Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
280. Jangan paksa Juna!


__ADS_3

Juna tampak mengerutkan keningnya. Lalu dia pun mengucek kedua mata. Merasa heran dan tak percaya, jika manusia paling sibuk di hidupnya itu berjongkok di hadapannya. Kemudian memeluk tubuhnya dengan erat.


Jika dulu pelukan itu sangat dia rindukan dan terasa hangat, tetapi sekarang semua telah berubah. Yang Juna rasakan, Abi sudah menjadi orang lain. Dan Tian sudah berhasil melengserkannya dari hati Juna.


"Kamu sudah besar dan makin ganteng, ya, mirip Papi. Papi kangen sama kamu, Jun," ucapnya lembut lalu mengecup puncak rambut.


Juna langsung melepaskan pelukan yang baru terjadi itu, mendorong dada bidang Abi. Wajahnya tampak merah dan cemberut. "Mau ngapain Papi ke sini? Mau apa ketemu Juna?" tanyanya dengan sinis.


"Papi kangen sama kamu. Kebetulan Papi hari ini libur kerja, bagaimana kalau kita jalan-jalan? Papi sudah minta izin sama Ibu kepala sekolah, dia bilang mengizinkan." Abi mendongak, menatap Ibu kepala sekolah sambil tersenyum. Wanita itu mengangguk dan membalas senyumannya.


"Ibu dengar dari teman-temanmu, katanya kamu kangen sama Papimu, Jun. Jadi Ibu mengizinkan kalian untuk pergi jalan-jalan," ucapnya sambil mengelus rambut Juna.


Bocah itu menggeleng cepat. "Juna nggak kangen sama Papi. Juna juga nggak mau jalan-jalan!" tolaknya mentah-mentah.


"Lho, tapi kenapa? Papi sudah pesan tiket nonton lho hari ini. Film horor, Jun. Kamu suka film horor, kan?" Abi merogoh kantong jas berwarna biru navy yang dia kenakan. Lalu memperlihatkan dua tiket nonton. Dia juga mengambil sekotak kado berukuran besar di atas meja guru, dan memberikan kepada Juna. "Papi juga punya hadiah buatmu. Kamu sebentar lagi mau ulang tahun, kan? Nanti Papi buatkan pesta yang besar."


Juna merengut sambil menatap apa yang Abi berikan. Sama sekali dia tak tertarik untuk mengambilnya. Baginya sekarang, apa yang diberikan pria itu tak ada harganya di mata Juna.


Kepalanya menggeleng, lantas tiba-tiba saja dia berlari pergi dari sana.


Abi terbelalak, kemudian langsung menyusulnya. Berlari cepat hingga sampai di depan kelas lengan bocah itu berhasil dia cekal. "Kenapa kamu malah pergi, Jun? Papi 'kan ke sini mau temui kamu. Mau mengajak kamu pergi jalan-jalan. Dari dulu bukannya kamu menginginkannya, kan?"


"Itu dulu, tapi sekarang nggak!" tegas Juna marah seraya menghentakkan tangannya, hingga tangan sang Papi terlepas begitu saja. "Juna sekarang nggak butuh Papi lagi. Juna sudah punya Papi baru!"


Dada Abi sontak berdenyut sakit, kala mendengar apa yang Juna katakan. Seketika ada gemuruh di dalam sana. "Papi baru?" Keningnya mengerenyit. "Siapa? Apa Mamimu sudah menikah lagi?"


"Iya." Juna mengangguk cepat. "Namanya Tian. Papi Tian adalah Papi terbaik di dunia. Dia juga sayang sama Juna nggak kayak Papi yang nggak sayang." Menatap sinis ke arah Abi.


"Papi sayang sama kamu. Maafkan Papi kalau selama ini Papi sibuk, tapi sekarang Papi mau pergi jalan-jalan sama kamu, Jun." Abi mencekal lengan Juna lagi, kemudian menariknya. Tetapi bocah itu justru memberontak.


"Juna bilang nggak mau ya nggak mau, Pi! Jangan paksa Juna!" teriaknya marah. Gisel yang berada di dalam langsung membuka pintu kelas itu, tetapi dia diam saja saat melihat Juna dan Abi di depan sana.

__ADS_1


"Kamu kok berubah gini sih, kamu nggak sayang lagi sama Papi, ya? Papi bela-belain libur kerja demi kamu, lho!" geram Abi yang tampak marah.


"Juna nggak peduli! Juna benci sama Papi!" Juna sama marahnya.


Abi hendak meraih tubuh Juna, tetapi bocah itu sudah berlari menghampiri Gisel dan memeluknya dari belakang. Seolah minta perlindungan padanya.


"Bu Gisel, cepat tutup pintunya. Juna nggak mau ketemu sama orang itu!" titahnya sambil melototi Abi.


"Maaf ya, Pak. Sebaiknya Bapak pulang saja. Jangan paksa anak yang tidak mau," kata Gisel lalu menutup pintu dan menguncinya.


