
"Astaghfirullah! Apa yang kalian lakukan?!" Seorang wanita berjilbab berteriak menghampiri duel maut itu.
Juna langsung turun dari mobil Abi. Baim mematikan rekaman videonya dan menyimpan ponselnya di dalam kantong celana. Sedangkan Atta yang sejak tadi melompat-lompat berhenti seketika.
Ketiganya sama-sama terkejut lantaran orang tersebut adalah Ibu Kepsek. Mereka bertiga takut dimarahi.
Bu Kepsek memang selalu pulang terakhir demi mengontrol anak-anak muridnya. Khawatir kalau masih ada di kelas, sebab biasanya ruang kelas itu selalu dikunci jika sudah waktunya pulang.
Tian dan Abi masih saling mencekik satu sama lain. Entah apa yang dipikirkan keduanya, tetapi mereka masing-masing seperti tak ada yang mengalah. Padahal napas keduanya sama-sama diujung tanduk.
"Kenapa kalian diam saja? Ayok minta bantuan Pak Satpam untuk memisahkan mereka!" perintah Bu Kepsek pada ketiga bocah yang masih fokus memperhatikan dua orang yang berduel. Sontak ketiganya itu terperanjat kemudian berlari menuju gerbang. Sayangnya tak ada siapa-siapa di sana.
"Pak! Tolong!" teriak Juna entah kepada siapa, tetapi yang jelas siapa saja orang itu nantinya dapat menolong untuk memisahkan Tian dan Abi.
Sejujurnya, dia tidak sepenuh hati berniat memisahkan mereka berdua. Sebab masih penasaran dengan siapakah yang akan menang.
Namun, perintah dari Ibu Kepala Sekolah tentu tak bisa dia tolak. Selain Gisel, wanita itu paling Juna dan teman-teman hormati.
"Tolong! Tolong!" Baim dan Atta menyeru secara bersamaan.
Tak lama, sopir pribadi Nissa berlari menghampiri. Dia datang bersama Tian tadi dan pamit sebentar ingin membeli pulsa ke konter yang berada tak jauh dari sekolah.
"Ada apa, Dek Juna?" tanya pria itu.
"Itu, Papi Tian dan Papi Abi lagi berantem, Om! Tolong mereka!" seru Juna memberitahu. Pria bernama Joni itu langsung membulatkan matanya, kaget mendengar apa yang Juna katakan.
"Di mana mereka?" tanyanya panik.
"Di sini!" Juna langsung berlari dengan kedua temannya. Joni ikut menyusul.
Mereka berempat langsung menghentikan langkahnya di depan Bu Kepsek. Sudah ada dua satpam penjaga gerbang di sana dan segera menghentikan aksi duel itu.
Kedua satpam tadi sempat berada di toilet, yang satu berak dan yang satu tak tahan ingin buang air kecil. Jadi sempat meninggalkan gerbang.
Keduanya lantas menarik lengan Tian, sebab pria itu lah yang menindih perut Abi. Tubuh Tian seketika tertarik hingga berdiri dan saat itu pula aksi cekik mencekik itu usai.
"Uhuk! Uhuk!" Tian tersendak. Juna pun langsung membuka tas ranselnya, kemudian memberikan botol air minum kepada sang Papi dan segera dia minum.
Kedua satpam beralih ingin membantu Abi bangkit, tetapi sayangnya pria itu keburu pingsan lantaran sesak napas.
__ADS_1
Bukannya panik, Juna dan kedua temannya itu justru senang melihat apa yang telah terjadi. Bukan berarti mereka bahagia Abi pingsan, melainkan dengan begituāsudah terbukti jika Tian lah yang menang. Sebab dia tak pingsan seperti Abi.
"Papi Tian memang jagoan! Juna sayang Papi!" seru Juna berjingkrak dan langsung memeluk tubuh Tian. Kedua temannya pun tak segan ikut memeluk.
"Bagaimana ini, Bu? Pak Abi pingsan?" tanya salah satu Satpam kepada Bu Kepsek.
"Masukkan ke mobilku, Pak. Biar sopir istriku yang mengantarkannya ke rumah sakit," ujar Tian sambil menyentuh lehernya yang terasa nyeri.
Kedua satpam itu mengangguk kemudian memasukkan pria itu ke kursi belakang mobil Tian. Joni pun segera masuk ke dalam kursi kemudi.
"Bawa ke rumah sakit cepat, Pak! Saya akan menyusul naik taksi!" titah Tian. Joni pun mengangguk.
Sebelum mobil itu dia lajukan, Bu Kepsek sudah masuk ke kursi di sampingnya. Menurutnya sendiri, dia perlu ikut. Supaya bisa menghubungi pihak keluarga Abi.
