
"Apa kamu bilang, Yan?!"
Seseorang tiba-tiba saja datang dan langsung menyeru. Sofyan dan Angga lantas menoleh, keduanya pun sontak terbelalak, sebab melihat ada 3 orang perempuan di sana.
Mereka adalah Sindi, Citra dan Nissa. Ketiga juga tampak terkejut, apalagi Citra yang sudah berkaca-kaca.
"A-apa yang Kakak ka-katakan tadi? Aa Ganteng meninggal? Benar-kah?" Dengan terbata dan langkah tertatih-tatih, Citra mendekat ke arah Sofyan. Bersama mertua dan kakak iparnya juga.
"Apa kalian juga keluar dari Pak Steven Prasetyo?" tanya Dokter itu menatap kepada ketiga perempuan.
"Jadi benar atau nggak, Dok? Dokter pasti salah, kan?" tanya Sindi.
"Benar," jawab Dokter dan terlihat sungguh-sungguh. "Pak Steven telah meninggal dunia, Bu. Saya harap ... kalian semua ikhlas untuk menerimanya pulang ke rahmatullah."
Jder!!
Bak tersambar petir. Apa yang disampaikan Dokter itu benar-benar sangat memilukan. Berita yang sangat buruk dan membuat dunia Citra seketika runtuh.
"Aa!!" teriak Citra penuh histeris. Dia langsung berlari dan menerobos masuk ruang UGD.
__ADS_1
"Dek! Dedek!" Angga berlari mengejar Citra, khawatir jika gadis itu kenapa-kenapa.
Citra langsung menghentikan langkahnya, tepat pada salah satu tempat tidur yang ada Steven di atasnya. Ada seorang perawat pria juga di sana, yang hendak menutup wajah Steven yang pucat pasih menggunakan kain putih.
"Jangan lakukan!" teriak Citra seraya mencekal tangan perawat itu. Dia mencegah, akan apa yang pria itu lakukan. "Aa! Bangun, A! Ayok kita pulang!" pinta Citra dengan isakan tangis. Rasa sesak itu menyeruak mengisi rongga dada. Dengan tangan yang terlihat bergetar, dia perlahan menangkup kedua pipi suaminya yang terasa dingin itu.
"Stev! Jangan pergi, Papa nggak mau kehilanganmu, Stev!" pekik Angga menangis. Dia menggoyangkan kedua lengan anaknya, berupaya untuk membangunkan.
"Papa! Ayok gendong Aa Ganteng, Pa!" Citra menarik tangan Angga, lalu mendekatkannya kepada tangan Steven. "Ajak dia pulang, aku mau dia ketemu si Kembar, Pa!"
"Stev! Papa mohon bangunlah!" Angga kembali menggoyangkan pundak Steven. Namun nyatanya pria berlesung pipi itu sama sekali tak merespon.
Tak lama, dua orang perawat datang menghampiri. Salah satu dari mereka langsung menutup wajah Steven, dan dua yang lainnya mendorong brankar tersebut untuk keluar dari sana.
"Jangan bawa suamiku! Jangan bawa dia!" teriak Citra dengan suara tersendat, tertahan oleh tangis. Kakinya melangkah hendak berlari mengejar, akan tetapi mendadak seluruh tubuhnya itu terasa lemas tak berdaya. Sehingga tanpa disadari dia terjatuh.
Bruk!
"Astaghfirullah, Dek!" Angga sontak terkejut mendapati menantunya itu terjatuh. Cepat-cepat dia meraih tubuhnya, tapi gadis itu sudah hilang kesadaran.
__ADS_1
Sementara itu, Maya, Jordan dan Juna kembali ke rumah sakit. Setelah selesai makan es krim dan ngemil beberapa makanan manis.
Ketiganya langsung terkejut, sebab melihat begitu banyak kekacauan di depan UGD.
Bukan hanya melihat Nissa yang menjerit saat melihat jenazah Steven dibawa, tapi mereka juga melihat Sofyan yang sedang panik menggendong Sindi membawa masuk ke dalam UGD.
Untuk sekilas, mereka melihat wanita tua itu sudah tak sadarkan diri.
"Mami, apa yang—" Juna hendak bertanya, tapi sudah keburu disela oleh Tian yang baru saja datang.
"Apa yang terjadi, Yang?" Tian datang-datang langsung menopang tubuh Nissa, sebab wanita itu terlihat oleng.
"Steven meninggal, Yang. Dia telah meninggalkan kita semua," jawab Nissa dengan lirih. Tangan kanannya perlahan terangkat, kemudian menunjuk ke arah beberapa perawat yang sudah menjauh membawa Steven.
"Apa?! Meninggal?!" Bukan hanya Tian saja yang berkata demikian dan terlihat kaget. Tapi juga Juna dan Maya. Mungkin hanya Jordan saja, sebab bocah itu belum mengerti.
"Mami pasti bohong, kan? Nggak mungkin Om Steven meninggal, Mi!" seru Juna tak percaya. Gegas, dia berlari menuju kamar jenazah.
...segini dulu deh, Author nulisnya ga kuat 😭...
__ADS_1
...air mata sama ingusnya juga ikut-ikutan keluar karena sangking sedihnya😭...