
Setelah Steven menghilang dari dapur, sekarang Angga datang lagi. Matanya sontak melotot kala melihat air di dalam gelas itu habis, juga dengan satu pisang yang tak ada.
Pisang masih aman, sebab buah itu tidak diapa-apakan Angga. Hanya saja air yang membuatnya khawatir.
"Dih, kok airnya malah diminum? Papa 'kan bilang jangan diminum."
Dua perempuan yang tengah mencuci tangan itu langsung menoleh, lalu menghampiri Angga.
"Aku nggak minum air itu, Pa," ucap Citra.
"Mama juga nggak minum." Sindi menyahut.
"Terus kok ini habis, oh ... apa Bibi yang minum, ya?" tebak Angga sembari menatap pembantu rumah tangganya yang baru saja datang, dengan membawa beberapa kantong belanjaan.
"Apaan, Pak? Bibi baru pulang belanja."
"Pasti Steven deh yang minum." Sindi menebak. "Ya sudah sih, cuma air doang. Repot bener."
"Masalahnya itu air kran, Ma. Terus dicampur obat per*ngsang burung."
"Mama baru denger ada obat per*ngsang burung."
"Aku cek ke kamar deh, Ma, Pa, semoga Om Ganteng baik-baik saja." Citra berlalu pergi, melangkah cepat menaiki anak tangga.
"Papa ada-ada aja deh, kenapa harus pakai obat per*ngsang segala? Itu berarti Steven kena efeknya dong. Kasihan lah, Citranya," omel Sindi.
"Semoga saja nggak ada efeknya. Steven 'kan bukan burung, Ma."
"Itu si Bejo, bukan burung saja keracunan bisa masuk rumah sakit, sampai sempat koma untung nggak mati."
"Ya semoga aja Steven mah enggak, dia baik-baik saja. Kalau pun efeknya birahinya lebih besar nggak apa-apa lah. Biar puas dia." Angga tak mau ambil pusing, segera dia pun mengambil air kran lagi dan mencampurkannya dengan obat tersebut.
*
Tok ... Tok ... Tok.
Citra mengetuk pintu kamar mandi, lalu memutar handle pintu. Namun dikunci dari dalam.
"Om, kok dikunci? Ayok mandi bareng. Aku sudah selesai masak," ucapnya.
__ADS_1
"Perutku sakit, Cit. Aku berak dulu!" pekik Steven.
*
*
Angga melangkah menuju sangkar burung yang berada di dekat pos satpam. Di sana ada Dono dan Bejo.
Pria kurus itu baru saja keluar dari rumah sakit tadi pagi. Angga sendiri tak menyuruhnya langsung kerja, boleh saja kalau masih mau istirahat.
Namun, Bejo tak mau. Dia memilih kerja sebab takut para istrinya ngamuk. Dia juga sebenernya belum sempat bertemu dengan istri muda, sedangkan Susi memintanya untuk menceraikan Yuna.
Bejo bingung. Dia mencintainya, tetapi kalau tidak diceraikan—justru Susi yang minta cerai. Mungkin dengan bekerja, dia bisa sambil merenungkan semuanya. Membandingkan siapa yang terbaik yang harus dipilih.
"Papa kenapa Janet ada di kandang saya? Dan kenapa saya dimasukkan ke kandang? Ini masih sore, Papa!" ucap Kevin yang kini berada di dalam satu sangkar bersama Janet namun menjaga jarak.
Setahu Kevin, Angga, Bejo atau pun Dono, mereka biasanya memasukkan dirinya ke dalam sangkar jika malam hari dan ingin tidur. Kalau masih dijam-jam sore begitu mah dia masih sibuk berkeliaran.
Angga menatap Janet. Burung betina itu sejak tadi menggoyangkan tubuhnya, seolah senang berada dalam satu atap dengan Kevin.
"Nggak apa-apa. Kamu 'kan habis sakit tadi, jadi istirahat." Angga membuka pintu sangkar, lalu meletakkan potongan buah pisang ke dalam mangkuk kecil, tempat makannya. Lalu menuangkan air minum yang mengandung obat ke dalam tempat minumnya. "Makan ini dan minum yang banyak, biar sehat. Ada vitaminnya," kata Angga pada Kevin.
"Jangan pelit, makannya bagi-bagi!" tegur Angga. "Kalau air minumnya beda nggak apa-apa. Janet jangan minum itu, soalnya ada obat untuk jantan." Angga meletakkan kembali satu tempat minum tanpa obat, untuk Janet yang berada di sisi kiri.
