Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
76. Tulang rusuk


__ADS_3

Dalam kekalutannya, Citra memutuskan untuk pergi ke makan Danu. Meskipun tak akan ada jawaban yang dia dapatkan saat bicara dengan batu nisan itu, tetapi menurutnya, mungkin dengan begitu bisa membuatnya jauh lebih baik.


Saat tiba di tanah merah itu, Citra langsung memeluk batu nisan sambil menangis. Dia bahkan seperti sudah setengah berbaring di sana.


"Ayaaahhh ... Om Ganteng begitu tega padaku, dia menyakitiku Ayah."


"Dia ... dia mencintai perempuan lain."


"Kenapa? Kenapa Ayah berbohong padaku? Harusnya Ayah nggak perlu bilang kalau Om Ganteng suka padaku kalau ternyata dia bahkan nggak pernah menganggapku ada ...." Citra sampai sesenggukan, perlahan tangannya meraba tanah merah yang banyak sekali bunga di atasnya. "Aku merasa sekarang sudah nggak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, Ayah."


"Ayah ... aku sangat mencintai Om Ganteng. Tapi dia sama sekali nggak mencintaiku. Bahkan dia diam saja saat Safira mencium pipinya ...." Citra meremmas bajunya tepat di area dada. Dia merasa sesak dan sakit hati kala mengingat kejadian tadi. Sungguh benar-benar menyakitkan.


"Tapi ... aku sudah pernah berjanji pada diriku sendiri kalau aku akan merelakan Om Ganteng. Meskipun memang sangat berat ... tapi aku akan berusaha merelakannya. Aku juga minta izin sama Ayah. Kalau aku ...." Bibir Citra seketika bergetar. Air matanya terus mengalir membasahi pipi. "Aku ingin bercerai dengan Om Ganteng. Aku juga mau melihatnya bahagia meskipun bukan denganku, Ayah. Aku sangat mencintainya."


*


*


Akibat terlalu banyak menangis, Citra sampai tak sadar jika dirinya ketiduran di atas makam ayahnya. Waktu sudah menjelang sore dan dia pun seketika terbangun lantaran merasakan tepukan pelan pada bahunya.


Citra mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu duduk sembari mengucek mata dan menatap seorang pria berpeci putih.


"Nona kok tidur di sini?" tanya pria itu seraya mengulurkan sapu tangan. Dia melihat wajah Citra kotor akibat tanah kuburan.


"Aku ketiduran kayaknya, Pak." Citra menggeleng kepalanya, menolak sapu tangan itu. "Nggak usah, Pak. Terima kasih." Citra membereskan rambutnya yang berantakan itu dengan kelima jari.


"Tapi wajah Nona kotor."


"Aku punya tissue di dalam tas. Oh ya, Pak. Aku minta tolong boleh nggak?"


"Tolong apa?"


Citra membuka tas ranselnya untuk mengambil tissue, kemudian membuka dompet dan mengambil tiga lembar uang seratus ribuan.

__ADS_1


"Tolong belikan air mawar dan bunga. Nanti berikan ke makam Ayah," pintanya sambil memberikan uang tersebut.


"Tapi ini terlalu banyak Nona, 50 ribu juga sudah cukup." Pria berpeci itu memberikan kembali tiga lembar uang yang telah diterimanya, tetapi Citra menolak.


"Nggak apa-apa, sisanya buat Bapak beli rokok. Kan Bapak yang merawat makam Ayah."


"Saya sudah dikasih uang sama Pak Steven, ini untuk jajan Nona saja."


"Nggak usah, Pak." Citra menggeleng. "Aku masih ada uang kok. Itu untuk Bapak saja."


"Ya sudah, terima kasih, Nona. Semoga Nona selalu sehat, panjang umur dan bahagia," katanya mendoakan Citra dengan tulus.


"Amin." Citra tersenyum, dia pun berdiri lalu menepuk-nepuk bokongnya sebab banyak rumput yang menempel. Setelah itu dia pun berjalan keluar dari tempat pemakaman umum itu.


Di pinggir jalan, Citra menoleh ke kanan dan kiri. Mencari-cari mobil taksi yang lewat. Tetapi tiba-tiba saja seseorang yang memakai motor gede berwarna merah berhenti di dekatnya. Perlahan dia pun melepaskan helm hingga menampilkan wajah tampannya.


"Kak Arya."


"Kamu kok ada di makam? Ngapain, Cit? Dan wajahmu ...?" Arya menatap dalam wajah cantik Citra yang tampak kacau sekali. Wajahnya merah dan kotor, matanya sembab dan bibirnya pecah-pecah. "Kamu kenapa? Sakit?" Kedua tangan Arya menangkup pipi Citra, lalu beralih menyentuh dahinya.


