
"Maksudnya, kamu mau jodohin mereka, Ga?" tebak Mbah Yahya.
"Nggak, mereka suruh saling kenal saja dulu. Biar temenan. Kalau cocok ya itu malah bagus. Eh, tapi ... kamunya masalah nggak? Soalnya Nissa janda dan punya anak satu."
"Nggak." Mbah Yahya menggeleng cepat. "Malah aku seneng kalau bisa menjadi besanmu. Dan aku juga seneng karena nantinya langsung dapat cucu kalau Rama menikah dengan Nissa."
"Bagus deh." Angga mengulum senyum. "Anakku juga banyak yang mendekati, tapi dia masih tertutup orangnya. Aku sendiri kasihan padanya, pengen juga lihat dia bahagia punya pasangan."
"Memangnya, cerainya kenapa, Ga?" tanya Mbah Yahya yang mendadak penasaran. "Maaf nih, jadi kepo aku."
"Nggak masalah. Eemm ... Itu karena suaminya dulu berselingkuh sama sekertarisnya, aku juga nggak tahu awal mulanya bagaimana, tapi aku tahunya pas Juna cucuku cerita. Dia bilang ... kalau Maminya sering nangis tiap malam dan manggil-manggil Papinya, sedangkan Papinya jarang pulang. Lalu baru aku tanyain langsung ke Nissa, dan dia ceritakan semua kelakuan bejat suaminya," jelas Angga panjang lebar. Kedua tangannya langsung mengepal kuat, merasa geram pada mantan suami Nissa.
"Kasihan banget ya, Ga. Kok bisa-bisanya dia selingkuh? Padahal menurutku, Nissa itu 'kan wanita sempurna. Aku juga mau sama Nissa."
"Dih, ngomong apa kamu?" Angga menyenggol lengan Mbah Yahya dengan sorotan mata tajam. "Kamu udah bau tanah, Ya, kan aku maunya Rama yang deketin Nissa."
"Ya barangkali Nissanya maunya sama aku. Tapi setuju nggak mau nanti?" goda Mbah Yahya. Sengaja, ingin memancing supaya Angga marah.
"Dih, nggak mungkinlah. Nissa juga masih normal kali matanya. Lagian, istrimu mau dikemanain?"
"Ya nggak dikemanain-kemanain lah, Ga. Kan laki-laki itu boleh punya istri lebih dari satu. Nissa jadi istri mudaku nanti."
"Ngaco kamu, mana boleh!" omel Angga kesal. Mbah Yahya justru terkekeh. "Enak saja anakku jadi istri muda sama aki-aki sepertimu, mending dia janda aja selamanya."
"Kataku juga barangkali. Mungkin, Ga. Manusia 'kan nggak ada yang tahu." Mbah Yahya bergelak tawa. Merasa lucu dengan mimik wajah temannya.
Angga berdecih. Kemudian mereka pun mencari topi obrolan lain.
...****************...
Sementara itu, Tian baru saja selesai melakukan meeting pertamanya dengan didampingi Rizky. Pria itu juga sekaligus melihat bagaimana kinerja Tian bekerja, demi menentukan dia diterima atau tidaknya.
"Meeting tadi berjalan dengan lancar ya, Pak, dan materi yang Bapak sampaikan cukup bagus," ucap Rizky yang duduk sofa sembari menatap Tian yang duduk di kursi putar. Mereka tengah berada di ruang CEO.
"Terima kasih, Pak." Tian tersenyum senang mendapatkan pujian.
"Aku harap Bapak nggak akan mengecewakanku, apalagi kalau sampai membuat perusahaanku bangkrut."
"Saya akan berusaha menjadi yang terbaik, Pak."
"Aku harap begitu, dan Bapak saya terima kerja di sini."
Mata Tian langsung berbinar, dia kembali mengulum senyum. "Alhamdulillah, terima kasih Pak Rizky. Aku akan berusaha bekerja dengan baik supaya nggak mengecewakan Bapak."
"Iya." Rizky mengangguk. "Paling nanti setiap dua hari sekali asistenku yang bernama Hersa akan datang. Tapi dia hanya mengontrol." Berdiri sembari membenarkan jasnya yang terlipat.
__ADS_1
"Tapi untuk sementara Bapak belum punya asisten. Kalau butuh apa-apa sama sekertaris saja ya, Pak," tambah Rizky lagi.
"Iya, Pak." Tian berdiri dan mengangguk cepat. "Oh ya, Pak, kalau boleh ... kebetulan aku juga punya asisten dulu, saat di kantorku. Boleh nggak kalau dia saja yang kerja jadi asistenku?"
"Boleh, tapi nanti dia melamar dulu kepadaku, ya, Pak."
"Iya." Tian mengangguk cepat.
"Ya sudah, selamat bekerja." Rizky tersenyum simpul, lalu melangkah keluar dari ruangan.
*
*
Di kantor Rizky.
Pria yang baru tiba di kantor yang biasa dia kelola itu lantas masuk ke dalam ruangan pribadinya sendiri. Dia duduk sambil menyandarkan punggungnya pada kursi putar di meja kerjanya.
Tak lama, terdengar suara ketukan pintu dari luar dibarengi suara.
"Pak, ini saya Hersa," panggil seseorang dari luar sana.
"Masuk, Sa!" jawab Rizky sedikit memekik.
Ceklek~
Wanita tersebut tidak lain adalah Fira, calon sekretarisnya. Kebetulan, selain CEO Rizky juga membutuhkan seorang sekertaris.
