
"Kapan Om Steven disunat? Kok Juna nggak tahu."
"Ya waktu Om Steven kecil, malah lebih kecilan Om Steven dulu daripada kamu. Dia disunat pas umur 4 tahun."
"Tapi kok Juna nggak ikut pas Om Steven disunat? Opa nggak ngajak Juna? Tega ya, Opa!" Juna melepaskan pelukan, tatapannya begitu sengit pada Angga. Pria paruh baya itu terkekeh. Merasa lucu dengan ucapan Juna.
"Kamu ini aneh, Om Steven umur 4 tahun ya kamu belum lahirlah, Jun."
"Juna masih diperut Mami maksud Opa?"
"Bukan diperut Mami, tapi masih ditubuh Papimu yang kurang ajar itu."
"Ditubuh Papi?" Kening Juna mengerenyit. "Jadi apa Juna ditubuh Papi?"
"Air kencing."
"Kok air kencing? Tapi kata Bu Guru ... manusia diciptakan dari tanah. Kok Juna dari air kencing? Berarti Juna bukan manusia dong, Opa."
Angga langsung membuang napas sambil garuk-garuk kepala. Sedangkan Bejo hanya tertawa.
"Serius Opa, Juna jadi air kencingnya Papi? Air kencingnya Papi 'kan pesing." Juna mencubit kerah bajunya, kepalanya menunduk lalu menghirup aroma wangi tubuhnya sendiri. "Tapi Juna wangi kok, nggak bau pesing."
"Itu hanya istilah saja. Sudah, nggak usah dibahas masalah itu."
"Tapi Juna penasaran. Eeemm ... kata Oma, Tante Citra lagi hamil. Berarti Dedek bayi yang ada diperutnya, awalnya dari air kencing Om Steven juga dong, ya?"
"Iya." Angga mengangguk malas.
"Kok bisa masuk ke perut, itu Tante Citranya minum air kencing Om Steven apa gimana?"
"Opa nggak tahu." Angga menggeleng. Bingung untuk menjawab, lama-lama pertanyaan Juna makin ngelantur.
"Masa nggak tahu? kan anak Opa ada 3. Berarti dulunya Opa kencingin Oma, ya?" tebaknya.
"Bwahaha ...." Bejo lagi-lagi bergelak tawa.
"Iya, Opa kencingin Oma. Sudah, ya, jangan dibahas lagi. Opa pusing." Angga mengusap rambut kepala Juna, lalu menyandarkan punggung.
'Berarti dulu, pas Juna belum lahir, Mami dikencingin sama Papi dong, ya?' batin Juna yang mendadak sedih. 'Kasihan Mami, udah dikencingi Papi ... tapi Papi malah nyakitin.' Mengerucutkan bibirnya.
***
Ceklek~
Steven membuka pintu kamar saat dirinya sudah pulang dengan membawa kantong plastik berisi kerak telor pesanan Citra.
Hampir satu jam setengah pria itu pergi dan saat kembali—matanya sontak melolot kala melihat tubuh indah Citra sudah memakai lingerie seksi.
Modelnya mirip bikinii hanya bedanya kainnya lebih tipis dan berlubang. Ada buntutnya di belakang, warnanya belang seperti macan. Citra juga memakai bando yang warnanya sama persis dengan kain itu.
'Widih, seger banget. Barang bagus nih.' Susah payah Steven menelan ludahnya. Cepat-cepat dia menutup rapat pintu itu dan mendekati Citra yang duduk di atas kasur.
__ADS_1
"Tadi dijalan macet ya, Om? Kok lama?" tanya Citra. Steven sudah naik ke atas kasur dan memberikan apa yang dia bawa.
"Iya. Ayok cepat dimakan, udah nggak sabar aku pengen lihat kamu goyang, Cit."
"Iya, Om." Citra mengangguk cepat. Dia pun beralih duduk di sofa, lalu menyantap kerak telor itu.
Steven hanya memperhatikannya sambil mengelus kejantanannya sendiri, miliknya sudah begitu tak sabar. Ingin tenggelam dimilik istrinya.
"Om mau?" tawar Citra saat melihat Steven menatapnya dengan tatapan lapar. Wajahnya begitu merah dan dia juga menelan ludah.
"Aku nggak mau itu. Tapi maunya kamu. Ayok cepat habiskan, aku nggak kuat." Steven langsung melepaskan seluruh pakaiannya. Lalu berbaring dengan posisi terlentang.
Hanya sedikit yang Citra makan, sebab merasa kenyang dan lama-lama jadi terangsang akibat melihat Steven terus memainkan si Elang dengan tangan di hadapannya.
Gadis itu menyudahi makannya, lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci tangan dan gosok gigi. Setelahnya, dia pun keluar dan segera naik ke atas kasur, mendekati Steven.
"Mau pemanasan dulu apa langsung, Om?" tanya Citra, dia perlahan naik ke atas tubuh Steven.
"Mulai sekarang, panggil aku Aa. Jangan Om lagi." Lengan Steven terangkat, lalu membelai pipi kiri Citra yang tampak merona.
"Kenapa memangnya? Bukannya dari dulu aku manggilnya emang Om, kan?"
