
Setelah berhasil mendapatkan nomor Gugun, Steven cepat-cepat menghubunginya. Namun sayang sekali, panggilan itu tak dijawab sama sekali.
'Ke mana Gugun? Kok nggak jawab teleponku?' Steven makin gelisah, dia sampai menjambaki rambutnya sendiri.
"Pa, Papa tahu pacarnya Steven? Apa tadi dia ke sini?" tanya Sindi penasaran. Dia duduk di samping suaminya dan mengambil buket bunga yang sejak tadi dimainkan oleh Angga. Bahkan banyak sekali kelopak bunganya yang rontok.
"Papa nggak tahu, si Jarwo yang tahu. Tapi kayaknya dia marah deh."
"Marah kenapa?"
"Mungkin gara-gara nggak dibolehin masuk. Mama juga sih, kenapa musti melarang orang masuk? Kasihan 'kan dia."
"Dih, kok Mama disalihin? Ya Mama melakukan hal itu untuk kebaikan Steven. Memangnya dia sendiri nggak ngasih tahu kalau dia pacarnya Steven?" Sindi terlihat tak terima.
"Nggak." Angga menggeleng.
"Aakkkhhhh!" pekik Steven dengan penuh emosi. Suaranya terdengar menggema dan dia juga membanting kasar ponselnya di lantai demi meluapkan kekesalannya.
Hal tersebut sontak membuat dua orang tua itu terperanjat di tempat duduk, mereka pun melihat benda pipih itu sudah hancur berkeping-keping berserakan di bawah sana.
"Stev, kamu ini kenapa, sih? Kenapa marah-marah?" Sindi kembali mendekati Steven, dia menuangkan air minum untuk anaknya supaya pria itu lebih tenang.
Rahang Steven terlihat mengeras. Dia begitu emosi sebab berulang kali menelepon Gugun tapi tak ada respon. Padahal nomornya aktif.
Jika saja Steven mampu menahan ngilu di dadanya saat bangun, dia mungkin sudah berlari untuk pulang ke apartemen menemui Citra.
__ADS_1
Steven pun langsung menenggak satu gelas penuh itu sampai habis, lalu mengusap bibirnya sisa air.
"Mama ... tolong suruh orang untuk ke kantor di mana Gugun bekerja. Bawa dia ke sini, aku ingin bertemu dengannya."
"Iya, Mama akan suruh orang." Sindi menurut. Dia menangangguk cepat dan langsung berlalu keluar dari kamar itu untuk bicara pada salah satu bodyguard. Dia merasa takut akan kemarahan Steven, takut juga akan kondisinya yang belum pulih total.
"Kamu nggak ingat nomor pacarmu memangnya, Stev?" tanya Angga.
"Ah iya, aku lupa. Kenapa Papa nggak memberitahuku?" Pikiran Steven tak jernih, dia sampai melupakan hal itu.
"Mana Papa tahu." Angga menarik turunkan bahunya, lalu berdiri dan menghampiri Steven sembari memberikan ponselnya. "Ini Papa pinjamkan hape. Tapi kalau nggak diangkat jangan kamu banting, sayang ada game cacing yang baru Papa download."
"Iya." Steven segera mengambil ponsel itu dan mengetik nomornya Citra. Tetapi sayangnya nomor gadis itu tak aktif. "Ini." Steven menyerahkan lagi ponselnya pada Angga dengan wajah lesu.
"Kenapa? Nggak diangkat?"
"Sepertinya dia marah sama kamu, ya? Kamu sih, Stev. Kenapa nggak jujur saja kalau memang sudah punya pacar. Jadi 'kan seperti ini."
'Ah, semoga saja Citra nggak melihatku tadi. Apa lagi pas Fira menciumku,' batin Steven.
***
"Halo, mulai sekarang kita putus, Mas!" tekan Fira pada sambungan telepon. Dia baru saja duduk di kursi putar pada ruang kerjanya.
"Putus? Kenapa? Apa salahku?" tanya pria dari seberang sana, suaranya tampak seperti orang yang sedang terkejut.
__ADS_1
"Aku merasa udah nggak cocok sama kamu. Aku mau kita putus saja."
"Nggak cocoknya bagaimana? Aku sudah memberikan apa pun yang kamu mau, Fir. Oh ... apa ini karena Steven?" tebaknya.
'Steven? Kok dia malah bertanya mengenai Pak Steven, sih?' batin Fira dengan kening yang mengerenyit.
"Jujur padaku, apa ini ada hubungannya dengan Steven? Dan kenapa kamu bisa mengenalnya?" tanyanya lagi.
"Pak Steven adalah bosku. Aku kerja menjadi sekretarisnya."
"Tapi kamu nggak ada hubungan apa-apa dengannya, kan? Dan aku nggak mau kita putus, Fir. Kan kita sudah bertunangan."
"Tunangan apanya? Mas hanya memberikanku cincin murahan!"
"Murah apanya? Itu mahal, Fir."
"Nggak, itu murah!" tegas Fira dengan lantang. "Aku nggak level sama barang murah. Jariku saja sekarang gatal. Kita harus putus dan mulai sekarang berhenti menggangguku!" tekan Fira. Lantas dia pun mematikan sambungan telepon itu dan cepat-cepat memblokir nomornya
Fira berdecih sambil menatap ponselnya. 'Cih! Dasar pria kere. Dia pikir aku akan mau sama dia terus apa? Nggak usah mimpi! Itu nggak akan terjadi!'
"Aku akan segera menikah dengan Pak Steven dan hidupku akan sangat sempurna." Fira menyandarkan punggungnya. Perlahan kedua kakinya itu naik ke atas meja.
Fira mengetik-ngetik ponselnya, lalu menatap layar yang menampilkan sepasang cincin kawin dengan berlian di tengahnya. Itu adalah cincin pilihannya sendiri, dia meminta pada Sindi untuk membelikan cincin itu saat mereka nanti akan melangsungkan ijab kabul.
"Cantik banget pasti saat aku memakainya. Ah ... rasanya aku sudah nggak sabar. Apa besok aku dan dia bisa langsung menikah?"
__ADS_1
...Iya, besok kamu dan Om Ganteng akan menikah, jadi siap-siap, ya ☺️...