaknya juga. "Aa sabar dulu kenapa, tunggu si Varo kenyang. Itu 'kan habis dicuci tadi." Mendorong dada Steven demi menghentikan aktivitasnya.


"Biarin aja sih, Cit, biar adil. Kan aku juga butuh nutrisi," balas Steven dengan bibir yang mengerucut.


"Nanti aja ah, tunggu selesai. Akunya nggak konsen. Mulut Aa 'kan beda kayak mulut Varo."


"Tapi kami 'kan sama-sama laki-laki."


"Iya, tapi 'kan Varo belum ada gigi, A. Jadi lebih lembut dia nyedotnya."


"Tapi lebih enakan mulutku 'kan, daripada mulut Varo atau Vano?" Steven menangkup kedua pipi Citra, lalu mengecup sekilas bibirnya.


"Iya, kan Aa Ayahnya. Beda sensasi," sahut Citra dengan wajah yang merona. "Aa berbaring dulu, nanti dia nggak tidur-tidur." Menatap ke arah Varo yang tengah mengekedip-kedipkan menatapnya.


"Aku tunggu, tapi nanti kamu yang goyang di atas, ya?"


"Iya, tenang aja." Citra mengangguk. Setelah itu Steven berbaring dan menyelimuti tubuhnya sebatas perut, tapi matanya terus memperhatikan Citra dan membelai pipi kanannya.


*


Setelah beberapa menit menyusui, akhirnya Varo terlelap juga dan membuat Citra bernapas lega. Perlahan dia membaringkan tubuh anaknya ke atas ranjang bayi, lalu memakai kembali pakaiannya berniat untuk memindahkan Varo ke kamar Suster Dira.


Dirasa sudah cukup aman, barulah Citra kembali ke dalam kamar.


Dia menatap ke arah Steven di atas kasur sambil melepaskan pakaian di tubuhnya sendiri. Tapi ternyata pria tampan itu sudah terlelap tidur, bahkan sudah mendengkur halus.


"Ish si Aa! Katanya mau nunggu tapi dia malah tidur!" Citra berdecak sambil menggerutu. Tapi dia seolah tak peduli karena dirinya juga sudah berhasrat sejak tadi.


Perlahan Citra merangkak naik ke atas kasur, lalu menyingkap selimut di tubuh Steven.


Melihat kejantanan itu masih berdiri tegak, kesempatannya adalah melakukan penyatuan secara langsung dengan duduk di atas pangkuannya.


"Ah!" desahnya saat milik sang suami terbenam sempurna. Perlahan dia pun mulai bergoyang pinggul dan disaat itu pula Steven terbangun dari tidurnya.

__ADS_1


"Ah yes, Cit! Lebih cepat Sayang!" seru Steven. Naffsunya langsung on. Segera dia meremmas dada sang istri, lalu ikut menggerakkan pinggulnya. Supaya keduanya sama-sama bergerak dengan adil.


Malam itu jadi malam yang panjang. Walau sempat mendapatkan hambatan, tapi proses berbuka puasa Steven akhirnya berjalan lancar.


***


Keesokan harinya di rumah Angga.


Sindi mengerjapkan matanya dan langsung merasa terkejut. Seingatnya dia semalam menunggu Angga pulang dengan membawa Steven dan rombongannya. Tapi kenapa sekarang justru baru bangun tidur?


Ceklek~


Tiba-tiba pintu kamar mandi dibuka, keluarlah Angga yang baru saja selesai mandi. Handuk putihnya itu terlilit rapih di atas perut.


"Papa pulang kapan? Kok Mama nggak tau?" Sindi langsung menarik tubuhnya, kemudian berdiri.


"Semalam, jam 10, Ma. Tapi Mama sudah tidur. Jadi Papa nggak bangunin Mama," sahut Angga. Dia berjalan mendekat lalu mengecup kening Sindi dengan lembut.


"Oh, ya sudah nggak apa-apa. Tapi si Steven dan rombongannya sudah pulang, kan? Mama mau lihat si kembar dulu deh, kangen pengen nyium." Sindi melangkah menuju pintu. Dia berpikir mereka semua sudah pulang dan sekarang, dia mau ke kamar Steven untuk melihat cucunya.


"Mereka belum pulang, Ma."


Jawaban dari Angga seketika menghentikan langkah Sindi. Padahal wanita tua itu sudah membuka pintu.


"Lho, katanya Papa mau bujuk mereka? Kok belum pulang juga?" Sindi langsung menoleh, wajahnya langsung berubah sendu. Bola matanya pun mulai berkaca-kaca.


"Papa kemarin malam nggak ketemu sama Citra dan Steven, Ma. Mereka juga lagi nggak ada di apartemen."


"Terus ke mana mereka?"


"Kata satpam sih lagi keluar. Tapi Mama tenang saja ... hari ini Papa mau ke sana lagi, mau bujuk mereka supaya pulang."


"Mama ikut, ya?"


"Boleh. Mama mandi dulu sekarang."


"Oke." Sindi langsung tersenyum manis, kemudian melangkah cepat menuju kamar mandi.

__ADS_1


...Belum nyerah ya, Pa, Ma, bujuk si pengais bungsu 😃 moga lancar deh...


__ADS_2