
"Dih, siapa yang cemburu?" Alis mata Steven bertaut. Rahang wajahnya itu terlihat mengeras, ingin rasanya dia mencubit keras gadis di depannya itu. Tetapi sayangnya sejak sedari dulu dia tak pernah bisa melakukan hal kasar pada perempuan.
"Om pasti gengsi. Meskipun aku belum pernah pacaran ... tapi kalau cemburu mah aku ngerti." Citra masih bersikukuh kalau suaminya itu cemburu.
Steven membuang napasnya kasar lalu geleng-geleng kepala. "Kamu ini terlalu kepedean Cit, siapa juga yang cemburu? Apa lagi sama Udin."
"Kalau sama laki-laki lain selain Udin ... Om cemburu nggak?"
"Nggak."
"Beneran?"
"Iya, ngapain aku cemburu. Kalau cemburu 'kan tandanya cinta. Dan kamu tahu sendiri aku nggak cinta sama kamu, Cit."
Padahal Steven sudah sering mengatakan hal itu, tetapi tetap saja. Saat mendengarnya lagi—mendadak sada Citra berdenyut nyeri, sakit sekali rasanya. Matanya juga sudah mulai berkaca-kaca seperti hendak menangis.
"Bukannya Om sudah cinta sama aku, ya?"
"Memang pernah aku bilang?"
"Nggak sih, tapi kemarin 'kan kita habis ciuman. Berarti Om sudah cinta sama aku."
"Siapa yang mulai duluan? Kan kamu dulu yang nyosor."
"Tapi kenapa Om balas? Kalau nggak cinta nggak usah dibalas dong. Om juga gigit leherku dan nyusu seperti bayi." Citra meremmasnya kedua dadanya dengan keras karena emosi. "Aku juga pernah dengar kalau aku ini menggoda. Berarti Om sudah cinta sama aku, kan?" tekannya dengan memaksa.
"Itu bukan cinta, tapi naffsu. Seorang pria kalau terus digoda pasti hawa naffsunya muncul. Jangan samakan rasa naffsu itu dengan cinta, karena itu beda," jelas Steven.
"Tapi aku cinta sama Om mangkanya aku mengajak Om ciuman." Wajah Citra terlihat kecewa mendengar penjelasan dari Steven.
"Perempuan dan laki-laki itu beda. Tapi intinya aku nggak cemburu atau cinta padamu. Jangan selalu mengartikan sesuatu yang belum kamu sendiri lihat kenyataannya, Cit."
"Jadi meskipun aku dekat dengan laki-laki diluar sana yang jauh lebih ganteng dari Om ... Om nggak akan cemburu?"
"Nggak."
"Bener?"
"Iya."
__ADS_1
Citra mengepalkan kedua tangannya. Jawaban Steven sungguh membuatnya sakit hati, air matanya seketika luruh dan wajahnya tampak merah. Dia pun langsung berlari masuk ke dalam kamarnya, lalu membanting pintu dengan keras.
Brak!
Steven yang melihatnya hanya menghela napas, lalu menenggak air minum pada gelas lagi.
"Marah lagi dia, padahal aku 'kan jujur. Namanya cinta nggak bisa dipaksa lah, Cit," gumam Steven seraya menatap pintu kamar istrinya yang tertutup rapat. "Aneh sekali kamu tuh, apa lagi dengan tingkahmu. Begini nih kalau menikah dengan anak kecil, musti harus mempunyai stok sabar."
Steven menengok ke dalam paper bag di atas meja, isinya adalah beberapa baju kodok untuk Citra. Steven sempat memesan online dan sengaja membeli karena dia menyukai jika gadis itu memakai baju kodok.
"Simpan dulu saja deh. Dikasihnya nanti kalau sudah nggak marah." Steven bangkit sambil menenteng paper bag itu menuju kamarnya.
***
Keesokan harinya.
Steven sudah mandi dan rapih. Di atas meja makan sudah tersaji sarapan, hari ini dia menyiapkan sereal untuk sarapan sebab memang lidahnya sedang kepengen.
Kakinya melangkah menuju pintu kamar Citra, lalu mengetuknya.
Tok ... tok ... tok.
Mungkin sudah dua puluh menit Steven menuggu sambil menatap arlojinya, tetapi gadis itu belum juga keluar kamar. Merasa kesal menunggu, Steven pun bangkit lalu berjalan menuju pintu kamar Citra.
Dia langsung menurunkan handle pintu itu dan ternyata tak dikunci. Pelan-pelan Steven membukanya sambil berkata, "Kamu ngapain saja di kamar? Kenapa nggak ...." Ucapan Steven menggantung kala terlihat jelas di dalam sana tak ada Citra.
