Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
157. Biar aku yang jaga lilin


__ADS_3

"Aku mau beli baju! Mas budeg, ya?" berangnya marah. Fira menatap tajam pada Tian yang mengemudi.


Tian membuang napasnya dengan berat. "Aku dengar, Fir."


"Kalau dengar kok diam saja? Jadi bagaimana sekarang? Aku mau beli baju, Mas."


"Kamu bisa beli baju. Tapi yang harganya sejuta saja, jangan yang mahal-mahal."


"Enak saja yang sejuta. Aku kepengen yang lima juta! Baju itu rencananya mau buat acara reunian kampus. Aku mau pamer ke temen-temenku, Mas." Fira mengepalkan kedua tangannya. Geram dengan keadaan.


"Nggak usah pakai pamer-pamer segala, sih. Dan lagian ... kamu itu udah cantik. Pakai baju apa pun pasti terlihat oke. Orang nggak akan ada yang tahu kamu pakai baju seharga berapa," jelas Tian dengan lembut. Dia mengelus puncak rambut istrinya. Namun dengan cepat perempuan itu menepis.


"Kata siapa? Teman-temanku tahu semua jenis merek dan bahan. Aku juga nggak bisa pakai baju murah, gatel-gatel badanku, Mas!"


"Tapi mau bagaimana lagi? Kevin hanya laku sejuta, Fir," ujarnya frustasi.


"Itu Masnya aja yang bodoh. Kan Mas yang jual, masa kalah sama yang nawar."


"Ya kamu nggak bantuin aku. Harusnya bantuin dong. Tawar menawar 'kan keahlian wanita."


"Mana berani aku nawar sama Tante Sindi." Fira mencebik bibirnya.


"Ya sudah, kalau nggak berani ya terima keadaan saja."


"Nggak mau." Fira menggeleng cepat. "Aku mau Mas usahakan duit untuk membeli baju sampai sore. Hutang kek sama Kakak Mas, atau ke bank," usulnya.


"Kak Tegar mana ngasih, aku punya hutang sudah banyak padanya dan itu belum aku bayar sepeserpun."


"Berapa hutangnya?"


"600 juta."


Mata Fira langsung melotot. "Gede amat. Buat apa duit segitu?"


"Buat beli gelang untukmu. Tapi kamu dengan tega menjualnya." Tian mendengkus kesal. Dia tahu gelang itu dijual, sebab anak buahnya memang mengikuti Fira saat perempuan itu pergi ke Mbah Yahya. "Lagian kamu juga, ngapain pergi ke Dukun, sih? Kalau mau kaya ya kerja, Fir. Nggak ada sejarah orang pergi ke dukun bisa kaya," tambahnya.


Dan, Fira waktu itu memberikan alasan dirinya menjual gelang karena ingin kaya dan meminta bantuan dukun. Hanya saja Fira menambahkan kalau dukun itu tak ada, jadi rencananya urung terlaksana.


'Kere banget, beliin gelang hasil ngutang. Ada untungnya memang aku jual,' batin Fira.

__ADS_1


"Mama yang ngasih tahu. Aku sih menurut saja," jawab Fira berbohong.


"Habis ini jangan pergi-pergi ke Dukun lagi lah. Itu musyrik. Dosa."


"Malah tadinya aku mau ngajak Mas ke dukun. Bagaimana kalau kita ngepet saja, Mas? Aku baca digoogle katanya itu bisa buat orang menjadi kaya."


Tian geleng-geleng kepala. "Nggak mau," jawabnya malas.


"Kenapa? Ngepet 'kan juga kerja. Ya kerjanya cari duit. Nanti nih, ya, kita ambil duit di rumahnya Om Angga. Kita kuras sampai habis."


"Caranya?" Kening Tiang mengerenyit. "Kamu nyuruh aku jadi maling?"


"Kok maling, sih! Aku 'kan bilangnya ngepet!" geram Fira.


"Ngepet sama maling bukannya sama? Sama-sama ngambil duit, kan?"


"Ya bedalah. Ngepet caranya jauh lebih halus. Nanti Mas jadi babi ngepetnya, biar aku yang jaga lilin di rumah."


"Enak banget kamu, Fir. Jaga lilin doang di rumah. Aku yang jadi babi. Kalau ketahuan, aku yang babak belur dong." Tian bergidik, bulu kuduknya seketika merinding. Baru menghayalkannya saja dia sudah takut, apalagi itu beneran terjadi.


"Jangan sampai ketahuanlah. Masnya harus pintar pas jadi babi nanti."


"Udahlah, lama-lama ngelantur kamu ngomongnya."


Tian mengusap kasar wajahnya. Dia diam dan lebih memilih mengakhiri obrolan yang menurutnya sudah tidak masuk ke akal sehat. Akan tetapi, dia masih memikirkan uang yang Fira minta.


