Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
390. Bareng saja denganku


__ADS_3

"Pergi kau dari sini!!"


Citra sontak terperanjat, begitu pun dengan kedua anaknya yang langsung menangis. Lantaran Steven tiba-tiba saja datang sambil berteriak dan mengibaskan tangannya mengusir Kevin yang berdiri di paha istrinya.


"Oek ... Oek ... Oek."


Citra pun meraih Vano untuk digendong, sedangkan Varo hanya ditepuk-tepuk perutnya.


"Apa kau tuli? Kubilang pergi, ya, pergi!!" tekan Steven dengan lantang, menatap adiknya yang kini tengah terbang di atas kepalanya.


"Kakak Steven apa-apaan, sih? Dan saya harus pergi ke mana?" tanya Kevin yang tampak bingung.


"Pakai nanya, ya pergi ke mana saja terserah ... yang penting jangan di sini!!"


"Stev ...." Angga melangkah keluar dari rumah, kemudian menghampiri anaknya. "Kamu ini kenapa, sih? Kenapa marah-marah?" Dia mengusap bahu Steven, guna memenangkan dan meredakan emosinya yang terlihat menggebu-gebu itu.


"Bagaimana aku nggak emosi, itu ada burung, Pa!" Joe menunjuk ke arah Kevin dengan penuh kebencian.


"Memang ada apa dengannya, Stev?"


"Kok ada apa? Dia 'kan burung, Pa, ya diusir dong dari sini. Masa dari jendela kamar aku lihat dia cium-ciumin si Citra ... kalau misalkan si Citra terkena flu burung terus nular sama si kembar gimana? Siapa yang mau disalahin?" Steven menuturkan semuanya, juga tentang rasa kesal di dadanya.


"Apa benar itu, Vin? Kamu tadi ciumin Citra?" Angga bertanya pada Kevin.


Burung itu menggeleng kepalanya. "Tidak, Pa!"


"Apa kamu bilang tadi?" Steven merasa begitu aneh, mendengar jawaban dari burung kakatua itu. Apalagi Angga menyebutkan sebuah nama padanya. "Kamu memanggil Papaku dengan sebutan Papa? Dan namamu Kevin?"


"Kakak Steven ini aneh. Kenapa bertanya? Padahal 'kan harusnya sudah tahu jawabannya."


Kevin terlihat mendengkus, dia pun langsung mengibaskan sayapnya lebih cepat untuk terbang menuju sangkarnya.


Mata pria berlesung pipi itu sontak membulat sempurna, lantaran melihat ada jenis burung kakaktua lagi di dalam sana. Hanya saja bedanya mereka bertiga berukuran lebih kecil dari Kevin.


"Apa-apaan dia? Kenapa dia justru masuk sangkar dan kenapa banyak sekali?"


"Stev ...." Angga kembali mengusap bahu Steven, kemudian menarik tangannya dan membawanya menuju pos untuk duduk di sana. Sekalian juga Angga akan menjelaskan semuanya. "Keempat burung Kakaktua itu milik Papa, Stev. Dan yang tadi kamu omelin itu namanya Kevin. Dia sudah Papa angkat juga jadi anak."


"Apa?!" Steven langsung syok dan merasa tak habis pikir. "Papa nggak waras, ya? Masa burung diangkat jadi anak? Dan kenapa juga harus bernama Kevin? Kebagusan tau!"


"Ya biarkan saja. Itu karena Papa sangat sayang sama Kevin. Dan kalian dari dulu juga sangat dekat ... layaknya adik kakak pada umumnya."


"Apa nggak kebalik, ya, Pak?" Bejo yang berdiri di pintu pos ikut menimpali. Karena menurutnya apa yang dikatakan Angga salah. "Pak Steven justru berantem terus sama Kevin, kan?"

__ADS_1


"Ya itu 'kan dulu, Jo." Angga menatap kepada satpam rumahnya. "Kemarin-kemarin 'kan Steven dan Kevin udah deket. Masa kamu nggak ingat, pas Steven kabur ... si Kevin 'kan ikut kabur juga."


"Ngapain aku kabur?" tanya Steven.


Angga pun menatap kembali kepada anaknya. "Kamu nggak terima, kalau Mama hamil. Sebelum kamu kecelakaan ... Mama sempat hamil, Stev, hanya saja dia sekarang sudah keguguran." Raut wajah Angga seketika sendu.


"Innalilahi ... kasihan sekali Mama, Pa."


"Iya." Angga mengangguk lemah kemudian mengulas senyum. "Mungkin itu memang sudah takdir, Stev. Tapi nggak apa-apa. Papa udah coba ikhlaskan asalkan kamu sehat dan pulih seperti dulu lagi."


"Alasan Mama keguguran karena apa, Pa? Apa dia sempat terpleset? Barangkali saat mandi?"


Angga menggelengkan kepalanya. "Itu terjadi pas kamu diberitahukan sudah wafat dari dokter. Mama syok sampai akhirnya pendarahan dan pingsan. Terus pas dibawa ke UGD ... ternyata kata Maya, Mama keguguran."


Steven langsung termangu, dan mencoba untuk mengingat-ingat.


