
Tok ... tok ... tok.
Bunyi ketukan pintu dari luar membangunkan Steven yang tengah tertidur pulas.
Semalam, setelah melakukan ronde kedua, Steven langsung tepar. Miliknya masih menginginkan sebenarnya, tetapi matanya tidak bisa diajak diskusi. Begitu berat, sangat ngantuk.
Wajar juga, dia memang kurang tidur sejak kemarin-kemarin, selama kehilangan Citra. Dan sekarang, pagi tadi baru bisa tidur nyenyak.
Steven menoleh ke kanan dan kiri kasur, tidak ada Citra di sana. Tetapi tak lama terdengar suara pintu kamar terbuka. Ternyata yang membukanya adalah Citra, gadis itu melangkah keluar dengan memakai lilitan handuk di atas dada.
Wangi, cantik dan begitu menggoda. Rambutnya terlihat basah.
"Maaf aku pinjam handuk Om," ucap Citra tak enak hati.
"Nggak apa-apa, pakai saja semua yang aku punya sesuka hatimu." Steven mengulum senyum. "Ambil baju ganti di lemari, aku punya baju baru untukmu." Steven menunjuk lemari yang dimaksud dan tak lama pintu kamar kembali diketuk.
Tok ... tok ... tok.
Pria tampan itu berdecak, segera dia pun beranjak dari tempat tidur lalu mengambil pakaian di dalam lemari. Setelah memakai dia bergegas membuka pintu.
Ceklek~
โMaaf kalau Mama menganggu, Stev. Tadi ada polisi datang mencarimu," kata Sindi yang berdiri di depan pintu.
"Mencariku? Mau apa?" Alis mata Steven bertaut.
Sindi menggeleng. "Mama nggak tahu, tapi dia memintamu datang ke Kapolsek Cengkareng. Dan dia sempat menanyakan kunci sel."
"Kunci sel? Ngapain nanya kunci padaku? Apa hubungannya?"
Steven sepertinya lupa pernah membawa kunci, tampak jelas dari wajahnya yang seperti orang bingung dan tak tahu apa-apa.
Sindi menggeleng. "Mama nggak tahu. Sudah sana pergi."
"Orangnya masih ada diluar?"
"Udah pergi, tadi cuma mampir."
Steven mengangguk, dia pun lantas masuk lagi ke dalam kamar dan menutup pintu.
"Polisi mencari Om mau apa?" tanya Citra. Dia sempat mendengar percakapan di antara Sindi dan Steven.
__ADS_1
Gadis itu sudah memakai pakaian. Dia mengenakan baju kodok dengan model rok, panjang selutut. Sekarang tengah menyisir rambut di depan kaca meja rias sambil memandangi Steven.
"Aku nggak tahu. Tapi kamu nggak perlu ikut, ya? Di sini saja." Steven perlahan melepaskan pakaiannya.
"Kenapa memangnya?"
Padahal, Citra belum bilang mau ikut. Tetapi sudah dilarang. Aneh sekali.
"Nggak apa-apa, kamu mending di sini saja. Dan anggap rumah ini rumahmu, jangan malu-malu. Mama dan Papa orangnya baik kok. Tapi kamu jangan terlalu dekat dengan Papa, ya!" tegur Steven dengan tatapan serius.
"Kenapa memangnya? Opa ... ah maksudku Papa." Citra segera meralat panggilan itu. Sebab memang Papa adalah panggilan yang semestinya. "Papa orangnya baik Om, sangat baik malah."
"Iya, dia memang baik. Tapi mesum. Kamu juga harus menjaga jarak. Jangan mau dicium atau dipeluk sama dia."
"Terus Om ketemu Safiranya kapan?"
Langkah kaki Steven terhenti di depan pintu kamar mandi, lalu dia pun berbalik.
"Habis dari kantor polisi," katanya kemudian masuk ke dalam.
*
*
Steven sudah mandi, mengenakan setelan jas berwarna abu muda. Tangannya merangkul pinggang Citra dan istrinya itu hanya diam sambil tersenyum menatap Sindi.
"Iya." Sindi mengangguk cepat.
