Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
331. Mama kayaknya hamil


__ADS_3

Nissa memang tak tahu jelas, bagaimana sikap Dono atau Della kepada Silvi. Dia juga belum pernah melihat bayi itu secara langsung.


Namun menurutnya, meskipun mereka adalah orang tua angkat, pasti mereka juga sangat menyayanginya. Apalagi keduanya belum dikaruniai anak.


"Masa nggak ngizinin, pasti mereka mengizinkan dong, Yang."


"Kamu yakin?" tanya Nissa yang tampak ragu. Namun berbeda dengan Tian yang begitu yakin.


"Yakinlah," jawabnya dengan santai. "Kamu sekarang nggak perlu memikirkan hal itu. Biar aku sendiri yang urus semua. Pasti keluarga kita akan lengkap nanti," tambahnya dengan seraya memberikan suapan terakhir.


"Kalian ngomongin apa, sih? Kok Tina jadi ke Silvi-Silvi?" tanya Angga yang telah selesai menenggak air minum. Dia sejak tadi diam saja tetapi ikut mendengarkan.


Tian lantas menoleh kepadanya. "Ternyata anakku Tina belum meninggal kata dukun beranak yang membantu Fira melahirkan, Pa."


"Lho, kok bisa?" Angga tampak terkejut mendengarnya.


"Iya, sepertinya Fira yang sengaja membohongiku. Tapi aku sendiri nggak tahu jelas apa alasannya."


"Terus, hubungannya dengan Silvi apa?" tanya Angga penasaran.


"Foto yang diberikan dukun beranak itu mirip dengan Silvi. Mangkanya besok aku ingin memastikannya, benar atau nggak ... dia itu anakku."


"Oh, tapi kasihan Dono dan Della dong, kalau Silvi diambil. Mereka seneng banget baru punya anak lagi."


"Tapi kalau Silvi itu beneran Tina 'kan aku berhak untuk mengambilnya, Pa. Aku juga ingin berkumpul dengan anakku," jawab Tian dengan wajah sedih.


"Iya sih, ya sudah coba nanti kamu rundingkan kepada pihak panti, Della dan Dono. Tapi Papa harap ... kamu jangan sampai berantem sama mereka, ya? Selesaikan masalah itu secara baik-baik dan ambil jalan yang enaknya bagaimana," saran Angga menasehati.


"Iya, Pa." Tian mengangguk paham.


***


Keesokan harinya.


Pagi-pagi sekali sebelum Juna dan Nissa bangun, Tian lebih dulu bangun. Dia mandi lalu sholat Subuh.


Setelah itu dia membelikan sarapan nasi goreng untuk mertua dan anaknya, juga dengan bubur ayam untuk Nissa. Tian letakkan di atas meja.


"Duh, Papa kesiangan sholat Subuh," keluh Angga yang baru saja bangun, dia langsung berdiri dari kasur. Semalam dia tidur bersama Tian.

__ADS_1


"Aku tadi mau bangunin Papa nggak enak, jadi aku sholatnya sendiri," ujar Tian.


"Nggak apa-apa," jawab Angga. Kakinya melangkah mendekati Tian dan memperhatikannya yang memakai stelan jas berwarna merah maroon. Terlihat rapih dan tampan. "Bukannya ini tanggal merah, ya? Kamu mau ke mana?"


"Ke panti, Pa, yang masalah semalam itu."


"Oh, iya, iya." Angga manggut-manggut.


"Aku titip Nissa sama Juna ya, Pa." Tian melirik ke arah tempat tidur. Anak dan istrinya itu masih terlelap dengan saling memeluk. "Kalau ada apa-apa telepon aku."


"Tapi ini baru jam 6, Ti." Angga menatap jam dinding yang menempel di tembok, di atas pintu. "Apa nggak kepagian?"


"Sengaja aku berangkat pagi, soalnya takut Juna ikut. Nanti dia capek, Pa." Tian meraih tangan Angga, lalu menciumnya. "Ya sudah kalau begitu, aku pamit. Nanti Papa, Nissa dan Juna jangan lupa sarapan. Aku sudah beli. Assalamualaikum."


"Iya. Walaikum salam, kamu hati-hati."


Tian mengangguk sambil tersenyum, kemudian melangkah keluar dari kamar inap itu.


***


Di rumah Angga.


Langkah kaki perempuan muda itu berhenti di dapur, dia melihat Sindi tengah membantu bibi pembantu yang memasukkan nasi serta lauk pauk di dalam rantang.


