
"Gadis siapa yang kita culik?" tanya Aldi.
"Ya siapa saja. Oh, bagaimana kalau anak kampus saja. Kan banyak tuh cewek-cewek cantik. Kita pilih di antara mereka. Tapi culiknya satu-satu dulu, jangan sekaligus dua," kata Ali memberikan ide.
"Tapi masalahnya, kalau habis kita culik ... mereka kira-kira mau sama kita nggak, Al? Kan kamu tahu sendiri, cewek itu maunya sama yang kaya dan ganteng. Kita nggak punya keduanya." Aldi menggeleng samar. Dia mengakui bahwa dirinya tak sempurna.
"Kalau masalah harta bisa dicari, Di. Dan masalah tampang ... kita nggak jelek-jelek amat. Malah kasep kalau kata orang sunda mah. Coba sini!" Ali menarik lengan temannya ke arah mobil tepat di dekat spion. Mungkin niatnya, dia sengaja mengajak Aldi bercermin supaya temannya itu mengakui kalau mereka punya tampang yang cukup tampan, meskipun belum di akui dunia.
Namun, saat keduanya bercermin pada spion itu—mereka malah berlonjak kaget menatap wajahnya sendiri.
"Astaga! Jelek sekali aku, Di. Komedo di mana-mana." Ali menyentuh hidung mancungnya, tempat yang paling banyak diserang komedi. "Pori-poriku juga gede banget udah kaya sumur."
"Iya, apalagi wajahku," kata Aldi. Temannya pun langsung menoleh dan menatapnya. Seketika dia terbelalak.
"Ya ampun, kamu ternyata berjerawat. Aku baru tahu. Coba aku hitung. Satu, dua, tiga. Empat sama yang belum jadi." Ali dengan serius menghitung jerawat yang ada di pipi dan dagu Aldi. Jerawatnya kecil-kecil, tetapi terlihat.
"Iya, jangan lupakan kulit kita juga, Al. Hitam," kata Aldi. Dia langsung menatap lengannya, begitu pun Ali. Mereka memang hitam, tapi hitam manis.
"Sepertinya kita harus pergi ke klinik deh."
"Ngapain ke klinik? Memang sakit?" Kening Aldi mengerenyit.
"Ke klinik kecantikan maksudnya."
"Mau ngapain? Kamu mau kita jadi cantik?"
"Dih, bukan." Ali menggeleng cepat. "Kita 'kan cowok, masa cantik. Ya kita gantenglah. Klinik kecantikan itu buat pria dan wanita, Di."
"Oh, memang kamu bisa jamin ... kalau kita ke sana bisa berubah jadi ganteng?"
"Yakin, asal kuat duitnya. Besok kita pergi ke sana, aku mau perawatan wajah dan suntik putih." Ali membuka pintu mobilnya, lalu masuk ke dalam. Aldi ikut menyusul.
"Dih, besok 'kan kita harus mengawasi perempuan, Al. Bagaimana dong?"
"Ah, iya juga, ya. Mana sudah dikasih DP." Ali mengangguk-ngangguk. "Ya sudah, nanti saja kalau habis mengawasi dia. Sementara kita perawatan di rumah dulu."
"Caranya?"
__ADS_1
"Maskeran setiap malam dan luluran. Nanti aku pesan masker wajah dan lulur terbagus di online.
"Oke." Aldi mengangguk, lantas dia pun menyalakan mesin mobil dan mengemudi.
...****************...
Setelah menghabiskan waktu 2 jam lebih, akhirnya proses fitting baju selesai. Sebenarnya banyak sekali yang cocok dipakai Citra, mengingat tubuhnya juga ramping dan cukup proporsional. Akan tetapi Steven yang terlalu ribet untuk memilih.
"Kamu pulang saja duluan, Stev. Dan nggak usah tunggu Mama dan Citra pulang," kata Sindi sambil melangkah keluar dari butik itu sama-sama.
"Lho, memang kenapa?" Kening Steven mengerenyit.
"Mama sudah booking salon spa. Rencana Mama dan Citra mau ke sana."
"Ngapain ke spa malem-malem? Mending pulang dan bercin—” Ucapan Steven menggantung kala dengan cepat bibirnya ditampar oleh Sindi.
"Kamu perlu dirukiah kayaknya. Isi otakmu nggak jauh-jauh dari situ!" gerutu Sindi marah. "Mama sama Citra mau perawatan tubuh dan wajah, apalagi Citra. Dia 'kan besok jadi pengantin. Biar dia fresh. Wajahnya nanti makin cantik dan bercahaya, kan kamu juga yang nantinya seneng." Sindi mengajak Citra masuk ke dalam mobilnya Bejo. Mereka berdua kini sudah duduk di kursi belakang.