"Biar lebih mesra saja."
"Aa bukannya panggilan orang Sunda, ya, Om? Untuk Kakak?"
"Aku nggak tahu." Steven menggeleng. "Cuma tadi pas beli kerak telor ... ada suami istri yang beli juga, tapi istrinya manggil suami dengan sebutan Aa. Kayaknya aku dengar manis gitu, Cit. Dan aku pengen."
Steven mengulum senyum dengan hati yang berbunga. Panggilan baru itu terasa jauh lebih manis saat Citra yang mengucapkannya.
"Sekarang ayok mulai pemanasannya, digesek dulu saja, Cit."
Kedua tangan Steven langsung meremmas agar-agar itu dan memilin puncaknya yang menyembul keluar.
Citra menurut, dia mengesek-gesekkan miliknya. Hingga lama-lama terasa basah.
"Ah, enak banget, Cit," desah Steven yang sudah merem melek. Miliknya terasa terjepit di dalam sana. Dia pun langsung menarik tubuhnya hingga duduk, lalu segera melakukan penyatuan.
Citra langsung bergerak begitu lincah, sedangkan Steven sibuk bermain pada kedua agar-agarnya. Namun sesekali dia mengelus buntut yang terasa lembut yang berada di bokong Citra. Ikut bergerak-gerak juga.
"Enak nggak, A?" tanya Citra.
"Enak banget. Ah ...," desah Steven. Rambut Citra yang terlihat berantakan itu dia bereskan, Steven juga menyeka keringat pada dahinya.
Percintaan mereka berlangsung selama satu jam, sampai keduanya berhasil mencapai pelepasan bersama dengan peluh yang bercucuran. Namun, seolah belum puas, Steven hanya menjeda permainan itu sebentar saja, menunggu sang Elang bangkit kembali.
Setelah berhasil menegang, Steven memposisikan Citra untuk menungg**ng di belakangnya. Dia pun berancang-ancang dengan kedua lutut, lalu menusukkannya dari belakang.
"Ah!" Citra memekik kecil, dan tak lama tubuhnya terguncang oleh permainan Steven yang cukup kasar itu. "Pelan-pelan, Aa."
"Lebih kencang lebih enak, Cit." Steven mempercepat ritmen.
__ADS_1
*
*
Keesokan harinya.
Setelah mandi dan melaksanakan sholat Subuh berjamaah, Steven memilih untuk tidur lagi. Sebab matanya masih mengantuk akibat permainan mereka yang cukup lama melewatkan malam.
Sedangkan Citra, dia lebih memilih berolahraga bersama Sindi. Hanya berjalan-jalan saja di sekitar rumah.
Setelah beberapa jam, ponsel Steven berdering dengan nyaring. Suaranya itu membuatnya terbangun. Segera, lengan panjang Steven terulur ke arah nakas, lalu mengusap benda pipih itu dan menempelkannya ke telinga kanan.
"Halo, ini siapa?" tanya Steven dengan mata yang masih terpejam.
"Saya Dika, memang nomor saya nggak Bapak simpan?"
"Aku simpan kok."
"Terus kenapa Bapak tanya?"
"Memang masalah?" bentak Steven. "Ada apa, sih? Pagi-pagi menganggu saja kau, Dik!"
"Saya ingin bertanya, Bapak kok belum datang ke kantor?"
"Memang ini jam berapa?"
"Jam 8."
"Aku hari ini nggak masuk ke kantor deh." Untuk beranjak dari kasur rasanya malas, ditambah tubuh dan lututnya juga terasa lemas.
"Kok begitu? Ada meeting lho, Pak."
"Sama siapa?"
"Sama Pak Thomi dan Pak Rizky. Tapi meetingnya di kantornya Pak Thomi."
"Kamu sama si Arif saja perginya."
"Si Arif hari ini nggak masuk, Pak. Dia izin katanya kena bisul."
Steven berdecak kesal, lalu membuka matanya secara perlahan. "Perasaan dia sudah pernah kena bisul deh waktu itu, kok bisa bisulan lagi?"
"Saya nggak tahu, Pak. Tapi dia bilang ... bisulnya ada di ketiak, jadi untuk beraktivitas susah dan sakit."
"Ya sudah, aku berangkat sekarang. Tapi sebelum itu kamu telepon dia dulu. Bilang padanya kalau masih mau jadi sekertarisku ... jangan bisulan!" ancam Steven marah.
"Bisul 'kan jadi sendiri, Pak," jawab Dika.
"Masa bodo. Intinya aku nggak mau dia bisulan. Lagian manja banget, kena bisul saja sampai nggak masuk kantor. Dasar lemah!" geram Steven. Dia pun mematikan sambungan telepon, lalu beranjak dari kasur menuju kamar mandi sambil terus menggerutu. "Kak Sofyan nggak becus banget sih, cari sekertaris! Sudah gemulai, bisulan mulu lagi. Bikin emosi!"
...Mangkanya cari sendiri aja, Om. Eh, dulu Om Tian Om tolak juga 🤣 Padahal dia nggak bisulan lho 🙈...
__ADS_1