Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
107. Panggilan kesayangan


__ADS_3

"Kok Om nangis?" tanya Citra bingung.


Steven langsung menjatuhkan tubuhnya hingga dada mereka menempel, lalu perlahan dia pun memeluk tubuh Citra. "Ya jelas aku nangis ... aku sedih kamu berubah, aku sedih kamu nggak mencintaiku lagi, Cit," katanya yang masih terus menangis.


"Tapi bukan bercinta yang aku mau, Om. Bukan cara itu untuk membuktikan Om mencintaiku."


"Terus apa?"


"Aku mau Om mengenalkanku kepada kedua orang tua Om. Bilang pada mereka kalau Om mencintaiku, bilang juga sama Safira kalau Om mencintaiku dan aku nggak mau kalian dekat seperti yang sudah-sudah."


Steven langsung menarik tubuhnya untuk bangun dengan lengan yang melingkar di punggung Citra. Alhasil keduanya sudah sama-sama duduk.


"Ayok, aku akan kenalkan kamu sekarang juga sama Mama dan Papa." Steven meraup kasar wajahnya, lalu menggenggam tangan Citra dan menariknya untuk sama-sama berdiri. Kakinya baru saja melangkah, tetapi segera ditahan oleh Citra. "Kenapa? Ayok!" ajak Steven seraya menoleh ke samping, tepat di mana Citra berada.


"Om nggak pakai baju dulu? Masa mau ketemu orang tua Om bugil begitu?"


Steven terbelalak dan langsung menurunkan pandangan. Segera dia pun menutupi inti tubuhnya, lalu memunguti pakaiannya seraya memakainya.


"Apa besok saja kita temui orang tua, Om?" Citra memalingkan wajahnya, tak memperhatikan Steven.


"Kenapa memangnya?"


"Ini sudah malam. Takutnya ganggu mereka istirahat." Citra melirik jam weker yang berada di atas nakas, di sana menunjukkan sudah pukul 12 malam.


"Dicoba saja dulu, kali aja mereka belum tidur."


Pria tampan itu sudah memakai kemeja dan celana bahan, lalu dia pun kembali menggenggam tangan Citra. Kemudian mengajaknya keluar sama-sama dari kamar.


Di depan pintu kamar Angga dan Sindi, Steven mengetuk pintu.


Tok ... tok ... tok.


Sembari mengetuk pintu dia juga terus berdo'a supaya kedua orang tuanya itu belum tidur. Sebab menurutnya, lebih cepat mereka tahu saat ini akan lebih baik. Pastinya dengan begitu keinginannya akan terwujud dan besar kemungkinan Citra tak lagi marah.

__ADS_1


'Semoga nanti Mama dan Papa langsung percaya kalau aku dan Citra sudah menikah,' batin Steven. 'Aku ingin cepat-cepat bercinta dengannya, bahkan menyusu juga belum.'


Saat pintu itu diketuk untuk ke lima kalinya, barulah terdengar suara seseorang yang menurunkan handle pintu lalu membukanya.


Ceklek~


Dia adalah Sindi. Wanita tua itu tengah mengucek matanya dan terlihat wajah bantal. Sepertinya dia sudah tidur tadi.


"Ada apa, Stev? Eh ... kamu sudah sadar, Cit?" kata Sindi seraya menatap Citra. Gadis itu pun langsung mengangguk dan mengulurkan tangannya, meminta untuk bersalaman.


Sindi segera membalas uluran tangan itu dan dengan cepat Citra mencium punggung tangannya.


'Cit? Mama Sindi tahu namaku?' batin Citra.


"Selamat malam, Ma. Maaf aku dan Om Ganteng menganggu waktu istirahat Mama," ucap Citra sambil mengulas senyum. Senyuman itu tampak canggung sekali dan entah mengapa ada rasa takut di dalam hatinya.


Takut jika nantinya kedua orang tua Steven tak setuju dan tak suka padanya. Akan tetapi, Citra tentu sudah punya niat untuk menyerah sejak kemarin-kemarin kalau memang itu sampai terjadi.


"Om Ganteng siapa maksudmu?" tanya Sindi yang tak paham dengan apa yang Citra katakan. Dia bahkan menoleh ke kanan dan kiri, seperti mencari-cari seseorang.


