
Steven langsung terdiam, lalu memikirkan apa yang dikatakan Citra. Dia akui memang itu semua ada benarnya. Namun dalam hati kecilnya masih ada rasa tak ikhlas, jika posisinya sekarang menjadi pengais bungsu.
"Udah, A, nggak perlu banyak mikir, percaya deh sama aku," tambah Citra membujuk. Dia pun mendekatkan bibirnya, lalu mengecup pipi kanan Steven dengan lembut. "Mereka pasti tetap menyayangi Aa. Nggak ada orang tua yang pilih kasih di dunia ini, A, mereka pasti menyayangi anak-anaknya. Meski jumlahnya banyak sekali pun." Tangan Citra terangkat, lalu mengusap kedua air mata dipipi sang suami.
Steven perlahan membuang napasnya dengan berat, lalu memberikan ponsel yang sejak tadi dia pegang ke tangan Citra. "Kita antarkan Juna pulang dulu, tapi dijalan nanti kamu telepon Papa. Bilang padanya suruh pulang ke rumah, biar nanti kita ke sana."
"Jadi kita pulang lagi ke sana? Aa bersedia?"
"Iya." Steven mengangguk.
"Alhamdulillah ...." Citra menerima benda pipih itu dengan perasaan yang lega. Bibirnya juga ikut mengulum senyum.
Setelah itu, Steven menyalakan kembali mesin mobilnya, lalu mengemudi dengan kecepatan sedang.
"Juna nggak mau pulang ke rumah, Juna mau ikut ke rumah Opa, Om," pinta Juna. Dia masih penasaran pada Sindi, benar tidaknya dia hamil. Biar nanti kalau sudah ketemu Juna tanyakan sendiri secara langsung.
"Kamu musti pulang dulu, Jun, takutnya Papi dan Mami nyariin," sahut Steven.
"Iya, Jun," timpal Citra seraya mengusap rambut kepalanya, lalu mengajak bocah itu kembali duduk di atas pangkuan. "Kamu juga 'kan belum mandi dan sarapan. Mandi dulu terus sarapan, baru deh kamu main ke rumah Oma dan Opa. Sekalian ajak main si Kembar juga."
"Emmm ... ya sudah, deh," jawab Juna dengan pasrah.
***
Di rumah Tian.
"Ya ampun, Jun! Kamu ini ke mana saja?!" Tian menyeru saat melihat Juna turun dari mobil Steven pada halaman rumah. Kebetulan juga dia baru saja turun dari mobilnya.
Semalaman, dia juga sama seperti Steven dan Citra yang mencari si Kembar. Mereka mencari Juna.
Juna lantas menoleh, kemudian langsung menghamburkan pelukan kepada Tian. "Juna kangen Papi dan Mami! Tapi kenapa kalian ninggalin Juna, sih?"
"Kamu yang ninggalin kami, Jun, orang Papi dan Mami nggak ke mana-mana," balas Nissa yang baru saja turun dari mobil, kemudian mengelus rambut kepala anaknya.
"Nggak ke mana-mana kok kalian hilang, sih? Padahal Juna manggil berulang kali." Juna mendengkus kesal, lantas dia merelai pelukan dan mengangkat kedua tangannya ke udara. Seolah minta Tian untuk menggendongnya.
"Bukan hilang, kami ada di kamar mandi," sahut Tian seraya mengangkat tubuh anaknya.
"Maaf, ya, Om, Juna memang awalnya mau ikut kami yang lagi cari di Kembar," ujar Citra memberitahu seraya berjalan mendekat.
__ADS_1
"Memangnya si Kembar hilang?!" tanya Tian dengan wajah yang terlihat kaget.
"Enggak kok." Yang menyahut Steven. Dia sambil menggelengkan kepala. "Mereka dibawa Papa dan Mama. Tapi masalahnya nggak bilang dulu, jadi kami khawatir."
"Oh. Tadi Om sama Mbakmu ke rumah Papa Angga, Stev, tapi rumahnya sepi," ujar Tian.
"Iya. Mereka memang nggak ada di rumah. Mangakanya aku sama Citra pusing mencari, Om."
"Oh. Terus gimana sekarang? Mau Om bantu nyariin?" tawar Tian.
"Nggak usah." Steven menggeleng. "Ini aku sama Citra mau pulang. Papa dan Mama juga bilang mau pulang ke rumah."
"Kalian nggak mau sarapan dulu di sini?!" tawar Nissa. "Nanti Mbak buatkan nasi goreng, banyak nasi sisa semalam."
"Nggak usah, Mbak," tolak Steven. "Aku sama Citra makan di rumah saja. Udah kangen juga sama si Kembar."
"Oh ya sudah, hati-hati, ya?"
"Iya." Steven mengangguk kemudian masuk ke dalam mobil. Sedangkan Citra mencium punggung tangan Tian dan Nissa terlebih dahulu, sebelum masuk ke dalam mobil.
