Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
65. Nyawa sekalipun


__ADS_3

"Selamat malam, apa benar ini kediamannya Pak Steven Prasetyo?" tanya seorang pria berseragam polisi pada Ajis yang tengah duduk ngopi. Pria itu pun segera berdiri dan mengangguk cepat.


"Benar, Pak. Memang ada apa, ya?"


"Saya mendapatkan laporan dari seorang warga kalau beliau mengalami pembegalan di jalan xx. Pak Steven ditusuk dan sekarang berada di Rumah Sakit Harapan, Pak," jelasnya.


Ajis langsung membulat matanya dan sesaat dia tercengang mendapatkan berita duka tersebut.


"Saya akan hubungi istrinya, Pak." Ajis merogoh kantong celana bahannya, lalu mengambil ponselnya.


"Kalau ada yang dibutuhkan dari pihak polisi, Anda bisa menghubungi saya." Polisi itu memberikan kartu namanya pada Ajis. "Kalau begitu saya permisi, Pak."


*


*


Gugun yang menerima panggilan dari Ajis tentu merasa panik. Dia bergegas masuk ke dalam gedung hotel itu kemudian mencari-cari keberadaan Citra. Menoleh ke kanan dan kiri, sampai akhir melihat gadis itu berada di kursi paling ujung. Sedang duduk sambil menangis.


"Nona, ayok kita ke rumah sakit," ujar Gugun dengan deru napas yang tersenggal-senggal. Dia berlari menghampiri Citra bak orang yang kesetanan.


"Rumah sakit mau apa, Om?" Cepat-cepat Citra mengusap air matanya dan menenggak jus di atas meja sebab merasa haus.


"Pak Steven kecelakaan. Dia ditusuk orang."


Degh!


Citra terbelalak. Sejenak dia merasa jantungnya seolah terhenti lantaran rasa kaget. Kemudian tak lama dadanya terasa sesak, juga nyeri sampai ulu hati.


"Ditusuk? Siapa yang tega menusuk Om Ganteng?"


"Nanti saya ceritakan, tapi sekarang ayok pergi ke rumah sakit untuk mengecek keadaannya, Nona," ajak Gugun.


Citra mengangguk, dia pun langsung berlari duluan keluar dari gedung itu, kemudian disusul oleh Gugun.


"Kata pihak polisi, Pak Steven mengalami pembegalan, Nona. Dia ditusuk, lalu mobil, hape dan uangnya diambil," terang Gugun seraya mengemudi. Dilihat dari kaca depan Citra kembali menangis. Matanya juga terlihat sembab lantaran hari ini banyak mengeluarkan air mata.


"Begal? Kapan itu, Om? Tadi?"


"Kayaknya sih sekitar jam 5 atau 6."


"Kata Ayah begal biasanya ada pas tengah malam, kok masih sore ada sih, Om? Kasihan Om Ganteng." Citra menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


"Saya nggak tahu kalau masalah itu, Nona."


Citra memejamkan matanya dengan kedua tangan yang saling mengenggam. Tubuhnya terasa bergetar dan dia merasa sangat takut. Takut jika ada hal buruk dengan kondisi Steven saat ini. 'Semoga Om Ganteng baik-baik saja ya Allah. Lindungi dan jaga dia. Aku nggak mau kehilangannya. Biarkan Om Ganteng panjang umur dan hidup bahagia selamanya.'


*


*


Tibanya di rumah sakit, mereka diberitahu oleh penjaga resepsionis jika Steven berada di ruang operasi. Mereka pun bergegas menuju ke sana dan kebetulan sekali ada seorang suster yang baru saja keluar dari ruangan itu.


"Sus, bagaimana keadaan Om Ganteng. Ah maksudku Om Steven Prasetyo?" tanya Citra seraya menghampiri lalu menyeka keringat pada dahinya.


"Beliau sedang dioperasi. Apa Nona adalah keluarganya? Bisa tolong bantu saya?"


"Bantu apa, Sus?"


"Saat ini Pak Steven membutuhkan satu kantong darah lagi. Dan di rumah sakit stok darahnya habis. Dia kekurangan banyak darah."


"Memang Om golongan darahnya apa, Sus?"


"B, Nona."


"Kalau nggak salah darahku juga B, Sus. Ambil saja darahku sebanyak yang Suster perlukan." Citra menawarkan diri sendiri.


"Nona, jangan lakukan itu!" tegas Gugun. Dia menyela ucapan suster itu sembari mengenggam lengan kiri Citra hingga membuatnya menoleh. Dia juga tahu kalau memang benar, Citra bergolong darah B sama seperti Danu.


