
"Apa Bapak mau pulang?" tanya Fira saat melihat Steven keluar dari ruangannya, dia pun berjalan menghampiri.
Steven mengangguk. "Iya, hari ini aku mau pulang siang, ada urusan."
"Saya mau ikut Bapak, ya? Saya juga mau menjenguk Om Angga."
"Om Angga?" Kening Steven mengerenyit. "Papaku maksudnya?"
"Iya, kata Tante Sindi, Om Angga kecelakaan."
Steven langsung terbelalak, dia pun segera berlari masuk ke dalam lift. Fira juga melakukan hal yang sama yakni mengikuti Steven hingga akhirnya mereka berdua berada di dalam mobil.
"Kecelakaan? Kok bisa? Tapi Mama nggak bilang apa-apa." Wajah Steven tampak khawatir, jantungnya tiba-tiba berdegup kencang.
"Tante Sindi bilang keserempet motor, Pak. Dan dijambret juga."
'Ah keterlaluan sekali Mama, kenapa Mama nggak memberitahuku?' batin Steven kesal.
"Pak, kita beli buah dulu sebentar ke mini market." Fira menunjuk mini market depan dan segera Steven menghentikan mobilnya.
"Ini uangnya." Steven merogoh kantong celana untuk mengambil dompet, tetapi gadis itu segera menggeleng.
"Nggak usah, Pak. Saya juga ada uang. Om Angga suka buah apa? Saya takut salah beli."
"Belikan buah naga sama pisang saja."
"Oke." Fira turun dari mobil sambil tersenyum manis, dia pun langsung berlalu pergi.
Steven menatap ponselnya untuk melihat jam, jam itu sudah menunjukkan waktu dimana Citra pulang kuliah dan dia juga ingat kalau gadis itu ingin pergi ke mall. Tetapi sepertinya Steven tidak bisa mengantarnya. Jalan ninja Steven adalah menghubungi Gugun.
"Gun, aku nggak jadi jemput Citra. Kamu jemput dia terus antar ke mall. Tapi ajak juga temannya yang bernama Lusi. Terus antarkan juga dia ke kursus memasak, dia bilang ingin bisa memasak," terang Steven.
"Memang Bapaknya kenapa? Nanti kalau Nona Citra tanya bagaimana?"
"Bilang saja aku ada meeting."
"Oh ya sudah."
Setelah panggilan itu terputus, Fira pun kembali dengan membawa kantong belanjaan berwarna putih. Dia juga memberikan minuman dingin kepada Steven.
__ADS_1
"Minum dulu, Pak. Biar nggak terlalu panik."
Steven mengambil minuman itu dan melihat kemasan yang ternyata ada jus mangga, segera dia pun menenggaknya sampai habis.
"Terima kasih, Fir."
"Sama-sama." Fira tersenyum. "Ah tunggu sebentar ...." Fira mengambil secarik tissue lalu tiba-tiba mengusap dahi Steven yang berkeringat. Pria tampan itu agak terkejut sebenarnya, tetapi dia tampak diam saja sambil memperhatikan wajah Fira lebih dekat. Gadis itu memakai full make up, begitu cantik apa lagi dengan bulu matanya yang lentik. Steven juga dapat mencium aroma tubuhnya.
'Ternyata Fira sangat cantik, dia benar-benar wanita sempurna. Wanita idamanku,' batin Steven sambil mengulas senyum.
"Maaf ya, Pak. Kalau saya nggak sopan." Fira langsung menjauhkan tubuhnya, merasa malu sebab tadi jarak mereka begitu dekat. Dia pun langsung duduk rapih di samping Steven.
"Iya, nggak apa-apa." Steven mengangguk lalu tersenyum. Kemudian mobil itu melaju sampai tujuan.
***
"Ada angin apa bontot Mama datang ke rumah?" tanya Sindi dengan suara mengejek saat melihat Steven datang. Tetapi dia langsung menghamburkan pelukan pada Fira. Sengaja Sindi mengatakan hal itu sebab Steven sudah lama sekali tak mengunjungi orang tuanya. "Kamu bawa apa itu, Fir?"
"Buah untuk Om, Tante." Fira tersenyum.
"Mama kok nggak ngasih tahu Papa kecelakaan? Jahat banget." Steven mendengkus kesal. Dia pun langsung berlari menaiki anak tangga, kemudian disusul oleh Sindi dan Fira.
Pintu kamar itu dibuka, dilihat Angga tengah berbaring di atas tempat tidur sambil karaokean.
Melihat anaknya datang, Angga segera mematikan lagu, lalu menaruh mic ke bawah bantal. Dia pun menatap Steven yang berjalan menghampirinya.
"Papa katanya kecelakaan? Kok malah karokean?" tanya Steven kesal seraya duduk di atas kasur di samping Angga, dia pun memperhatikan tubuh sang papa yang diperban.
