
Wajar Sindi merasa aneh. Sebab memang dulu, jangankan perbuatan, perkataannya saja Steven selalu menjaga. Tidak pernah membawa-bawa hal yang berbau mesum.
Malah Sindi sempat berpikir, kalau Steven itu sangat berbeda dengan Angga dan Sofyan yang berotak mesum. Dari secara agama Steven jauh lebih taat menurutnya yang masih suka sholat bolong-bolong.
"Mesum apanya sih? Cuma ngomong susu doang mah nggak mesumlah, Ma. Semua perempuan 'kan memang punya susu," sahut Steven dengan santai.
"Iya, sih. Tapi kesannya aneh saja. Nggak biasanya kamu kayak gitu. Eemmm ... ya sudah, ajak dia ke sini. Mama mau cicipi masakan buatannya sebelum kamu menikah dengannya."
"Kan Mama tahu kalau aku nggak berhasil bertemu dengannya. Kalau sudah bertemu aku langsung bawa dia ke sini."
"Dia itu beneran diculik Gugun apa memang pergi menghindarimu, sih, Stev? Atau mungkin dia nggak suka padamu dan malah sukanya sama Gugun?" tebak Sindi. Dia merasa belum percaya sepenuhnya tentang Citra yang saat ini menghilang.
"Dia memang dibawa kabur sama Gugun!" tegas Steven dengan yakin. "Citra itu cinta banget sama aku, Ma. Aku tahu itu. Gugunnya saja yang nggak tahu diri dan gatel. Sudah tahu Citra milikku tapi dia malah berusaha untuk merebutnya!" Steven mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Mengatakan nama Gugun sungguh membuatnya jengkel, mungkin kalau saat ini pria itu ada di depan mata—Steven akan menghajarnya.
"Cinta beneran apa hanya dimulut doang? Jangan sampai nanti Citra itu sama seperti Diana, yang bilang cinta tapi mau hartanya doang," gerutu Sindi.
Diana adalah mantan istri Kakaknya Steven yang bernama Sofyan. Wanita itu memang gila harta. Hanya karena saat itu ada masalah di kantornya Sofyan dan sempat dikabarkan akan bangkrut, dia malah selingkuh dan secara terang-terangan mengatakan kalau dia tak benar-benar mencintai suaminya. Dia hanya ingin hartanya saja.
Sindi merasa trauma sekali kala mengingat hal itu, Sofyan juga sampai terkena serangan jantung dan sekarang, dia tak mau kalau kejadian yang menimpa Sofyan malah dialami oleh adiknya.
Yang Sindi mau, Steven menikah hanya sekali seumur hidup dan dengan orang yang tepat. Maka dari itu dia menjodohkan dengan Fira yang memang menurutnya sangat cocok.
Memang Fira bukan dari keluarga berada, tetapi Sindi tak memikirkan masalah itu. Yang dia tahu, mamanya Fira adalah temannya dan dia sangatlah baik. Pasti anaknya juga baik, apa lagi Sindi pernah mendengar langsung dari mulut Fira kalau dia sangat mencintai Steven.
"Enak saja, Citra bukan cewek matre!" tegas Steven. Dia tampak tak terima.
"Ya Mama hanya takut saja, Stev. Mama nggak mau nasibmu seperti Sofyan. Mama mau kamu tuh menikah sekali seumur hidup. Seperti Mama dan Papa."
"Semua orang juga maunya seperti itu, Ma."
__ADS_1
Tak lama Angga datang menghampiri mereka, lalu duduk di samping Sindi. Steven langsung menutup hidung. Bukan karena bau sebenarnya, hanya saja dia mengingat aroma saat di kamar mandi tadi.
"Sedang membicarakan apa kalian?" tanyanya penasaran.
"Papa sudah cebok dan cuci tangan belum?" tanya Steven dengan tatapan curiga.
"Sudahlah, gila aja kamu, Stev. Masa Papa belum cebok tapi sudah duduk."
"Mana nomor Dedek Gemes? Aku minta, Pa," kata Steven dengan nada memohon.
"Kamu itu orangnya nggak percayaan ya, Stev. Kan Papa bilang nggak punya." Angga merogoh kantong celananya untuk mengambil ponsel, lalu memberikan kepada Steven. "Nih. Cek sendiri kalau nggak percaya."
