
"Pak Steven, Nona Citra ada di dalam!" ujar Ajis dengan girang pada saat melihat Steven yang baru saja datang ke apartemen.
"Citra di dalam?" Mata Steven seketika berbinar. Dia pun langsung mengulum senyum dan cepat-cepat berlari masuk ke dalam sana seraya berteriak, "Citra!"
Steven langsung berlari menuju kamar karena sangking senangnya ingin bertemu Citra. Akan tetapi baru hendak handle pintu itu diturunkan, tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dan asalnya dari dapur.
Prang!
Cepat-cepat Steven pun berlari menuju dapur. Ada Citra di sana, dia memakai baju tidur labasan selutut berwarna pink tanpa lengan tengah berjongkok hendak memungut serpihan beling dari piring yang pecah.
"Jangan! Nanti tanganmu berdarah!" cegah Steven yang berlari menghampiri Citra. Segera dia menarik lengan gadis itu hingga tubuhnya berdiri dan secara tiba-tiba dia pun langsung memeluknya.
Hangat, terasa hangat sekali. Ada sebuah kerinduan di dalam hatinya. Perlahan Steven pun menciumi rambut kepala Citra yang semerbak harum mawar, rambutnya itu juga tampak basah seperti habis keramas.
"Citra, kamu ke mana saja? Aku mencari-carimu sampai ke ujung dunia," ujarnya dengan pelukan yang makin erat.
"Aku nggak ke mana-mana kok, Om," jawabnya sambil menggeleng.
__ADS_1
"Nggak ke mana apanya? Kamu pergi dari sini dan Gugun membawa semua barang-barangmu. Katanya kamu mencintaiku? Kok malah pergi, sih?" Steven perlahan melepaskan pelukannya, lalu menangkup pipi gadis itu seraya mendongakkan wajahnya. Mata mereka bertemu dan Steven langsung menggulum senyum.
"Aku ...."
Cup~
Ucapan Citra menggantung kala dengan cepat Steven memagut kasar bibirnya. Dia menekan kepala Citra dan memperdalam ciumannya.
Lidah Steven begitu lincah masuk ke dalam rongga mulut Cinta, lalu membelitkannya dengan lidah gadis itu.
Ciuman itu terasa panas dan bringas sekali, Citra hampir kehabisan napas kalau tidak cepat-cepat dia dorong dada bidang Steven. Perlahan dia pun menghirup oksigen dan mengatur napasnya naik turun.
Steven segera berlari mengejar Citra, lalu mengendong tubuhnya dan membawanya masuk ke dalam kamar. Dia rebahkan tubuh ramping istrinya lalu perlahan-lahan jemarinya yang begitu lincah melucuti semua pakaian di tubuhnya sendiri.
Steven sudah polos sempurna. Terpampang nyata kejantanannya yang begitu panjang dan berurat.
"Om mau ngapain?" Citra menarik selimut sampai di atas dada, tangannya menghalangi Steven yang hendak naik ke atas tubuhnya.
__ADS_1
"Aku ingin bercinta. Aku rindu, Cit. Aku menginginkannya." Steven menepis tangan Citra yang sejak tadi menopang dadanya, lalu cepat-cepat dia pun menghimpit tubuh Citra.
Namun, gadis itu seperti menolak dan enggan untuk menerima ajakan darinya. Sekuat tenaga dia mendorong dada Steven hingga bokong pria itu terhentak duduk di kasur. Segera Citra pun ikut duduk.
"Kenapa, Cit? Rasanya nggak akan sakit seperti saat pertama kita melakukannya. Kamu tenang saja, malah enak dan bikin nagih," bujuk Steven seraya mendekat. Mungkin menurutnya, Citra menolak karena dia takut jika nanti akan merasakan rasa sakit.
Kedua tangan Steven yang begitu nakal itu langsung menyentuh dada. Niatnya ingin meremmas dua gunung itu, tetapi tangan Citra menepisnya.
Gadis itu seolah tak menyukai setiap sentuhan yang Steven berikan. Aneh sekali—pikirnya. Kini, wajah imut Citra tampak cemberut, lalu menatap mata Steven dengan sengit.
"Kamu kenapa, sih?" Steven tampak heran sekali dengan raut wajahnya itu. Citra seperti sedang marah padanya.
"Kok Om pura-pura lupa setelah semua yang telah terjadi? Apa Om sama sekali nggak ngerasa salah?"
"Maafkan aku, Cit." Steven langsung menggenggam kedua tangan Citra, lalu menarik dan mengecup kedua punggung tangannya itu silih berganti. Jantungnya berdebar kencang dan rasa takut itu menyelimuti jiwanya. Dia takut jika nanti Citra akan pergi lagi dari apartemennya. "Maaf kalau hal yang aku lakukan selama ini membuatmu sedih. Tapi aku nggak mau kamu pergi meninggalkanku, Cit," pinta Steven dengan sendu. Bola matanya terlihat berkaca-kaca.
"Jadi sekarang Om pilih aku atau Safira?"
__ADS_1
...Ayok pilih siapa?...