"Orang yang sudah meninggal nggak boleh terus ditangisi, Cit. Nggak baik."


"Iya, aku tahu. Tapi akunya kangen, Kak."


"Do'akan saja kalau kangen."


Ucapan Arya seketika membuat hati Citra kembali teriris. Sebenarnya tak ada yang salah dengan apa yang laki-laki itu katakan, hanya saja perkataannya mengingatkannya pada Steven.


Pria tampan itu selalu mengingatkan hal-hal seperti itu dan mungkin baru kemarin mereka melaksanakan salat berjamaah. Tetapi sekarang, semuanya akan menjadi kenangan.


"Lho, kenapa kamu nangis, Cit? Kenapa bersedih?" Arya tampak bingung melihat Citra tiba-tiba saja menangis, cepat-cepat dia pun mengusap air matanya. Terlihat jelas dari mata Arya, kalau gadis itu begitu rapuh. "Ayok ikut denganku, kita cari tempat untuk makan atau minum supaya kamu jauh lebih baik."


"Hei, apa kau menyakitinya!" Terdengar suara bariton seorang pria yang baru saja turun dari mobil. Dia berlari dan tanpa permisi segera memeluk tubuh Citra. "Kamu kenapa, Sayang? Apa bocah ingusan ini menyakitimu?" tanyanya sambil meloloti Arya. Bahkan dengan todongan jari telunjuk di wajahnya.

__ADS_1


Citra menghirup aroma tubuh pria tua itu, sangat wangi sekali. Perlahan dia pun mendongakkan wajahnya dan melebarkan matanya kala ternyata pria itu adalah Angga. Sebuah kebetulan lagi dia bisa bertemu pria itu.


"Opa Ganteng. Kok Opa di sini?" Citra mengeka air matanya. Pelukan yang terasa hangat itu membuat dadanya terasa lebih baik.


"Opa tanya kamu, apa dia menyakitimu? Bogeman Opa sudah siap nih!" Angga mengangkat tangannya yang sudah mengepal kuat, sudah mengarah ke wajah Arya.


"Nggak. Kak Arya temanku, Opa. Dia baik orangnya." Citra menggeleng cepat. Perlahan dia pun mencoba melepaskan pelukan Angga, tetapi pria tua itu justru makin erat memeluknya.


"Kamu kali ini lolos anak muda! Awas saja kalau kau menyakiti pujaan hatiku!" tekan Angga sambil melolot, lantas dia pun menarik lengan Citra dan mengajaknya masuk ke dalam mobil. "Mana tissue bayiku, Jo. Berikan padaku!" Angga mengulurkan tangannya ke arah sang asisten yang tengah menyetir. Pria itu pun langsung memberikannya.


"Biar aku saja, Opa. Aku bisa sendiri kok." Citra mengambil tissue basah di tangan Angga saat pria itu hendak menyentuh pipinya. Pria itu langsung mengangguk dan tersenyum.


"Wajahmu kenapa kotor begitu, Sayang? Bajumu juga." Angga memindai setiap anggota tubuh Citra. "Kamu habis guling-gulingan di tanah?"


"Nggak." Citra menggeleng cepat. "Aku tadi ketiduran di makan saat mengunjungi Ayah."


"Oh, ya ampun. Sampai ketiduran begitu. Pasti kamu sangat manis ketika tidur, ya?" Angga menutup bibirnya dengan tangan. "Eeemmm ... ini minum dulu. Sepertinya kamu haus." Angga memberikan sebotol air mineral yang berada ditempat duduknya, dia pun membuka tutup botol itu terlebih dahulu.


"Terima kasih, Opa. Kok Opa tahu aku haus? Padahal aku nggak ngomong." Citra tersenyum manis, lalu menenggak air minum itu.


"Mungkin memang kita itu punya ikatan batin, Sayang. Kamu 'kan tulang rusuknya Opa," sahut Angga menggombal.


"Uhuk! Uhuk!" Bejo yang tengah menyetir langsung tersendak ludahnya sendiri akibat mendengar ucapan Angga. Sungguh, tingkahnya yang ganjen itu membuatnya meringis geli. Aneh, bisa-bisanya setua itu merayu bocah—pikirnya.


...Aduh Opa ... kok aku ikut geli dengar gombalannya, ya 😂✌️...


...Tapi tenang ... jodoh Citra ada di tanganku. Kalau Opa mau bisa aku pikirkan 🤣...


Like


komen


jangan lupa tinggalkan

__ADS_1


jangan lupa juga buat follow IG Author @rossy_dildara


Banyak visual novel di sana, apalagi Om Ganteng 😂


__ADS_2