Sekertaris yang dulu berhenti lantaran menikah dengan Papa mertuanya. Ya, dulunya Maya adalah sekertarisnya Rizky. Dan ada ceritanya juga mengapa dia bisa menikah dengan Sofyan, sampai akhirnya sang papa mertua tidak mengizinkan untuk bekerja lagi.
Rizky sendiri sudah lama mencari sekertaris, namun bergonta-ganti sebab belum menemukan yang cocok.
"Siang, Pak," sapa Hersa dengan sopan. "Ini calon sekertaris Bapak, kebetulan dia dari pagi menunggu Bapak datang," tambah Hersa seraya menoleh sebentar ke arah Fira.
Wanita itu mengulum senyum dengan mata berbinar. Sungguh dia merasa takjub melihat ketampanan Rizky, sudah tidak sabar rasanya untuk bisa menggaetnya.
'Ini bosku yang baru? Ini sih lebih muda dari Pak Steven. Nggak kalah ganteng juga dan pastinya ... nggak kalah tajir,' batin Fira.
"Siapa namamu?" tanya Rizky seraya menatap Fira dari ujung kaki hingga kepala.
Penampilan Fira yang begitu seksi itu membuat mata Rizky risih. Bukan dia tidak suka pada wanita seksi, tentu semua pria juga suka.
Namun, semenjak menikah dia menjadi suami yang setia dan mencoba menjaga pandangan. Dan disisi lain, istrinya, Nella, dia wanita yang cemburuan. Selain cemburuan dia juga terbilang galak.
"Nama saya Safira Ayunda, Pak," jawab Fira dengan sopan seraya mengulurkan tangannya ke arah meja. Meletakkan map coklat yang sejak tadi dia pegang. "Bapak bisa panggil saya Fira atau Adek."
__ADS_1
Rizky segera membuka map tersebut, lalu membaca riwayat kerja wanita itu. Fira tak menuliskan terakhir kerja adalah menjadi sekertarisnya Steven. Malu juga rasanya, jika resign dengan alasan dipecat. Sama saja menjatuhkan harga diri.
"Oke, mulai hari ini kamu masih tahap observasi dan diawasi oleh Hersa." Rizky menatap sebentar ke arah Fira, lalu beralih kepada Hersa.
"Masa observasinya berapa hari, Pak?"
"Seminggu. Tapi mulai besok dan seterusnya ... kamu nggak boleh pakai rok dan pakaian seksi. Harus pakai celana dan pakaianmu lebih tertutup."
"Memang kenapa, Pak? Bukannya seksi justru lebih menarik?" Fira mengedipkan matanya dengan genit.
Rizky yang melihatnya langsung tersenyum miring. "Aku nggak suka dengan wanita yang seksi selain istriku."
'Ck! Sombongnya! Nantinya kamu juga akan kepincut sama aku lama-lama, Pak, dan meninggalkan istrimu,' gerutu Fira kesal. 'Lagian, pasti cantikan aku daripada istrimu.'
"Kamu dengar nggak yang aku katakan tadi?" tanya Rizky dengan suara yang agak tinggi. Fira yang sejak tadi membatin di dalam hati itu sontak terperanjat.
"Ah iya, baik, Pak." Kepalanya mengangguk cepat.
"Kamu antar dia ke ruangnya, Sa. Lalu ajari." Rizky menatap Hersa.
"Baik, Pak." Hersa membungkuk sopan, lantas melangkah bersama Fira keluar dari ruangan itu.
***
Sudah masuk jam makan siang, Tian yang tengah berkutat dengan laptopnya itu cepat-cepat menyelesaikan tugas terakhir sebelum dirinya makan. Sebab kini, perutnya begitu keroncongan.
Setelah selesai, Tian pun melangkah keluar dari ruangannya, lalu menutup pintu.
"Siang Pak Tian, Bapak ingin makan siang?" tanya seorang pria yang seperti seumuran dengannya. Rambutnya kribo, namanya Ahmad. Dia adalah sekertarisnya Tian sekarang.
"Iya." Tian mengangguk sambil tersenyum.
"Mau saya belikan? Kebetulan saya mau beli di cafe depan, Pak."
"Nggak usah," tolak Tian lembut. "Aku mau makan di cafe saja."
"Oh, kalau begitu ayok bareng saja, Pak," ajak Ahmad. Tian pun mengangguk.
Mereka melangkah keluar bersama dari gedung pencakar langit itu, lalu menyebrang jalan ke arah cafe besar yang berada di depan.
Namun, langkah kaki Tian seketika terhenti sebelum masuk ke dalam pintu kaca. Sebab dia melihat, dari kejauhan ada seorang bocah laki-laki berseragam TK tengah ditarik-tarik oleh pria berjaket jeans untuk masuk ke dalam mobil hitam, yang terparkir di sisi jalan itu.
Meskipun dari kejauhan, namun wajah bocah itu dapat Tian kenali yakni mirip seperti Juna. Dan kebetulan, posisi kantor Rizky memang berdekatan dengan gedung sekolahan TK dan SD Negeri di sana.
'Itu Juna, kan? Pria itu mau ngapain? Apa jangan-jangan Juna mau diculik?' batin Tian cemas. Dia pun langsung berlari cepat menghampiri.
__ADS_1
...Ayok like sama komennya jangan lupa, tinggalin biar semangat. Hadiah sama vote juga, yang belum ngasih ayok kasih. Nggak boleh pelit, lho, nanti aku ngambek. Jadinya nggak up🤣...