
Citra dibawa ke rumah sakit terdekat oleh Sisil dan Jarwo. Sekarang, mereka tengah menunggu di depan ruang UGD. Citra sedang diperiksa di dalam sana.
Setelah menunggu waktu 20 menit, pintu UGD pun dibuka oleh seorang dokter wanita berambut pendek. Segera Sisil berdiri dan menghampirinya, begitu pun dengan Jarwo.
"Apa kalian keluarga Nona Citra?" tanya dokter tersebut.
"Bukan." Mereka menjawab secara bersamaan.
"Kenapa dengan Citra?" tanya seorang pria yang baru saja berlari cepat menghampiri mereka. Dia adalah Steven. Wajahnya tampak begitu panik dan basah karena keringat.
Saat perjalanan menuju rumah sakit, Jarwo langsung menghubungi Steven. Pria itu sebenarnya ada meeting, akan tetapi dia rela menundanya karena menurutnya, Citra jauh lebih penting dari apa pun.
Dokter itu menoleh ke arah Steven yang baru saja mengusap wajahnya sendiri. "Bapak ini siapanya?"
"Aku suaminya." Steven mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Dari pas sampai di rumah sakit dia langsung berlari.
"Kita bicara di ruangan saya ya, Pak. Mari ikut saya." Dokter itu melangkah lebih dulu. Steven pun mengekorinya dan masuk ke dalam ruangan yang bertuliskan nama dokter itu. Mereka duduk berhadapan terhalang meja persegi.
"Nona Citra kekurangan cairan. Saya menganjurkan untuk diinfus. Satu kantong saja untuk mengembalikan tubuhnya supaya tidak terlalu lemas," jelas dokter tersebut.
"Jadi Citra akan dirawat, Dok?"
Dokter itu mengangguk. "Iya, hanya semalam saja kok, Pak. Sampai tubuhnya bugar."
"Nggak masalah, Dok. Tapi bagaimana dengan bayi di dalam kandungannya? Apa dia baik-baik saja?"
"Dia baik, cuma tolong hindari istri Anda dengan aroma-aroma yang berlebihan. Karena itu bisa membuatnya mual, muntah sampai sakit kepala. Memang ini biasa terjadi diusia kehamilan muda, tapi ya lebih bagusnya dihindari supaya tidak membuatnya tersiksa," jelas Dokter itu panjang lebar.
Kening Steven mengerenyit. "Aroma berlebihan itu maksudnya bagaimana?"
"Contohnya seperti minyak wangi yang terlalu banyak, itu membuat aromanya berlebihan dan menyengat. Atau bau kentut yang sangat dahsyat, ya itu bisa juga. Indera penciuman wanita hamil jauh lebih sensitif daripada kita yang nggak hamil, Pak," jelas Dokter itu lagi.
"Berarti Citra pingsan gara-gara itu?"
Dokter itu mengangguk. "Benar. Jangan lupa juga untuk rutin minum vitamin dan susu ibu hamil. Susu sehari 2 kali kalau vitamin sekali saja, disiang hari."
"Baik, Dok. Terima kasih, kalau begitu aku permisi." Steven mengangguk. Dia pun lantas berdiri.
"Tunggu sebentar, Pak!" seru Dokter. Steven yang sudah berjalan menuju pintu itu segera menahan kakinya, kemudian berbalik badan.
"Ya?"
__ADS_1
"Maaf kalau ini terdengar begitu sensitif. Tapi saya harus menyampaikannya. Saya menyarankan jika Bapak dan Nona Citra ingin bercinta ... tolong lakukan dengan posisi yang aman untuk ibu hamil."
"Posisi yang aman itu maksudnya bagaimana?" Steven menatap bingung. Sebab baginya, posisi apa saja aman asal enak. Dan kebetulan bagaimana pun posisinya—bercinta tetaplah enak.
"Bapak bisa cari informasi digoogle."
"Baik, nanti aku mencarinya, Dok. Apa ada lagi?"
"Kalau bisa, kalian bercinta pakai jeda, Pak. Dua hari sekali saja, jangan setiap hari."
"Dokter tahu dari mana aku dan Citra bercinta setiap hari?"
"Saya tidak tahu dari siapa-siapa, tapi saya hanya menyarankan."
"Itu berat, Dok. Aku nggak bisa." Steven menggeleng cepat, namun wajahnya tampak merona. Antara malu dan kepengen. Pandangan matanya teralihkan ke tempat lain, tak melihat pada sang Dokter. "Aku dan Citra habis LDR'an. Dan sekarang kami lagi melepas rindu."
"Ya sudah, tidak masalah kalau tidak bisa. Tapi Bapak cari posisi yang aman saja digoogle, supaya bayi Anda tetap sehat dan baik-baik saja."
