Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
328. Wanginya enak


__ADS_3

(Flashback On)


Juna dan teman-temannya turun dari mobil yang sudah berhenti di depan halaman rumah Dono. Mereka tampak girang sekali ingin bertemu dengan Silvi.


"Assalamualaikum Tante Della!" seru Juna seraya mengetuk pintu rumah yang tertutup. Tak lama kemudian, seseorang membukakan pintu. Dia adalah Della.


Ceklek~


"Walaikum salam. Eh!" Della terkejut saat Juna dan teman-temannya langsung mencium punggung tangan. Sebenarnya yang membuatnya kaget adalah kedatangan mereka bertiga. "Kalian bertiga mau ngapain ke sini? Ngapelin Dedek Silvi, ya?"


"Ngapel itu apa, Tan?" tanya Atta.


"Main maksudnya."


"Iya, kami mau ketemu Dedek Silvi," ujar Baim.


"Juna kangen sama Dedek Silvi. Mau cium dia, Tan," ucap Juna.

__ADS_1


"Dedek Silvinya masih tidur, Jun. Tapi kalian tunggu saja soalnya tidur dia udah lama kok." Della melebarkan pintu rumahnya. Kemudian mereka bertiga melangkah menuju kamarnya yang terbuka. "Kalian jangan masuk dulu," cegahnya yang mana membuat ketiga bocah itu menghentikan langkah, lantas menoleh.


"Kenapa?" tanya mereka secara bersamaan.


"Lepasin dulu sepatunya, terus cuci tangan, cuci kaki dan cuci muka. Biar bersih nggak ada kuman," tegur Della. Ketiganya dengan patuh mundur beberapa langkah menuju sofa, lalu duduk dan melepaskan sepatu.


"Oh, ya, ini ada susu, dot bayi dan perlengkapan bayi dari Juna untuk Dedek Silvi, Tan." Juna memberikan apa yang dia pegang ke tangan Della. Sebuah tas merah yang berisi belanjaannya di minimarket. "Itu uangnya Juna sendiri lho, bukan dari Mami atau Papi. Semoga dipakai ya, Tan."


Della menaruhnya di atas meja, lalu melihat isi di dalamnya. "Terima kasih, Jun. Kebetulan susu Dedek Silvi juga pas banget lagi habis dan dia juga minum merk ini." Della mengambil kotak susu formula itu, lalu menggenggamnya.


"Wah, ternyata pilihan Juna nggak salah. Juna memang mengerti apa yang Dedek Silvi inginkan ya, Tan." Juna mengulum senyum dengan penuh bangga.


"Iya, awalnya kamu mau belinya susu kotak biasa." Baim menimpali.


"Sebenarnya awalnya aku sudah berniat ingin membeli susu formula, cuma bingung aja," elak Juna. "Mangkanya nanya Om Sopir, kan dia yang sudah berpengalaman." Dia lantas turun dari sofa seusai melepaskan sepatu dan kaos kaki begitu pun dengan Atta dan Baim.


Ketiganya langsung melangkah menuju kamar mandi, sedangkan Della masuk ke dalam kamar sembari membawa tas merah tersebut dan meletakkannya di atas nakas.

__ADS_1


"Oe ... Oe." Silvi terbangun dan langsung menangis, bibirnya berdecak berulang kali sambil menyesap ibu jari kirinya. Sepertinya dia haus ingin minum susu.


"Anak cantiknya Mama haus, ya?" Della mendekat untuk meraih tubuh kecilnya, dia menimang-nimang dulu sebentar supaya menghentikan tangisnya. "Sebentar ya, Sayang, Mama buatkan susu dulu untukmu." Setelah agak reda, Della membaringkan tubuh mungil Silvi kembali di atas kasur. Lalu mengecup keningnya.


Bayi cantik itu memakai baju yang kostumnya mirip dengan buah apel. Ada kupluk untuk menutupi kepala botaknya juga.


"Assalamualaikum Dedeknya Kakak yang paling manis kayak buah apel," ujar Juna yang baru saja masuk bersama Atta dan Baim. Suara bocah laki-laki terdengar begitu lembut akan tetapi sambil cengengesan.


"Walaikum salam Kakak Juna." Della yang menyahut. Perempuan itu tengah berdiri di dekat nakas sambil membuka penutup termos, berniat membuat susu dan nantinya akan dicampur dengan air biasa supaya tak terlalu panas.


Ketiga bocah itu perlahan naik ke atas kasur, lalu duduk mengelilingi Silvi. Baim sudah membungkuk dengan bibir yang monyong hendak mencium kening bayi itu, akan tetapi bibirnya cepat-cepat ditutup oleh telapak tangan Juna.


"Aku dulu yang cium. Kan Dedek Silvi punyaku." Juna mendorong pelan wajah Baim. Dilihat temannya itu langsung mengerucutkan bibirnya. Setelahnya Juna membungkuk untuk mencium kening, kedua pipi lalu dagu dan hidung. Dia juga menghirup dalam-dalam aroma tubuh Silvi yang begitu wangi dan memabukkannya. "Makin hari makin wangi aja kamu, Dek, bikin Kakak gemes, ih!!" Juna mencubit lembut pipi Silvi. Rasanya dia ingin mengigit pipi gembulnya, akan tetapi tak tega.


"Iya, Dedek Silvi sangat wangi. Kakak Baim juga suka aroma Dedek." Sekarang Baim yang menciumi Silvi.


"Udahan, gantian akunya." Atta mendorong pelan dada Baim untuk menjauh. Silvi sudah mulai gelisah, tampak risih dan seperti ingin menangis. Takutnya Atta tidak kebagian untuk mencium kalau sampai Silvi keburu menangis. Cepat-cepat dia pun menciumi wajahnya, lalu lehernya juga. "Lehernya lebih mantep lho, Jun, Im. Wanginya enak banget." Sambil mengendus leher Silvi, dia mengatakan hal demikian.

__ADS_1


"Masa, sih?" tanya Juna penasaran. Bukan hanya dia, Baim juga. Keduanya langsung mendekat ke arah leher Silvi. Kemudian menciuminya dengan gemas dan saling berebutan.


...Duh, kasihan Silvinya atuh bocil 🙈 masih bayi udah dikeroyok...


__ADS_2