"Oh, ya sudah deh. Pulang jam berapa nanti?"
"Mama dan Citra mau menginap."
"Sudah sih jangan banyak protes. Yang penting pestamu lancar." Sindi menutup pintu mobil. Cepat-cepat Steven menyembulkan kepalanya ke dalam jendela mobil yang terbuka.
"Tapi Mama besok pesankan aku kamar hotel untuk malam pertama, ya? Pokoknya kamarnya yang paling atas. Biar bisa lihat bintang," pinta Steven.
"Malam pertama apanya? Memang kamu dan Citra belum pernah bercinta? Bukannya sudah sering?"
"Baru dua kali. Eh, empat sama dimimpi. Tapi malam ini belum."
"Ya sudah, nanti Mama pesankan kamar untuk kalian." Padahal sebelum diminta, Sindi juga sudah memesan untuk mereka.
"Jangan lupa dekorasinya juga. Aku mau dikamarku nanti di atas kasurnya banyak kelopak bunga mawar dan wangi. Di dekat tembok banyak lilin. Lampunya kelap kelip dan jangan lupa kasurnya tahan banting."
"Iya, iya. Ayok jalan, Jo!" perintah Sindi pada Bejo. Steven langsung memundurkan tubuhnya dari mobil, lalu tak lama mobil itu melaju meninggalkannya.
"Eh, aku lupa minta Mama belikan Citra baju tidur yang seksi itu. Apa, ya, namanya?" Steven cepat-cepat mengambil ponselnya di dalam saku jas, lalu mengirim pesan.
__ADS_1
[Ma, belikan juga baju tidur untuk Citra. Modelnya yang seksi, tipis dan bolong-bolong. Apa namanya kira-kira? Tapi Mama pasti tahu 'kan, ya?]
[Belinya jangan satu, tapi sepuluh. Tapi modelnya beda-beda dan warnanya juga. Jangan lupa dicuci dulu. Pokoknya ... pas malam pertama, baju itu sudah ada di lemari kamarku.]
Dua pesan terkirim dan telah dibaca. Tetapi balasan Sindi hanya 'Y' doang. Sungguh menyebalkan.
"Ah, aku nggak sabar tunggu besok. Apakah ini yang dinamakan menjadi ratu dan raja sehari? Sepertinya iya." Steven tersenyum lebar dengan hati yang berbunga-bunga. Bahkan sampai loncat-loncat karena sangking senangnya. "Aku juga sudah nggak sabar mau lihat bintang iri!"
"Ada orang gila! Ada orang gila!" seru seseorang. Namun, Steven dapat mengenal dia siapa. Cepat-cepat dia pun masuk ke dalam mobil dan mencari burung itu. Sayangnya dia tidak ada.
"Kemana kau Kakatua gila? Aku akan mencekikmu!" ancam Steven marah. "Songgong banget, ya, punya mulut. Apa kau nggak pernah di sekolahin?"
Hening!
Tak ada jawaban sama sekali, sampai akhirnya Jarwo melajukan mobilnya.
...****************...
Keesokan harinya.
Hari itu telah tiba, yakni pesta pernikahan Steven dan Citra. Pesta itu diadakan di gedung hotel bintang lima.
Sekarang, pria tampan itu tengah duduk di depan meja rias sambil menatap wajahnya pada cermin besar. Dia memakai setelan jas berwarna hitam dengan dasi kupu-kupu yang melingkar di lehernya.
Terlihat tampan dan gagah, apa lagi ketika dia tersenyum. Begitu menawan sekali.
Tok ... tok ... tok.
Ruang make up diketuk dari luar, lalu tak lama terdengar seseorang menyeru.
"Stev! Ayok keluar! Istrimu sudah jadi bidadari!"
Suara itu milik Sindi. Steven langsung bangkit dari duduknya, lalu berjalan cepat membuka pintu. Ruangan untuk pengantin pria dan wanita memang terpisah. Dan Steven yang sudah selesai duluan tengah menunggu Citra dari tadi.
"Di mana Citra, Ma?" tanya Steven kepada Sindi. Sang Mama mengenakan kebaya putih, memakai full make up dan tampak cantik meskipun umurnya sudah tak lagi muda.
"Itu dia." Sindi menunjuk pada kejauhan, seorang gadis cantik bak bidadari itu tengah melangkah dengan perlahan menghampirinya sembari memegang buket bunga.
__ADS_1
...Pasti makin meleleh ya, Om? 😆...