Sebenarnya tak masalah Janet juga minum, namun takutnya Kevin yang justru tidak minum. Kasihan Janetnya nanti. Dia sudah kebelet kawin lalu terangsang, tapi nggak ada lawan. Bisa tersiksa dong.
Burung betina itu mengangguk, lalu segera minum secara perlahan, Kevin meliriknya sebentar lalu makan pisang.
"Nanti Janet di kasih pisangnya, Vin. Kalau nggak dikasih besok Papa nggak akan membelikanmu jagung. Katanya kamu mau jagung bakar."
Angga melangkah masuk ke dalam pos satpam, di dalam sana ada Bejo yang tengah melamun. Dia pun segera menepuk paha kirinya dan membuat Bejo tersentak kaget.
"Sore-sore ngelamun! Nanti gila, lho!" tegur Angga.
"Ah maaf, Pak. Saya hanya sedang pusing."
"Pusing kenapa?" Angga duduk di kursi kosong sembari menatap Kevin dan Janet dari jendela pos yang terbuka. Rasanya dia ingin menyaksikan burung itu belah duren.
"Menurut Bapak, saya harus ceraikan Susi atau Yuna?"
__ADS_1
"Lha, ngapain tanya padaku? Dan lagian kenapa juga kamu menceraikan mereka?"
"Susi marah sama saya, karena awalnya saya nggak jujur kalau punya istri lagi. Tapi dia meminta saya untuk memilih, antara menceraikan Yuna atau bercerai dengannya," kata Bejo dengan penuh kebimbangan.
Angga menoleh, lalu menatap Bejo dengan serius. Wajah dan tubuh pria itu makin kurus saja. Sepertinya sekarang apa yang dikatakan Angga tentang Bejo kurus kering itu menjadi kenyataan.
"Ya sudah pilih saja, mana yang menurutmu baik."
"Semuanya baik menurut saya, Pak."
"Kalau menurutku sih, mending kamu pilih Susi."
"Kenapa?"
"Ya 'kan dia wanita yang pertama menikah denganmu. Sudah lama mengenalmu juga. Kalau Yuna itu baru-baru, kan?" tebak Angga.
"Iya, sih, tapi saya juga mencintai Yuna. Bahkan lebih mencintainya daripada Susi. Tapi saya takut salah pilih."
"Mending sholat istikharah saja," saran Angga. Bingung juga memberikan saran apa lagi. Mungkin memang bertanya pada sang pencipta adalah jalan satu-satunya.
"Kevin! Kapan kita kawin?" tanya Janet yang mana membuat Angga menoleh. Pria tua itu pun langsung merogoh ponselnya ketika melihat Kevin tengah minum, dia merekam video. Ingin mengabadikan burung itu kawin.
'Yes! Dia minum akhirnya. Semoga cepat ter*ngsang si Kevin,' batin Angga.
"Saya tidak mau! Berhenti bilang kawin! Saya tidak suka!" tekan Kevin lalu beringsut mundur, membiarkan Janet makan sisa pisangnya.
Janet berdiri di belakangnya, lalu mulai mematuk potongan pisang yang setengah hancur itu. Namun sejak tadi bokongnya tak bisa diam, terus bergoyang sana sini. Lagi-lagi seperti memberikan kode.
"Ayoklah, Vin. Cepat belah durennya, Papa nggak sabar nih!" gumam Angga yang masih merekam video. Dilihat Kevin tengah menatap bokong Janet sambil menelan saliva.
Mendadak, seluruh tubuh Kevin terasa menegang. Dadanya terlihat naik turun mengatur napasnya.
Sepertinya, obat itu sudah mulai bereaksi, apalagi ditambah melihat bokong di depan mata.
Kepala Kevin langsung menoleh ke kanan dan kiri, melihat situasi. Tidak ada siapa-siapa yang dia lihat. Perlahan kakinya mulai melangkah ke arah Janet, sedikit lagi tubuh keduanya hampir menempel. Namun seketika langkahnya berhenti lantaran seseorang berlari cepat menuju pos satpam dan mengagetkannya.
"Papa! Tolong antarkan si Steven ke rumah sakit! Dia kena mencret!" titah Sindi.
...Ish! Mama Sindi ganggu aja! Orang mau lihat Kevin belah duren. Nggak jadi kan 🙈...
__ADS_1