Steven melirik ke sana kemari, matanya berkelana mengitari isi rumah. Dia seperti mencari-cari seseorang yang tak ada di sana. "Mama juga harus hati-hati sama Papa, dia mata keranjang dan suka godain Citra. Jangan biarkan diaโโ
"Enak saja kamu ngatain Papa mata keranjang!" sergah Angga cepat.
Entah datangnya dari mana, tetapi Steven langsung terperanjat melihat pria tua itu sudah berdiri di samping Citra. Gegas Steven pun menarik tubuh istrinya, supaya mereka tak terlalu dekat.
"Aku bicara sesuai fakta. Awas saja kalau Papa berani macam-macam. Aku bisa memasukkan Papa ke penjara!" ancam Steven. Lantas dia pun mencium punggung tangan Angga dan Sindi, kemudian mengecup pipi kiri Citra.
"Aku pergi dulu, ya, Cit," katanya sambil tersenyum. Dilihat wajah gadis itu sudah merah merona.
"Iya, Om." Citra mengangguk cepat. "Hati-hati."
"Iya." Steven mengangguk, lalu setelah itu dia pun keluar dari rumah tersebut.
__ADS_1
"Mumpung si Steven sudah pergi, ayok kita makan siang sama-sama!" seru Angga dengan girang. Tangannya baru saja hendak merangkul bahu Citra, tetapi dengan cepat Sindi menghalangi dan alhasil dialah yang merangkul bahu Citra. Kemudian, Sindi mengajak menantunya itu ke meja makan.
"Papa mau ngapain?" tanya Sindi saat melihat suaminya tengah menarik kursi di sebelah Citra. Gadis itu baru saja duduk.
"Dih, ya mau makanlah."
"Papa makan di ruang tamu atau dapur. Jangan disini."
"Dih, kenapa? Jahat amat." Angga memasang wajah sedih.
Sindi mengambil piring, lalu menuangkan nasi beserta lauk ke atas sana kemudian memberikan ke tangan Angga. "Papa masih genit, hilangkan dulu genitnya baru kita makan bareng."
"Mana bisa, itu 'kan sudah mendarah daging."
"Ya kalau nggak bisa ya jangan makan bersama. Sudah sana! Nanti ketahuan Steven dia ngamuk," usir Sindi sembari mengibaskan salah satu tangannya.
Angga berdecak kesal sembari mengerucutkan bibir. Lantas dia pun berlalu pergi dari meja makan dengan membawa piring di tangannya. "Kok aku merasa jadi anak tiri sekarang? Padahal aku yang tersakiti."
***
Di kantor Polisi.
Langkah kaki Steven terhenti pada saat memasuki ruang keluhan. Tepat di dalam sana, ada dua orang polisi sedang duduk di kursi dengan Gugun yang berada di depannya.
Mata Steven langsung melotot kala pandangan mereka bertemu. Dadanya seketika bergemuruh. Emosinya langsung memuncak ke ubun-ubun.
Tanpa basa-basi, dia pun lantas berlari menghampiri.
Steven menarik kerah kemeja Gugun hingga membuat tubuhnya berdiri tegak. Dan tak lama, sebuah bogem mentah melayang pada pipi kiri Gugun.
Bugh!
Kedua polisi itu membelalakkan matanya dan refleks mereka sama-sama berdiri.
Gugun langsung menghentakkan dada Steven dengan kuat hingga cengkraman tangannya pada kerah kemeja itu terlepas. Sama halnya seperti Steven yang tampak emosi, Gugun juga tak kalah emosi saat bertemu Steven. Mereka bahkan layaknya seorang musuh dan Gugun dengan cepat memberikan balasan. Sebuah bogem mentah mendarat ke pipi kiri Steven juga.
Bugh!
...Kalian ini kenapa, sih? Orang baru ketemu udah langsung tonjok-tonjokan? ๐...
...ya orang mah minimal nanyain dulu kabar, ngapain ada di kantor polisi atau udah makan belum? Ampe ga pake basa basi ๐ sok jagoan kalian pada๐...
__ADS_1