'Cari lima juta dengan cepat di mana kira-kira? Siapa yang mau meminjamkan uang padaku?'


Pusing dan setres rasanya. Tegar tak mungkin membantu, pihak bank apalagi.


***


Padahal Steven sudah berniat pulang setengah hari dan menjemput Citra. Akan tetapi keadaannya mendesak dan membuatnya mengurungkan niat.


Bahkan, sekarang sudah jam 7 malam dan Steven masih sibuk dengan laptopnya.


Akibat kebanyakan libur tak masuk ke kantor, pekerjaannya jadi menumpuk. Meeting pun banyak sekali diundur. Ditambah Steven juga tak punya sekertaris sekarang, jadi tak ada yang meringankan pekerjaannya.


"Ini, Pak," ucap Dika seraya menaruh beberapa proposal di atas meja kerja.

__ADS_1


Steven melirik benda itu, matanya seketika panas juga otaknya. "Ini apa lagi? Sebentar lagi aku mau selesai terus pulang! Tapi kamu malah menambahnya, Dik!" seru Steven marah.


"Itu cuma lima lembar, tinggal dibaca dan kalau setuju tanda tangan, Pak."


Steven berdecak kesal. "Cuma apanya, sih? Kalau cuma ya satu! Bukan lima!" Kedua tangannya mengebrak meja hingga gelas kosong di atas mejanya jatuh dan pecah.


Prang!


Steven ingin teriak rasanya, meluapkan stres dan kesal di dada. Namun takut dikira gila.


"Bapak jangan emosi dong. Saya tahu pekerjaan Bapak banyak. Tapi 'kan Bapak memang sudah biasa lembur." Dika bersikap tenang. Dia memang orang yang selalu sabar menemani Steven selama ini, juga mengerti bagaimana sikap bosnya.


Tangannya merogoh ponsel, lalu mengirim pesan pada salah satu cleaning servise yang bertugas di malam hari. Untuk datang dan memunguti serpihan beling yang berserakan di lantai. Takutnya melukai kaki Steven.


"Itu 'kan dulu, sekarang beda." Steven mendengkus kesal. Dia melanjutkan pengetikan pada keyboard laptopnya.


"Bedanya apa? Kan Bapak sudah banyak libur. Enak dong harusnya. Otak fresh."


"Aku malah maunya pensiun sekarang. Nggak kepengen kerja."


Dika mengerutkan kening. Bingung sekaligus merasa aneh. Steven yang gila kerja bisa-bisanya berniat pensiun. Benar-benar diluar nalar.


"Lho, kenapa? 35 tahun itu masih muda kalau harus pensiun, Pak. Oh ... apa Bapak sudah merasa tua, ya?"


"Apa maksudmu?" Mata Steven menyorot tajam ke arah Dika. Juga melempar bolpoin di tangannya tapi tidak kena di tubuh Dika. Darahnya langsung mendidih karena dibilang tua. "Aku sudah bilang beberapa kali kalau aku nggak tua. Umur 35 itu dewasa, bukan tua!" teriaknya emosi.


"Iya, iya. Saya hanya bercanda, Pak." Dika melipat bibirnya rapat. Menahan tawa. Entah mengapa, jika Steven marah justru malah menjadi lucu menurutnya. "Lagian Bapak ini aneh, masih umur 35 kok mau pensiun. Mana enak pensiun, Pak. Nganggur di rumah."


"Kata siapa nggak enak? Itu justru enak. Aku bisa menemani Citra kemana pun dia pergi."


"Kalau Bapak pensiun, terus yang pegang perusahaan ini siapa? Dan bagaimana dengan perusahaan Almarhum Pak Danu? Bapak 'kan ikut bertanggung jawab."


"Iya juga, ya." Steven mengerucutkan bibirnya. Dia memijat pelipis mata. Pening sekali rasanya. "Itu yang aku bingungkan, Dik. Eemm ... apa aku buka lowongan pekerjaan buat CEO saja, ya?"


"Maksudnya, nanti CEO itu buat pegang perusahaan Bapak dan perusahaan Pak Danu?"


"Hanya pegang perusahaanku saja. Kalau perusahaan Ayah 'kan aku nggak kerja nonstop di sana. Hanya sewaktu-waktu dan lagian ada si Kumis Lele. Masih amanlah, waktuku jadi nggak banyak di kantor."


"Tapi sebelum cari CEO, mending Bapak izin dulu sama Pak Angga," saran Dika.

__ADS_1


"Ngapain izin sama dia?"


...Yang satu pusing nyari duit, lha ini yang banyak duit malah mau pensiun 😪...


__ADS_2