Juna langsung melambaikan tangan, ketika mobil putih itu sudah melaju pergi dari rumahnya. Dia juga tersenyum.
"Tarawih?!" Kening Tian tampak mengerenyit. "Memangnya besok puasa?"
"Dih iyalah. Papi ini lupa ingatan, ya? Masa nggak ingat sama bulan," kekeh Juna.
"Puasa dong, Yang?" Tian melirik ke arah Nissa dengan penuh arti. Puasa yang dia maksud bukanlah puasa yang Juna maksud.
"Iyalah, Pi! Jangan bilang Papi belum pernah puasa selama ini, kayak mantan Papi dong?!" seru Juna sambil mencubit kedua pipi Tian dengan gemas.
"Papi memang belum pernah puasa, tapi insya Allah bulan ini mau full puasanya, Jun," ucap Tian.
"Alhamdulillah." Juna langsung mengusap kedua tangannya diwajah, kemudian kembali memeluk Tian. "Semoga lancar, ya, Pi."
"Amin." Tian dan Nissa menyahut secara bersamaan, lantas mereka pun melangkah bersama masuk ke dalam rumah.
***
Di rumah Angga.
__ADS_1
"Assalamualaikum," ucap Steven dan Citra saat masuk ke dalam rumah Angga. Kemudian melangkah bersama menuju ruang tamu.
"Walaikum salam." Angga dan Sindi menjawab secara bersama. Mereka tengah duduk di sofa ruang tamu, dan ada keranjang bayi di sampingnya, yang isinya si kembar.
"Stev, akhirnya kamu pulang juga sama Citra." Sindi langsung berdiri saat melihat anak dan menantunya sudah mulai mendekat. Bola matanya tampak berkaca-kaca karena merasa terharu, cepat-cepat dia pun memeluk tubuh Steven, kemudian meraih bahu Citra hingga membuatnya ikut berpelukan. "Mama seneng banget, kalian mau pulang. Mama kangen banget sama kalian."
"Aku juga kangen sama Mama dan Papa," jawab Citra seraya tersenyum dan mengelus lembut punggung Sindi. Setelah itu mereka pun merelai pelukan.
"Aku minta maaf ya, Ma, Pa, kalau punya salah," ucap Steven lirih. Dia menatap Sindi terlebih dahulu, barulah setelah itu kepada Angga.
Pria tua itu langsung berdiri dari duduknya, kemudian memeluk tubuh Steven. "Papa juga minta maaf, kalau Papa ada salah, Stev. Kamu juga jangan suka marah sama orang tua. Dosa, Stev."
"Iya, Pa. Tapi Papa dan Mama harus berjanji sama aku dan Citra mulai sekarang, ya?" pinta Steven sambil merelai pelukan Angga.
"Janji apa, Stev?" tanya Sindi.
"Kalian musti selama sayang padaku, Citra dan si kembar. Meskipun sebentar lagi akan ada anggota keluarga kita yang baru," ucapnya dari lubuk hati terdalam, lalu menatap perut Sindi yang terlihat membuncit. Entah karena lemak atau memang bawaan bayinya.
"Itu pasti, Stev, Mama janji," sahut Sindi dengan tangan yang mengelus puncak rambut Steven.
"Papa juga janji." Angga ikut menyahut sambil menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah, ayok sekarang kita makan bersama," ajak Sindi seraya menggandeng tangan Steven dan Citra, kemudian mengajaknya melangkah bersama menuju ruang makan. "Nanti habis makan ... kamu sama Papa pergi cari pohon mangga muda ya, Stev, dan petik untuk Mama," tambah Sindi.
"Ngapain nyari pohon mangga? Mending beli di pasar, Ma," sahut Steven yang baru saja duduk dikursi di depan meja makan, di samping Citra.
"Mamamu ngindam itu, Stev." Angga yang baru saja datang sambil mendorong keranjang bayi langsung menyahut. "Seperti saat Citra hamil, Papa manjat pohon kelapa. Jadi sekarang giliran kamu yang panjat pohon mangga."
"Tapi aku 'kan nggak bisa manjat pohon, Pa."
"Ah kata siapa? Orang pas kamu seumuran Juna ... kamu suka bergelantungan di pohon kok. Mana cuma pakai sempaak doang lagi," balas Angga sambil terkekeh.
"Masa sih, Pa? Aa begitu?" tanya Citra.
"Jangan dipercaya, Cit, Papa cuma ngarang cerita," kilah Steven.
"Dih, Papa serius. Nanti deh setelah makan Papa tunjukan fotonya. Soalnya sempat Papa foto dulu." Angga perlahan ikut duduk juga pada salah satu kursi kosong di sana. Tak lama mereka berempat pun menyantap sarapan yang mungkin sudah menjadi makan siang, sebab jam sudah menunjukkan pukul 11.
...Nah, kalau rukun begini 'kan keliatan adem ☺️...
__ADS_1