Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
134. Kamu nakal


__ADS_3

"Memang bisa bercinta di sofa?" tanya Citra dengan ragu.


"Bisa dong. Masa nggak bisa. Kamunya mau apa nggak?"


"Mau aja, tapi aku nggak yakin. Nanti yang ada aku jatuh lagi, Om."


"Kalau jatuh aku yang nangkap. Sekarang kita pemanasan dulu dikasur, ya?"


Steven mematikan lampu, tetapi dia menyalakan lampu tidur.


Bercinta dengan cahaya remang-remang pasti lebih indah menurutnya. Lantas setelah itu, Steven menghampiri Citra. Segera dia pun naik di atas tubuhnya. Gadis itu tampak diam dan pasrah, kemudian tak lama bibir mereka pun saling bertaut.


Cup~


Keduanya saling beradu, bercumbu dan melummat satu sama lain. Tetapi tetap, lebih dominan Steven sebab dialah yang jauh berpengalaman.


"Sekarang ciumanmu nggak kaku seperti dulu, Cit. Ada perubahan," kata Steven saat melepas ciumannya. Kedua tangannya langsung meremmas dua agar-agar dan sesekali memilin puncaknya.


"Aku hanya ngikutin Om kok."


"Bagus itu. Ayok lebih pintar lagi, aku akan mengajarimu." Steven meraup kembali bibir Citra. Gadis itu langsung membuka bibirnya kala lidah suaminya sudah mulai beratraksi dan tak lama lidah mereka pun berbelit.


Disesi ciuman itu Steven tersenyum manis. Dia tampak senang sebab Citra begitu gampang dia ajari.


Setelah cukup puas bermain dibibir, kini Steven sudah mulai turun ke leher. Dia menjilati dan melummat kasar hingga memberikan dua jejak kepemilikan di sana.


"Lehermu putih dan mempesona, aku suka, Cit," puji Steven sambil tersenyum manis. Citra membalas senyuman itu dan mengangguk kecil.


Sekarang, Steven mendekatkan wajahnya ke arah agar-agar. Itu adalah tempat favoritnya, dan rasanya akan kurang jika bercinta tanpa bermain-main di sana.


Steven menjepit wajahnya sendiri dengan belahan dada itu, menghirup aromanya dalam-dalam dan mendusel-dusel. Tak lama kemudian dia pun menyusu bagaikan bayi.


'Ini enak dan segar,' batin Steven.


Semakin lama, apa yang dilakukannya membuat dirinya sendiri tak tahan. Sepertinya pemanasan cukup sampai disitu.


Dia pun lantas mengendong Citra, lalu membawanya ke sofa. Tetapi gadis itu dia arahkan ke jendela dengan kedua lutut yang menopang.


"Pegangan, Cit. Kita mulai sekarang," ucap Steven memberikan aba-aba. Gadis itu langsung memeluk penyangga sofa dan tak lama kemudian penyatuan itu pun dimulai dengan posisi tusukan dari belakang. Steven berdiri di belakang tubuh Citra. "Aah ... kamu nakal, Cit."


"Nakal kenapa, Om? Aku dari tadi diam saja."

__ADS_1


"Nakal karena milikmu selalu menjepitku." Steven meremmas dua bokong montok di depannya.


Keduanya bisa bercinta sambil melihat bintang yang kelap kelip. Tetapi benar apa yang dikatakan oleh Citra, mereka sama sekali tidak fokus. Sebab keduanya sibuk mendesah dan merem melek.


"Bagaimana rasanya, Cit? Enak, kan?" tanya Steven dengan suara tersendat-sendat. Dia masih melaju dengan kecepatan sedang.


"Enak, Om," jawab Citra pelan sambil mengigit bibir. Sensasi yang baru dia rasakan itu membuat ubun-ubunnya terasa panas. Bahkan tak menunggu waktu yang lama Citra sudah keluar duluan.


Akhirnya keinginan Steven terwujud. Bercinta sambil melihat bintang atau membuat bintang iri. Momen itu benar-benar terlihat begitu romantis menurut Steven.


Banyaknya peluh yang bercucuran di tubuh Steven seolah menjadi bukti, bahwa sesi bercinta mereka begitu panas dan membara. Keduanya saling menikmati dan mendessah bersama.


Sementara itu, Angga dan Sindi juga melakukan hal yang sama. Yakni bercinta. Tetapi bedanya Angga melakukannya dengan sebuah paksaan sebab terlihat jelas, dari awal Sindi menolak.


Sindi menolak bukan karena tidak mau, tetapi karena dirinya kaget. Dia tentu ingat—kalau sebelum tidur dia membacakan dongeng untuk Citra. Tetapi anehnya, tiba-tiba ada yang menyerangnya dengan tenaga dalam.


