
Ceklek~
Tian membuka kamarnya, lalu melebarkan pintu.
"Sekarang kamar Papi jadi kamar kita bertiga, kan?" tanya Juna yang tengah digendong oleh Tian. Di samping pria itu ada Nissa. Dia merangkul bahunya sembari melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
"Iya." Tian mengangguk cepat lalu mencium kening Juna. "Tapi Papi tidurnya di tengah, ya? Boleh nggak?"
"Kok di tengah? Juna dong yang harusnya di tengah. Kan Juna yang paling kecil."
Tian mendudukkan bokongnya di atas kasur, begitu pun dengan Nissa. "Nanti Papi tidur nggak bisa meluk Mami dong, Jun. Kan Papi juga mau meluk Mami," katanya dengan wajah yang tiba-tiba merona.
"Kan ada Juna, nanti peluknya Juna saja, Pi."
"Aku mau ganti baju dulu ya, Ti. Gerah banget soalnya," ujar Nissa seraya berdiri. Dia masih memakai kebaya dan aksesoris pada kepalanya terasa begitu berat, ingin segera dia copot.
"Sini aku bantu copotin aksesoris di kepalamu. Dan mulai sekarang jangan panggil Tian lagi, bisa nggak?" Tian meraih tangan Nissa, lalu menariknya untuk duduk kembali di sampingnya.
"Terus, panggil apa?" Nissa duduk dalam posisi agak miring, supaya suaminya itu lebih mudah melepaskan aksesoris.
"Aku maunya dipanggil Sayang, biar romantis. Ya kalau keberatan sih nggak apa-apa kalau dipanggil Mas juga."
"Nggak masalah kalau kamu mau. Aku bisa memanggilmu dengan sebutan Sayang," jawab Nissa. Hanya panggilan seperti itu baginya tak masalah, sebab dulu sama suaminya saja Nissa sering memanggilnya dengan panggilan romantis.
"Ah terima kasih. Aku juga akan memanggil kamu, Sayang."
"Sama-sama." Nissa tersenyum. Setelah selesai, wanita itu kembali berdiri.
"Jun, kamu tunggu di sini dulu, ya? Papi mau bantuin Mami lepas kebaya." Tian memindahkan Juna di kasur, saat semula berada di pangkuannya.
"Nggak usah, Sayang. Aku bisa sendiri kok," tolak Nissa sambil tersenyum. Lalu mengambil pakaian ganti di koper, kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi.
Sebetulnya, selain ingin membantu, Tian berniat ingin mencium bibir hingga mengajaknya berciuman.
Pria itu merasa penasaran. Ingin merasakan bibir yang sejak dulu dia idam-idamkan.
Sebagai pria normal dan mencintai Nissa begitu dalam, tentu keniatan untuk mencium sejak dulu pasti ada. Hanya saja Tian tak berani dan menghormati Nissa yang belum menjadi muhrimnya.
Seperti apa yang pernah Nissa katakan, jangankan berhubungan badan, mencium saja Tian tidak pernah. Mungkin yang pernah hanya mencium tangan, rambut pun tidak.
__ADS_1
'Ah, padahal lumayan kalau dapat kening juga. Nissa kenapa sih, nggak mau dibantu,' batin Tian sedih.
*
*
Tian mengerjapkan matanya secara perlahan saat merasakan lengannya kesemutan akibat menjadi penyangga kepala Juna. Ada bantal sebenarnya, tetapi Juna yang begitu girang tidur bersama Tian sampai tidak mau memakai bantal dan guling. Sebagai gantinya tubuh Tian yang dia gunakan.
Tian menoleh ke arah tempat di mana Nissa tidur, tetapi wanita itu tak ada di samping anaknya. Pelan-pelan Tian menarik lengannya, lalu pelepasan pelukan Juna yang sejak tadi merengkuh pada perut.
Setelah terlepas, Tian pun duduk sembari memijat pelan lengannya yang terasa pegal.
"Di mana Nissa?" tanya Tian. Dia beranjak dari tempat tidur, lalu melangkah menuju kamar mandi dan membuka pintu.
Ceklek~
Namun, di dalam kamar mandi tidak ada Nissa. Tian pun beralih untuk membuka pintu kamarnya.
"Eh, Ti. Ah maksudku Sayang," ralat Nissa yang berdiri di depan pintu. "Mau ke mana?"
"Kamu yang habis dari mana? Aku mencarimu tadi."
"Nggak masalah. Mulai sekarang, apa yang aku punya di rumah ini, menjadi milikmu dan Juna," jawab Tian.