Pintu itu dilebarkan, lalu masuk ke dalam sana kemudian membuka pintu kamar mandi.
"Citra, kamu sedang ...." Mata Steven langsung melolot kala di dalam kamar mandi itu juga tak ada siapa-siapa, segera dia pun mengambil ponselnya di dalam kantong celana. Lalu menghubungi Citra.
Baru tersambung, tetapi sudah dimatikan dari seberang sana. Dan itu membuat Steven kesal.
"Heh! Kenapa dimatikan? Nggak sopan banget ini anak!" gerutunya. Baru saja dia hendak menelepon gadis itu lagi, tetapi ada bunyi notifikasi pesan wa darinya.
[Aku sudah ada di kampus, Om. Maaf aku lupa beritahu.]
[Kenapa berangkat duluan? Biasanya 'kan aku antar. Dan sama siapa kamu berangkat?] Steven membalas chat itu dengan hati yang dongkol.
Sudah beberapa menit setelah bercentang biru, tetapi sampai sekarang Citra tak membalasnya.
__ADS_1
"Kok dibaca doang? Menyebalkan sekali ini anak. Apa dia masih marah padaku?" Steven keluar dari kamar Citra sembari menelepon Gugun dan tak lama langsung diangkat. "Halo, Gun. Apa kamu tadi antar Citra berangkat ke kampus?"
***
Di kursi kantin, Citra dengan wajah cemberut sedang duduk seorang diri sembari menggulung-gulung mie goreng di atas piring. Perutnya lapar, tetapi tak ada selera untuk sarapan.
Dia masih mengingat apa yang dikatakan Steven semalam, rasanya sangat sakit dan terus terngiang-ngiang di telinganya.
"Om Ganteng tuh kalau ngomong kadang manis kadang juga pait." Citra mengambil segelas susu di atas meja, lalu menenggaknya sampai tandas.
"Bagaimana ya caranya buat Om Ganteng cemburu? Masa sih dia nggak ada rasa kesal sedikit pun kalau aku dekat sama laki-laki lain yang jauh lebih ganteng darinya?" Citra bermonolog sambil menatap sekeliling kantin kampus itu, banyak beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang tengah duduk sarapan. Dia memperhatikan wajah beberapa mahasiswa itu, lalu menimbang-nimbang dengan wajah Steven.
"Kok nggak ada ya laki-laki yang jauh lebih ganteng dari Om Ganteng dan Ayah? Mereka terlihat biasa saja. Dan nggak semenarik Om Ganteng. Apalagi kalau senyum. Ah meleleh aku." Pipi Citra langsung bersemu merah saat tiba-tiba saja terbayang wajah Steven. Tetapi segera dia menggelengkan kepala. "Aku harus cari laki-laki yang bisa membuat Om Ganteng cemburu, tapi siapa ya kira-kira?"
Ganteng itu relatif, dan sebenarnya beberapa mahasiswa di sana banyak yang keren dan ganteng juga. Tetapi namanya juga cinta, semuanya seolah tertutup. Hanya Steven yang terlihat sempurna di matanya dan tak ada yang lain.
"Hei, sendirian aja kamu? Mana ngelamun lagi." Seorang laki-laki yang baru saja menghampiri Citra langsung membuat gadis itu terhenyak dalam lamunannya, dia pun langsung menoleh dan menyunggingkan senyum.
"Eh, Kak Arya."
"Sedang nunggu siapa? Di mana teman-temanmu?" tanya lelaki itu kemudian duduk di depan. Citra memperhatikan wajahnya, dilihat dengan seksama lelaki itu cukup tampan, meski tak setampan Steven menurutnya.
"Apa Kakak sudah punya pacar?" tanya Citra tanpa menjawab pertanyaan Arya dulu.
"Pacar? Kenapa tiba-tiba tanya seperti itu?" Arya agak terkejut, tetapi keningnya terlihat mengerenyit.
"Barang kali Kakak belum punya pacar, tadinya aku mau mengajak Kakak pacaran."
Kagak yakin sih misinya akan berhasil 😆✌️ kemarin aja nyari map nggak becus. sekarang pake acara mau bikin orang cemburu 🤣 Tapi berharap dulu boleh, lah. kasihan juga 🤭
like
komen
vote
hadiah jangan lupa tinggalkan🤗
next kita lihat bagaimana reaksi Om Steven yang cemburu atau nggak saat tahu Citra dekat sama laki-laki lain 😅
__ADS_1