"Ayok kalian ikut Papi, kita menyusul naik taksi," ajak Tian pada ketiga bocah itu. Tidak mungkin rasanya dia mengemudi. Sebab kepalanya terasa sakit sekali.
Bukan hanya sakit akibat benjol di kepala belakang, tetapi tonjokan di pipi kanan dan kiri juga. Ditambah dengan perut dan lehernya yang ikut sakit.
Ada untungnya sebenarnya tadi satpam datang untuk menghentikan aksi mereka. Sebab memang Tian hampir kehabisan oksigen.
*
*
Pria itu memejamkan matanya, lalu menyandarkan kepala dan punggungnya pada penyangga kursi.
"Kenapa kita ke rumah sakit, Pi? Harusnya pulang saja," ucap Juna yang tampak tak setuju. Jika mereka harus menyusul Abi.
"Papimu 'kan pingsan itu, Jun. Kita harus ke sana. Papi juga mau sekalian berobat, wajah Papi kebas dan kepala Papi sakit banget," kata Tian pelan.
Juna membalik posisi duduknya untuk saling berhadapan. Kemudian mengambil minyak angin di dalam tas lalu menuangkannya pada telapak tangan. Setelah itu dia baluri dahi sang Papi.
Menurutnya, dengan begitu akan meredakan rasa sakitnya. Atta dan Baim yang melihatnya tidak tinggal diam. Keduanya pun langsung meraih lengan Tian seraya memijatnya perlahan.
Walau pun apa yang mereka lakukan adalah asal, tetapi itu bentuk rasa antusiasnya karena Tian sudah berhasil menang.
"Maafin Juna ya, Pi. Gara-gara Juna Papi bonyok begini." Juna meringis sembari menatap kedua pipi Tian yang membiru. Leher pria itu juga lebam.
"Ini bukan salahmu, Jun. Tapi salah Papi yang terbawa emosi. Kamu, Atta atau Baim jangan pernah meniru dengan apa yang Papi dan Papimu lakukan tadi, ya? Berkelahi nggak akan bisa menyelesaikan masalah." Mata Tian masih terpejam. Dia menikmati sentuhan dari tangan ketiga bocah yang masih menyentuhnya itu.
__ADS_1
"Nggak akan, Pi. Juna janji," ucap Juna.
"Aku juga janji, Pi!" seru Atta dan Baim berbarengan. Mereka jadi ikut-ikutan memanggil Tian dengan sebutan Papi.
***
Di rumah sakit.
"Gimana temen-temen, hebat 'kan Papiku?" tanya Juna yang berdiri di pintu ruang pemeriksaan bersama teman-temannya. Tian sudah berada di dalam sana, tengah diperiksa oleh dokter umum.
"Iya, hebat, Jun," jawab Baim lalu menepuk pundak temannya.
"Nggak sia-sia kita dukung Papi Tian, ya. Kamu pintar cari Papi baru, Jun," tambah Atta memuji. Wajah Juna tampak merona sekali.
"Iya dong. Ini 'kan berkat kalian juga yang membantuku."
"Bantu apa? Do'a?" tebak Baim.
Juna mengangguk lalu mengulum senyum. "Selain itu aku juga ikutin saran Atta yang pura-pura kejang-kejang. Ternyata bener, hati Opa luluh untuk mengizinkan Papi Tian menjadi Papiku. Dia memang sayang padaku."
"Bagus deh," jawab Atta. "Usulanku mah nggak pernah gagal.
"Kita ke IGD yuk, Jun, Ta, sambil nunggu Papi Tian keluar diperiksa," ajak Baim.
"Mau ngapain?" tanya Juna
"Lihat keadaan mantan Papimu yang payah itu. Dia pasti dibawa ke sana sama Bu Kepsek."
"Nggak ah. Biarkan saja." Juna menggeleng tak peduli kemudian duduk kursi panjang yang berada di depan ruangan itu.
"Eh, tapi kalau mantan Papimu mati gimana, Jun?" tanya Atta yang menghampiri Juna, kemudian duduk di sebelahnya. Begitu pun dengan Baim.
"Mati kenapa?" tanya Juna.
"Ya gara-gara dicekik Papi Tian. Kan mereka duel saling cekik mencekik."
"Nggak mungkin lah, Papi Tian saja baik-baik saja. Dan lagian, orang jahat itu nggak akan cepat mati, Ta," jawab Juna dengan yakin.
...Oh, jadi mantan Papimu orang jahat gitu ya, Jun š¤£...
__ADS_1