"Mama cari siapa? Akulah Om Ganteng," kata Steven dengan bangga. Dia menunjuk wajahnya sendiri yang tampak merona.


"Oh, jadi Citra memanggilmu dengan sebutan Om?" Sindi memperhatikan Citra, tetapi tak lama dia pun terkekeh. Entah apa yang lucu, Citra sendiri merasa aneh. "Ah wajar juga sih manggil Om. Memang kamu sudah Om-om 'kan?" tambahnya kemudian sambil menatap Steven.


Mata Steven langsung mendelik, dadanya terasa bergemuruh. Hanya begitu saja dia sudah tersinggung. "Enak saja aku Om-om. Aku itu masih muda, Ma! Om Ganteng itu panggilan kesayangan Citra padaku!" tegas Steven lalu menoleh pada Citra. "Iya 'kan, Cit? Panggilan kesayangan?" tanyanya yang berharap Citra mengiyakan pertanyaannya.


Gadis itu hanya mengangguk samar sebagai jawaban. Dan hanya seperti itu saja Steven sudah terlihat kegirangan. Dia sudah cengar-cengir.


"Tuh, Ma. Benar, kan? Citra itu sangking cintanya sama aku sampai punya panggilan kesayangan," ujar Steven menatap Sindi.


"Iya, iya, panggilan kesayangan." Sindi mengangguk dan terkekeh lagi. Rasanya lucu dan aneh melihat tingkah Steven. "Jadi ada apa sebenarnya? Dan apa kalian sudah baikan?" Sindi menatap Steven dan Citra bergantian.


"Kita sudah baikan, tapi ada hal yang mau aku bicarakan sama Mama dan Papa. Kita ngobrol di ruang keluarga, ya," pinta Steven.

__ADS_1


"Besok saja bagaimana? Papa sudah tidur soalnya."


"Ini darurat, nggak bisa ditunda, Ma." Steven menggeleng cepat.


"Tapi 'kan kamu tahu sendiri Papa orangnya gimana. Dia kalau dibangunin susah, Stev. Dan suka marah."


"Aku yang akan membangunkannya. Sekarang Mama ajak Citra ke ruang keluarga. Nanti aku menyusul," kata Steven. Belum sempat Sindi menjawab, tetapi dia sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar dan menuju tempat tidur.


Langkah kaki Steven seketika terhenti saat melihat di atas kasur itu tak ada Angga. Dan tak lama terdengar suara gemericik air di dalam kamar mandi.


Steven lantas menuju kamar mandi, lalu mengetuk pintunya.


Tok ... tok ... tok.


"Pa! Papa lagi apa di dalam?!" teriak Steven dengan masih mengetuk pintu. "Cepat keluar, Pa! Ada yang mau aku bicarakan!"


"Papa lagi berak, Stev! Mules!" teriak Angga dari dalam. Suara yang ditangkap oleh Steven begitu kecil. Tetapi untungnya dia dapat mendengarnya dengan jelas.


"Ya sudah, aku tunggu Papa di ruang keluarga, ya! Jangan lupa pakai baju!" pekik Steven. Dia mengingatkan sebab dia tahu kebiasaan Angga yang setiap tidur pasti telanjang dada.


Tak ada jawaban yang terdengar dari dalam, tetapi Steven lebih memilih keluar kamar.


Selang beberapa menit kepergian Steven, Angga pun keluar dari kamar mandi. Kemudian mengambil kaos putih polos di dalam lemari dan langsung memakainya. Kakinya melangkah menuju nakas, lalu menarik beberapa lembar tissue di atas sana dan menyeka keringat pada seluruh wajahnya.


Setelah itu baru lah dia keluar kamar lalu menuruni anak tangga.


Seketika langkah Angga terhenti di ruang keluarga, matanya membulat sempurna dan bibirnya terlihat tersenyum manis kala tatapan matanya bertemu dengan seorang gadis yang duduk di sofa di samping Steven. Dia adalah Citra.


Gadis itu tampak heran mengapa pria tua itu ada di sana dan kini Angga melangkah menghampirinya.


"Dedek Gemesnya Opa, apa benar itu kamu, Sayang?" tanya Angga dengan mata berbinar.


...Bab selanjutnya keknya ada yang bakal nangis 😅...

__ADS_1


__ADS_2