Abi berdecak sambil membuang napasnya dengan gusar. Rasanya kesal sekali melihat sikap anaknya tadi. Terlihat jelas, jika Juna membencinya. 'Kenapa dengan Juna? Kok sekarang berubah padaku? Masa hanya karena sudah punya Papi baru sikapnya jadi nggak sopan seperti itu. Apa mungkin Papi barunya yang ngajarin nggak bener?' batinnya berpikir yang tidak-tidak.


'Kalau memang benar, berarti Nissa yang salah pilih suami. Pokoknya aku harus membawa Juna supaya dia mau tinggal bersamaku. Iya ....' Abi mengangguk cepat. 'Juna harus bersamaku.'


"Papimu datang mau apa, Jun? Ngasih duit?" tanya Atta saat melihat Juna baru saja duduk di depannya dengan wajah merengut.


"Dia bukan Papiku. Aku sudah memecatnya." Juna mendengkus kesal, lalu mengerjakan kembali tugasnya sambil mengelus dada. mencoba menetralkan emosi di dada. 'Juna kira tadi Papi Tian yang datang. Ternyata bukan. Kira-kira ... Papi dan Mami sekarang lagi ngapain, ya?'


***


Setelah melihat Angga dan Sindi keluar dari kamar dengan membawa si kembar yang akan dijemur, Steven pun melangkah masuk ke dalam sana. Lalu mengunci pintu.


"Aa kok belum berangkat kerja?" tanya Citra yang tengah menyisir rambut. Dia menatap heran Steven yang melangkah mendekatinya dengan wajah merona. Pakaian pria itu tampak rapih, dengan stelan jas berwarna abu muda. Tampan sekali.


Tanpa menjawab, Steven langsung meraih tubuh Citra. Lalu menggendong dan membawanya menuju kasur.


Citra tersentak dengan bola mata membulat, saat melihat Steven sudah berada di atas tubuhnya dan perlahan membuka kancing baju yang dia pakai. "Aa mau apa? Kita 'kan belum boleh bercinta, aku masih berdarah," tegurnya dengan wajah panik.


"Aku mau nyusu sebelum kerja, Cit. Biar semangat." Steven menarik ke atas bra berwarna merah yang Citra kenakan. Dua benda kenyal itu langsung menyembul keluar. Tambah montok dan menggiurkan saja mereka berdua.


"Tapi hari ini aku belum menyusui si kembar, A. ASInya nggak keluar. Tadi saja mereka pakai susu ... Aahh!" dessahan itu lolos seketika kala Steven tengah meremmas dadanya.

__ADS_1


"Kebetulan, aku akan membantumu supaya mereka mengeluarkan banyak air." Steven menatap agar-agar seraya mencubit kecil kedua pucuknya yang menonjol. Citra memekik kecil kemudian Steven segera melahap salah satunya.


"Aaahh!" desah Citra dan dengan refleks meremmas rambut kepala Steven.


***


Sementara itu di rumah Tian.


Saat baru masuk ke kamar tamu dan mengunci pintu, Tian langsung mengangkat tubuh Nissa. Kemudian membawanya untuk direbahkan di atas kasur. Setelah itu Tian mulai melucuti seluruh pakaiannya sendiri.


"Kok kita di kamar tamu, Yang? Kenapa nggak di kamarmu saja?" tanya Nissa sambil menelan ludah, saat melihat kejantanan suaminya sudah tampak di depan mata.


"Kamar mandi di kamar utama lagi di dekorasi, Yang. Aku mau buat dua kloset, supaya bisa berak bareng sama Juna."


"Niat banget ya, kamu, Yang, mau berak bareng."


"Iya dong. Kan aku sudah janji. Janji adalah hutang." Setelah berhasil polos, dia pun langsung naik ke atas kasur lalu duduk dan mulai menyentuh pakaian Nissa. "Aku buka sekarang, ya?"


"Iya." Nissa mengangguk. "Nggak perlu izin, kan aku sudah jadi milikmu."


"Nggak apa-apa. Biar lebih afdol." Tian menarik dress Nissa ke atas, lalu menarik celana pendeknya hingga terlepas berikut dengan CD. Kemudian beralih melepaskan bra. Setelah itu, baru lah dia menindih tubuh Nissa dan langsung menautkan bibir.


Cup~


Kedua tangannya langsung meremmas dada, lalu memilin puncaknya dengan penuh nafsu. Nissa langsung membalas ciuman itu, kemudian menangkup kedua pipi suaminya.


Namun tiba-tiba, terdengar suara deringan ponsel milik Tian. Nissa langsung menghentikan ciuman itu, lalu menoleh ke sumber suara.


"Hapemu bunyi, Yang." Nissa menatap ke arah sofa. Stelan jas Tian ada di sana.


"Abaikan saja. Paling nggak penting." Kepala Tian langsung turun ke arah dada, kemudian langsung melahap salah satunya dengan masih memeeras keduanya.

__ADS_1


"Aahh!" Nissa mendeesah kuat saat merasakan hisapan yang awalnya lembut kini berubah sedikit kasar. Silih berganti dadanya itu dihisap penuh. Tian seperti kehausan.


...Het dah, dua bayi tua pada beraksi, Guys🤣...


__ADS_2