"Iya, aku pasti mencarinya nanti. Dan langsung dipraktekkan kalau Citra sudah sembuh." Steven tersenyum dan mengangguk kecil, kemudian melangkah pergi dari sana.
'Anakku pasti senenglah kalau dijenguk setiap hari. Itu tandanya aku sayang. Masa dua hari sekali? Mana enak begitu. Si Elang ngamuklah,' batin Steven.
Langkahnya terhenti di sebuah kamar inap VVIP nomor 333. Ada Jarwo di depan pintu, Steven mengintip pada kaca pintu itu. Citra terlihat tengah berbaring di atas ranjang sambil makan bubur disuapi suster.
"Kenapa Citra bisa begini, Pak?" tanyanya.
"Kata temannya, dia muntah-muntah di toilet terus pingsan."
"Ya alasan pingsannya apa? Orang mual sampai muntah itu ada penyebabnya."
"Saya nggak tahu lebih jelasnya. Tapi yang saya lihat ... saat Nona dan temannya berada di kantin, dia sempat dihampiri Udin. Terus Nona marah-marah lalu berlari pergi meninggalkannya sambil menutup hidung," papar Jarwo memberitahu.
Mata Steven langsung terbelalak. Seketika, dia merasakan panas pada dada dan kedua telurnya yang bergelayut manja. Entah mengapa, jika cemburu lagi-lagi telurnya ikut-ikutan panas.
"Si Udin ngomong apa? Dan kenapa nggak Bapak usir?"
"Saya sudah mengusirnya, tapi Udin ngeyel, Pak. Dia katanya hanya sekedar menyapa."
"Masa hanya menyapa Citra marah? Aneh." Steven kenal Citra bagaimana, gadis itu selalu ramah kepada siapa pun. Kalau pun marah—itu pasti karena seseorang mengatakan hal yang menyakiti hatinya, atau berbuat hal yang menyakitinya.
"Mungkin karena bau keteknya. Soalnya saya juga dengar Nona mengatakan kalau Udin diminta pergi karena bau ketek."
__ADS_1
'Apa hidung Citra sudah berfungsi sekarang? Dia bisa mencium aroma ketek Udin?' batin Steven.
Kedua tangan Steven langsung mengepal kuat, rahangnya mengeras dan emosinya memuncak. Penjelasan Dokter barusan dan jawaban dari Jarwo sudah membuatnya yakin, jika memang biang keladi penyebab masalah adalah Udin dan bau badannya.
Tidak bisa dibiarkan! Lelaki itu harus diberi pelajaran!
"Dasar si Tonggos Berdaki dan Berketek Bau! Sudah pernah aku peringatkan untuk menjauhi Citra tapi dia sama sekali nggak mendengarku!" berangnya murka. "Sudah pernah ditonjok sampai masuk rumah sakit sepertinya belum cukup juga, belum ada kapoknya!" teriak Steven dengan emosi menggebu.
"Awas saja kau, Udin! Aku akan memberikanmu hukuman berat!" Steven menghempaskan bokongnya di kursi panjang di depan kamar itu, kemudian merogoh ponselnya di dalam kantong celana. Dia menelepon Ali.
Tersambung, tapi tidak diangkat. Kemudian, Steven beralih menelepon Aldi. Dua panggilan baru diangkat.
"Kemana saja baru diangkat?! Apa kau sudah nggak butuh duit dariku, hah?" bentak Steven marah.
"Maaf, Pak. Saya tadi sedang tidur," ujar Aldi dengan suara parau khas bangun tidur.
"Siang bolong tidur!" oceh Steven dengan tarikan napas berat. "Aku mau menyewa jasamu dan Ali."
"Kami siap kapan saja, Pak!" ucapnya penuh semangat.
"Kalian cari si Udin. Bius dia lalu bawa ke dokter gigi!"
"Udin itu siapa, Pak?"
"Lelaki berdaki, dia kuliah di kampusnya Citra. Nanti aku kirim alamatnya. Pokoknya kalian culik dia terus bius dan bawa ke dokter gigi!"
"Baik, Bapak kirim saja foto Udin."
"Aku nggak punya fotonya, kalian saja cari sendiri. Nanti fotokan dulu sebelum menculik biar nggak salah orang."
"Nama lengkap si Udin siapa?"
"Kalau nggak salah ...." Steven terdiam beberapa saat. Mengingat-ingat nama Udin yang pernah disebutkan oleh polisi. "Udin Jamaluddin."
"Saya catat, Pak. Terus kapan saya dan Ali beraksi?"
"Sekarang, aku mau malam ini semuanya beres. Nanti infokan lagi padaku."
"Siap, Pak."
Setelah mematikan sambungan telepon, Steven beralih untuk menelepon Adam. Dekan di kampusnya Citra.
__ADS_1
...Siapa yang kangen aksi kocaknya Dou Al? Kira-kira mereka berhasil nggak, ya, nyulik Udin 😆😆...