"Lha, memang salah? Papa 'kan memang suka karaokean, Stev."
"Tapi lagi sakit, ngapain nyanyi-nyanyi? Mana suaranya fales. Mending istirahat saja."
Sedari dulu Angga memang suka karaokean, selain untuk mengatasi kejenuhannya, itu memang hobbynya sedari muda. Akan tetapi, Steven sangat tak menyukai hal itu. Sebab mendengar suaranya nyanyi membuat telinganya sakit.
"Apaan sih kamu, Papa ini jebolan bintang Pantura tahu nggak?" ujar Angga marah.
"Bintang Pantura apaan? Pas audisi Papa pingsan gara-gara mabok bertemu orang banyak," cibir Steven. Dia tentu ingat momen itu sebab dia yang ikut mengantarnya.
"Kamu ini datang ke sini cuma mau ngomel?" tanya Sindi. Dia duduk di sofa bersama Fira.
__ADS_1
"Masa mau ngomel? Ya lihat keadaan Papa, Ma. Mama ini aneh banget." Steven menatap Sindi dengan wajah kesal. "Mama juga kenapa nggak ngasih tahu aku? Kenapa malah ngasih tahunya Fira?"
"Mama sengaja, biar kamu ke sininya sama Fira."
"Papa nggak apa-apa kok, tadi cuma keserempet motor doang gara-gara dijambret," kata Angga seraya menyentuh punggung tangan Steven. Anak bungsunya itu langsung menoleh ke arahnya. "Tapi untungnya Papa ketemu Dedek Gemes, dia yang nolongin Papa dan antarkan Papa ke rumah sakit."
"Dedek Gemes?" Dahi Steven mengerenyit. "Siapa Dedek Gemes?"
"Seorang gadis, cantik anaknya. Imut-imut lagi. Siapa ya namanya ...." Angga terdiam sembari mengingat-ingat. Ah, kadang dia sudah mulai pikun, untuk mengingat sesuatu hal terasa sulit. Padahal kejadiannya belum lama.
"Cicit," sahut Sindi memberitahu. Yang dia dengar pada saat Angga pulang hanya nama itu yang diucapkan.
"Ya ... namanya Cicit, Stev," ujar Angga dengan mata berbinar.
"Namanya Cicit? Kayak nama burung saja."
"Iya ya kayak nama burung." Angga terkekeh ketika sadar memang itu nama salat satu burung. "Tapi kata Papa namanya cantik, kayak orangnya. Papa mau dia jadi menantu Papa, Stev."
"Papa ini ngomong apa, sih?" Sindi menyahut dengan suara ketus. Memang saat datang suaminya itu sudah ngelantur, mengatakan kalau dia ingin gadis itu menjadi menantunya sebab merasa suka pada pandangan pertama. Sindi juga merasa tak enak pada Fira, jelas Fira adalah menantu idamannya. "Ada Fira lho, Pa. Kan dia yang menjadi menantu kita." Sindi menoleh pada Fira, gadis itu hanya tersenyum tipis.
"Ah Mama, Papa hanya bercanda kok. Iya, Fira menantu kita." Angga tersenyum menatap Fira, hatinya merasa tak enak. "Tapi kapan kalian menikah?" Angga beralih menatap Steven. "Kapan kamu siapnya, Stev? Uban Papa sudah banyak banget nih, kamu nggak kasihan apa? Nanti Papa yang ada disebut buyut sama anakmu."
"Aku—”
"Bulan depan Steven menikah," sela Sindi cepat yang mana membuat Steven menoleh.
"Dih, Mama apaan, sih?"
"Kan kamu sudah meminta waktu sama Mama untuk mengenalkan calon istri. Sudah sejak sebulan yang lalu lho, malah lebih."
"Tapi 'kan perjanjiannya 3 bulan, Ma."
"Ngapain nunggu tiga bulan? Sedangkan jodohmu sudah di depan mata. Kamu nggak usah mengulur waktu. Nanti berkarat," cerocos Sindi kesal, dia pun kemudian mengajak Fira keluar dari kamar itu.
Angga menatap wajah Steven yang mendadak muram dan frustasi. Pria itu juga mengacak rambutnya kasar.
Perlahan Angga mengulurkan tangannya ke arah bahu kiri Steven, kemudian mengusapnya dengan lembut.
"Kamu kenapa sulit sekali untuk menikah, Stev? Kalau nggak suka sama Fira 'kan bisa cari yang lain. Masa sih perempuan diluar sana nggak ada yang mau sama kamu?" tanyanya dengan lembut.
__ADS_1
...Jawab Om, jangan diem-diem bae. Kalau mau nikah sama Fira ya ceraikan Citra, kalau mau sama Citra ya jujur 😠...