"Kenapa, Om?" Kening Citra mengerenyit.


"Nona nggak perlu donorkan darah, saya akan menghubungi keluarga Pak Steven." Gugun menggeleng lalu mengambil ponselnya di dalam kantong celana.


"Kalau mau hubungi, hubungi saja, Om. Tapi aku mau membantu Om Ganteng." Citra menepis tangan Gugun.


"Kenapa? Katanya Nona ingin merelakannya?"


"Iya, aku akan merelakan Om Ganteng. Tapi dia sekarang membutuhkanku. Jangankan darah Om ... nyawa sekalipun aku akan berikan padanya demi dia bahagia," kata Citra kemudian berlalu masuk ke dalam ruang operasi itu bersama suster.


Gugun membuang napasnya kasar, lalu mengusap wajah. "Sepertinya Nona Citra benar-benar tulus dan dalam mencintai Pak Steven. Kasihan dia, aku nggak tega melihatnya terus menangis." Perlahan Gugun mendudukkan bokongnya pada kursi panjang, lalu menyandarkan punggungnya. "Harusnya aku saja yang menikah dengannya, jangan Pak Steven."


*


*

__ADS_1


Citra berbaring di atas tempat tidur kemudian menoleh ke arah kanan. Ada sebuah hordeng penghalang berwarna biru muda, tetapi sedikit terbuka hingga dia bisa melihat sebatas kepala Steven berada di sampingnya. Pria tampan itu masih tak sadarkan diri, mulut dan hidungnya memakai ventilator.


Citra menyentuh dadanya, terasa berdebar kencang di dalam sana.


"Kita cek kondisi Nona dulu, ya? Dan kecocokan darahnya," kata seorang Dokter pria yang menghampiri Citra. Gadis itu hanya mengangguk, tetapi masih menatap Steven dari samping.


Dengan bantuan suster, dia mengecek kesehatan dan darahnya. Ternyata memang cocok dan Citra dalam kondisi sehat. Setelah itu transfusi darah pun dilakukan.


Citra memejamkan matanya sambil memekik kecil saat merasakan lengannya tertusuk jarum dan tak lama jarum itu menyedot darahnya.


'Semoga operasi Om Ganteng berhasil, Om akan baik-baik saja.'


30 menit akhirnya transfusi darah itu telah selesai, Citra segera bangkit dari tempat tidur dan menyentuh kepalanya yang mendadak terasa pusing.


"Apa Nona pusing?" tanya Suster, dia memberikan Citra segelas air dan satu biji obat berwarna kuning.


"Iya, Sus. Kenapa, ya?"


"Itu hal lumrah saat kita habis mendonorkan darah, Nona. Nona minum vitamin dulu."


Citra mengangguk dan segera mengambil serta meminum apa yang Suster itu berikan padanya.


Ceklek~


Citra yang baru saja keluar dari ruang operasi itu segera dihampiri oleh Gugun.


"Bagaimana, Nona? Apa cocok darahnya?" tanya Gugun. Dia sih sejujurnya berharap kalau akan ada kesalahan supaya Citra tak jadi mendonorkan darah.


"Iya, Om." Citra mengangguk sambil tersenyum. "Eeemm ... aku mau salat isya dulu ya, Om. Mau cari musolah di sini. Om jangan ke mana-mana, tungguin Om Ganteng."


"Iya, mau saya antar untuk mencarinya?" tawar Gugun.


"Nggak perlu." Citra menggeleng cepat. "Aku bisa cari sendiri kok."


"Ya sudah, Nona hati-hati."


Citra mengangguk, kemudian berjalan pelan-pelan pergi dari sana sambil memegangi kepalanya. Mendadak tubuhnya terasa lemas dan kepalanya itu makin berkunang-kunang. Pandangannya pun tiba-tiba kabur.


Takut jika nanti jatuh pingsan, Citra pun segera duduk pada kursi lalu mengerjap-ngerjapkan matanya. Mencoba menetralisir rasa pusingnya.


"Payah banget sih aku, pantes Om Ganteng bilang aku bisanya cuma nangis. Ternyata memang lemah. Cuma donorin darah saja kepalaku pusing banget." Citra menepuk-nepuk pelan kepalanya.

__ADS_1


"Dedek Gemes kok ada di sini?" tanya seseorang yang tiba-tiba saja datang menghampiri. Tetapi dia datang dengan menggunakan kursi roda yang didorong oleh seorang pria berseragam satpam.


...Yang manggil siapa tuh? Kok kayak nggak asing 🤔...


__ADS_2