"Mama kok masak nggak ngajakin aku?" tanya Citra seraya menghampiri. "Harusnya ajak dong, biar aku bisa bantu-bantu. Aku kira kita langsung berangkat ke rumah sakit jenguk Mbak Nissa tanpa bawa bekel."


"Nggak apa-apa, Sayang." Sindi tersenyum, lalu menoleh dan mengusap puncak rambut Citra. "Lagian Mama masak juga nggak banyak. Ini cuma buat Nissa. Kita sarapan dulu, yuk, sebelum berangkat, di mana Steven?"


Sindi merangkul Citra, lalu membawanya menuju ruang makan. Matanya menatap ke arah tangga.


"Lagi telepon sama asistennya." Citra menarik kursi untuk Sindi, kemudian untuk dirinya sendiri dan mereka pun sama-sama duduk. "Oh iya, Ma, kalau aku selesai nifas ... kira-kira aku diKB nggak, ya?"


"DiKB dong. Si kembar 'kan masih kecil, masa punya adek lagi? Kasihan," jawab Sindi, dia pun mengolesi selai nanas di atas roti tawarnya. "Memangnya kamu sendiri nifasnya sudah selesai? Si Steven galau tahu, Cit, gara-gara udah lama puasa," kekehnya.


"Aku juga udah kangen sebenarnya." Wajah Citra seketika merona. "Aku udah tiga hari yang lalu nggak keluar darah sih, Ma. Mungkin udah kali, ya?"


"Nanti pas ke rumah sakit sekalian ke dokter kandungan saja kamu dan Steven. Kalau memang kata dokter sudah selesai ... sekalian diKB saja," saran Sindi.


"Mama sendiri sekarang diKB nggak?"

__ADS_1


"Nggak, kan Mama sudah tua."


"Tapi Mama nggak takut hamil memangnya?"


"Mana mungkin Mama hamil, Cit, Mama sudah tua. Haid aja udah nggak," kekeh Sindi sambil geleng-geleng kepala.


"Tapi ada lho, Ma, diberita, aku pernah nonton ... nenek-nenek usia 70'an hamil. Berarti Mama juga bisa ada kemungkinan hamil, apalagi umur Mama belum segitu. Mending nanti diKB saja bareng sama aku, Ma," saran Citra. Dia mengigit rotinya lalu menenggak susu putih.


"Berita hoax kali, Cit, itu mah. Mama nggak percaya ... Uuek!" Sindi tiba-tiba saja merasa mual di perutnya. Bergejolak dan ingin muntah.


"Lho, Mama kenapa?" Citra terbelalak saat melihat sang mertua berlari menuju dapur sambil menutup bibir. Dia lantas berdiri dan langsung mengejar.


Di wastafel tempat mencuci piring, Sindi memuntahkan isi di dalam perutnya. Citra langsung memijat pelan tengkuk wanita itu.


"Uuek! Uuekk!"


"Cit, Mama kenapa?" tanya Steven yang baru saja datang menghampiri.


"Mama kayaknya hamil deh, A," jawab Citra asal yang mana membuat Steven terbelalak. "Ayok antar Mama ke rumah sakit, A, kita periksa.


"Ayok." Steven tanpa banyak berpikir langsung mengangguk. Dia lantas menarik lengan kanan Sindi, lalu meletakkannya pada bahu. Memapahnya keluar dari rumah.


"Sus Dira ...." Citra memanggil babysitter-nya yang baru saja menuju dapur membawa botol dot di tangannya.


"Iya, Nona?"


"Kalau si kembar bangun, tolong mandikan mereka. Terus Suster nyusul aku ke rumah sakit sama mereka. Ajak Bibi juga kalau susah bawa si kembar."


"Baik, Nona." Suster Dira mengangguk. "Tapi di rumah sakit mana?"


"Nanti kalau sudah sampai aku beritahu. Aku pergi dulu ya, Sus."


"Hati-hati, Nona."


"Iya."


Setelah itu Citra berlari keluar rumah, menyusul Steven dan Sindi lalu masuk ke dalam mobil.


Dia duduk di kursi depan, di samping Jarwo yang mengemudi. Sedangkan Steven dan Sindi ada di kursi belakang. Pria itu tengah memijit tengkuk sang Mama, sebab Sindi masih muntah-muntah di dalam plastik kresek.

__ADS_1


...Nggak jadi anak bungsu dong Om Steven 🤣 kalau Mama Sindi hamil 🤭😆...


__ADS_2