"Dan perlu kamu tau. Alasan kamu jatuh dari pohon mangga karena awalnya kamu dan Papa lagi metik mangga muda. Untuk Mama yang lagi ngidam, Stev," tambah Angga.


"Aku nggak ingat, Pa." Steven menggelengkan kepalanya sambil menyentuh dahi, karena mendadak jadi pusing.


"Nggak apa-apa kalau nggak ingat. Jangan dipaksa." Angga mengangguk paham.


"Maaf ya, Pa. Tapi sekarang yang aku mau ... burung yang bernama Kevin dan tiga yang lainnya itu pergi saja dari sini. Aku nggak suka lihat mereka."


"Kok tanya kenapa lagi? Kan Papa udah denger tadi ... kataku juga dia cium-ciumin si Citra!" Steven sudah mulai emosi lagi, nada suaranya kembali meninggi. Tapi matanya sejak tadi melirik ke arah Citra yang juga kebetulan menatap padanya.


"Tapi kata si Kevin nggak, Stev. Dan dia nggak mungkin bohong. Dia burung yang sangat jujur."


"Jadi maksudnya, aku yang bohong gitu?" Steven melirik Angga dengan sinis.


"Enggak." Angga menggeleng.


"Terus apa? Kenapa Papa malah nggak percaya sama aku?"


"Bukan Papa nggak percaya. Cuma di sini kamu itu hanya sedang cemburu saja, Stev."


"Cemburu?" Kening Steven seketika mengerut. "Cemburuin siapa, Pa?"


"Ya Citra lah. Kamu nggak ikhlas, kan, kalau dia dekat-dekat Kevin?"


"Bukan nggak ikhlas, tapi aku cuma takut Citra tertular penyakit, Pa!" bantah Steven. Padahal omongan Angga memang begitu tepat. Hanya saja dia belum menyadari.


"Si Kevin itu sehat. Nggak mungkin tertular penyakit, Stev."

__ADS_1


"Pokoknya aku mau empat burung Kakaktua itu pergi dari sini, Pa!" tekan Steven seraya berdiri. "Kalau nggak, biar aku saja yang pergi dari sini!" ancamnya, kemudian berlalu pergi masuk ke dalam rumah.


Angga hanya terkekeh melihat anaknya. Merasa lucu dengan tingkahnya yang ternyata masih sama meskipun sedang lupa ingatan.


"Tapi bagus juga, sih, kalau Steven ngerasa cemburu. Itu berarti cintanya masih utuh buat Dedek Gemes."


***


Steven sudah mandi serta berpakaian rapih. Kedua kakinya itu perlahan melangkah keluar dari rumah, hendak menghampiri Dhika yang berdiri di depan mobilnya.


Pria itu ada di sana karena memang Steven sempat memintanya untuk menjemput, saat akan pergi ke kantor.


"Cit ... mau ke mana kamu?"


Sebelum Steven masuk ke dalam mobil, dia bertanya kepada Citra terlebih dahulu, lantaran penasaran melihatnya keluar rumah dengan berpakaian rapih serta mengendong tas ransel dipunggung.


Jangan lupakan wajahnya juga yang memakai make up, serta rambut panjangnya yang terurai indah.


Citra memakai rok tutu panjang berwarna putih dengan jas berwarna merah yang dipadukan kaos polos berwarna hitam.


"Aku mau ke kampus, A," jawab Citra.


Tadinya dia berjalan mengarah pada mobil Angga yang terparkir di samping mobil Dhika. Tapi berhubung dipanggil oleh Steven, jadilah dia menghampiri suaminya dulu untuk mencium punggung tangannya.


"Aku kira Aa udah pergi ke kantor, soalnya tadi aku cari ke kamar nggak ada."


"Iya, aku baru mau berangkat. Tapi kenapa kamu ke kampus? Dan memangnya kamu masih kuliah, ya?" tanya Steven heran.


"Aku memang masih kuliah, A. Dan kenapa memangnya ... kalau aku ke kampus? Nggak boleh?"


Steven menggeleng. "Bukan nggak boleh, tapi kalau si kembar haus gimana? Dia masih minum ASI, kan? Atau nggak?"


"Si kembar minum ASI, tapi dibantu susu formula juga kok, A," jawab Citra lalu tiba-tiba mengecup pipi kanan Steven. Dan membuatnya seketika merona sekaligus terkejut, karena dia merasa itu dilakukan secara tiba-tiba. "Ya sudah, ya, A ... aku duluan. Aa hati-hati dijalan."


Citra sudah melangkah, hendak menuju mobil Angga dan di dalam sana pun sudah ada Dono yang akan mengantarkannya. Namun, lengan kanannya pun tiba-tiba dicekal oleh Steven. Hingga langkahnya kini terhenti.


"Bareng saja denganku. Aku juga mau tau dimana kampusmu, Cit."


"Kampusku sama kok, dengan kampusnya Aa dulu." Citra perlahan menarik tangan Steven hingga terlepas. "Aa juga nggak perlu antar aku, nanti Aa bisa—"


"Katanya aku suamimu, kok diajak bareng saja nggak mau?" tanya Steven dengan raut kesal.


^^^Bersambung.....^^^

__ADS_1


__ADS_2