"Bagaimana, Ma? Enak, kan?" tanya Angga yang sejak tadi bergoyang di atas tubuh Sindi. Istrinya itu sibuk mendessah menikmati sentuhannya.


"Iya, tapi kok tumben Papa agak lama." Sindi selalu menghitung durasi percintaan mereka. Dan bisanya paling hanya 3 menit kemudian Angga keluar.


Namun ini sudah setengah jam lebih, pria itu masih menghujaminya dan bergoyang dengan lincah. Aneh, biasanya Angga tak seperkasa ini menurutnya.


"Papa tadi sempat minum obat kuat, Ma."


"Iya, dong."


"Tapi di mana Citra? Dan Steven?" Bola mata Sindi berkeliling menatap cahaya remang-remang.


"Mereka di kamar kita. Steven katanya ngajak tukeran kamar." Angga mempercepat gerakan pinggulnya hingga membuat Sindi menjerit keenakan. Menikmati permainan itu.


'Dasar Steven mesum! Harusnya aku tidur bersama Citra,' batin Sindi.


***


Keesokan harinya.


Sinar matahari pagi terpancar dari arah jendela, silauannya membuat sepasang mata yang terpejam itu lantas mengerjap secara perlahan.


Steven yang hanya berbalut selimut di tubuhnya itu langsung membuka mata, kemudian menoleh ke arah samping. Tempat di mana posisi Citra berada. Tetapi sayangnya, di atas kasur itu tidak ada Citra.


"Citra!" panggilnya seraya menarik tubuh hingga duduk. Steven menjatuhkan kedua kakinya di lantai lalu melangkah menuju kamar mandi.

__ADS_1


Dibukanya pintu kamar mandi itu, kemudian segera masuk.


"Citra!" pekik Steven sembari menoleh ke kanan dan kiri. Tetapi tak ada Citra di dalam sana. "Di mana Citra? Kok nggak ada dia?" gumam Steven.


Dia pun langsung keluar dari kamar mandi, lalu memungut handuk kimono di lantai dan segera dia pakai. Kakinya melangkah menuju pintu, lalu membukanya.


"Pa, Papa lihat Citra, nggak?" Steven bertanya pada Angga. Kebetulan, saat dirinya keluar bertepatan sekali dengan sang Papa yang baru saja keluar dari kamar pengantinnya.


Berbeda dengan Steven yang belum mandi dan memakai handuk kimono, Angga justru terlihat segar habis mandi. Dia juga mengenakan setelan jas berwarna merah. Itu adalah jasnya Steven.


Jasnya muat, tetapi longgar sedikit. Sebab tubuh Steven lebih besar sedikit darinya.


"Dih, kenapa kamu nanya Papa? Kan Dedek Gemes sama kamu, Stev."


"Tapi Citra nggak ada di kamar sekarang, Pa. Dan di mana Mama?" Steven menyembulkan kepalanya masuk ke dalam kamar pengantin, mencari-cari keberadaan Sindi dan Citra tentunya.


"Pagi-pagi Mama udah keluar, dia bilang laper mau sarapan."


"Sekarang Papa mau ke mana? Bantuin aku cari Citra dong. Kalau dia diculik bagaimana?"


"Papa mau sarapan. Nggak mungkin Dedek Gemes diculiklah, Stev. Kan dia awalnya di kamar."


"Ya siapa tahu. Tunggu sebentar, aku mau mandi dulu. Papa jangan ke mana-mana."


Belum sempat Angga memberikan jawaban, tetapi Steven sudah berlari masuk ke dalam kamar pengantin.


Hanya dalam waktu 5 menit saja, dia sudah keluar. Dia mengenakan setelan kaos berwarna putih lengan pendek.


"Ayok!" ajak Steven seraya melangkah duluan ke arah lift.


"Kamu mandi cepet banget dan nggak bersih." Angga melihat banyak busa di rambut Steven, sepertinya itu adalah busa shampoo yang belum dibilas.


Steven tak menjawab, dia sibuk dengan ponselnya di pipi. Kemudian keduanya masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka.


"Mama kok nggak jawab teleponku? Nyebelin banget!" gerutu Steven sambil menatap ponselnya. Dia menelepon Sindi tapi tak ada tanggapan.


"Katanya kamu cari Dedek Gemes, kok teleponnya Mama? Kenapa nggak telepon dia?"


"Citra belum aku kasih hape, Pa." Wajah Steven tampak cemas. Keringat sebiji jagung di dahinya mengalir.


...Hayo lho, Om. Citranya ilang 🙈...

__ADS_1


...Ada yang nungguin nggak kemarin ga up? 🤧 nanti aku up lagi, tapi nunggu yang ngevote sama yang ngasih hadiahnya nambah. soalnya dikit banget yang ngasih dukungan 🥲...


__ADS_2