"Kamu sendiri kenapa bangun? Laper juga?" tanya Nissa seraya melirik jam weker yang berada di atas nakas, menunjukkan pukul 2. "Mau aku pesankan makan?"
"Nggak usah," tolaknya. "Aku nggak laper. Aku kebangun karena nyariin kamu. Aku kira kamu ke mana tadi."
"Oh gitu. Ya sudah, ayok tidur lagi. Besok kita 'kan mau adain pesta," ajak Nissa.
Kakinya baru saja melangkah hendak masuk ke dalam kamar, tetapi lengannya itu segera dicekal oleh suaminya.
Sebelum berbicara, Tian memutar kepalanya sebentar ke arah Juna. Memastikan jika bocah itu sudah tertidur lelap. Setelahnya dia menatap kembali ke arah Nissa dengan tatapan penuh arti.
Istrinya itu memakai baju tidur lengan panjang, terlihat rapih sekali. Tetapi dibalik semua kain yang menempel itu malah makin membuat Tian makin penasaran dengan isi di dalamnya. Apakah cantik juga, seperti wajahnya? Itulah yang mendadak tersirat dalam otak Tian.
"Aku mau mengajakmu malam pertama, Yang. Bisa nggak? Sekarang?" pinta Tian malu-malu. Belum apa-apa wajahnya sudah merona dan jantungnya berdebar kencang.
"Kamu 'kan tahu aku janda. Aku nggak bisa melakukan malam pertama lagi, Yang," jawab Nissa. "Tapi kamu juga 'kan duda bahkan lebih dari sekali. Berarti kita sama-sama nggak melakukan malam pertama."
__ADS_1
"Kok gitu? Memangnya, malam pertama itu hanya dilakukan untuk perawan dan perjaka doang?" Tian mengerti arah pembicaraan istrinya. Otaknya juga ikut traveling sekarang. "Kita juga bisa melakukannya, Yang. Kan ini adalah malam pertama kita habis menikah."
"Berarti namanya malam pengantin, bukan malam pertama."
"Sama saja, Yang. Ya sudah, ayok kita lakukan sekarang, mumpung Juna tidur." Tian menarik lengan Nissa, lalu pelan-pelan menutup pintu kamarnya dengan rapat. Setelah itu dia mengajak istrinya menuju kamar sebelah, masuk ke dalam sana dan langsung menutup pintu.
"Kalau Juna bangun dan nyariin kamu gimana, Yang?" tanya Nissa.
"Kamu jangan bilang kayak gitu. Harusnya berdo'a supaya Juna nggak bangun." Tian mendekat ke arah Nissa. Lalu membungkuk dan langsung meraih tubuhnya untuk dia gendong, kemudian membawanya menuju ranjang.
Nissa sempat terkejut, sebab apa yang dilakukan Tian begitu tiba-tiba. Perlahan tubuhnya itu dibaringkan di atas kasur dengan posisi terlentang.
"Matikan lampunya, Yang," pinta Nissa saat Tian hendak naik ke atas kasur.
"Nanti gelap, Yang." Tian naik ke atas kasur, lalu naik juga ke atas tubuh Nissa. Dia memandangi wajah cantik istrinya sambil menelan saliva.
"Aku kalau bercinta biasanya lampu dimatikan, aku malu, Yang."
"Malu kenapa? Ngapain malu-malu, kita 'kan suami istri." Wajah Tian sudah mendekat, dia mengecup keningnya dengan lembut, lalu beralih pada kedua pipi dan dagu. "Lagian, kamu juga sudah pernah lihat luar dan dalamku, kan?"
"Tapi bercinta itu lebih enak gelap-gelapan, daripada terang, nanti silau."
"Kalau gelap takut salah lubang, Yang," kata Tian sambil terkekeh.
"Nggak mungkin lah, aneh-aneh aja kamu. Kamu kira aku pernah main sama lubang pantaat?"
"Nggak."
"Terus, kenapa bilang takut salah lubang?"
"Ya 'kan gelap. Itu bisa saja terjadi. Lagian aku juga mau lihat tubuhmu, Yang. Pasti sangat indah. Ah, aku sudah nggak sabar." Tian meraba bibir ranum istrinya dengan ibu jari, lalu menaikkan dagunya sedikit seraya menautkan bibir.
Cup~
'Semoga Juna nggak bangun, sampai aku berhasil kencingin Nissa,' batin Tian penuh harap. Lalu mulai melummat bibir Nissa.
...Aminin jangan nih, Om 🤣...
...Boleh atuh sambil nunggu up kasih vote sama bunga, biar semangat 😐...
__ADS_1