Steven mengetik-ngetik ponsel Angga. Melihat kontak hape, chat masuk dan panggilan masuk. Di sana hanya ada nomor Sindi, Bejo dan Jarwo. Bahkan nomor Steven pun tak ada.
"Papa ngumpetin nomornya Dedek Gemes di mana?" Meski begitu Steven belum percaya sepenuhnya. Dia masih curiga kalau Angga punya nomor Citra, tetapi tak mau dibagi-bagi.
"MasyaAllah, Stev. Sudah Papa berikan hape kamu masih nggak percaya?" Angga berdecak kesal, lalu mengambil ponsel itu dari tangan Steven.
"Bukan aneh. Saat itu dia bilang hapenya mati dan nggak ingat nomornya sendiri. Tapi Papa dulu pernah memberikan nomor Papa padanya. Hanya saja dia belum menghubungi Papa sampai sekarang," jelas Angga apa adanya.
"Ya sudah, hape ini aku pegang saja. Mungkin saja nanti Dedek Gemes akan menghubungiku." Steven menarik tubuhnya untuk bangun sebentar lalu merebut ponsel Angga.
"Enak saja, janganlah! Ini 'kan hape Papa!" Angga mengambilnya lagi.
"Papa 'kan bisa beli lagi. Pelit amat sama anak sendiri. Cuma minta hape doang." Steven merebutnya lagi. Tak peduli jika Angga terus menolak.
"Masalahnya di dalam sana banyak aplikasinya, Stev!" gerutu Angga marah. "Papa kemarin capek tahu download beberapa game, sampai Kuota Papa habis."
"Nanti aku saja yang belikan Papa hape baru deh, dan aku pindahkan semua isi di dalam hape ini. Papa tenang saja." Steven berdiri. Rasanya dia tak ada waktu untuk berdebat sebab hari ini akan mencari keberadaan Citra lagi. "Aku pergi dulu cari Citra, ya, Ma, Pa. Papa jangan lupa sewa orang untuk membantuku," imbuh Steven sembari melangkah pergi.
__ADS_1
Mulut Angga sudah menganga hendak protes sebab belum ikhlas ponselnya diambil secara paksa. Tetapi langkah anak bungsunya itu begitu cepat dan sudah menghilang saja sekarang.
*
*
"Pak Steven!" panggil seseorang saat melihat Steven baru saja hendak masuk ke dalam mobil Jarwo. Orang tersebut adalah Fira. Dia pun berlari kecil masuk ke dalam gerbang lalu menghampiri Steven. Lengannya memeluk beberapa map arsip.
"Mau ngapain kamu ke sini, Fir?" tanya Steven.
"Saya membawa berkas untuk meminta tanda tangan Bapak," jawab Fira sambil tersenyum, lalu mengulurkan map tersebut ke arah Steven.
"Aku bukannya nyuruh Dika, ya, bukan kamu? Dan lagian ini masih pagi. Aku mintanya juga dikirim siang." Steven mendengkus kesal, lalu mengambil map itu. Untuk memeriksa beberapa berkas tentunya harus membacanya terlebih dahulu, dan rasanya Steven malas untuk melakukannya sekarang. Sepagi ini.
Fira mengangguk. "Iya, saya yang mau sendiri kok, Pak. Soalnya aku juga mau lihat keadaan Bapak."
"Aku baik-baik saja, sudah sehat."
"Tunggu dulu! Bapak mau ke mana?" Fira langsung mencekal lengan Steven saat pria tampan itu hendak masuk ke dalam mobil.
"Aku ada urusan, Fir." Steven menepis tangan Fira, tetapi gadis itu mencekalnya lagi.
"Ada hal yang mau saya bicarakan. Apa saya boleh ikut?"
Steven menoleh, lalu menatap Fira sembari melepaskan tangannya. "Bicara di sini saja."
"Bicaranya di cafe saja, Pak. Sekalian ngopi bareng," tawar Fira.
Steven menggeleng. "Aku nggak ada waktu buat ke cafe, aku sibuk." Steven langsung masuk ke dalam mobil dan menutup pintu. Melihat itu semua, cepat-cepat Fira pun berlari menuju pintu sebelahnya, lalu masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Steven.
__ADS_1
...Aduh Fira, kamu ngapain sih 😤...